Wednesday, January 16, 2019

novel


Cerita ini merupakan akhir dari peradaban manusia.   Manusia yang serakah, manusia yang ingin menang sendiri. Manusia suka mengarang cerita supaya terlihat lebih hebat atau bagai superhero. Segala cara dapat dilakukan oleh Manusia, baik yang melampaui akal maupun yang  biasa – biasa saja. Manusia acap kali menjatuhkan sesamanya supaya mereka terlihat lebih baik dari yang lain. Aku tidak suka dengan tingkah manusia. Aku bukanlah manusia, lebih tepatnya tidak sepenuhnya. Mungkin, di zaman dulu ada cerita tentang penyihir, tetapi sesungguhnya penyihir tidak hanya ada di zaman dulu. Karena Akulah buktinya. Tetapi, ada perbedaan antara penyihir zaman dulu dengan sekarang. Penyihir selalu di ibaratkan dengan sesuatu yang jahat dan memiliki kekuatan, sedangkan manusia makhluk biasa yang tak punya kekuatan. Aku rasa para penulis kisah keliru, karena sebenarnya manusia dapat menjadi lebih jahat dari segala makhluk yang ada di dunia ini.
"Hei Flo, sedang apa disana?" ucap seseorang.
"Aku sedang membaca buku cerita milikmu. Ceritanya menarik" jawab seseorang yang tadi dipanggil Flo sambil menutup bukunya.
"Buku cerita apa? Sepertinya buku yang aku miliki hanya cerita picisan dongeng. Hahaha." kata seseorang tadi sambil tertawa.
"Hei, tapi kurasa ini terlalu serius untuk ukuran dongeng. Yasudahlah kita lanjutkan permainan kita saja.” kemudian mereka melanjutkan permainan teka – teki silang mereka.
Flo dan Nara sebenarnya baru kenal 1 tahun, duduk di bangku Sekolah Menengah Atas tingkat akhir di Cagim Senior High School. Flo dan Nara memulai pertemanannya ketika Nara tidak sengaja melihat seseorang gadis seumurannya yang berambut berambut pirang terlihat kebingungan seperti sedang mencari sesuatu di sekitar jalan dekat sekolah Nara, melihat hal tersebut Nara berinisiatif untuk membantu. Dari sanalah perkenalan mereka terjadi. Setelah lelah mencari Flo mengatakan untuk menghentikan pencarian mereka saja. Flo menawarkan traktiran makan sore kepada Nara karena telah membantunya yang tentu saja diterima oleh Nara. Mengingat hal tersebut membuat Nara tersenyum kecil, bagaimana tidak, hanya karena pertemuan tidak sengaja mereka dapat menjadi teman yang sangat dekat bagai sahabat dari lahir. Flo merupakan gadis berambut pirang dan bermata biru cerah yang ceria dan tidak ketinggalan dengan parasnya yang dapat membuat orang terpana, sedangkan Nara merupakan gadis berambut hitam dan bermata coklat dengan parasnya yang manis Nara sedikit memiliki sifat keras kepala dan tidak suka bertele-tele. Flo dan Nara memiliki selera humor yang baik, terutama ketika mereka sedang bersama. Dimana ada Flo, pasti ada Nara disana.
“Tumben sekali kau mau membaca buku di rumahku, Flo.” tanya Nara.
“Aku hanya sedang bosan saja. Lagipula tadi kau lama sekali ke kamar mandinya.” bela Flo.
“Ehehehe, maaf aku sakit perut.”
“Hm baiklah. Oh iya tidak terasa malam akan tiba, aku pulang dulu ya Nat. Sampai jumpa besok.” ucap Flo sembari membereskan barang – barangnya, kemudian bergegas untuk pulang ke rumah.
“Oke, hati – hati” jawab Nara sambil melambaikan tangan. Flo membalas Nara dengan senyum riang.
Selama perjalanan pulang ke rumah, Flo selalu memikirkan sesuatu hal yang mengganjal. Kenapa dia bisa berteman dengan mudahnya bersama Nara, kenapa mereka seakan - akan memang ditakdirkan untuk berteman.
Menjadi sahabat baik dan menghabiskan waktu bersama bukan berarti mereka benar – benar saling mengetahui rahasia masing – masing. Terkadang pasti ada sesuatu yang disembunyikan.



“Nara! Nara! Kau harus tau apa yang kutemukan tadi malam!” ucap Flo, teman sekelas Nara dengan nada heboh sambil mengguncang bahu Nara yang sedang termenung di bangku kelasnya. Flo merupakan teman sebangku Nara di sekolah. “Flo, bisakah lebih santai?” balas Nara.
Bagaimana tidak, dia sedang terbuai dengan imajinasinya dan tiba-tiba Flo datang dan menghancurkan semua bayangannya.
“Ehehehe, aku sedang bersemangat!” cengir Flo.
“Memang kapan kau tidak bersemangat?” timpal Nara.
“Baiklah kita langsung saja. Kau tau? Aku menemukan sesuatu yang benar – benar menakjubkan!” ujar Flo dengan mata yang berbinar – binar.
“Langsung ke intinya saja.” balas Nara dengan nada bosan.
“Huh, seperti biasa. Tidak suka bertele – tele. Lihat ini!”
Flo menyodorkan sebuah foto yang sebenarnya terlihat normal, berisi murid – murid yang berfoto di depan sebuah gedung sekolah. Tidak ada yang aneh disana, hanya terlihat kumpulan murid yang berfoto bersama dengan riang.
“...jadi apa maksudnya ini?” tanya Nara sambil mengernyitkan dahi. Namun, pandangan Nara sekarang berbeda dari sebelumnya, terlihat lebih tertarik.
“Lihat baik – baik! Bukankah mereka tidak terlihat ‘biasa’?” jelas Flo. Sambil menaik-turunkan alisnya.
Kemudian Nara menajamkan penglihatannya, ternyata terdapat hal yang mengganjal di dalam foto tersebut. Bukan karena ada penampakan atau sesuatu hal, tetapi latar tempat foto itu diambil membuat Nara mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa sekumpulan murid yang jelas-jelas bukan murid sekolahnya bisa berfoto di depan sekolahnya. Terima kasih kepada tanggal yang tertera pada foto itu. Nara juga mengingat teman-teman seangkatannya sendiri, dan oh ya apa-apaan seragam mereka itu? Apakah mereka sedang pesta kostum?
“Kau dapat foto ini darimana?” tanya Nara.
“Hohoho, kemarin sepulang sekolah aku sedang mengerjakan tugas di perpustakaan. Saat sedang asyik-asyiknya mengerjakan tugas, tiba-tiba aku mendengar suara berisik di luar. Karena penasaran, akhirnya aku memeriksa keluar, kau tahu apa yang kutemukan?” jelas Flo dengan nada serius.
“Apa?” balas Nara.
“Tidak ada, ahahahaha.” jawab Flo sambil tertawa.
“Ya, terserah kau saja.” tukas Nara sambil memutar bola matanya.
“Hahahaha, ayolah aku hanya bercanda. Kau harus melihat wajah seriusmu tadi, sangat lucu!” Flo mengatakannya sambil mengontrol tawanya dan berusaha untuk melanjutkan kembali ceritanya.
“Sudah?” balas Nara.
“Sudah. Baik aku lanjutkan. Setelah aku mengetahui aku tidak menemukan apapun di luar, akhirnya aku memutuskan untuk mengecek koridor sekolah lebih jauh lagi, dan... BINGO! Aku menemukan foto ini.” ucap Flo sambil tersenyum bangga.
“Kau tidak melihat keberadaan seseorang disana?” tanya Nara.
“Tidak.” Jawab Flo.
Setelah mendengar penjelasan Flo, Nara tenggelam dalam pikirannya. ‘Ini aneh’ pikir Nara dalam hati.
“Boleh kupinjam fotonya?” pinta Nara.

Hari ini adalah hari Sabtu, biasa Flo dan Nara akan bermain di hari Sabtu, di rumah Nara tentu saja. Kali ini mereka hanya membaca buku dengan santai. Flo melihat keanehan yang dalam diri Nara, ‘seperti sedang terlilit hutang saja’ batin Flo.
“Kau kenapa Nara?” tanya Flo.
“Hanya memikirkan sesuatu.” jawab Nara sambil menerawang kedepan.
Flo tidak berniat mengganggu Nara kembali akhirnya memutuskan untuk terus membaca bukunya kembali.
“Hei Flo.” panggil Nara yang duduk di lantai sambil menyandar ke pinggir kasurnya. Nara masih memegang bukunya.
“Ya?” balas Flo yang sedang berada diatas kasur Nara. Setedik kemudian Flo menurunkan bukunya memandang Nara dari atas kasur.
“Apakah kau percaya kalau adanya makhluk selain manusia, hewan, dan binatang di bumi ini?” tanya Nara sambil menerawang seperti melihat sesuatu di depannya.
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Flo sambil mengangkat alisnya satu.
“Aku penasaran.” ujar Nara yang kemudian Nara membalik badannya menghadap Flo yang ternyata sudah mendudukkan dirinya.
“Bagaimana jika sebenarnya makhluk-makhluk yang ada di cerita anak-anak benar adanya.” lanjut Nara.
“Aku tidak mengerti.” jawab Flo sambil menunjukkan ekspresi kebingungan.
“Baiklah lupakan.” ujar Nara menyerah.
Flo menaikkan alisnya dan kembali membaca buku.


Senin merupakan hari yang menyedihkan. Tidak, bukan karena hari itu merupakan hari sial. Tetapi, banyaknya umat manusia yang tidak menyukai hari senin membuat hari itu terlihat menyedihkan. Mungkin jika sebuah hari memiliki perasaan, maka dia akan merasa terpuruk.
Bel masuk sekolah berbunyi, menandakan pelajaran segera dimulai. Nara sudah berada di bangkunya sebelum bel sekolah dibunyikan. Tidak lama kemudian terlihat Flo yang terburu-buru masuk ke dalam sekolah dan dengan segara duduk di bangkunya, sebelah Nara.
“Oh hal..o N-N..ara.” sapa Flo dengan napas yang terengah-engah.
“Kau bisa memulihkan napasmu dulu.” jawab Nara.
“Oh baiklah.” balas Flo kemudian menarik napas dalam-dalam sambil menutup matanya.
“Ehehe, terima kasih Nat, sudah mengingatkanku untuk menghirup udara yang kaya akan oksigen ini.” lanjut Flo dengan nada yang dilebih-lebihkan dan gerakan tangan yang seolah-olah menghirup semua oksigen sampai habis.
“Dasar.” jawab Nara sambil tertawa dan menggelengkan kepala. Terkadang Nara merasa terhibur melihat tingkah teman sebangkunya ini.

Bel tanda pelajaran berakhir akhirnya berbunyi. Murid-murid dengan segera berhamburan keluar kelas, hanya tersisa Nara dan Flo di dalam kelas. Terlihat Flo yang sudah merapihkan barang-barangnya sedangkan Nara masih berkutat pada laptopnya, sepertinya Nara sedang sibuk mengerjakan sesuatu.
“Kau tidak pulang?” tanya Flo kepada satu-satunya orang disebelahnya, tentu saja Nara.
“Nanti saja. Aku sedang sibuk.” jawab Nara yang sedang berkutat dengan laptopnya sambil sesekali mengerutkan dahi, serius sekali pikir Flo.
“Baiklah, jangan pulang terlalu malam. Aku pulang deluan.” Ucap Flo, kemudian dia berjalan menuju pintu keluar kelas.
“Yup, sampai jumpa.” balas Nara sambil melambaikan tangannya, namun matanya masih fokus ke layar laptopnya. Tetapi, Nara masih merasakan bahwa Flo belum benar-benar meninggalkan kelas.
“Kenapa kau masih ada disana?” tanya Nara dengan alis kiri yang terangkat.
“Kau harus berhati-hati pada malam hari.” jawab Flo dengan nada serius dan wajah yang meyakinkan.
“Maksudmu?” tanya Nara, ada sedikit rasa takut dalam dirinya ketika mendengar peringatan Flo yang terdengar meyakinkan.
“Karena ada kehidupan malam hari yang siap menerkam dan siap menarikmu kapan saja untuk bergabung bersama mereka kedalam kegelapan.” terang Flo masih dengan ekspresi seriusnya.
“Hei, apa-apaan ucapanmu tadi.” kata Nara, tanpa perlu dilihat lebih dalam juga dapat terlihat jika Nara sedang ketakutan.
“Pfft, mana yang katanya ingin mencari tau keberadaan makhluk lain dan wajahmu sangat lucu kau tau? Astaga aku hanya bercanda.” ujar Flo sambil tertawa.
“Ternyata kau sangat menyebalkan ketika sedang tertawa.” jawab Nara yang kemudian membuang muka dan kembali berkutat dengan laptopnya.
“Baiklah, baiklah. Aku tidak tahu kau semudah itu tertipu. Aku duluan.” kata Flo kemudian menutup pintunya.
Terlihat Nara yang masih berkutat dengan laptopnya. Ternyata Nara sedang mengerjakan tugas sekolahnya, yaitu membuat novel. Pantas saja dia terlihat sangat serius dan fokus. Terbuai dalam pekerjaannya, membuat Nara tidak menyadari jika matahari sudah lama tenggelam. Jam tangan yang bertengger di tangan kirinya menunjukkan bahwa waktu sudah menuju pukul 08.00 malam. ‘Oh yang benar saja, bahkan ini sudah sangat larut’ batin Nara. Walau selesai sampai larut malam, Nara justru merasa senang karena tugasnya terselesaikan dan dia dapat tidur sepuasnya di rumah. Selesai membereskan barang-barangnya, kemudian Nara bergegas keluar meninggalkan ruang kelasnya yang berada di lantai empat dan berjalan menyusuri koridor sekolahnya yang hanya diterangi beberapa lampu membuat koridor sekolahnya terlihat menyeramkan. Seketika Nara menyesal tidak mendengarkan kata-kata Nat untuk tidak pulang malam. Untuk mengurangi rasa takutnya Nara berjalan sambil bersenandung kecil. Ketika sampai di lantai tiga gedung sekolahnya keberanian Nara mulai menipis kemudian dia semakin mempercepat langkahnya. Niat hati ingin cepat sampai lantai satu, Nara justru mengalami kesialan. Tepat di anak tangga terakhir lantai dua, Nara tersandung sesuatu yang tergeletak di lantai untung saja dia tidak terjatuh. ‘Apa ini?’ tanya Nara dalam hati. Kemudian Nara berjongkok dan memeriksa ‘sesuatu’ yang tergeletak disana. Sedetik kemudian Nara merasakan jantungnya akan keluar dari tempatnya.
“Kau menginjakku tadi.” kata sesuatu yang sebelumnya tergeletak tersebut. Sedetik kemudian dia merubah posisinya menjadi duduk.
Nara masih dalam posisi terkejut. Bagaimana tidak, sesuatu yang tadi membuat dia hampir terjatuh tiba-tiba berbicara dan yang lebih membingungkan lagi untuk apa ‘sesuatu’ itu menaruh dirinya di lantai anak tangga.
“Kau bisu?” tanya sesuatu yang ternyata seseorang tadi.
“Ini gila.” ucap Nara pada dirinya sendiri.
“Jadi kau bukan bisu, tapi gila?” tanya sesuatu itu lagi.
Merasa kesal, kemudian Nara memandang tajam seseorang itu.
“Kau yang gila. Tiduran di lantai anak tangga? Apa yang kau pikirkan? Kau tidak takut terjatuh dan mati?” cerocos Nara.
“Asal kau tau, aku tidak akan mati hanya karena terjatuh di tangga.” jelas seseorang itu.
“Terserah kau. Aku mau pulang.” ucap Nara yang kemudian bersiap pergi. Namun, hal tersebut tidak terjadi karena seseorang yang ternyata seorang pemuda berambut kuning dan bermata biru laut itu dengan segera berdiri dan menghalangi jalan Nara.
“Kita belum berkenalan. Aku Naki.”
“Nara.” balas Nara.
“Nama yang bagus.” kata Naki sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Terima kasih. Permisi aku mau pulang.” ujar Nara dan berjalan melalui Naki. Ketika berhasil melewati Naki, secara tidak sengaja Nara menjatuhkan sesuatu.
“Ini...” gumam Naki yang masih dapat didengar Nara, sedetik kemudian Nara membalik badan dan menyadari bahwa Naki sedang memegang foto yang beberapa hari lalu dia pinjam dari Flo.
“Kembalikan.” kata Nara sambil menengadahkan tangannya.
“Kau dapat foto ini darimana?” tanya Naki sambil memandang Nara dan foto itu bergantian.
“Temanku yang menemukannya di koridor sekolah. Kenapa?” jawab Nara.
“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” tanya Naki penasaran.
“Suatu hari dia pulang malam, lalu mendengar suara. Kemudian berjalan menyusuri koridor sekolah dan menemukan foto tersebut. Puas? Sekarang kembalikan.” jelas Nara kemudian berusaha merampas foto itu, tetapi tidak berhasil.
“Apakah foto ini penting bagimu atau temanmu? Kau tidak ada di foto ini padahal.” tanya Naki kembali sambil memandang Nara penasaran.
“Ah yang benar saja, kenapa kau sangat menyebalkan. Aku menyimpannya karena aku penasaran dengan foto itu. Mereka tidak terlihat seperti murid biasa dan lihat latar sekolahnya. Cagim Senior High School, aku bahkan tidak pernah melihat satupun dari mereka selama hampir tiga tahun aku sekolah disini, dan oh astaga siapa kau? Aku bahkan tidak pernah melihat kau!” cerocos Nara dalam sekali tarikan napas. Nara baru menyadari bahwa dia belum pernah melihat pemuda di depannya ini. Naki? Dia belum pernah mendengar nama itu.
“Wow, hebat sekali kau dapat berbicara dalam sekali napas.” jawab Naki sambil menyeringai.
“Aku anggap itu pujian.” kata Nara sambil tersenyum yang sebenarnya palsu, sedetik kemudian Nara berusaha merampas foto tersebut dan keberuntungan berpihak kepadanya. Nara mendapatkan fotonya.
“Yey, dapat! Sampai jumpa Naki!” ucap Nara sambil melambaikan tangannya dan berjalan menjauhi tempatnya berdiri tadi.
Tiba-tiba Naki menarik tangan Nara.
“Hei hei, apa yang kau lakukan?” tanya Nara tidak terima karena tangannya asal ditarik oleh Naki.
“Membawamu pergi, tentu saja.” jawab Naki tidak peduli akan pernyataan tidak terima Nara.
Naki terus menarik Nara kesuatu tempat. Akhirnya mereka tiba di depan ruang kelas yang terlihat ramai seperti kelas yang ditinggal guru pergi. ‘Ada kelas di malam hari?’ batin Nara heran.
“Yup, kau benar. Selamat datang di kelas malam.” ujar Naki seakan mengetahui pikiran Nara.
“Aku akan memperkenalkanmu kepada teman-temanku.” kemudian Naki menarik Nara kembali untuk masuk ke kelasnya.

“Perkenalkan ini teman baruku, namanya Nara.” ucap Naki memperkenalkan Nara ke sekumpulan murid yang ada disana. Dalam hati Nara berpikir ‘Teman baru katanya?’ kemudian Nara memandang bingung ke sekumpulan orang disana. Nara seperti pernah melihat ketiga orang tersebut.
“Hai Nara, aku Nosa!” salam seseorang gadis berambut ungu kehitaman sebahu dan memiliki warna mata yang unik, yaitu berwarna biru kehijauan sambil tersenyum manis. ‘Cantik’ pikir Nara
“Hich.” kata satu-satunya pemuda di kerumunan tersebut. Pemuda itu memandang Nara dengan tatapan tidak tertarik. Hich memiliki tinggi yang sepertinya lumayan, walaupun sekarang posisinya sedang duduk. Dia memiliki rambut berwarna merah gelap dan mata berwarna coklat. ‘Lumayan juga’ batin Nara.
“Aku Shi.” salam seorang pemuda berambut biru kehitaman dan memiliki warna mata hitam. Jika diperhatikan, pemuda ini memiliki taring yang sedikit muncul. ‘Ini juga lumayan’ batin Nara
Nara menatap ketiga orang tersebut satu-satu, meneliti wajah mereka satu persatu. Nara mengingat-ingat kira-kira dimana dia pernah bertemu ketiga orang itu. Tiba-tiba bagai lampu muncul diatas kepalanya, Nara mengeluarkan foto dari dalam tas sekolahnya yang sebelumnya dirampas oleh Naki.
“Jadi ini kalian?” tanya Nara.
“Astaga! Darimana kau dapat fotoku? Aku mencarinya sampai kemana-mana.” ucap seseorang yang tadi memperkenalkan namanya sebagai Nosa.
“Jadi benar ini kalian?” tanya Nara masih belum menyerah sebelum pertanyaannya di jawab.
Shi, Naki, Nosa, dan Hich saling berpandang satu sama lain.
“Ya itu kami.” jawab Naki.
“Kenapa penampilan kalian di foto ini dan sekarang berbeda?” Nara kembali bertanya.
“Kau berisik dan banyak tanya.” tukas Naki. Sejurus kemudian Nara melayangkan tatapan tidak suka kepada Naki.
“Shi, Nosa, atau Hich bisakah kalian menjawab pertanyaanku?” tanya Nara sekali lagi. Dia benar-benar penasaran.
“Baiklah, akan aku jawab. Alasan kenapa penampilan kami berbeda saat berada di foto itu karena kami bukanlah manusia biasa, lebih tepatnya kami setengah manusia. Foto tersebut berisi kami yang bukan dalam wujud menjadi manusia, tetapi dalam wujud kami seharusnya, dan oh ya bisa tolong kau kembalikan fotoku?” jelas Shi yang kemudian meminta foto yang berada di tangan Nara.
Sebelum mengembalikan foto tersebut ke tangan Shi, Nara kembali meneliti orang-orang di foto tersebut. Setelah puas memandangi, Nara mengembalikan foto tersebut.
“Jadi... Hich yang dapat menjadi elang, Nosa mengeluarkan cahaya biru, Shi macan putihj dan Naki si serigala kuning?” duga Nara.
“Yup! Kau benar. Asal kau tahu, aku juga dapat membaca pikiran seseorang.” ucap Nosa bangga.
“Nara, aku punya permintaan untukmu.” pinta Naki.
“Apa itu?” ujar Nara sambil menautkan alisnya, tanda dia sedang kebingungan dengan ucapan Naki.
“Tolong rahasiakan keberadaan kami, maka kau bisa bermain kembali ke kelas ini jika kau mau.” lanjut Naki.

Nara membuka harinya dengan ceria hari ini. Bagaimana tidak, ternyata dugaannya selama ini benar. Ada makhluk lain di bumi ini.
“Kau aneh hari ini.” kata seseorang yang duduk disebelah Nara.
“Oh ayolah. Aku sedang gembira kau tahu?” balas Nara.
Flo hanya mengedikkan bahu tidak peduli, kemudian pelajaran dimulai.


"Kau ingin tinggal di sekolah ini sampai malam hari?" tanya Flo saat mereka sedang berada di kelas. Nara mengangguk yakin.
"Kau tidak takut?" tanya Flo lagi yang dibalas gelengan kepala dari Nara.
"Jika kau melihat apa yang terjadi di malam hari, kau tentu tidak akan berkata seperti itu. Tidak ada yang perlu ditakutkan." Flo heran mendengar penjelasan Nara.
"Memang ada apa di malam hari?" tanya Flo penasaran. Nara tersenyum tipis nan misterius yang tentu saja membuat Flo semakin penasaran.
.

Seorang gadis berambut hitam di depan komputer mengucek matanya yang mulai berair. Dia sangat lelah saat itu. Tapi, wajah kelelahannya terganti menjadi wajah girang saat mendengar suara sebuah kelas. Ia kemudian tersenyum kecil.
"Sudah datang," katanya pelan. Kemudian dia melangkah menuju pintu dan mengintip. Ia melihat kelas yang terang, dan suara berisik yang berasal dari kelas itu. Ia kemudian melihat pemuda pirang yang keluar dari ruangan tersebut.
"Nara?" seru Naki.
"Hai, kita bertemu lagi, Naki." ujar Nara memperlihatkan senyumnya.
Entah mengapa, Nara merasa senang jika bermain dengan ‘teman’ barunya.



“Halo, apakah ini Flo?” ucap seseorang di telpon.
“Iya benar.” jawab seseorang yang tadi dipanggil Flo.
“Flo, apakah Nara ada disana?” tanya seseorang tadi lagi.’
“Tidak ada tante.” jawab Flo.
“Astaga, Nara belum pulang daritadi. Flo bisakah kau untuk pergi ke sekolah dan memeriksa apakah ada Nara disana atau tidak.” pinta Ibu Nara.
Flo menelan ludahnya. Sekolah? Malam-malam begini? Yang benar saja.
"Flo? Aku mohon… aku sangat khawatir dengan Sakura…" pinta ibu Sakura. Ino kembali menelan ludahnya. Tapi… demi Sakura, demi sahabatnya itu, ia mau tidak mau harus melakukannya!
“Baiklah tante.“ kakak
"Baik baa-san," ucapnya setengah hati kemudian mematikan telpon.
"Baiklah Flo, ayo berjuang." ucapnya.


Flo melangkah memasuki gedung sekolahnya dengan wajah pucat, pertanda bahwa dia sangat ketakutan. Bayangan-bayangan mitos hantu menuhi di kepalanya.
Suara angin malam itu seakan mengejeknya yang sedang ketakutan.
"Apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini, Nona?" seseorang menepuk pundaknya. Sedetik kemudian Flo merasa merinding, gemetaran, dan ketakutan. Flo terlalu takut untuk membalikkkan badannya, mungkin saat berbalik, dia akan melihat hantu tanpa wajah, bersimbah darah, atau hantu bermulut sobek seperti di kebanyakan film-film horror.


"Hei?" panggil orang yang menepuk pundaknya itu ketika merasa dirinya tak direspon. Flo memberanikan dirinya melihat kebelakang. Dan…
"UWAA! ASTAGA" teriaknya dengan suara keras. Membuat sosok yang kini berada di depannya menutup telinganya.
"Hei? Kau kenapa?" tanya pemuda yang tadi menepuk pundaknya itu.
"UWAA!" teriaknya lagi.
"Tenanglah Nona." ujar pemuda itu lagi. Flo yang tadinya menutup wajahnya kini mencoba mengintip. Namun sedetik kemudian ia menutupnya lagi.
"Kulitmu putih pucat! Kau pasti arwah gentayangan!" kata Flo sambil ketakutan.
"Arwah gentayangan? Aku bahkan belum meninggal!" balas Shi tidak setuju dengan perkataan Flo. Flo mulai kesal dengan makhluk yang berada di depannya, kemudian mengangkat tangan yang menutupi wajahnya dan membuka matanya. Saat ini, Flo melihat seorang pemuda dengan kulit yang sangat pucat berdiri di depannya dengan raut wajah yang nampak protes. Jika diperhatikan, pria di depannya ini memang tidak terlalu terlihat seperti hantu gentayangan, malah… sebenarnya pemuda di depannya ini sungguh tampan!
Floo menggelengkan kepalanya. Tidak. Sekali hantu tetap hantu. Biarpun hantu itu tampan, cantik, imut. Yang jelas sosok di depannya ini adalah hantu, dan itu semua tidak bisa disangkal lagi.
"… sepertinya kau bukanlah hantu yang jahat," ucap gadis itu.
"Sudah kubilang aku bukan hantu, Nona." Shi menatap gadis di depannya. Menurut Shi, Flo terlihat menarik.
 "Baiklah, terserah kau! Aku datang ke sini bukan untuk mencari temanku, Nara." kata Flo mengalah. Shi mengernyitkan dahinya.
"Nara?" ulang Shi dengan wajah berpikir.
"Ya! Kau kenal dia? Atau jangan-jangan… kau sudah memakan sahabatku itu?" tuduh Flo sambil melayangkan tatapn curiga kepada Shi yang dibalas dengusan menahan tawa oleh Shi.
 "Aku tidak tertarik memakan sahabatmu itu…" Shi mendekati Flo.
"Aku lebih tertarik untuk memakanmu, Nona." ujar Shi sambil menyeringai.


Naki sedang berjalan-jalan dan terkejut melihat salah satu sahabatnya sedang berdebat dengan seorang gadis yang tidak ia ketahui. Pemuda itu menghampiri mereka berdua.
"Hantu!"
"Bukan,"
"Hantu!"
"Bukan,"
"HANTU!"
"Sedang apa kalian?" Tanya Naki. Shi dan Flo serentak menoleh padanya.
"UWAAA! SERIGALA!" pekik Flo memekakkan telinga.
"Hei hei! Tenanglah!" Shi mencoba menenangkan Flo.
"Siapa dia?" tanya Naki pada Shi.
"Entahlah, mungkin dia teman Nara." kata Shi.
Flo melirik Naruto. ‘oh astaga yang satu ini bahkan lebih parah dari si mayat hidup’ batin Flo.
"Nara? Kau mencarinya? Ayo ikuti aku!" kata Naki mengajak Flo kemudian berjalan di depan Shi dan Flo. Shi mengikutinya, namun Flo masih diam di tempatnya.
"Kenapa diam?" tanya Shi pada Flo yang ada di belakangnya, sedangkan Naki masih terus berjalan.
"Kalian berdua pasti akan memakanku!" kata Flo. Shi hanya bisa menghela nafas jengah.
"Baiklah, terserah kau." kata Shi dan terus berjalan meninggalkan Flo.
"Hei! Jangan tinggalkan aku!" teriak Flo. Shi menghentikan langkahnya.
"Jadi kau mau apa, Nona?" tanya Shi seraya tersenyum palsu yang terlihat sekali paksaannya. Flo mendengus kesal.
"Yakin kau tidak akan memakanku?" tanya Flo memastikan.
"Kalau kau tetap cerewet, aku akan memakanmu dalam sekali suapan." Shi berkata dengan tenangnya. Flo semakin kesal.
"Aku serius!" ucap Flo sambil berkacak pinggang.
"Ikuti saja aku dan Naki." kata Shi.
"Huh!" Flo membuang mukanya sembari mendengus kesal, namun kali ini ia berjalan mengikuti Shi. Shi masih diam di tempatnya sampai Flo berada di sampingnya, sehingga membuat mereka berjalan beriringan dengan Flo yang masih membuang muka.


“NARAA!” suara Flo menggelegar.
Ketika Flo membuka sebuah pintu kelas, dia dapat melihat Nara yang sedang duduk bersantai di bangku yang hampir terjengkang karena mendengar suara Flo.
“Flo?!”
“Apa yang kau lakukan disini?” ucap Flo. Kemudian Flo mengernyitkan dahi ketika melihat manusia serigala yang ia ketahui bernama Naki berjalan dengan santai menghampiri dan mereka mengobrol asyik.
“Ayo pulang. Ibumu mencarimu kau tau?” Flo kemudian menarik paksa lengan Nara seperti seorang ibu yang memaksa anaknya untuk segera pulang.
"Aku pulang dulu Naki, Shi!" pamit Nara, sedangkan Flo terus-menerus menariknya.
"Perlu antaran, Nona?" tawar Shi. Flo menatap tajam pemuda itu.
"Tidak perlu! Kami bisa jaga diri!" kata Flo sarkastik.
"Bukan kau. Aku menawarkannya pada Nara" ucap Shi yang membuat Flo malu setengah mati.
 "Tidak perlu Sai, kami bisa jaga diri." Nara tersenyum saat menjawab pertanyaan Sai. Kedua gadis itupun melangkah keluar, namun Flo menyempatkan diri untuk menginjak kaki Shi sebelum mereka menghilang dari ambang pintu.
"Rasakan itu, mayat!" Flo tertawa kemudian.

.



"Sekarang aku tahu alasanmu selalu tak ingin pulang jika jam pelajaran telah selesai!" Nara memandang Flo kaget saat gadis itu langsung menghampiri Sakura dan menunjuknya tepat di depan hidungnya.
"Astaga! Kau mengagetkanku saja. Baru datang langsung saja menghampiriku dengan wajah menyebalkanmu itu!" Nara menepis tangan Flo, membuat gadis berambut pirang itu berkacak pinggang dan menatap Nara dengan pandangan tajam.


"Aku tidak menyuruhmu untuk menemaniku menunggu di sini!"
Sakura memandang Ino kesal. Sedangkan Ino hanya cengengesan melihat sahabatnya. Jam pelajaran telah selesai sejam yang lalu, dan Sakura memang berniat menunggu Sasuke. Khawatir katanya. Namun gadis bermahkota pink itu tidak menyangka bahwa Ino juga akan ikut menemaninya menunggu. Jelas saja Sakura kesal, Ino pasti punya maksud lain. Gadis itu terus mengumpat kesal dalam hati, pasti Ino ingin menemui Sasuke! Sahabatnya itu ingin merebut pemuda yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta!
"Wah, kau jahat sekali Jidat, aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja," jawab Ino enteng dengan wajah innocent yang membuat perempatan siku-siku muncul di dahi Sakura.
"Menunggu di sini benar-benar membosankan! Kau tidak bosan menunggu seperti ini setiap hari?!" tanya Ino. Sedangkan Sakura hanya tersenyum-senyam.
"Tidak juga, membayangkan akan bertemu dengan Sasuke membuat waktu seakan berputar begitu cepaaatt~" Ino memandang Sakura dengan tatapan aneh. Sakura sudah gila sekarang! Tidak ada lagi Sakura yang cuek, dia menjelma menjadi Sakura yang dramatis!

"Kita harus menunggu tiga jam lagi untuk bertemu dengannya!" Sakura menunjuk arlojinya yang menunjukkan pukul 06.00 p.m, perkataan itu membuat Ino sukses membelalakkan matanya.

"HEEEEHHH?!"

~~~0~~~

.

.

.

"Sakura-chaaaannn!" Sakura dan Ino menoleh ke sumber suara. Kini, mata emerald dan aquamarine itu melihat tiga orang pemuda berjalan mendekatinya.

"Hah? Kau lagi?" Sai menunjuk Ino, membuat gadis itu menatapnya galak.

"Apa?!" tanyanya. Sai cepat-cepat menggeleng dan kembali memasang senyum palsunya. Sedangkan pemuda di belakang Naruto dan Sai hanya memasang wajah datar seperti biasanya. Sakura menghampiri Sasuke yang berada di belakang.

"A-ano… bagaimana keadaanmu?" tanyanya. Sasuke hanya menatapnya dan memegang perutnya.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."

"Sekali lagi maaf, Sasuke…" lirih Sakura. Sasuke meresponnya dengan menggumamkan 'Hn' andalannya.

"Oh ya, Teme, Sai, ayo kita masuk! Sekarang pelajaran Orochimaru-sensei!" sorak Naruto. Sakura yang mendengar nama itu tersentak.

"Sa-Sasuke, Orochimaru? Bukankah dia-" Perkataan Sakura terputus saat tangan Sasuke menutup mulutnya. Ino, Sai, dan Naruto memandang keduanya bingung.

"Ng? Kau bilang sesuatu, Sakura-chan?" tanya Naruto seraya mengorek kupingnya menggunakan telunjuknya, memastikan bahwa tak ada yang salah dengan telinganya.

"Tidak. Dia tidak berkata apapun." Sasuke menjawab pertanyaan Naruto. Pemuda berkumis kucing itu mengangguk dan kemudian tersenyum cerah.

"Hei! Kalian berdua, bagaimana kalau kalian ikut ke kelas kami?" ajak Naruto, membuat Sakura dan Ino kaget. Ikut di kelas mereka? Berarti… belajar bersama mereka?

"Usul yang bagus," respon Sai dengan senyum palsunya. "Aku rasa nona pirang ini setuju," lanjutnya.

"Hei! Aku bahkan belum berkata apapun!" ucap Ino protes.

"Tapi aku benar 'kan? Aku yakin kau tak keberatan," ucap Sai. Ino memanyungkan bibirnya, tapi kemudian mengangguk pelan. Sakura yang mulutnya masih ditutup juga ikut menangguk pertanda bahwa ia setuju dengan Ino yang setuju dengan Sai yang setuju dengan Naruto(?).

"Baiklah, ayo semuanya!" ucap Naruto memimpin. Ketiganya berjalan, sedangkan Sasuke dan Sakura tetap diam di tempatnya.

"Hoi? Teme? Sakura-chan? Ayo!" ajaknya.

"Kalian duluan saja, aku masih ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya," ujar Sasuke seraya melirik Sakura melalui ekor matanya. Ino mengembangkan senyumnya.

"Kyaaa! Sakura! Ganbatte!" pekiknya. Ganbatte? Untuk apa?

"Akhirnya penantianmu tidak sia-sia!" pekiknya lagi. Sakura membulatkan matanya, ingin membalas perkataan Ino, namun mulutnya masih dibekap Sasuke.

"Ayo! Kita masuuuk!" Ino menggenggam tangan Naruto dan Sai, mengajak mereka berdua masuk.

"Wah, saking cintanya kau padaku, sampai-sampai kau mencuri kesempatan untuk menggenggam tanganku?" Ino memandang Sai kesal dan seketika melepaskan genggamannya dengan kasar.

"Mimpi saja kau, mayat!"

.

.

.

"S-Sasuke? Apa yang mau kau katakan?" tanya Sakura gugup. Perkataan Ino sungguh membuatnya bertingkah seperti sekarang ini. Dan yang membingungkan, Sasuke dari tadi hanya diam membisu, membuat Sakura bertanya-tanya dalam hati. Apa Sasuke hendak merangkai kalimat yang sesuai? Namun Sakura segera menepis bayangannya itu dengan menepuk-nepuk pelan pipinya. Tidak. Tidak mungkin Sasuke menyatakan cinta padanya. Pasti ada hal lain. Tapi… tidak ada salahnya berharap kan?

"Ino soal Orochimaru." Seketika hati Sakura hancur berkeping-keping, namun ia berusaha tersenyum. Sudah ia duga, ia terlalu berharap lebih.

"Ada apa dengannya?" Seakan kehilangan kesadarannya, Sakura tersentak. "Ah! Iya! Aku baru ingat, Orochimaru itu… mengajar di sini saat malam hari?" tanyanya bingung.

"Benar. Dia menyamar sebagai guru di sekolah ini, namun aku tahu maksud dan tujuan sebenarnya, dia hanya ingin mendekati para murid di sekolah ini, dan pastinya mencari target, juga untuk menjadikannya sebagai budak."

"Bagaimana kau tahu?"

"Kakekku. Uchiha Madara. Dia sudah lama bermusuhan dengan Orochimaru, dahulu, Orochimaru hanya mengejar kaum vampir, tapi entah kenapa, sekarang bukan hanya vampir, namun makhluk seperti Naruto dan Sai juga menjadi targetnya." Sakura mendengar dengan seksama penjelasan Sasuke.

"Tu-tunggu sebentar! Mengincar makhluk seperti Naruto dan Sai? Saat itu, aku sedang bersamamu, berarti dia…"

"Ya, dia menduga kau juga seperti kami." Sakura merenung, namun tiba-tiba pertanyaan kembali meluncur di otaknya.

"Tidak masuk akal, Orochimaru mengajar di sekolah ini. Dan kelas malam hanya terdiri satu kelas, tidak mungkin dia tidak mengahafal siapa muridnya dan siapa yang bukan muridnya, bukan?" Sasuke menyunggingkan senyum mendengar perkataan Sakura.

"Orochimaru hanya melaksanakan misinya di sini. Dia tidak perlu menghafal semua muridnya. Lagipula, Orochimaru adalah guru baru. Semenjak dia mengajar, dia selalu menyebut namaku, meminta pendapatku, seakan mengejekku sebagai cucu Madara yang notebane adalah musuhnya. Namun yang lainnya salah mengartikan, mereka mengira bahwa Orochimaru menyukaiku sebagai murid." Sakura merenung kembali. Orochimaru… nama itu melintas di pikirannya, entahlah. Menyebut namanya saja membuat Sakura merinding. Apakah Orochimaru itu orang yang menyeramkan?

"Aku rasa, lebih baik kau dan teman pirangmu itu pulang sekarang. Orochimaru itu berbahaya, dia pasti akan lebih mengincarmu dan kau akan tercatat sebagai targetnya." Sakura tersenyum mendengarnya.

"Kau mengkhawatirkanku?" Sasuke terkejut mendengar penuturan Sakura. Khawatir? Apa dia benar-benar khawatir pada gadis itu?

"Aku tidak akan apa-apa. Percayalah." Sasuke tercenggang mendengar perkataan Sakura.

"Aku… kurang lebih sekarang bisa mengerti sifatmu, Sasuke. Kau memang dingin, tapi kau lebih memperhatikan orang lain dibanding dirimu sendiri." Sasuke mengernyit kebingungan. Apa maksud gadis itu?

"Kau tidak ingin Naruto dan Sai, serta teman-temanmu yang lain tahu bahwa Orochimaru itu menyamar, dan sebenarnya membahayakan. Itu karena kau ingin berjuang sendiri, kau tidak ingin melibatkan orang lain. Kau ingin melawan Orochimaru sendiri. Bukan begitu, Sasuke?" Mata onyx Sasuke sedikit terbelalak. Bagaimana bisa Sakura mengetahui wataknya yang bahkan ia sendiri tak mengetahuinya?

"Tapi kau salah. Meskipun hanya sedikit, tapi kau juga manusia. Manusia ialah makhluk social, bukan individu, tidak akan bisa berjuang sendiri. Aku yakin teman-temanmu bisa membantumu, Sasuke. Cobalah sedikit terbuka dengan orang-orang di sekitarmu." Sasuke tersenyum simpul. Dan kemudian lelaki itu berjalan di depan Sakura.

"Ayo," ajaknya. Sakura yang kebingungan hanya terdiam di tempatnya.

"Ke mana?" Sasuke membalikkan badannya.

"Menemui Orochimaru."

~~~0~~~

.

.

.

Sakura dan Sasuke memasuki kelasnya. Sakura melihat Ino sedang mengobrol dengan gadis tanpa pupil dengan seorang gadis dengan rambut diikat empat. Sakura mengingat-ingat nama gadis manis tanpa pupil itu, kalau tidak salah… namanya… ya! Hyuuga Hinata! Sakura menghampiri Ino yang duduk di sebelah Sai. Entahlah, meskipun tampak saling tidak menyukai, Ino dan Sai seperti pasangan yang kompak.

"Sakuraa!" seru Ino saat melihat Sakura.

"Sa-Sakura-chan." Sakura tersenyum melihat Hinata yang mengeluarkan semburat merah tipis di wajahnya, dan mata emeraldnya bergulir melihat gadis pirang berikat empat dengan kipas besar di belakangnya.

"Temari." Gadis itu memperkenalkan diri tanpa disuruh.

"Sakura," kata Sakura memeprkenalkan diri sembari tersenyum.

"Wah, aku tidak menyangka bahwa ada manusia yang tidak takut pada kami," ujar Temari. Sakura dan Ino tersenyum sumringah mendengarnya. Sebuah kebanggaan disebut seorang 'pemberani' secara tidak langsung.

Seketika suara riuh kelas hening saat seseorang masuk ke dalam kelas itu. Semua murid beranjak kembali ke tempatnya. Sakura bingung sekarang, dia tidak tahu di mana ia harus duduk sekarang.

"Sakura, kemari." Bak seorang pahlawan, Sasuke memanggil Sakura untuk duduk di sampingnya. Naruto yang tadinya duduk di samping Sasuke telah diusir dan terpaksa harus duduk di samping Hinata yang membuat Hinata tak sadarkan diri saking malunya.

Sakura melihat Orochimaru memasuki kelas. Mata Sakura membelalak kaget melihat sosok Orochimaru. Dia… seperti jelmaan ular! Sakura merinding melihat Orochimaru, dari tampangnya saja, Sakura sudah tahu bahwa Orochimaru adalah orang yang berbahaya! Merasa diperhatikan, Orochimaru menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Sakura membuang mukanya. Keringat meluncur di pelipis Sakura, gadis itu tengah ketakutan saat ini.

Sakura melihat lagi ke arah Orochimaru, ular tua itu masih saja memperhatikan Sakura dengan mata tajamnya, membuat Sakura bergidik ngeri. Ada apa dengan Orochimaru? Apa dia sadar bahwa Sakura sudah mengetahui maksud dan tujuannya berada di sekolah ini? Tubuh Sakura bergetar, namun seketika getarannya itu seakan hilang di terjang ombak saat sebuah telapak tangan menyentuh tangannya dan menggenggamnya. Sakura menoleh ke sampingnya, ke arah Sasuke. Sasuke nampak tidak menghiraukan Sakura dan embuang tatapannya ke depan, namun tangannya tetap menggenggam tangan Sakura, seolah pemuda itu ingin menenangkan Sakura. Menyadari bahwa Sasuke tengah menyemangatinya tanpa ada yang tahu, Sakura tersenyum lembut, dan kemudian menatap Orochimaru dengan pandangan menantang. Entah sadar dipandang dengan tatapan seperti itu, Orochimaru membuang pandangannya ke arah lain, membuat Sakura bernafas lega.

.

.

.

"…membuat kita harus mempertahankan diri kita sendiri dari buruan makhluk lain…" Sakura mengernyit heran. Pelajaran apa ini?! Ini bukannya pelajaran biologi, fisika, kimia, ekonomi, ataupun pelajaran lainnya, tapi ini pelajaran bertahan hidup! Sakura melirik Ino, nampaknya gadis itu juga cengo melihat pelajaran kelas malam ini. Sejak Orochimaru menjelaskan, yang masuk di otak Sakura hanya bertahan, memburu, membunuh, menerjang, dan sebagainya!

"…oleh karena itu, kalian harus cerdik mengendalikan kemampuan kalian, bukan begitu, Uchiha Sasuke?" Sakura tersentak saat Orochimaru menyebut nama Sasuke. Sakura dapat mendengar dengan samar siswa-siswi di kelas itu berbisik-bisik 'Sasuke lagi… Sasuke lagi…' Setidaknya itulah bisikan mereka. Sakura menoleh ke arah Sasuke, sedangkan pemuda itu menatap Orochimaru tajam.

Sedetik kemudian, bel berbunyi. 'Istirahat mungkin,' batin Sakura. Dan tebakannya benar, Orochimaru keluar ruangan, sementara para murid keluar kelas.

"Huaa… Sakura, aku akan dimarahi oleh ayahku! Sekarang sudah pukul sebelas malam!" ucap Ino cemas. Sakura juga cemas dalam hatinya, mungkin ibunya sekarang sudah menelpon teman-temannya yang lain untuk mengorek informasi tentang dimana ia berada saat ini.

"Benar juga… bagaimana kalau kita pulang sekarang?" ajak Sakura. Ino mengangguk.

"Butuh antaran Nona?" tawar Sai. Ino yang mempunyai pengalaman buruk atas pertanyaan ini hanya diam saja.

"Tidak perlu Sai," jawab Sakura. Sai hanya tersenyum palsu seperti biasanya.

"Kali ini bukan kau, aku menawarkan kepada seseorang yang telah jatuh cinta padaku sehingga rela duduk berdampingan denganku," ujarnya tenang. Ino menatap Sai tajam. Ke-GR-an sekali dia!

"Tidak perlu! Kalaupun ada yang kutakuti, itu berarti kau!" tunjuk Ino. Sai menunjukkan ekspresi sedih yang baru kali ini Naruto, Sasuke, serta Sakura lihat. Ino yang merasa telah keterlaluan segera meminta maaf.

"Ah, ma-maafkan aku Sai, bukannya aku bermaksud untuk-"

"Sesulit itukah kau jujur dengan perasaanmu bahwa kau ingin diantar olehku yang telah membuatmu jatuh cinta ini?" Dan perkataan itu sukses membuat Ino membalikkan badannya.

"Cih! Sakura! Ayo kita pulang!" ujarnya kesal. Sakura pun berpamitan pada Naruto, Sai, dan Sasuke. Setelah berpamitan, mereka pun berjalan meninggalkan ketiga pemuda itu. Namun di tengah perjalanan, saat ingin menuju ke lapangan, Sakura terjatuh tanpa alasan (baca : jatuh konyol) membuat Naruto dan Ino tertawa kencang melihatnya. Namun seketika mereka berhenti tertawa saat Sakura meringis kesakitan. Gadis itu memegang lututnya. Ino terbelalak melihat darah mengalir di lutut Sakura.

"Sakura!" teriaknya. Sasuke segera menghampiri Sakura dan melihat lututnya. Sasuke melihat beling-beling kaca serta paku payung yang menancap di lutut gadis itu, yang membuat darah mengalir di lutut Sakura. Sakura tetap meringis.

"S-sakit…" rintihnya. Sasuke menggendong Sakura menuju tempat duduk di sekitar lapangan.

"Bagaimana kau bisa seceroboh ini?" gumam Sasuke dan melihat luka-luka Sakura.

"Akh!" Sakura tak kuasa menahan tangis saat Sasuke mencabut salah satu paku payung yang menancap di lutut kirinya. Paku itu menancap cukup dalam. Naruto dan Sai yang daritadi menghilang kini kembali membawa kotak P3K.

"Tahanlah," perintah Sasuke dan mencabut paku payung serta beling-beling kaca dari lutut Sakura. Tangis Sakura semakin pecah, air matanya jatuh membasahi luka-lukanya.

"Semuanya sudah kucabut, aku akan mengoles-" Perkataan Sasuke terputus seketika. Onyxnya membelalak.

"Ada apa, Sasuke?" tanya Ino yang mewakili pertanyaan Naruto dan Sai.

"Sakura, lukamu…" Sakura berhenti terisak. Ia melihat lukanya, ada apa dengan luka itu?

"Kenapa… bekas tancapan beling dan paku payung itu hanya tinggal tiga?" Semuanya memperhatikan lutut Sakura. Benar juga, tadi luka itu ada banyak, mungkin lebih dari lima, tapi kenapa tinggal tiga?

"Sakura, air matamu…" Sakura menutup matanya rapat, membuat sisa-sisa air mata tadi jatuh dan menetes di salah satu lukanya, semuanya terkejut melihat luka yang ditetesi air mata tadi perlahan-lahan menutup, seakan telah sembuh dan seakan tidak terjadi apa-apa di sana.

"A-aku…" Sakura kehilangan kata-katanya, masih shock dengan peristiwa yang dihadapinya saat ini.

"Sakura kau…" Naruto memandang Sakura tak percaya.

.

.

.

"…bukan manusia biasa."
.

.

.
Gadis kecil itu nampak celingak-celinguk mencari ibunya. Desak-desakan orang dewasa tak ayal membuat tubuhnya berkali-kali linglung saat orang-orang menabraknya. Theme Park kali ini memang ramai sekali. Ia mendongakkan kepalanya, ia masih tak melihat ibunya.

"Ibu…" lirihnya dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Sudah setengah jam ia terpisah dari ibunya karena gadis kecil itu terlepas dari genggaman ibunya saat ia ingin melihat boneka teddy bear besar berwarna putih yang membuatnya tertarik. Namun alhasil, ia terpisah dari ibunya. Ia berkeliling di Theme Park itu, namun ia masih tak dapat menemukan ibunya.

"Hiks…" Air mata mulai membasahi pipi chubby-nya. Ia kemudian berjongkok dan menutup wajahnya dengan tangan mungilnya sambil menangis. Sekarang, ia pasti akan diculik. Pikirannya mulai melayang ke berita yang biasa dinonton ibunya tentang kasus penculikan, kasus penculikan tersebut bertujuan untuk memperbudakkan anak-anak. Air matanya semakin deras saat mengingat berita tersebut.

"Ayah…belikan aku boneka yang ini~!" Sebuah rengekan membuatnya mendongak. Ia kini melihat seorang anak yang berada di gendongan ayahnya menunjuk-nunjuk boneka teddy bear yang membuatnya tertarik. Ayah anak itu terlihat tersenyum simpul seraya menyerahkan anak tadi ke gendongan ibunya.

"Tunggu sebentar sayang, boneka itu pasti akan menjadi milikmu." Ayah anak itu kemudian menyerahkan beberapa lembar uang pada penjualnya dan mengambil boneka itu, lalu ia serahkan kepada anaknya yang tersenyum sumringah kala menerima boneka yang ia inginkan itu.

"Terima kasih ayah! Aku sayang ayah!" ucap anak itu. Ayahnya mengelus pucuk rambut coklat anak kecil tadi.

Sedangkan gadis kecil berambut pink yang tadi melihatnya tertegun di tempatnya melihat sebuah keluarga di depannya.

"Sakura!" Ia tersentak dan melihat ibunya tergopoh-gopoh berlari ke arahnya.

"Ibu!" Sakura berlari ke pelukan ibunya dan memeluknya erat.

"Terima kasih kami-sama…" Ibunya tampak sangat bahagia melihat anak gadis semata wayangnya itu. Sakura membalikkan badannya, hendak melihat keluarga kecil tadi, namun matanya kini hanya memandang si penjual, keluarga tadi sudah pergi.

"Ayo kita pulang, Sakura…" ucap ibunya dan menarik halus tangan Sakura.

"Ibu…" Sakura menarik tangan ibunya.

"Ya sayang?" Sakura menundukkan kepalanya.

"Kenapa aku… tidak punya ayah?"

Night School

Rated : T (teen)

Pairing : SasuSaku of course

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Genre : Romance, Fantasy.

Warning : Ooc, abal, gak menarik, don't like don't read!

Chapter 7 : The truth

.

.

.

"Ngghh…" Desahan kecil dilontarkan oleh seorang gadis yang kini terbaring di kasurnya. Desahan tersebut diakibatkan oleh kurang nyamannya sang gadis terhadap cahaya yang masuk melalui ventilasi-ventilasi kamar berukura meter itu. Sang gadis menggeliat di kasurnya sebelum membuka matanya. Ia kemudian bangun dan terduduk di kasurnya seraya mengucek matanya. Kepalanya sungguh pusing sekarang, ia mengingat-ingat apa yang terjadi padanya.

Ingatannya mulai melayang saat ia terjatuh di sekolahnya. Saat ia menangis, lukanya sembuh, dan perkataan Naruto. Seingatnya, setelah itu ia langsung pamit pulang bersama Ino tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia terlalu shock dengan kenyataan yang diterimanya.

Gadis itu beranjak dari kasurnya dan menuruni tangganya. Ia melihat ibunya sedang menyiapkan sarapan. Melihat ibunya, membuatnya teringat mimpi yang menceritakan masa lalunya saat ia masih kecil, saat ia tersesat di salah satu Theme Park yang berada di Iwagakure. Saat itu, saat ia menanyakan mengapa ia tak punya ayah, ibunya hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ayahnya kini berada di tempat yang jauh. Dan saat itulah Sakura menyimpulkan bahwa ayahnya telah tiada. Ayahnya telah meninggal, meninggalkannya dan ibunya, dan Sakura juga menyimpulkan bahwa ayahnya telah tiada bahkan sebelum gadis itu lahir.

"Sakura? Apa yang kau lakukan di situ? Pagi-pagi sudah melamun!" Sakura tersentak dan menghampiri ibunya. Gadis itu menduduki salah satu kursi yang berada di hadapannya sambil mengoleskan selai pada rotinya.

"Ibu, kepalaku pusing. Aku tak mau sekolah hari ini." Perkataannya membuat ibunya menghentikan aktivitasnya. Ibunya kemudian menempelkan telapak tangannya di kening lebar anaknya.

"Hangat. Ya sudah, setelah makan, minum obat dan beristirahatlah," ucap ibunya yang bernama Haruno Mebuki itu dengan senyum lembut yang menghiasi wajahnya. Sakura mengangguk sebagai jawaban. Setelah makan, ia mengambil obat dan meminumnya serta beranjak ke kamarnya untuk tidur. Sungguh. Kepalanya sangat pusing hari ini.

.

.

.

~~~0~~~

.

.

.

"Sakura, Ino menelpon, ia ingin berbicara denganmu."

"Bilang kalau aku tidur!" Ibu Sakura menghela nafas mendengar jawaban putrinya. Ia kemudian nampak berbicara di telpon dan menghampiri Sakura yang terbaring di kasurnya.

"Kau ada masalah?" tanya ibunya pelan. Sakura menggeleng sebagai jawaban.

"Tidak biasanya kau seperti ini. Kau sudah tiga hari tak masuk sekolah, tak ingin mengangkat telepon dari temanmu, dan sebagainya…" Sakura terdiam mendengar perkataan ibunya.

"Aku hanya pusing, tak ada apa-apa, ibu keluarlah. Aku ingin sendiri." Haruno Mebuki hanya mendesah dan meninggalkan Sakura di kamarnya. Sakura mengangkat kepalanya saat ibunya keluar kamarnya.

"Aku tidak apa ibu, aku hanya terlalu sulit menerima kenyataan." Gadis itu menutup matanya. Ya, dia tidak sanggup menerima semua ini. Kenyataan bahwa ia bukan manusia membuatnya terpukul. Bukan manusia. Padahal ibunya jelas manusia. Satu kesimpulan ditariknya saat memikirkan itu. Ia bukan anak ibunya, dan ayahnya tak meninggal. Hanya ayahnya memang benar-benar tidak ada sejak awal. Entah darimana ibunya memungutnya, Sakura tak mau tahu, dan ia tak mau menanyakannya. Kenyataan pasti sangat membuatnya sakit.

Air mata menetes di wajahnya. Ia sayang ibunya. Membayangkan bahwa wanita itu bukan ibunya membuatnya terpuruk dan sedih. Tunggu. Tapi itu hanya kesimpulan. Bisa saja itu tidak benar, bukan?

Namun, penjelasan tentang bagaimana Sasuke terbentuk(?) membuatnya terpuruk kembali. Tidak mungkin ibunya itu manusia sedangkan dia salah satu bagian dari Sasuke. Bukan manusia, Sakura tak tahu ia spesies yang bagaimana, ia lagi-lagi tak mau tahu.

Sakura melirik ponselnya. Ponselnya itu sudah berapa kali bergetar, namun ia tak kunjung meliriknya. Dan sekarang ia mengambil benda mungil itu dan membuka flip-nya.

18 missed call

21 messages

Mata emeraldnya membelalak saat melihat jumlah sms dan panggilan tak terjawab yang masuk. Semuanya dari Ino. Ia tak menyangka sahabat pirangnya itu sungguh mengkhawatirkannya.

From : Ino-Pig

Hey Jidat! Kenapa kau tak ke sekolah? Aku kesepian!

Sakura tersenyum kecil melihat pesan Ino. Ia kemudian membuka salah satu pesannya lagi.

From : Ino-Pig

JIDAATTT! Kau sudah mati yah?!

Sakura sweatdrop melihatnya. Ini pesan kemarin yang belum sempat di bukanya. Tunggu. Sakura melihat nama lain yang menghubunginya. Sakura membaca pesan tersebut.

From : Gaara-taichou

Hei. Kau masih sakit? Untuk sementara, jabatanmu aku berikan pada Ino. Festival yang akan diadakan semakin mendekat, tak ada jalan lain selain memberikan pangkat sementara pada sahabatmu, si cerewet berotak kosong itu.

Sakura tertawa saat melihat kata 'si cerewet'. Namun ia merasa bersalah pada Gaara. Ia kemudian membuka pesan Ino. Sakura dapat melihat tanggal pengirimannya, pesan ini baru dikirim sejam yang lalu.

From : Ino-Pig

Sakuraaa! Kau benar-benar meninggal yah? Kenapa tak mengangkat telponku? Kau kritis? Kau baik-baik saja kan? Kau jangan membuatku khawatir bodoh!

Dan… gara-gara kau, aku ditunjuk sebagai penggantimu! Dalam rapat, aku tak tahu mau bilang apa, sehingga kuceritakan saja pengalamanku saat berbelanja di mall. Hohohohoho!

Sakura sekali lagi sweatdrop melihat pesan Ino. Dasar Ino! Sahabatnya itu memang ada-ada saja perilakunya. Ia memutuskan untuk membalas pesan Ino.

To : Ino-Pig

Maaf, aku sibuk sehingga tak membalas pesanmu (maklum, artis…)

Kau sabar saja dalam memimpin rapat…hahaha…

Sakura menekan tombol send yang tertera di ponselnya, 0,5 detik setelah pesan itu terkirim, sebuah balasan masuk lagi. Ino sudah membalasnya. Wow. Cepat sekali gadis pirang itu membalasnya.

From : Ino-Pig

Hwek!

Ah, Sakura, maaf aku tak menjengukmu, tugas sebagai wakil itu sungguh melelahkan! T.T

Tapi nanti aku berencana menjenguku lhooo!

Sakura memiringkan kepalanya. Ino ingin menjenguknya! Cicitan gadis itu pasti akan membuat kepalanya semakin sakit, namun tak dapat dipungkiri, Sakura merasa terhibur oleh pesan-pesan Ino. Ino memang sahabat yang bisa diandalkan.

.

.

.

~~~0~~~

.

.

.

"Sakura, ada tamu untukmu!" Teriakan ibunya membuat Sakura menuruni tangga dengan cepat. Pasti Ino, pikirnya.

"Sakuraaa!" Nah, tebakan Sakura benar. Suara cempreng Ino membuatnya menutup telinganya.

"Lihat, siapa yang datang!" Sakura melihat tiga pemuda di belakang Ino. Naruto, Sai, dan… Sasuke?

"Hai Sakura-chaannn~" Naruto tersenyum tiga jari saat melihat Sakura. Sakura tersenyum melihatnya.

"Ah, kau…" Ibu Sakura menunjuk Sasuke. "Kau yang pernah mengantar Sakura saat dia ketiduran di sekolah kan?" Sasuke mengangguk mendengar pertanyaan ibu Sakura.

"Terima kasih sudah mengantarnya, aku tidak sempat berterimakasih dulu, karena kau langsung saja menghilang." Sasuke tersenyum tipis mendengarnya.

"Eh?" Sakura baru mengerti sekarang. Jadi… saat ia ketiduran, Sasuke yang mengantarnya pulang?!

"Kok malah 'eh'? Suruh teman-temanmu masuk!" Perintah ibu Sakura. Sakura menyuruh ketiganya masuk.

"Sakura, ibu ingin membeli minuman dulu, kau mengobrol saja dengan teman-temanmu…" Ibu Sakura pun pergi ke luar rumah, Sakura mengangguk sebagai respon.

"Kau terlihat sehat-sehat saja!" Ino mendengus.

"Bagaimana kau bisa bersama ketiganya?" tanya Sakur kebingungan.

"Mereka bolos sekolah! Dan aku yang memanggilnya ke sini!" jawab Ino santai.

"Wah… jadi ini rumahmu ya Sakura-chan? Sungguh terlalu 'perempuan'!" Naruto berkata seraya melihat-lihat isi rumah Sakura.

"Hihihi… memang tak ada lelaki yang pernah tinggal di sini. Aku bersama ibuku sejak lahir." Sasuke menoleh ke arah Sakura saat mendengar omongan Sakura.

"Ada apa, Sasuke?" Merasa diperhatikan, Sakura menoleh ke arah Sasuke. Sasuke hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Kau sebenarnya sakit apa?" Perkataan Ino melunturkan senyum yang sebelumnya tercetak dibibir Sakura. Suasana yang semula santai kini mendadak menjadi serius.

"Aku pusing, selain itu…" Sakura menegak ludahnya. "…aku belum bisa menerima kenyataan bahwa aku bukan anak ibuku." Semuanya terbelalak mendengar perkataan Sakura.

"Bukan anak ibumu?! Bagaimana bisa?!" tanya Ino.

"Aku juga tidak tahu! Aku hanya mengambil kesimpulan saja. Ibuku jelas manusia!" kata Sakura.

"Karena ibumu manusia, kau mengambil kesimpulan itu?" Sai yang tadinya hanya tersenyum saja kini berbicara. Sakura mengangguk.

"Belum tentu." Perkataan Sasuke membuat semuanya menoleh ke arahnya. Termasuk Sakura.

"Apa maksudmu?"

"Aku tak tahu." Jawaban Sasuke sukses membuat semuanya menjadi gubrak (?).

"Kenapa kau tak bertanya saja pada ibumu?" Pertanyaan Naruto membuat semuanya menatap Sakura.

"Aku takut…" lirih Sakura. "Aku takut kalau memang ibu bukan ibu kandungku…"

"Justru karena ketakutanmulah, kau tak akan menemukan jawabannya," ucap Sai yang membuat Ino takjub.

"Waahh… tumben kau berbicara logis," puji Ino. Sai tersenyum.

"Ya, ini kutipan salah satu novel yang sudah kubaca kemarin." Dan jawaban pria berkulit putih itu membuat Ino tepar di tempat.

"Bagaimana kalau kita menanyakannya saat ibu Sakura pulang?" usul Naruto yang disambut anggukan pertanda setuju.

"Tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian!" potong Naruto, membuat Sakura hanya bisa pasrah.

.

.

.

~~~0~~~

.

.

.

"Ibu pu-eh?" Haruno Mebuki memandang kelima remaja di depannya dengan penuh kebingungan. Pasalnya, kelima remaja tersebut menatapnya dengan penuh intimidasi, sehingga membuatnya kebingungan sekaligus sedikit…gugup.

"Kenapa kalian memandangku seperti itu?" tanyanya, lebih tepat pada Sakura yang kini juga menatapnya dengan tatapan agak tajam.

"Aku ingin ibu menjelasakan sesuatu untukku," ucap Sakura tegas. Ibunya semakin memandangnya heran. Menjelaskan sesuatu?

"Apa yang perlu kujelaskan?" tanya ibu Sakura gugup.

"Siapa sebenarnya aku?" Ibu Sakura menelan ludahnya mendengar pertanyaan Sakura yang langsung 'jleb' di hatinya. "Aku anak siapa?" tanya Sakura lagi.

"A-apa maksudmu Sakura?" Wajah ibu Sakura semakin pucat pasi. Ia sekarang mengerti akan pertanyaan anaknya, namun ia berusaha berpura-pura tidak mengerti.

"Ibu jangan pura-pura bodoh! Aku tahu ibu mengetahui maksudku!" bentak Sakura, mata gadis itu telah berkaca-kaca.

"S-Sakura, ibu…"

"Jawab! Aku bukan manusia biasa 'kan?" Ibu Sakura terpojok sekarang, ia tak tahu harus berkata apa pada gadis yang berada di depannya.

"Aku bukan anak ibu 'kan?! Dan… ibu mengelabuiku bahwa ayah telah tiada, tapi sebenarnya ayah memang sejak awal tidak pernah ada!" Sakura terhenti sejenak. "Ibu… hanya memungutku 'kan?"

PLAAK!

Sebuah tamparan keras pada Sakura membuat semuanya tercenggang kaget, Sasuke bahkan juga ikut terkejut. Bahkan, ibu Sakura yang menampar pun ikut terkejut melihat perlakuannya sendiri. Sakura terdiam, gadis itu merunduk, tak mengucapkan sepatah katapun.

"Sa-Sakura, maafkan aku… aku tak bermaksud menamparmu, aku…" Sakura mengangkat kepalanya, kini semua bisa melihat cairan bening yang menetes dari mata emeraldnya.

"CUKUP!" amuknya. "Aku tak mau dengar penjelasan ibu!" Sakura menutup telinganya dan dengan langkah cepat, dia menaiki tangganya. Semuanya dapat mendengar bunyi 'blam!' keras dari atas.

"Bibi…" Ino merasa kasihan pada kedua anak-ibu tersebut. Ia mendekati ibu Sakura yang tubuhnya bergetar menahan tangis, gadis itu menjulurkan tangannya dan memeluk ibu Sakura. Sai dan Naruto terdiam. Tapi…

"Eh? Dimana Sasuke?" tanya Naruto yang menyadari Sasuke tak berada di dekatnya ataupun di ruangan itu. Sai yang mendengarnya juga ikut mencari Sasuke. Namun Naruto menunjuk ke arah tangga, terlihat Sasuke yang menaiki anak tangga terakhir sebelum tubuhnya menghilang. Naruto hendak menyusulnya, tapi…

"Biar Sasuke yang menenangkan Sakura," ucap pemuda suka senyum itu, membuat Naruto mengangguk.

.

.

.

"Hiks…hiks…"

"Kau bahkan telah kabur sebelum mendengar penjelasan ibumu."

Sakura menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat Sasuke bersender di pintu dengan tangan yang dilipat di dadanya. Sakura segera membuang mukanya melihat pemuda itu.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Membencinya?" Pertanyaan Sasuke membuat Sakura bungkam, bahkan gadis itu berhenti terisak.

"A-aku… tak bermaksud membencinya, aku hanya… aku hanya kecewa…" lirih Sakura, Sasuke mendekatinya.

"Perasaan kecewamu tak akan sebanding dengan perasaan kecewa ibumu." Sakura menoleh ke arah Sasuke. "Kau hanya memikirkan perasaanmu saja, tanpa memikirkan perasaan orang lain," Sasuke menghela nafas. "Kau egois."

Jleb!

Tepat sekali, Uchiha Sasuke. Pernyataan itu sungguh tepat bagi Sakura.

"Lalu… aku harus bagaimana…?" lirih Sakura, dia mulai terisak lagi.

"Kau harus percaya pada ibumu. Dengar penjelasannya, dan setelah itu baru kau bertanya apa yang harus kau lakukan," ucap Sasuke datar. "Memang kadang yang kita tak inginkan terjadi pada diri kita, kau tahu? Aku bahkan sama sekali tak ingin jadi seorang vampire, monster, ataupun sebagainya." Sakura menoleh lagi pada Sasuke, sedikit tersentak dengan pengakuan atau isi hati pemuda itu. "Tapi aku sadar, sejak awal aku memang ditakdirkan untuk menjadi seperti ini, aku tak bisa mengelak. Yang aku bisa lakukan hanya menahan nafsuku untuk membunuh."

"Sasuke…" Seakan ada yang menyadarkannya, Sakura tersentak. "Ah! Kau belum menjelaskan kenapa kau tak suka membunuh!" kata Sakura menunjuk Sasuke.

"Hn. Alasanku tak suka membunuh, karena aku telah melihat seseorang membunuh di hadapanku saat aku masih kecil." Sakura membelalakkan matanya.

"Si-siapa orang yang terbunuh itu?" tanya Sakura penasaran, Sasuke terdiam sejenak.

"Kakakku." Sakura kini sangat membelalakkan matanya, ia sangat super duper shock sekali banget(?) mendengar pernyataan Sasuke.

"Ka-kakakmu? Bagaimana bisa?"

"Kau tahu? Banyak sekali yang mengincar kaum seperti kami, apalagi aku dan kakakku yang tercampur tiga aliran sekaligus."

"Tapi apa tujuan mereka?" tanya Sakura.

"Tentu saja menguasai dunia. Aliran kami banyak diincar, karena memiliki keistimewaan. Maka dari itu, monster tulen banyak yang mengincar kami, karena selain kekuatan seperti mereka, kita juga termasuk manusia yang memiliki perasaan dan daya juang yang tinggi. Perasaan itu berguna untuk meneruskan keturunan." Sakura mengangguk.

"Jadi Orochimaru…"

"Hn, dia monster tulen. Mereka ingin menghancurkan kaum kami dan menguasai dunia. Karena jika ada kami, sebagai monster yang punya perasaan, pasti ingin melindungi manusia yang juga kaum kami agar tak diperbudakkan oleh mereka."

"Jadi… aku ini… apa?" Sasuke memandang Sakura.

"Untuk jawaban dari pertanyaanmu, hanya ibumu yang tahu."

.

.

.

"Sakura! Sasuke!" Ino menyeruakkan dua nama yang kini tengah menuruni tangga. Ibu Sakura mendongak melihat mereka dan tersenyum sumringah.

"Jangan tersenyum dulu ibu, urusan kita belum selesai." Selesai berkata demikian, Sakura membuang wajah, ibu Sakura tersenyum.

"Baiklah, ibu akan menjawab pertanyaanmu." Sakura yang tadi membuang muka kini menoleh pada ibunya yang tersenyum.

"Tentang kau ini siapa, kau benar. Kau bukan manusia biasa," ucap ibu Sakura. Semuanya mendengar dengan seksama penjelasan ibu Sakura.

"Tapi kau punya pernyataan yang salah." Ibu Sakura terdiam sejenak. "Kau anakku. Anak kandungku, meskipun aku manusia tulen." Sakura tertegun mendengarnya.

"Jadi…" Ibu Sakura menatap Sasuke yang ingin menyimpulkan sesuatu.

"Kau benar anak muda, ayah Sakuralah yang punya aliran yang mirip dengan Sakura," jelas ibu Sakura. Sakura tercenggang mendengarnya. Berarti… dia punya ayah?

"Ayahmu, setengah monster setengah manusia. Kami bertemu di malam hari, saat aku pulang dari tempat kerjaku, aku dihalangi oleh preman-preman kota, dan saat itulah ayahmu menolongku." Ibu Sakura tersenyum mengenang kenangannya. "Saat itu dia seperti pahlawanku. Mereka melawan preman itu tanpa menyentuhnya, seakan preman itu terlempar atas kehendaknya sendiri, aku yang dulu sudah dewasa mengerti, bahwa ayahmu bukanlah manusia biasa."

"…kami akhirnya sering bertemu sejak kejadian itu, ayahmu pun melamarku, dan sebulan setelah pernikahan, ayahmu mendapat kabar buruk." Semua yang ada di ruangan itu serius mendengarkan. "Kabar buruk bahwa 'the hunter', orang-orang yang ingin memburu kaum mereka kembali sejak seratus tahun lebih menghilang. The hunter tersebut telah melakukan aksi penculikan di berbagai Negara. Dan saat itu, Jepang mulai menjadi sasaran mereka. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menculik, karena mereka berjumlah sangat banyak."

"…dan saat itu, ketika aku masih mengandung, ayahmu diculik saat pulang kantor."

"Kantor? Memangnya paman bekerja? Bukannya dia monster?" Sai mendelik mendengar perkataan Ino.

"Dengar dulu ceritanya, gadis aneh!" Dan Sai pun mendapat tatapan maut dari Ino.

"Ayah Sakura memutuskan untuk menjadi manusia saat menikahiku…" jelas ibu Sakura. "Tapi, biar menyamar seperti itupun, para hunter itu masih saja menemukan ayahmu, sejak ayahmu diculik, dia tak pernah muncul lagi, bahkan saat kau lahir, Sakura. Ibu juga tidak tahu di mana ia berada sekarang, hidup atau matipun, ibu juga tak tahu…" Ibu Sakura menatap sendu kelima remaja tersebut.

"Apakah ada kemungkinan bahwa ayah masih hidup?" tanya Sakura berharap. Ibu Sakura tersenyum.

"Meski sedikit, masih." Jawab ibu Sakura.

"Masih." Sasuke menegaskan, membuat semua pandangan tertuju ke arahnya. "Hunter itu pasti tidak langsung membunuh, mereka pasti akan mengumpulkan semuanya terlebih dahulu sebelum dibunuh. Hn, hanya pendapatku." Sasuke menjelaskan. Naruto mengangguk pertanda setuju, namun entah dia mengerti atau tidak.

"Aku harap kau juga berhati-hati Sakura, itu sebabnya ibu tak mau memberitahumu perihal masalah ini, ibu tak mau kau terluka. Ibu sebenarnya juga tahu tentang sekolah malam yang berada di sekolah kalian," jelas ibu Sakura yang lagi-lagi membuat kelima remaja tersebut terkejut.

"Aku sudah memberitahu Tsunade, kepala sekolah kalian, yang ternyata juga merupakan anggota dari kalian."

"Ja-jadi Sakura-chan juga anggota dari kami?" tanya Naruto, ibu Sakura mengangguk.

"Di dunia ini, ada dua macam kekuatan, penghancur dan pengendali. Pengahncur untuk melindungi si pengendali, dan pengendali untuk mengontrol si penghancur. Sakura termasuk pengendali, ia tak bisa menghancurkan, ataupun melawan, namun dia dapat mengendalikan dan mengobati." Semuanya mengangguk mendengar penjelasan orang tertua di ruangan itu.

"Dan ternyata kalian juga sama dengan Sakura, aku senang Sakura mempunyai teman…"

"Darimana ibu tahu kalau mereka bukan manusia biasa?" tanya Sakura bingung.

"Hehe! Aku yang menceritakannya!" cengir Ino. "Tapi bibi… semuanya kecuali aku, aku manusia biasa kok…"

"Biasa, heh?" Ino mendeathglare Sai yang nampak mengejeknya.

"Nah, sekarang, kalian puas sudah mengetahuinya?" tanya ibu Sakura. Semuanya mengangguk, namun Sakura menggeleng.

"Aku belum puas!" ucapnya. Membuatnya mendapat tatapan kebingungan.

"Aku belum bertemu ayah, aku baru puas setelah menyelamatkan ayah dari hunter itu!" Ibu Sakura tersenyum terharu mendengar perkataan Sakura.

"Sakura…" lirihnya.

"YEAH! Mari kita menyelamatkan ayah Sakura dan melawan penjahat!" ucap Naruto riang. Sasuke menghela nafas melihat kekonyolan mereka.

"Aku juga ikuuutt!" kata Ino semangat.

"Oke, baiklah. Kita akan berjuang bersama untuk menyelamatkan ayahmu Sakura!" Sai tersenyum. Sakura mengangguk riang. Sedangkan Sasuke mendengus.

Hn. Pertempuran mereka akan dimulai.

.

.

.

~~

Chapter 8 : Uchiha Itachi?

.

.

.

"Orochimaru-sama, anda memanggil saya?" Seorang pemuda berambut abu-abu datang dan menunduk kepada seorang pria paruh baya yang kini duduk di kursi berbentuk ular dengan senyum merekah namun terkesan menyeramkan.

"Ya, aku ingin menyampaikan berita menarik padamu." Kabuto, pemuda tadi mendongak menatap Tuannya yang menyeringai, dengan pandangan ingin tahu, Kabuto pun bertanya pada Tuannya itu. "Apa itu?"

"Uchiha Sasuke sudah tahu kebenarannya, menurut prediksiku, dia sudah lama mengetahuinya." Kabuto masih mengernyit heran, belum menangkap maksud dari perkataan Tuannya. "Cepat atau lambat, Sasuke pasti menyerangku. Dan saat itu, aku akan mengambil darahnya seperti yang kulakukan pada kakaknya, bukankah itu berita bagus, Kabuto?" Kabuto tersenyum kemudian mengangguk.

"Ya, senang mendengarnya. Darah Uchiha Sasuke pasti akan membuat kekuatan Orochimaru-sama meningkat." Orochimaru tertawa renyah mendengarnya.

"Akan kupastikan, Uchiha Sasuke akan bernasib sama dengan Uchiha Itachi, maka dari itu, aku akan memancingnya agar menyerangku…"

.

.

.

"Sakura-chaaaannn!" Sakura dan Ino menoleh saat dilihatnya Naruto, Sasuke, dan Sai datang menghampirinya. Kedua gadis itupun tersenyum, ternyata ritual mereka menunggu Sai, Sasuke dan Naruto berlangsung tak begitu lama. Mereka bertiga datang lebih cepat dari jam sekolah mereka.

"Jadi? Apa yang perlu kita bicarakan?" Sai memulai pembicaraan mereka dengan senyum khas-nya.

"Entahlah, tanya pada orang yang memanggil kita datang lebih cepat," jawab Naruto dan melirik Sasuke. Sasuke yang dilirik seperti tersangka hanya mendengus sebal.

"Aku mau mengajak kalian ke suatu tempat," kata Sasuke dengan wajah stoic-nya.

"Ke mana?" tanya Sakura mewakili pertanyaan ketiga temannya. Sasuke hanya memandang Sakura tanpa berbicara sedikitpun.

"Na-Naruto-kun…" Mereka berlima membalikkan badan mereka saat mendengar sebuah suara halus yang memanggil nama Naruto. Sepuluh pasang mata tersebut kini melihat seorang gadis bermata lavender dan seorang pemuda berambut coklat panjang berdiri di hadapan mereka.

"Hinata-chan! Neji!" Hinata yang namanya disebut oleh Naruto kini hanya tersenyum malu-malu dan memainkan kedua jarinya, kebiasaannya ketika sedang malu.

"Kenapa kalian datang secepat ini?" Ino bertanya pada Hinata, Hinata hanya menunduk malu, baru saja ia ingin menjawab, tiba-tiba Neji memotongnya.

"Kalian sendiri? Kenapa kalian datang secepat ini?"

"Kami ada urusan." Sasuke menjawab pertanyaan Neji dengan dingin.

"A-ano… apa kalian sudah mendengar kabar tentang penculikan monster?" Kelima remaja itu menoleh secara serentak pada gadis bermata lavender tersebut, kaget akan perkataan yang dilontarkannya.

"Penculikan? Maksudmu?" tanya Ino.

"Hn, penculikan tentang monster seperti aku, Hinata, Sai, Sasuke dan Naruto. Kasus itu sedang marak-maraknya diperbincangkan. Mengapa kalian tidak tahu?" Neji menjawab pertanyaan Ino. Kelimanya saling berpandangan bingung.

"Sejak kapan?"

"Tiga hari yang lalu. Monster seperti kita berangsur-angsur menghilang. Sebaiknya kalian juga hati-hati. Bisa saja mereka menculik kalian saat kalian lengah." Neji melangkah melewati mereka berlima, Hinata juga menyusul di belakangnya setelah berojigi pada kelima remaja yang kini tengah terkejut mendengar perkataan pemuda berambut pirang coklat itu.

"Dia sudah beraksi…" gumam Sasuke mengernyitkan dahinya.

"Dia siapa?" tanya Sai. Sasuke hanya menggeleng sebagai jawaban dan kemudian melangkah pergi. Sakura, Sai, Ino, dan Naruto juga akhirnya menyusul Sasuke tanpa bertanya apapun lagi pada pemuda stoic itu.

.

.

.

"Sa-Sasuke… kita mau ke mana?" Sakura akhirnya bertanya ketika Sasuke terus berjalan tanpa memandang ke belakang. Sudah setengah jam mereka berjalan, namun tak sampai-sampai ke tempat tujuan. Sasuke juga hanya diam jika ditanya dan terus berjalan tanpa memedulikan temannya yang sudah lelah di belakangnya.

"Aku lelaaaahh!" Ino berteriak kencang. Peluh memang sudah mengalir di pelipisnya saat ini. Naruto dan Sai pun juga mengangguk setuju. Memangnya mereka mau ke mana? Sasuke mendengus dan akhirnya membalikkan badannya. Menatap Sakura yang ngos-ngosan, Ino yang bersandar di tiang listrik jalanan seraya mengelap peluhnya dengan kedua tangannya, Sai yang jongkok di sebelahnya, dan Naruto yang tepar di samping Sakura.

"Kita mau ke mana Sasuke?" ulang Sakura. Sasuke menunjuk sebuah gunung yang terlihat agak jauh di depannya. "Ke sana," jawabnya yang membuat Ino berteriak histeris.

"Haaaahh?! Itukan gunung angker! Aku tak mau ke sana! Mitosnya, saat seseorang ke sana, dia tak akan pulang-pulang lagi. Tak ada yang berani ke sana! Kau gila yah?!" Ino menunjuk Sasuke. Sasuke hanya menatap Ino dengan tatapan stoic-nya. "Gunung itu menyeramkaaann!" teriak Ino menggelegar.

"Kau lebih menyeramkan," kata Sai yang berada di sampingnya seraya menutup telinganya dan langsung disambut dengan jitakan dari Ino.

"Ehhh?! Itukan…" Perkataan Naruto langsung disambut anggukan dari Sasuke.

"Mansion Uchiha. Tempat tinggal para anggota klan Uchiha." Ino dan Sakura tersentak mendengar penuturan Sasuke.

"Uchiha? Siapa itu?" tanya Ino heran.

"Uchiha nama marganya Sasuke. Klan Uchiha adalah klan Sasuke," jelas Sai.

"Eeehh? Di gunung itu tempat tinggal Sasuke? Gunung itu kan angker! Bagaimana bisa kau betah tinggal di sana?" tanya Ino polos. Sai mendelik mendengar cicitan Ino. Gadis yang satu itu memang tak tahu menahu mengenai asal-usul Sasuke.

"Sasuke dan klannya itulah yang membuat gunung itu angker! Mereka keturunan vampire, jadi, kalau ada manusia, mereka akan langsung memakannya." Sai berdiri dan menunjuk ke arah Ino. "Termasuk kau." Ino membelalakkan mata aquamarine-nya. Sai benar juga, yang manusia tulen kan hanya dia! Jadi, cepat atau lambat, dia akan mati sebagai santapan klan Sasuke!

"Tidaaaakk! Aku tak mau ke gunung itu!" Ino dengan cepat berlindung ke punggung Sakura. Sakura terikik geli melihat tingkah Ino. Sai memang jahil pada sahabat pirangnya itu.

"Tenang saja Ino-chan! Kami akan melindungimu!" Ino menatap Naruto dengan pandangan 'blink blink'. Seakan Naruto ialah penyelamat jiwa dan raganya saat ini.

"Benarkah? Wah… arigatou Naruto!" Ino tersenyum manis kepada Naruto, membuat Sai mendengus sebal dan membuang wajahnya.

"Ayo Sasuke! Kita berangkat. Semakin cepat kita berangkat, maka semakin cepat pula nenek pirang cerewet itu disantap!" Sai melangkah sebal, meninggalkan Naruto, Sakura, dan Ino yang cengo melihat tingkahnya yang tak biasanya. Lebih-lebih Naruto, baru kali ini ia melihat sahabat yang biasanya tampil dengan topeng palsunya itu kini mengeluarkan wajah sebalnya seperti itu.

.

~~~0~~~

.

"Selamat datang, Tuan Sa-"

"Dimana tua bangka itu?"

Sasuke memotong perkataan pelayannya saat ia masuk ke dalam mansionnya. Sakura dan Ino menganga lebar melihat rumahnya yang lebih pantas disebut istana dari pada rumah itu. Mereka berdua tak menyangka ada bangunan seindah ini di gunung yang selalu disebut angker dan membawa kutukan bagi siapa saja yang datang.

"Tuan Madara ada di ruangannya." Sasuke melangkah begitu saja melewati pelayannya, dasar tidak sopan. Mereka menuju ke sebuah ruangan yang nampaknya merupakan ruangan terbesar di rumah itu. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Sasuke langsung saja memasuki ruangan Madara. Di ruangan itu, terlihat seorang pria dengan umur sekitar 60-an sedang duduk dan tersenyum ke arah Sasuke.

"Wah… tumben kau datang menemuiku Sasuke. Dan siapa mereka? Apakah mereka teman-temanmu?" Sasuke tak mengindahkan pertanyaan Madara dan langsung duduk di tempat yang telah disediakan tanpa berkata apapun. Sai, Sakura, Ino, dan Naruto juga ikut duduk sebelum tunduk menyalami Madara.

"Apa tujuanmu?" tanya Madara tanpa basa-basi.

"Hn, aku ingin tahu sesuatu darimu, tua bangka." Sakura melotot ke arah Sasuke. Berani-beraninya pemuda itu bertingkah tidak sopan di depan pria yang sepertinya sangat berkuasa di rumah itu? apa pemuda itu tak takut diusir? Oh, kalau Sasuke diusir, Sakura pasti akan mengajak Sasuke tinggal bersama dengannya, membuka lembaran baru sebagai manusia, melahirkan sepasang anak kembar, membangun sebuah keluarga sampai masa tua, dan… Oke, cukup, ini ngawur. Back to the story.

"Oh ya? Apa yang ingin kau ketahu, cucuku yang sangat sopan?" sindir Madara yang akhirnya tersinggung juga dengan perilaku Sasuke.

"Dia sudah melakukan penculikan, aku ingin tahu apa yang harus kulakukan." Madara tersenyum mendengarnya.

"Dia siapa?" tanya Naruto. Daritadi semua orang menyebut 'dia' yang pemuda itu tak tahu siapa.

"Orochimaru," jawab Sasuke singkat. Ino, Sai, dan Naruto membelalakkan matanya.

"Orochimaru-sensei?! Jadi dia…" Sasuke mengangguk, memotong perkataan Naruto.

"Dia dalang dibalik semua ini."

"Apa maksudmu? Dia yang mengajar kami, mengapa dia yang mau menangkap kami? Lagipula, gampang saja dia menangkap kami jika kami telah dikumpul di sekolah malam kan?" Madara tertawa mendengar perdebatan cucunya dan teman-temannnya, dan langsung mendapat deathglare andalan Sasuke.

"Baiklah, kalian sepertinya sangat ingin tahu-"

"Tidak usah berbasa-basi, langsung saja ke intinya," ucap Sasuke ketus.

"Hn, baiklah. Si ular itu sudah berani rupanya," gumam Madara.

"Apa sebenarnya tujuan Orochimaru?" tanya Sakura. Madara menatap Sakura dan tersenyum ramah melihat gadis itu.

"Kau pasti anak Haruno Kizashi." Sakura membelalakkan matanya. Bagaimana dia bisa tahu?

"Kau mengenal ayahku?" tanya Sakura antusias.

"Tentu saja, Kizashi itu sahabat anakku, Fugaku, ayah Sasuke. Dia seorang monster medis yang hebat, Orochimaru sudah lama mengincar kekuatannya. Lalu sekarang bagaimana ayahmu?" Sakura tertunduk sedih mendengarnya.

"Dia sudah ditangkap." Madara terkejut mendengarnya.

"Apa?! Ayahmu-" Sasuke memberi kode pada kakeknya untuk melanjutkan ceritanya dan tidak meneruskan topik perbincangannya.

"Baiklah, tujuan Orochimaru selama ini, hanyalah untuk memanfaatkan kekuatan para monster, menguasai dunia, dan tentu saja…. Memusnahkan klan Uchiha." Sasuke dan Sakura terbelalak. "Orochimaru sebenarnya mempunyai dendam yang sangat besar dengan klan kami, selain cintanya yang pernah kurebut, klan Uchiha memang selalu menang darinya. Segala hal sudah ia coba untuk memusnahkan kami, namun ia selalu gagal dalam usahanya. Sehingga ia memutuskan untuk mencuri kekuatan para monster setengah manusia, termasuk ayah Sakura. Setelah ia mungkin sudah merasa kuat, ia dan klannya, para hunter, menyatakan perang pada kami." Madara mengambil nafas ditengah penjelasannya. "Namun kami tak pernah menanggapinya. Ia sudah mengirim berbagai pasukan untuk menyerang kami, dan disaat kami lengah, mereka berhasil membunuh Uchiha Itachi, kakak Sasuke. Saat itu, Sasuke juga hampir terbunuh, untung saja kami segera datang menyelamatkannya." Sasuke kembali terbayang masa itu, saat ditengah hujan dan petir, kakaknya tebunuh di dalam kegelapan. Hanya cahaya petir dan bau anyir serta kakaknya yang tergeletak, hanya itu yang mampu ia ingat.

"Mereka mengambil tubuh Itachi, aku juga tidak tahu apa tujuan mereka, sebab saat kami datang, kami hanya menemukan Sasuke yang pingsan, dan tubuh Itachi yang menghilang." Madara memandang sendu ke lantai, mengingat salah satu cucu kebanggaannya yang kini telah tiada. Sasuke juga ikut terdiam, fokus dalam pikirannya sendiri.

"Kami ingin menghabisi Orochimaru!" Ino memecahkan keheningan. Gadis itu mengepalkan tangannya. Meskipun bukan klannya, namun Ino dapat merasakan betapa tersiksanya monster semacam Sakura. Pasti mereka dihantui oleh rasa takut, bisa saja mereka, ataupun orang yang mereka sayangi dibunuh di depan mereka.

"Aku juga mau menghabisi Orochimaru,-dattebayo!" Naruto ikut berseru dan memukul dadanya. Sai tersenyum, pertanda bahwa ia setuju dengan kedua makhluk pirang di dekatnya. Madara bahkan juga ikut tersenyum.

"Hahaha… aku percaya pada kalian, juga padamu, Sasuke." Madara menatap Sasuke. "Aku yakin kau dapat mengehentikan semua ini. Tak perlu menghancurkan seluruh hunter yang ada di bumi ini, kau hanya perlu membunuh pemimpinnya, Orochimaru." Sasuke mengangguk dengan wajah datarnya. "Aku tahu siapa yang bisa membantu kalian untuk menghabisi Orochimaru." Kelima remaja tersebut menatap Madara secara serempak dengan pandangan ingin tahu.

"Akatsuki, sebuah organisasi hebat. Mereka telah membunuh beberapa hunter yang cukup kuat. Aku tak tahu siapa mereka, namun aku tahu mereka mempunyai tujuan yang sama dengan kita."

"Di mana kita dapat menemukan Akatsuki?" tanya Sai yang sedari tadi diam.

"Akatsuki pernah mengirim surat padaku, surat yang menyatakan bahwa aku harus menanggapi pernyataan perang Orochimaru, dan jika aku melakukan itu, mereka akan membantuku. Mereka menyebutkan lokasi mereka berada di Iwagakure," jelas Madara. Iwagakure, terkenal dengan hutan rimbanya. Seseorang yang akan percaya mitos seperti Ino tak akan berani ke daerah itu.

"Kalian harus menemukan Akatsuki untuk membantu kalian, jelaskan bahwa kalian tak ingin perang dan hanya ingin berjuang sendiri melawan Orochimaru. Dan sekali lagi, aku percaya pada kalian, aku percaya kalian dapat menghilangkan segala ketakutan yang menghantui para monster. Aku percaya kalian adalah orang-orang yang ditakdirkan Tuhan untuk menghentikan mimpi buruk ini."

.

.

.

"Haaahh…! Aku capek mendengar penjelasan kakek Sasuke!" keluh Ino berpura-pura menyapu peluh (yang sebenarnya tidak ada) di jidatnya. Perkataannya disambut anggukan oleh Naruto.

"Jadi, sekarang, kita mau ke mana? Apakah kita langsung mencari markas Akatsuki?" tanya Sai pada Sasuke. Sasuke menggeleng.

"Cukup untuk hari ini, kita sebaiknya kembali ke sekolah. Dan jangan mengeluarkan gelagat yang dapat membuat Orochimaru curiga," jawab Sasuke dan disambut anggukan dari keempat temannya.

"Bagaimana dengan kami?" tanya Sakura.

"Terserah kalian mau kembali ke sekolah atau langsung pulang." Ino dan Sakura berpandangan, kemudian mengangguk bersamaan. "Kami ikut ke sekolah!" ucap mereka serempak. Sasuke mengangguk dan kemudian mereka kembali ke gedung sekolah mereka, dan tentu saja, menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.

.

.

.

"KONBA-" Perkataan Naruto terhenti saat semua penghuni kelas mengerumuni sesuatu, dan tidak ada yang menghiraukan Naruto, alhasil, pemuda itu langsung pundung di sudut ruangan.

"Ada apa?" tanya Ino pada Temari. Temari langsung mengangkat bahunya. Ino dan Sakura mendekat ke arah yang dikerumuni para monster tersebut.

"Hinata? Ada apa?" Sakura dan Ino terkejut saat mengetahui bahwa yang dikeremuni tersebut Hinata yang sedang menangis terisak sambil menggenggam sesuatu. Sai, Sasuke, dan Naruto yang tadinya pundung segera mendekat dengan rasa ingin tahu. Terutama Naruto, pemuda itu langsung menyuruh semua orang menghindar dengan suara menggelegarnya.

"Kau kenapa, Hinata-chan?" tanya Naruto. Hinata mendongak menatap Naruto, namun masih dengan isak tangis.

"N-Naruto-kun…" lirihnya di sela tangisnya.

"Ada apa?" tanya Sai. Hinata menunduk dan kemudian terisak kembali.

"Ne-Neji-nii-san…hiks…" gumam gadis indigo bermata lavender tersebut.

"Neji? Ada apa dengan Neji?" tanya Naruto.

"Ne-Neji-nii-san menghilang… ta… tadi, dia pamit ke wc, tapi sejak jam pelajaran pertama usai, dia tidak kembali…hiks… dan saat mencarinya, aku menemukan sesuatu…hiks, dan aku yakin Neji-nii-san diculik! Neji-nii-san tidak mungkin membolos, dan…hiks, Neji-nii-san tidak mungkin menjatuhkan ini, kecuali saat sedang bertarung…hiks…" jelas Hinata tersedu-sedu. Sasuke semakin mendekat. Orochimaru memang benar-benar ingin diserang, bahkan salah satu siswa sekolah ini sudah berani diculiknya.

"Memangnya apa sesuatu itu?" tanya Naruto penasaran. Hinata memperlihatkan sesuatu yang sedaritadi di genggamnya, semua orang dapat melihat sesuatu itu dengan jelas.

1 detik…

2 detik…

5 menit…

WHAT?! KARET IKAT RAMBUT?!

Semua yang ada di ruangan itu sweatdrop melihatnya. Mana mungkin Hinata melaporkan kakaknya diculik dan buktinya hanya sebuah karet ikat rambut Neji?!

"Neji-nii-san tak pernah melepas ikat rambutnya…hiks, kecuali saat terjatuh atau putus saat bertarung…hiks, pasti Neji-nii-san diculik…hiks…" Semua orang bubar dengan sendirinya. Kecuali Naruto, Sai, Sasuke, Sakura, serta Ino.

"Baiklah, bisa saja ucapan Hinata benar. Mungkin Neji memang diculik oleh hunter," ujar Sai mengeluarkan pendapatnya dan disambut anggukan setuju oleh Naruto.

"Aku mohon… hiks, selamatkan Neji-nii-san…" pinta Hinata. Naruto memegang kedua pundak Hinata.

"Tenang saja, Hinata-chan! Kami akan menemukan Neji!" ucap pemuda pirang tersebut dengan cengirannya yang membuat wajah Hinata memerah. "Teme! Kita bisa menyelamatkan Neji 'kan?" tanya Naruto pada Sasuke yang nampak berpikir keras. Sasuke akhirnya mengangguk.

"Baiklah, kalau sudah begini, sebaiknya sekarang kita menemui Akatsuki," kata Sasuke.

"Akatsuki? Si-siapa itu?" tanya Hinata yang agaknya sudah membaik.

"Dia organisasi yang dapat membantu kita, tenang saja, Hinata-chan. Kita pasti akan mengembalikan Neji!" Ino dan Sakura menyemangati Hinata.

"Kalau begitu, ayo!" ajak Sai.

"Ka-kalian mau ke mana? Aku ikut!" Kelima remaja tersebut berpandangan. Apa ia harus mengikutsertakan Hinata dalam misi mereka ini?

"Tentu saja Hinata-chan!" Sasuke memandang Naruto seraya mendengus, memangnya siapa yang ketua disini? Dan… yakin sekali Sasuke bahwa ialah ketua disini, heh?

.

.

.

"Menyeramkaaann! Disini gelap sekali!" teriak Ino saat mereka memasuki kawasan hutan Iwagakure. Disini memang menyeramkan, hanya cahaya bulan yang membantu penerangan mereka.

"Diam bodoh!" Sakura menjitak Ino. Ino hanya meringis seraya memegang jidatnya.

"Hati-hati, disini banyak jebakan-"

KRESEKK

"KYAAA!"

Sasuke membalikkan badannya. Siapa yang berteriak? Mata onyx-nya bergulir menatap semuanya, Ino ada, Sai ada, Naruto, Hinata, dan… Sakura?

"Ke mana Sakura?" Semuanya menggeleng dan mengangkat bahunya. Sasuke mendecih, baru saja ia bilang hati-hati dengan jebakan, sudah ada yang terjebak.

"Tolong akuu!" Sebuah teriakan membuat Sasuke mencari darimana asal teriakan tersebut, bawah. Ia melihat sebuah lubang dengan Sakura di bawahnya yang meminta tolong, Sasuke sekali lagi mendecih dan turun untuk menolong Sakura.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke. Sakura mencoba berdiri, namun kakinya terkilir, membuatnya terjatuh kembali.

"Ck, kau ini…" Sasuke menggendong Sakura ala bridal style, membuat wajah Sakura memerah. Sasuke langsung melompat ke atas, dan langsung disambut tatapan heran teman-temannya.

"Cie… ehm… ehem!" goda Ino yang membuat wajah Sakura memerah. Sasuke memalingkan wajahnya dan menurunkan Sakura perlahan-lahan.

"Aku… sudah tidak apa, Sasuke…" kata Sakura yang mencoba berjalan walau tertaih-tatih. Sasuke berjalan di sampingnya, menjaga sewaktu-waktu Sakura mendapat jebakan lagi.

"Sai, kau jaga Ino! Naruto menjaga Hinata, dan aku akan menjaga Sakura!" perintah Sasuke. Ketiga sahabatnya mengangguk, dan wajah para wanita memerah. Mereka terus berjalan menelusuri hutan tersebut, mereka tidak menemukan apa-apa selain pohon. Sampai-

HHHH…HHH….

"Naruto! Kau kalau bernafas jangan terlalu besar!" tegur Ino dan menoleh ke belakang. Naruto hanya memandang heran. Ino lebih heran melihatnya, bukan Naruto, lalu siapa? Mereka menoleh ke belakang, tepatnya ke belakang Sasuke dan Sakura yang kini terbelakang. Mata aquamarine gadis itu sukses membulat mendengarnya.

"B- BADAAAAAKKK!" teriaknya menggelegar. Keenam remaja tersebut refleks lari, menghindari buruan badak tersebut. Badak tersebut sangat besar, dengan mata ungu tajam dan bulu berwarna abu-abu.

"T-tunggu!" Sakura yang kakinya terkilir hanya bisa berlari pelan sambil meringis. Sasuke yang melihat itu terpaksa harus menggendong Sakura lagi dan berlari menyusul teman-temannya. Lima belas menit bermain kejar-kejaran bersama badak, akhirnya Sasuke menurunkan Sakura.

"Tunggu di sini," ucapnya dan berlari ke arah badak tersebut. Lelaki itu mengambil sebuah balok kayu yang kebetulan ada di sana, dan melompat ke kepala badak itu. Pemuda itu hampir terjatuh saat badak itu mengamuk, namun Sasuke segera memukul kepalanya, membuat badak tersebut pingsan di tempat. Sakura, Ino, Hinata, Naruto, serta Sai mendecak kagum atas keberaniannya melawan badak ukuran raksasa tersebut. Baru saja mereka bernafas lega, tiba-tiba-

"KYAAAA!"

Sasuke kembali membalikkan badannya dengan cepat menatap teman-temannya. Ino ada, Sai ada, Hinata ada, Naruto ada, dan… Sakura… juga ada! Namun gadis itu berada di pelukan seorang pemuda berambut pirang dengan tindik di wajahnya. Pemuda itu menutup mulut Sakura yang meronta-ronta. DEMI APAH?! KENAPA SELALU SAKURA YANG CELAKA?!

"Katakan apa tujuan kalian, atau wanita ini akan mati…" kata pemuda itu dan mengambil pisau, kemudian mendekatkannya di leher Sakura. Belum sempat Sasuke menjawab, datanglah delapan orang dengan berbagai bentuk di samping kiri dan kanan pemuda bertindik tadi. Salah satu diantaranya, membuat Sasuke membelalak kaget. Hanya diterangi cahaya bulan, Sasuke dapat melihat salah seorang pemuda berjubah yang sangat dikenalinya.

"I-Itachi?"

.

.

.


Chapter 9 : My feeling

"I-Itachi?!"

Sai, Ino, dan Naruto memandang Sasuke dengan mata terbelalak. Itachi? Uchiha Itachi?

"Kau mengenalnya, Itachi?" tanya seorang pemuda berambut pirang yang menutupi sebelah matanya pada pemuda dengan mata merah yang memandang segalanya dengan tatapan dingin tersebut.

"Tidak." Setelah sekian lama, akhirnya pemuda tadi menjawab, membuat Sasuke memandangnya kaget.

"Apa yang kau katakan?!" seru Sasuke marah. Semuanya kaget melihat Sasuke seperti itu, Sasuke yang dulunya selalu bersikap dingin dan cuek sekarang dikuasai amarah. Sedangkan pemuda tadi hanya menatap Sasuke dengan pandangan dinginnya.

"Aku tak punya seorang adik." Sasuke mengepalkan tangannnya. Onyx-nya menatap Itachi marah. Sakura meronta-ronta dalam bekapan pria bertindik tersebut.

"Hmmp! Hmmp…!"

"Cih, kau liar juga," ujar pria bertindik tersebut. Sedangkan wanita di sebelahnya yang merupakan satu-satunya wanita di Akatsuki menyuntikkan sesuatu ke leher Sakura yang membuat wanita itu pingsan.

"Sakura!" Ino menyeruakkan nama Sakura dan berniat menghampirinya, namun tangan Sai mencegahnya. Ino menatap Sai tajam.

"Jangan cegah aku!" Ino berusaha melepaskan cengkraman tangan Sai. Sai juga ikut menatap Ino tajam. Namun Ino tak menghiraukannya dan segera menepis tangan Sai. Gadis itu berlari ke arah pria bertindik tersebut. "Apa yang kau lakukan pada Sakura?!" seru gadis itu marah. Langkah Ino terhenti saat wanita yang menyuntik Sakura tadi menghalangi jalannya. Wanita itu menatap Ino dingin, Ino mengeluarkan jurus bela dirinya, namun semuanya berhasil dihindari oleh wanita berambut biru tersebut.

"Cih!" Ino mendecih kesal. Ia mengeluarkan tendangannya dan HAMPIR mengenai wajah wanita itu yang membuatnya mundur beberap langkah ke belakang. "Dasar tukang lari!" Ino mulai mendekati wanita itu lagi, namun ia tak sadar ada sebuah pisau yang dilemparkan padanya.

"Ino-chaaaann!" Hinata meneriaki Ino. Ino memandang ke arah pisau yang menghampirinya(?) itu. ia menutup matanya, bersiap-siap menerima tusukan mesra sang pisau.

Jleebb!

Ino masih menutup matanya. Ia meraba-raba tubuhnya. Ia menatap tubuhnya heran, tidak ada apa-apa, pisau, rasa sakit, atau apapun itu sama sekali tak ia rasakan. Ia memandang ke depan, mata aquamarine-nya sukses terbelalak saat melihat punggung Sai di depannya.

"S-Sai!" Ino segera menangkap tubuh Sai yang hampir jatuh ke tanah. Ia melihat pisau tersebut tertancap di dada kiri Sai dengan darah yangmengalir deras di daerah tersebut. "S-Sai…!" Bulir-bulir air mata kini berjatuhan di pipi Ino. Naruto dan Hinata yang melihat hal tersebut kini segera menghampiri Ino dan Sai. Sai hanya tersenyum lemah melihat Ino, tangannya terulur ke wajah Ino dan menyeka air mata gadis tersebut. Pria itu masih saja menyunggingkan senyum palsunya.

"K-kau… semakin … te-terlihat … jelek … sa-saat menangis …" Ino merasa tangan Sai yang mengelus pipinya perlahan-lahan jatuh ke tanah diiringi dengan mata pemuda berkulit pucat tersebut yang perlahan-lahan menutup.

"SAAAIIII!"

.

Sasuke memandang ketiga temannya dengan miris. Ino terlihat menangis, Naruto juga ikut tertunduk sedih dengan Hinata yang juga menangis di sebelahnya. Sasuke kemudian menatap tajam ke pemuda bertindik tersebut, mencoba untuk tak menghiraukan Itachi dan tatapan dinginnya.

"Kami tidak ingin menyerang kalian, kami hanya ingin bekerjasama pada kalian!" Sasuke berseru kencang. Pemuda bertindik tadi kemudian melemparkan tubuh Sakura ke arah seorang pria berambut merah dengan wajah baby face dan mendekat ke arah Sasuke. "Kami ingin menghancurkan Orochimaru, kami mempunyai tujuan yang sama dengan kalian." Pria bertindik tadi masih saja melangkah menuju Sasuke tanpa berkata apapun. Pria itu terhenti dengan jarak satu meter di depan Sasuke.

"Kau utusan Madara?" tanya pria itu, tak meninggalkan kesan dingin salam nada bicaranya. Sasuke mengangguk. "Apa buktinya?" Sasuke kini terdiam. Bisa-bisanya ia melupakan hal seperti itu!

"Dia… dia kakekku! Lihat wajahku dan Itachi, kami bersaudara, dan kami cucu dari Madara Uchiha!" Pein, pemuda bertindik tadi memerhatikan wajah Itachi dan wajah Sasuke secara bergantian.

"Itachi bilang dia tak mempunyai adik, kau mau berbohong, heh?" Pemuda dengan gaya rambut seperti Ino berbicara seraya mendengus. Sasuke menatap tajam ke arahnya, kemudian ke arah Itachi.

"Diam, Deidara!" Wanita berambut biru tadi menatap tajam Deidara, Deidara kemudian mengangkat bahunya dan terdiam.

"Dia mengatakan bahwa kalian mengirimnya surat, menyuruh Tu- Hn, Madara menyatakan perang pada anggota hunter." Pein sedikit tersentak mendengar penuturan Sasuke, kemudian pria tersebut tersenyum.

"Baiklah, aku percaya. Ikuti kami, dan bawa temanmu yang terluka tersebut. Sasori, bawa gadis itu!" Pein memerintahkan pemuda yang menggendong Sakura tadi. Sasuke segera menghampiri Ino, Naruto, Hinata, dan Sai yang kehilangan kesadarannya.

"Ikuti mereka," perintah Sasuke. Ino yang memeluk kepala Sai menatap Sasuke tajam, air mata gadis itu masih berlinang.

"Dan kau ingin meninggalkan Sai?! Dia… Sai… hiks…" Sasuke menjongkokkan badannya. Pisau tadi masih tertancap di dada kiri Sai. Sasuke menatap sahabatnya itu miris, tentu saja semuanya khawatir, pisau tadi menancap di area jantung Sai. Darah masih merembes melalui luka tersebut.

"Cepat bawa Sai, mungkin mereka mempunyai obat." Sasuke mencabut pisau tadi. Darah kini semakin mengalir deras. Wajah Sai juga semakin pucat dari sebelumnya.

Sreekkk!

"I-Ino… apa yang kau lakukan?!" Naruto menatap Ino kaget saat wanita itu merobek bajunya sampai perut. Gadis itu kemudian melilitkan kain bajunya di luka Sai.

"Setidaknya… darahya sedikit tersumbat karena ini," kata Ino. Hinata tersenyum melihat Ino. Setelah ikatan talinya cukup kencang, Naruto menggendong Sai di belakangnya dan mengikuti langkah Akatsuki yang telah berada jauh di depan.

.

.

.

"Enghh…"

"Sakura?" Emerald Sakura terbuka. Wajah yang pertama kali dilihatnya ialah wajah pemuda yang dicintainya. Namun gadis itu terlihat kebingungan dengan ruangan asing yang kini dipakainya.

"Di mana aku?" tanya Sakura pada Sasuke. Sakura menatap sekeliling, yang ada di ruangan tersebut hanyalah dirinya dan Sasuke. "Di mana semua orang?"

"Ini markas Akatsuki. Orang-orang sedang menunggu Sai sadar," jelas Sasuke singkat.

"Sai? Ada apa dengan Sai?!" Mata Sakura terbelalak.

"Sai terluka, kenapa? Kau mau melihatnya?" Sakura mengangguk sebagai jawaban. Mereka berdua kemudian menuju ke sebuah ruangan yang tidak terlalu jauh dari ruangan mereka tadi. Markas Akatsuki tersebut cukup gelap, yang menerangi hanyalah cahaya bulan dan lilin. Sasuke dan Sakura memasuki ruangan di mana Sai berada, Sakura melihat Sai terbaring lemah dengan Ino yang menggenggam tangan Sai serta Naruto dan Hinata yang duduk di pojok ruangan. Sakura juga melihat anggota Akatsuki di sana.

"Dia akan baik-baik saja, pisau itu tidak mengenai jantungnya," ucap Sasori innocent, padahal tadi dia yang melemparkan pisau tersebut!

"Sakura-chan!" Naruto yang pertamakali menyadari keberadaan Sakura segera meneriakkan namanya, Ino dan Hinata juga menoleh padanya. Sakura tersenyum melihatnya. Namun senyumnya hilang saat Ino memalingkan wajahnya ke Sai. Sakura tersenyum maklum, jelas saja Ino tidak terlalu senang menyambutnya, pasti yang ada di pikiran wanita itu hanyalah keselamatan Sai. Sakura teringat saat Sasuke melindunginya dari tembakan Orochimaru, saat itu ia juga kalang kabut mencari bantuan. Ngomong-ngomong… Sakura menoleh ke sampingnya dan tidak menemukan Sasuke. Di mana pria itu? Sakura mencari Sasuke di semua ruangan, pemuda itu tidak ada di manapun. Gadis itu tidak menyerah, ia kemudian keluar markas demi menemukan Sasuke. Sakura tersenyum saat mendapati Sasuke duduk di dermaga sungai yang tidak jauh dari markas tersebut.

"Sasuke?" Sasuke menoleh dan melihat Sakura. Namun pemuda itu memalingkan wajahnya dan menatap bulan, satu-satunya sumber cahaya di tempat mereka saat ini.

Sakura melangkah mendekati Sasuke dan duduk di sebelahnya. Kakinya sedikit ia goyangkan untuk bermain air. Namun tingkahnya sama sekali tak dihiraukan oleh Sasuke.

"Kau kenapa?" Sakura menyentuh pundak Sasuke, namun Sasuke menepis tangan Sakura, membuat gadis itu sedikit kaget. "Ada apa denganmu?" tanya Sakura mulai emosi, Sasuke tetap terdiam dan memandang bulan. Merasa tak dihiraukan, Sakura berdiri dengan wajah kesal.

"Dia…" Sasuke membuka suaranya. Sakura sedikit tersentak, namun gadis itu memutuskan untuk duduk di sampingnya lagi. "Dia berubah…" Sakura dapat melihat tatapan sendu dari Sasuke. Meski Sasuke tak menatapnya, namun Sakura dapat merasakan kepedihan yang terpendam di mata yang selalu memancarkan sorot dingin itu.

"Apakah tentang Itachi-san?" Sakura menebak, namun Sasuke masih terdiam.

"Dia dulu tak seperti itu, Itachi tak sedingin itu." Sakura memandang Sasuke sedih. Pasti Sasuke sangat marah dan sedih saat Itachi mengatakan bahwa dirinya tak mempunyai adik. Sasuke tiba-tiba menutup matanya, angin berhembus kencang. Rambut Sakura ikut berkibar mengikuti hembusan angin.

"Hn, sudahlah…" Sasuke hendak berdiri. Namun Sakura tiba-tiba memeluknya, membuatnya sedikit tersentak dengan perlakuan gadis itu yang tiba-tiba mengalungkan kedua tangannya ke leher Sasuke.

"Aku mohon…" Sasuke merasakan nafas Sakura di tengkuknya. "Jangan kau tanggung penderitaanmu sendiri, Sasuke…" Sasuke masih terdiam, tak melawan, namun juga tak membalas pelukan hangat dari Sakura. "Itachi-san, dia pasti punya alasan lain yang tak bisa dia ungkapkan, aku mohon kau jangan sedih seperti ini," kata Sakura tak melepaskan pelukannya.

"Ino, Naruto, Sai, mereka semua peduli padamu. Dan aku… aku akan selalu berada di sisimu, Sasuke, karena aku-" Sakura menghirup nafas sedalam yang ia bisa. "-mencintaimu."

Sasuke masih terdiam, tak menunjukkan pergerakan apapun. Mata onyx-nya masih sendu. Ia merasakan perkataan Sakura hanyalah penggiring angin yang berhembus kencang malam ini.

"Sekali lagi, jangan kau tanggung semuanya sendirian! Aku… aku tahu aku tak berguna, aku hanya bisa menangis di depanmu, aku hanya bisa memohon perlindungan darimu. Jadi… aku mohon kau juga meminta sesuatu padaku untuk membalas segala perlindungan yang kau berikan padaku. Jika kau sedih, tak usah segan memanggilku untuk menemanimu, aku pasti akan selalu di sisimu, Sasuke. Jika kau butuh hiburan, tak usah segan memanggilku untuk menghiburmu, aku akan selalu menemanimu di saat suka dan duka. Aku menyayangimu, aku sungguh mencintaimu, Sasuke…"

"…aku janji akan selalu menemanimu di saat suka dan duka, aku janji akan menemanimu saat kau ingin menanyakan Itachi tentang perubahan sikapnya, aku janji akan-" Perkataan Sakura terputus saat dirasakannya Sasuke memeluk punggungnya. Sasuke membalas pelukannya! Sakura terbelalak, namun dirinya juga tersenyum lembut, merasakan kehangatan Sasuke.

"Arigatou, Sakura…"

.

.

.

"Engghh…"

"Sai!" Ino tersenyum sumringah saat Sai membuka matanya. Gadis itu menutup mulutnya, menahan air matanya yang hendak keluar lagi. Sai menatap Ino kebingungan.

"Kau kenapa? Wajahmu semakin jelek." Emosi Ino tersulut mendengar ucapan innocent Sai. Gadis itu menjitak Sai yang membuat pemuda tersebut meringis. "Huh, dasar nenek cerewet! Memangnya kau kena-"

Hup!

Mata onyx Sai sedikit terbelalak saat Ino memeluknya. Gadis itu menyandarkan dahinya ke bahu Sai.

"Dasar bodoh, kenapa kau melindungiku?" Ino berkata dalam pelukannya. Sai tersenyum lemah dan mengelus rambut Ino pelan.

"Memangnya kenapa?"

"Kau… baka! Baka! Baka! Sai bodoh! Seharusnya kau tak melakukan itu, kau membuatku-" Perkataan Ino terputus. Sai tersenyum geli.

"Membuatmu apa, heh? Kau khawatir, hmm?" Wajah Ino yang berada di dada Sai memerah mendengar godaan pemuda senyum palsu tersebut.

"Baka!" Tanpa sadar, Ino mengetukkan kepalanya ke dada Sai, membuat pemuda tersebut meringis kesakitan.

"A-aww…" Ino yang melihatnya segera memasang wajah khawatir.

"G-gomen! Gomen Sai!" Sai hanya tersenyum melihat wajah khawatir Ino. Pemuda itu kemudian mengulurkan tangannya dan meraih wajah Ino, kemudian pemuda itu menyembunyikan wajah Ino di dadanya lagi, membuat wajah Ino memerah.

"Tetaplah seperti ini…"

.

.

.

"Oke, Hinata-chan, Sasuke berpelukan dengan Sakura-chan di dermaga, Sai dan Ino juga nampaknya tak ingin diganggu. Jadi…" Naruto menatap Hinata yang wajahnya memerah di sampingnya. "Apa yang harus kita lakukaaaannn?!" Naruto berteriak frustasi. Hinata tersenyum melihat Naruto. Mereka menyusul Sakura saat gadis itu mencari sesutau, dan mengintip mereka berpelukan, setelah kembali ke ruangan Sai, mereka malah dikejutkan oleh Ino yang memeluk Sai dan Sai yang mengelus rambut Ino serta Akatsuki yang menghilang entah ke mana. Membuat mereka akhirnya hanya berjalan-jalan menelusuri markas akatsuki. Berdua.

Ya, berdua. Wajah Hinata memerah mengingat bahwa sekarang ia hanya berdua dengan Naruto. Berada di samping orang yang ia sukai tak ayal membuat gadis itu terlihat gugup dari tadi, dengan wajah memerah dan jari yang ia mainkan. Namun Naruto tak menghiraukan hal itu dan mengaitkan kedua tangannya ke belakang kepalanya, gaya khas andalan pemuda berkumis kucing tersebut.

Hinata menatap karet ikat rambut Neji yang kini ia jadikan gelang di tangannya. Wajah wanita itu seketika menunduk sedih. Apa yang kakaknya itu lakukan sekarang? Apakah kakaknya itu sedang disiksa sekarang? Atau… kakaknya sudah tak ada di dunia lagi?

Wajah Hinata menunduk sedih. Naruto yang berada di sebelahnya heran melihatnya.

"Kau kenapa, Hinata-chan?" Naruto menghentikan langkahnya. Hinata juga ikut menghentikan langkahnya, wajah gadis itu masih tertunduk.

"A-aku… memikirkan Neji-nii-san…" Naruto menaikkan kedua alisnya. Ia kemudian memegang kedua pundak Hinata, Hinata tersentak saat merasakan kedua tangan Naruto menyentuh pundaknya.

"Aku pasti akan menyelamatkan Neji! Percaya padaku, Hinata-chan!" Hinata tertegun mendengarnya. Namun sedetik kemudian, gadis indigo tersebut tersenyum. Hatinya menghangat saat melihat senyum Naruto. Ia mengangguk dengan cepat dan tersenyum lembut. Naruto yang melihat senyumnya tertegun, membuat Hinata salah tingkah.

"Eh? Ke-kenapa, Naruto-kun?" Hinata memiringkan kepalanya.

"Senyummu…" Naruto menatap Hinata. "Senyummu sangat manis Hinata-chaaaannn!" Naruto segera memeluk Hinata. Sedangkan yang dipeluk hanya blushing tak karuan, dan kehilangan kesadarannya.

"Eh?! Hinata-chan?! Kenapa kau pingsan?!"

.

.

.

Sasuke dan Sakura melangkah menuju ruangan Ino. Sakura merasa Sasuke sudah cukup terhibur saat pemuda itu melepaskan pelukan Sakura. Sorot onyx Sasuke juga tak sesendu tadi. Walau pemuda itu hanya diam sesudah mengatakan terimakasih pada Sakura. Sakura juga tak mengerti mengapa Sasuke mengatakan hal itu, namun gadis itu hanya bisa tersenyum maklum. Perasaannya masih tak terbalas, Sasuke tak mengatakan apapun tentang hal itu.

Sasuke dan Sakura memasuki ruangan Ino. Namun mereka berdua dikagetkan oleh pemandangan di depannya. Ino memeluk Sai yang terbaring lemah. Nampaknya dua sejoli tersebut tak merasakan keberadaan Sasuke dan Sakura.

"Ehem!" Sakura berdehem agak keras. Ino tersentak dan bangkit terduduk, Sai juga ikut terduduk, meski dibantu oleh Ino. Ino meringis dengan wajah memerah, sedangkan Sai hanya tersenyum seperti biasanya.

"Apa yang terjadi?" tanya Sakura memiringkan kepalanya. Ino menggeleng cepat.

"Tidak apa-apa!" Ino menjawab dengan cepat. Sakura hanya mangut-mangut dan duduk di samping Ino diikuti Sasuke di belakangnya.

"Ehem… kalian dari mana?" goda Ino pada Sakura. Wajah Sakura memerah mendengarnya, yang disambut tatapan jahil oleh Ino.

"K-kau sendiri, apa yang kalian lakukan saat kalian hanya berdua?!" seru Sakura. Kali ini Ino yang blushing.

"Di-di mana Naruto dan Hinata?" tanya Ino mengalihkan pembicaraan. Ia sadar, bahwa berdebat dengan Sakura tak akan selesai-selesai sampai besok pagi. Sakura juga ikut celingak-celinguk mencari mereka.

Drap! Drap! Drap!

Keempat remaja tersebut sontak menoleh ke arah pintu. Kini mereka melihat Naruto yang ngos-ngosan dengan Hinata yang pingsan di gendongannya. Naruto kemudian menyuruh (baca : menendang) Sai dari kasurnya dan menidurkan Hinata di atasnya yang disambut tatapan sweatdrop dari teman-temannya. Naruto kemudian mengibas-ngibaskan tangannya, bertujuan untuk mengipas Hinata.

"Apa yang kau lakukan pada Hinata?" tanya Sakura curiga. Naruto menggeleng.

"Aku tak melakukan apapun!" bela Naruto pada dirinya sendiri. Sakura masih memandang Naruto dengan pandangan curiga, namun terhenti saat Hinata menunjukkan pergerakan pada tangannya. Gadis itu perlahan-lahan membuka mata lavender-nya. Naruto tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata.

"Hinata-chan?" Hinata membuka matanya. Wajah yang pertama kali ia lihat ialah wajah Naruto. Wajahnya kembali memanas. Dekat… ini sangat dekat!

"Eh? Hinata-chan? Hinata-channn! Kenapa kau pingsan lagii?"

.

.

.

"Jadi, apa rencanamu, Pein?"

Pein hanya terdiam saat Konan, wanita berambut biru tadi bertanya padanya. Saat ini para anggota Akatsuki berada di ruang rapat milik mereka untuk mendiskusika masalah penyerangan pada Orochimaru.

"Bukankah kita harusnya rapat dengan mereka?" tanya Sasori kebingungan. Deidara menatap Sasori.

"Dengan siapa?" tanyanya innocent. Hidan yang berada di sebelahnya hanya menatap Deidara dengan pandangan meremehkan.

"Tentu saja dengan pemuda yang mengaku-ngaku sebagai adik Itachi dan teman-temannya!" seru Hidan menjawab pertanyaan Deidara, Deidara mengangguk tanda mengerti. Namun ia segera menatap Itachi.

"Dia itu… adikmu atau bukan?" tanyanya sekali lagi pada Itachi. Itachi hanya menghembuskan nafasnya mendengar pertanyaan Deidara.

"Dia adikku," jawab Itachi singkat, padat, dan jelas. Para anggota Akatsuki terkejut mendengarnya.

"Bukankah tadi kau bilang-" Perkataan Zetsu terputus saat Itachi memotongnya.

"Dia adikku. Aku tak mau mengakuinya di depannya." Para anggota organisasi gelap tersebut hanya mengangguk mengerti. Semua mata beralih ke pemimpin mereka.

"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Hidan pada pemimpinnya yang sedari tadi diam.

"Kita akan membantu mereka."

.

.

.

"Sasuke-san…"

Para remaja tersebut menoleh ke arah Konan yang berdiri di daun pintu. Sasuke menatap wanita itu dengan pandangan bertanya.

"Pein memanggil anda," katanya. Sasuke mengangguk dan mengikuti langkah Konan menuju ruangan Pein. Sasuke melihat Pein duduk di salah satu kursi ruangan tersebut, para anggota Akatsuki berada di sana, termasuk Itachi yang hanya memandang Sasuke dengan pandangan yang masih sama dengan sebelumnya.

"Ada apa?" Sasuke bertanya to-the-point. Ternyata sifat 'ke-tidaksopanan-nya' masih melengket pada pemuda raven itu.

"Kami akan membantumu untuk menyerang Orochimaru. Namun, ada suatu hal yang menghambat kami…" Pein memutuskan perkataannya. Sasuke dengan sabar menunggu perkataan pria bertindik itu. "Yaitu kekuatan kalian. Dengan kekuatan yang seperti itu, kalian hanyalah sebuah beban pada kami." Sasuke sedikit mengepalkan tangannya mendengar ucapan Pein. Namun pria itu benar, mereka sekarang tak punya kekuatan apapun.

"Maka dari itu, kami akan melatih kalian agar menjadi lebih kuat, maka dari itu, butuh waktu untuk mengajarkan kalian berbagai jurus sebelum benar-benar menyatakan perang pada Orochimaru, apa kalian tidak keberatan?" Sasuke mengingat Hinata, gadis itu pasti sedikit keberatan dengan waktu yang tertunda, dia pasti khawatir oleh kakaknya, namun Sasuke mengingat Naruto, selama ada Naruto di sisi Hinata, Hinata pasti tak akan keberatan.

"Baiklah." Jawaban Sasuke membuat Pein tersenyum.

"Kami akan mengembangkan potensi yang kalian punya menjadi jurus. Aku yakin kalian mempunyai kekuatan berbeda-beda." Sasuke teringat Ino, gadis itu bukanlah salah satu spesies dari mereka.

"Diantara kami, ada seorang manusia. Bagaimana dengannya?" Pein agak terkejut mendengar penuturan Sasuke.

"Manusia? Siapa?" tanyanya.

"Gadis pirang yang melawannya tadi," jawab Sasuke sedikit melirik Konan. Pein kemudian mendengus menahan tawa.

"Gadis tadi, huh? Aku melihatnya berbakat dalam urusan bela diri, buktinya, ia tadi hampir mengenai wajah Konan, kecepatan pergerakannya juga lumayan, tak masalah untuk mengajarkannya bela diri untuk memperdalam kekuatannya," kata Pein. Sasuke tersenyum tipis. Jika sudah begini, tak ada lagi hambatan untuk mereka.

"Kapan latihan itu akan dimulai?"

"Besok. Lebih cepat, lebih baik." Pein menatap Sasuke. "Beritahu teman-temanmu tentang masalah ini."

.

.

.

"Eeehh? Latihan?" Ino berseru paling kencang diantara mereka.

"T-tapi… Neji-nii-san…"

"Tenang, Hinata-chan! Neji pasti selamat!" Mendengar perkataan Naruto, membuat Hinata tersenyum dan mengangguk. Tepat seperti apa yang dipikirkan Sasuke, Naruto pasti dapat mengatasi Hinata.

"Bagaimana denganku?" Ino menunjuk dirinya sendiri.

"Kau cukup berada di sisiku untuk menyemangatiku saja." Ino men-deathglare Sai, pemuda itu memang suak sekali membuat Ino tersulut emosi.

"Kau akan latihan bela diri, latihannya dimulai besok." Semuanya mengangguk mendengar perkataan Sasuke. Sasuke sedikit tersenyum tipis melihatnya. Ia kemudian melangkah meninggalkan teman-temannya yang berada di ruangan Sai, namun sebuah tangan menghentikan langkahnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura khawatir. Sasuke sedikit menyunggingkan senyumnya.

"Tidak apa-apa, tidak usah pedulikan aku." Sakura menunduk sedih mendengar jawaban Sasuke yang dingin. Namun sesuatu ia rasakan di kepalanya, tangan Sasuke. Pria itu menatap Sakura datar, dan mengelus rambut Sakura.

"Tidurlah, besok kita akan melewati hari yang melelahkan." Wajah Sakura memerah mendengar perkataan Sasuke. Namun gadis itu tersenyum dan mengangguk cepat.

"Baik!"

.

.

.

Chapter 10 :

.

Bugh! Bugh! Plak!

"Apa yang kau lakukan?! Kau sebut ini latihan?"

Bugh! Bruuk!

"Fokus pada lawanmu, dasar lemah!"

Duk! Bugh! Bugh! Brruuk!

"U-ukh…" Sasuke memegang perutnya, pemuda itu mengerang kesakitan. Tak kuat menahan beban tubuhnya, ia akhirnya jatuh terduduk di tanah. Nyeri dirasakan pada wajahnya yang babak belur akibat dipukul oleh 'pelatih'-nya. Sasuke berusaha berdiri, namun ia sungguh lelah dan tidak kuat lagi, dan berakhir dengan jatuh ke tanah dengan posisi lutut dan telapak tangan yang menumpu badannya. Kepalanya menunduk menatap tanah yang ditanami rerumputan hijau di bawahnya, tanpa mendongakpun, Sasuke dapat merasakan orang yang melatihnya itu mendekatinya.

"Kau lemah," ucap orang itu. Sasuke mengepalkan tangannya di tanah seraya menggeretakkan giginya. Rahang pemuda itu mengeras kala mendengar setiap cacian yang dilontarkan oleh pemuda dingin bermata onyx padanya.

Itachi, pemuda yang melontarkan cacian tadi menghela nafas berat kemudian berkata, "Kita istirahat dulu." Sasuke mengangguk pelan, dirinya benar-benar lelah. Dan ia telah menyadari betapa lemahnya dia sekarang.

=…=

"Kumohon ayah … ini sangat penting! Ting! Ting!" Ino sudah berapa kali bolak-balik di depan Sakura dengan wajah memohon, walau dirinya tahu bahwa ayahnya yang berada di seberang tidak dapat melihat wajah memelas putri semata wayangnya.

'Sangat penting sampai kau meninggalkan ayahmu sendirian? Memangnya tugas apa itu?'

Sakura dapat mendengar ocehan kekhawatiran ayah Ino dari seberang, wajar saja ayah Ino khawatir. Anak gadis semata wayangnya 'menghilang' sejak tadi malam dan sampai sekarang belum pulang. Orang tua mana yang tidak khawatir jika keadaannya seperti itu?

"Ini tugas terberat yang tidak bisa diselesaikan hanya dalam sehari! Aku butuh beberapa minggu untuk tugas ini," tutur Ino lagi. "Hum! Maka dari itu aku harus bermalam di rumah Sakura!" Mata emerald Sakura membelalak lebar, kenapa Ino harus bawa-bawa namanya untuk mendapat izin dari ayahnya?!

"Ne? Benarkah? Kyaaa! Terimakasih ayah! Aku menyayangimu!" Ino menutup flip telpon genggamnya dengan wajah cerah, gadis itu memandang Sakura dengan senyum ceria. "Ayahku mengizinkanku!" pekik Ino girang, sedangkan Sakura menatapnya malas.

"Kenapa harus rumahku yang jadi sasaran kebohonganmu itu?" tanya Sakura seraya memutar bola matanya, Ino hanya cengengesan.

"Ayahku tahu kalau jarak rumahmu dari sekolah dekat. Aku beralasan ada tugas OSIS yang harus kukerjakan dan harus kembali ke sekolah jika ada rapat mendadak."

"Bagaimana jika ayahmu tahu kalau kau tak ada di sekolah?" tanya Sakura menaikkan alisnya.

"Ayahku akan pergi dinas keluar kota untuk tiga bulan! Jadi jangan khawatir!" Ino mengedipkan sebelah alisnya. Sakura memandang sahabatnya itu dengan takjub.

"Kau benar-benar pandai berbohong!" puji Sakura.

"Hei! Itu pujian atau hinaan?" tanya Ino tersinggung.

"Dua-duanya," jawab Sakura polos.

"Sudahlah, daripada itu…" Pandangan Ino beralih pada lapangan dekat danau tempat Sasuke beratih. "Kau tak kasihan pada pangeranmu itu? Dia dilatih habis-habisan oleh kakaknya." Sakura ikut memandang Sasuke yang terkapar lemah di tanah. Matanya memandang sendu wajah Sasuke yang tampak kelelahan dan kesakitan. Itachi memang melatih Sasuke tanpa belas kasihan dan tanpa pengampunan.

"I-Ino-chan … Sakura-chan…" Sakura dan Ino menoleh menatap Hinata yang membawa sebuah nampan yang berisi tiga gelas teh.

"Waahh … Terimakasih Hinata!" ucap Ino dan langsung menyeruput teh bagiannya. Sakura tak memedulikan itu, tatapannya masih tertuju pada Sasuke.

"Oh ya, Hinata…" Sakura menoleh pada Hinata. "Darimana kau mendapat teh ini?" tanyanya.

"Di dapur. Disana ada banyak minuman, memangnya kenapa?" Sakura tak menjawab pertanyaan Hinata dan langsung melenggang ke dapur. Hinata memasang wajah bertanya dan menatap Ino.

"Palingan untuk pangerannya," ucap Ino cuek dan masih asyik meminum tehnya. Hinata tersenyum mendengar jawabannya.

"I-Ino-chan … Sai dimana?" Gerakan Ino terhenti saat mendengar perkataan Hinata. Gadis itu tersenyum dan menoleh pada Hinata.

"Dia sedang dalam masa penyembuhan. Jadi dia tidak ikut berlatih," jawabnya tanpa menghilangkan senyum yang ia sunggingkan di wajah cantiknya.

"Souka…" Hinata mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Kalau Naruto?" tanya Ino balik. Mendengar nama Naruto, tak luput membuat wajah Hinata memerah.

"Eng … Naruto-kun sedang dilatih oleh Pein-san," jawab Hinata gugup. Ino yang pada dasarnya senang menggoda orang lain namun tak suka digoda memasang wajah curiga dan tersenyum misterius.

"Hem, aku penasaran. Kenapa kau bisa pingsan tadi malam?" Wajah Hinata semakin memerah. Ino yang menangkap perubahan ekspresi Hinata tersenyum menggoda.

"Ti-tidak ada apa-apa."

"Hmmm?" Ino mendekatkan wajahnya pada Hinata.

"T-tidak ada apa-apa, percayalah!"

"Kau suka Naruto 'kan?" tebak Ino.

"Tidak!" Hinata menjawab dengan cepat.

"Akuilah…"

"T-tidaaak!"

"Hmm…?"

"TIDAAAAKK!"

.

.

.

"Sasukeeee!" Sasuke membuka matanya yang tadinya terpejam. Kepalanya ia miringkan ke samping, menatap Sakura yang berlari ke arahnya. Sampai di sampingnya, Sakura mendudukkan dirinya dan menatap Sasuke yang terbaring di rerumputan.

"Minumlah! Kau pasti lelah." Sakura menyodorkan sekaleng minuman pada Sasuke. Sasuke tersenyum tipis dan mengambil minuman kaleng tersebut seraya bangkit perlahan untuk duduk. Ia segera membukanya dan meneguknya dengan lancar. Sakura tersenyum maklum, pasti Sasuke sangat haus sekarang.

"Rasanya aneh, minuman apa ini?" komentar Sasuke dan melihat kalengnya.

"Entahlah, aku menemukannya di kulkas," jawab Sakura enteng. Sasuke melempar kaleng minumannya yang sudah kosong dan bangkit berdiri. Tangannya ia julurkan pada Sakura, membantu gadis itu untuk berdiri.

"Terimakasih." Lagi-lagi, Sasuke mengelus rambut Sakura. Namun kali ini dengan senyuman, bukan wajah datar seperti tadi malam. Sakura tertegun, kemudian tersenyum semanis mungkin. Setidaknya, Sasuke lebih 'hangat' padanya.

.

.

.

"Hiiyaaat!"

Pak!

"Percepat gerakanmu, Ino."

Pak! Dak!

Sai menatap Ino dan Konan yang berlatih bela diri dengan tatapan malas. Ia bosan duduk bersila seperti ini daritadi. Ia tak bisa kemana-mana karena Ino melarangnya bagaikan pengasuhnya. Ia juga tidak dapat latihan karena lukanya yang belum kering. Sungguh malang nasib pemuda tampan ini.

"Kita istirahat," ucap Konan seraya tersenyum pada Ino dan beranjak meninggalkannya. Ino menghampiri Sai yang memberinya handuk. Ino segera mengelap keringatnya yang bercucuran menggunakan handuk pemberian Sai.

"Hehehe … aku kuat 'kan?" ucap Ino bangga.

"Ya, kau benar-benar menyeramkan," ujar Sai polos. Ino menunduk dan menatap sendu ke lantai. "Ada apa?" tanya Sai heran.

"Sayangnya, aku tak sekuat itu…" lirih Ino. Sai mengernyitkan alisnya. "Kalau aku sekuat itu, kau pasti tak perlu terluka." Sai tersenyum pasrah saat mendengar lontaran Ino.

"Sudahlah, ini bukan salahmu." Ino memandang Sai dengan gugup.

"Kenapa … kau melindungiku?" tanya Ino sembari menatap Sai dalam. Sai tertegun, namun segera tersenyum palsu.

"Sudah kubilang, tubuhku begerak sendiri," jawab Sai membuang wajahnya. Namun Ino masih belum puas dengan jawaban Sai.

"Kenapa?" Sai tercenggang menatap Ino, tampaknya gadis itu benar-benar serius dalam pertanyaannya kali ini.

"Aku hanya ingin melindungi temanku." Tatapan Ino berubah sendu, namun ia tersenyum terpaksa pada Sai yang menatapnya heran. Gadis itu kembali menunduk kaku.

"Teman yah…" lirih Ino.

"Kenapa?" Ino memandang Sai dan tersenyum paksa sekali lagi.

"T-tidak ada apa-apa! Sungguh!" Sai menangkap kebohongan dalam ucapan Ino. Namun pemuda itu hanya menghela nafas dan memutuskan untuk tak bertanya lagi pada Ino yang bertingkah aneh di sampingnya.

.

.

.

"Hei Hidan! Kau mengambil minuman kaleng yang ada di kulkas?" Konan berkacak pinggang dan menatap Hidan dengan aura menyeramkan. Hidan menggeleng dengan cepat, membuat Konan mengernyitkan alisnya.

"Kalau kau Kakuzu?" Sebuah gelengan di dapatnya dari pria bercadar yang sedang bermain joker dengan beberapa anggota Akatsuki lainnya. Konan masih belum menyerah, ia harus mendapat pelaku yang meminum minuman kaleng tersebut.

"Kalau kau Sasori?"

"Tidak," jawab pemuda babyface yang sedang terfokus pada kartu di genggamannya.

"Cih, siapa yang meminumnya?" gumam Konan seraya berpikir.

"Memangnya minuman apa itu, Konan-senpai?" tanya Tobi yang mengecap lollipop-nya. Konan menatap Tobi penuh arti.

"Itu salah satu obat racikanku sendiri," ucap Konan mengehela nafas pasrah.

"Obat? Obat apa itu?" tanya Pein bingung. Konan menatapnya dengan kikuk, entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu.

=…=

Sasuke meringis kesakitan saat Sakura memberi kompres dingin pada luka di wajahnya. Sakura memandang kasihan pada Sasuke yang kini terbaring di pahanya. Andai saja dirinya mampu mengendalikan kekuatan medisnya, pasti luka Sasuke akan lebih cepat sembuh.

"Ada apa?" tanya Sasuke heran saat melihat wajah Sakura yang seketika sedih. Sakura tersentak dan tersenyum paksa.

"T-tidak apa-apa!" jawab Sakura dengan muka yang dipaksakan sejujur mungkin. Namun Sasuke tak bodoh, ia yakin Sakura memikirkan sesuatu saat ini. Tapi Sasuke berpikir bahwa itu bukan urusannya dan memutuskan untuk berhenti bertanya.

"A-apa lukamu masih sakit?" tanya Sakura dan menempelkan kompres dingin dengan perlahan di luka Sasuke. Sasuke menggeleng pelan, membuat Sakura tersenyum. "Baguslah," ucap Sakura.

Sasuke memandang Sakura datar, namun pening seketika ia rasakan di kepalanya. Membuatnya meringis.

"Argh…!" Sasuke memegang kepalanya yang masih berada di atas paha Sakura. Sakura terlonjak kaget dan ikut memegang kepala Sasuke.

"A-ada apa? Sasuke?" Sasuke tak menghiraukan pertanyaan Sakura. Lelaki itu masih saja memegang kepalanya yang masih terasa sakit, bagaikan ada beban berat yang terjatuh ke kepalanya. Sakura seketika cemas dan khawatir dengan Sasuke. Ia melihat keluar jendela, hari ini bukan bulan purnama, berarti Sasuke tidak akan berubah. Namun … Sakura tersentak. Apakah Sasuke akan berubah karena rasa sakit yang dirasakannya?

"Arrgghh!" Rasa pening di kepala Sasuke semakin menjadi-jadi. Sakura ingin meminta bantuan keluar, namun ia tak tega meninggalkan Sasuke sendiri. Akhirnya ia sendiri dilanda perang batin.

"AARRGGH!" Sakura berdiri dengan cepat, ia seharusnya memanggil bantuan dengan cepat. Baru saja ia hendak membuka pintu, teriakan Sasuke sudah tidak ia dengar lagi. Sakura membalikkan dirinya menuju Sasuke dan memegang kepalanya.

"K-kau sudah tidak apa-apa?" tanya Sakura khawatir. Sasuke bangkit terduduk, masih diam tanpa kata. 'Ada yang aneh dengan Sasuke,' batin Sakura bingung. Sasuke mendongak menatap Sakura. Sakura dapat melihat mata onyx kelam Sasuke menjadi semakin gelap. Sasuke tiba-tiba mendorong Sakura menuju kasur yang berada di sampingnya dan menaiki tubuh Sakura, membuat Sakura terlonjak kaget dengan wajah memerah.

"S-Sasuke, apa yang kau … hhmmmpphh!" Sakura terbungkam oleh ciuman penuh hasrat dari Sasuke. Sasuke terus menciumnya dengan ganas. Sakura mencoba untuk mendorong Sasuke, namun tenaganya tak cukup kuat untuk itu. Ciuman Sasuke turun menuju tengkuknya, membuat Sakura terbelalak.

'Apakah Sasuke akan menggigitku?' batin Sakura terbelalak. Sakura menatap sendu Sasuke, namun gadis itu tersenyum. Jika Sasuke mengigitnya, mungkin itu tak apa-apa, karena dirinya juga merupakan seorang monster. Sakura menutup matanya, pasrah jika saat ini Sasuke menggigitnya, ia rela darahnya diminum Sasuke. Namun matanya kembali ia buka saat dia merasa tak terjadi apa-apa, Sasuke memang mengigitnya, namun bukan gigitan seorang vampire, melainkan hanya meninggalkan sebuah kissmark pada tengkuknya. Ciuman Sasuke turun ke area dadanya. Membuat Sakura terbelalak, apalagi ketika Sasuke menyibak kimono Sakura.

'E-eh?' Wajah Sakura merah padam. Apakah … Sasuke mau berhubungan dengannya?!

.

.

.

"OBAT PERANGSANG?!" Para anggota Akatsuki terlonjak kaget saat Konan menyebutkan nama obat racikannya. Konan mengangguk kikuk dengan wajah memerah.

"Aku sudah lama membuatnya, aku bereksprimen dengan berbagai tumbuhan, aku tidak menyangka bahwa yang kuhasilkan adalah obat perangsang," jelas Konan gugup. "Maka dari itu, aku menyimpannya dengan aman."

"Aman?! Kau taruh dikulkas dan kau bilang itu aman?" ucap Hidan dengan wajah cengo. Konan mengangguk.

"Bagaimana kalau salah satu dari anak-anak itu meminumnya?" tanya Deidara dengan wajah cemas. Konan mengangkat bahunya.

"Obat itu hanya bereaksi lima menit. Tidak akan cukup untuk melakukan suatu hubungan," jelas Konan berusaha tenang.

"Lain kali kau jangan meracik obat yang aneh-aneh, Konan." Akhirnya, sang ketua berdiri dari tempat duduknya dan menghela nafas berat.

"Itu tidak aneh!" sergah Konan.

"Sudahlah, apa boleh buat. Obat itu sudah menghilang," ujar Zetsu tenang. Para anggota Akatsuki mengangguk.

"Aku harap bukan Sasuke yang meminumnya," gumam Itachi dan menatap keluar jendela.

.

.

.

"S-Sasuke… hmmmpphh!" Sakura berusaha mendorong tubuh Sasuke. Ia yakin bahwa yang berada di depannya bukan 'jiwa' Sasuke yang asli. Ia tak mau seperti ini meski ia menyukai Sasuke!

Sasuke tiba-tiba tersentak dan menjauhkan dirinya dari Sakura. Pemuda itu memegang kepalanya yang terasa berat. Sakura yang melihatnya bernafas lega meski ada sedikit rasa kecewa dari dalam hatinya, sepertinya Sasuke sudah kembali semula.

"Sasuke?" panggil Sakura seraya mendekati Sasuke. Namun Sakura juga agak ragu mendekatinya. Bagaimana kalau Sasuke mengusirnya lagi seperti waktu itu? Sasuke memandang Sakura, onyx-nya menatap bagian dada Sakura yang agak terbuka. Sadar diperhatikan, Sakura segera menutup kimono bagian dadanya yang tersibak dengan wajah memerah.

"Ehm … a-ano … emmm…" Sakura bergumam kikuk, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Sasuke juga hanya menatapnya dengan tatapan datar seperti biasanya.

Sreeek!

"Sakura! Sasuke! Makan malam telah siap!" Ino terheran saat melihat pemandangan di depannya. Sakura yang memeluk dirinya sendiri dengan wajah memerah, dan Sasuke yang nampaknya membuang wajahnya. "Eh? Kalian kenapa?" Sakura menggeleng cepat demi menanggapi pertanyaan Ino. Sakura segera berdiri, diikuti Sasuke di belakangnya.

"Ayo makan!" Sakura mendorong Ino keluar, yang disambut tatapan bingung oleh gadis Yamanaka tersebut.

.

.

.

"Eh, Sasuke, Sakura, kalian melihat minuman kaleng yang berada di kulkas?" Konan menyambut kedatangan Sasuke dan Sakura di ruang makan dengan pertanyaan yang langsung membuat Sakura meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia harusnya memang harus meminta izin pada Konan sebelum mengambil barang milik Akatsuki. Sakura melirik Sasuke melalui ekor matanya, Sasuke hanya diam dan melemparkan tatapannya ke arah lain.

"Emm… i-itu, memangnya kenapa?" tanya Sakura berpura-pura.

"Itu bukan minuman biasa, itu obat perangsang yang kuracik sendiri." Mata Sakura membelalak lebar.

"O-obat perangsang?" Konan mengangguk. Sakura sekali lagi menelan ludahnya, matanya melirik Sasuke yang juga tersentak kaget.

"Kalian melihatnya?" tanya Konan sekali lagi, Sakura menggeleng pelan, berdusta pada wanita rambut biru itu. "Begitu yah, ya sudah. Nikmati makan malam kalian!" Konan melenggang pergi meninggalkan Sakura yang masih cengo. Mata Sakura segera bergulir ke arah Sasuke yang menatapnya, meminta penjelasan dari dirinya.

"A-aku tidak tahu itu obat perangsang! Serius! Sumpah!" Sakura mengangkat jarinya berbentuk 'v'. Sasuke menghela nafas dan melangkah melewati Sakura.

"Sudahlah. Jangan beritahu siapapun mengenai ini." Sakura mengangguk dengan wajah memerah. Ia betul-betul tak menyangka kecerobohannya bisa berakibat seperti ini. Untung saja Sasuke menanggapinya dengan dingin seperti biasanya, sehingga ia mungkin akan mudah melupakan kejadian ini.

.

.

.

"Sakura, fokuskan seluruh pikiranmu untuk kesembuhan kelinci ini. Berkonsentrasilah." Sakura mengangguk dan meletakkan kedua tangannya di atas luka yang terdapat pada kaki kelinci di depannya. Keningnya berkerut, pertanda bahwa ia sangat berkonsentrasi sekarang. Semua teman-temannya yang melihatnya dilarang menganggunya, mereka semua hanya dapat melihat latihan Sakura dari jauh.

Entah kenapa, Sakura teringat kejadian semalam dengan Sasuke. Membuat wajahnya kembali memanas, ia segera menggelengkan kepalanya. Ia tak seharusnya mengingat itu di saat ia sedang serius seperti ini.

"Kau tidak akan bisa menyembuhkannya jika pikiranmu bercabang, Sakura." Sakura menatap Sasori yang menghela nafas pasrah melihatnya. Gadis itu sedikit tersentak, kenapa Sasori bisa mengetahui kalau pikirannya melayang-layang?

"Aku sudah bilang, fokuskan pikiranmu pada satu titik," ucap Sasori sambil tersenyum. Sakura mengangguk sekali lagi. Kali ini ia harus berhasil menyembuhkan luka pada kelinci malang yang dijadikan percobaan di depannya. Pikirannya sengaja ia kosongkan, emerald-nya terus-terusan menatap kelinci di depannya. Setelah beberapa saat, Sakura dapat melihat cahaya hijau muncul dari telapak tangannya. Gadis itu tersenyum sumringah, ia berhasil mengeluarkan kekuatan medisnya tanpa mengeluarkan air mata! Karena sibuk sumringah, membuat Sakura kehilangan konsentrasinya dan membuat cahaya hijau di tangannya menghilang dalam sekejab, membuat gadis itu mendesah kecewa.

"Kenapa hilaaanggg?!" amuk Sakura kesal. Padahal dia sudah mati-matian mengeluarkannya.

"Semangat Sakuraaaa! Hahahahahaha!" Sakura mendelik Ino yang pasti sedang menggodanya dengan tawa nistanya. Teman-temannya asyik memakan kue sedangakan dirinya harus latihan. Sungguh malang nasibnya. Sasori yang melihat itu tersenyum prihatin.

"Baiklah, kita istirahat dulu," ucap Sasori simpati. Sakura menatap Sasori dengan pandangan berterimakasih, bagaikan Sasori adalah sang pahlawan yang menyelamatkannya dari medan perang. Sakura segera berlari menghampiri teman-temannya yang sedang bersantai ria di teras markas Akatsuki.

"Huh! Menyebalkan!" keluh Sakura kesal. Yang lainnya hanya cekikikan melihatnya, kecuali Sasuke tentunya.

"Kau pasti bisa, Sakura-chan!" hibur Naruto dengan cengiran khasnya. Sakura mengangguk semangat.

"Ngomong-ngomong, sampai kapan kita berada di sini?" tanya Sai pada Sasuke yang sedari tadi diam.

"Sampai kita benar-benar kuat," jawab Sasuke cepat. Ino menyenggol lengan Sai.

"Kau bahkan belum latihan sama sekali," ucap gadis bermata aquamarine tersebut pada Sai yang menebarkan senyum palsunya. Sedangkan Naruto, Hinata, serta Sakura hanya cekikikan geli melihat Sai dan Ino.

.

.

.

Makan malam telah selesai, semua penghuni markas Akatsuki tersebut sedang bersantai di sebuah ruangan besar. Semuanya berkumpul di ruangan itu, dan masing-masing melakukan kegiatan yang menyibukkan diri mereka masing-masing. Namun tidak bagi pemuda dengan kumis kucing di wajahnya, ia menatap bosan sekelilingnya dari kursi tempatnya duduk.

"Huuhh … aku bosan!" gumam Naruto, namun masih dapat didengar oleh Hinata yang berada di sampingnya. Mata shappire pemuda itu melirik kesana-sini, mencari sesuatu yang dapat menghilangkan rasa bosannya. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya, pemuda itu tersenyum sumringah dan menatap semua makhluk yang ada di ruangan tersebut.

"Ayo kita main Truth or Dare!" serunya kencang. Semuanya menghentikan aktifitas-nya masing-masing dan menatap pemuda rubah itu dengan pandangan bingung.

"Aku setuju!" seru Deidara tiba-tiba. Dilanjutkan oleh sorakan-sorakan lain yang mendukung permainan sederhana Naruto. Naruto kemudian mencari sebuah botol untuk dijadikan penunjuk. Sasuke, Sakura, Hinata, Sai, Ino, serta para anggota Akatsuki segera berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran dan mengosongkan bagian tengah. Naruto menaruh botol tersebut di tengah-tengah mereka.

"Kalian siap?" Semuanya mengangguk mendengar perkataan Naruto. Pemuda itu segera memutar botol tersebut, sampai botol itu terhenti dan menunjuk ke arah Konan.

"Eh?" Konan terkejut saat botol itu mengarah padanya.

"Truth or Dare?" tanya Naruto dengan cengiran. Konan tampak berpikir, kemudian wanita itu menjawab. "Truth."

Naruto segera berpikir, pertanyaan apa yang cocok untuk wanita berambut biru tersebut. Kemudian dia tersenyum sumringah saat satu pertanyaan terlintas di kepalanya.

"Apa hubunganmu dengan Pein?" Konan tersentak, Pein juga ikut tersentak. Para anggota Akatsuki merapat demi mendengar jawaban Konan. Konan nampak gugup dengan wajah memerah, kemudian wanita origami tersebut menjawab. "Kami pacaran."

Semua anggota Akatsuki membelalak, terlonjak kaget atas jawaban yang dilontarkan wakil ketua Akatsuki tersebut. "Kapan kalian pacaran?!" tanya Hidan shock, sedangkan Pein hanya tersenyum miring.

"Tidak akan kujawab. Bukankah kita hanya diberi satu pertanyaan?" Konan membuang wajahnya, sedangkan Hidan menunduk kecewa. Seluruh anggota organisasi gelap tersebut masih tak dapat menghilangkan rasa kagetnya. Mereka tak menyangka bahwa ketua dan wakil mereka menjalin sebuah hubungan tanpa mereka ketahui. Naruto memutar botol tersebut sekali lagi, kali ini botol tersebut mengarah ke Ino.

"Truth or Dare?" tanya Naruto. Ino tampak berpikir, menimbang-nimbang jawaban yang harus ia pilih. "Dare!" jawab Ino yakin. Naruto kembali berpikir, kemudian ia menyeringai licik.

"Cium Sai!"

"Heeeh?!" Ino membelalak lebar. Me-mencium Sai?! Apakah Naruto sudah gila?! "Tidak! Aku tidak mau!" tolak Ino cepat dengan wajah memerah. Naruto menyipitkan matanya.

"Kau curang! Kau harus menuruti perintahku!" ucap Naruto. Ino menggelengkan kepalanya dengan keras dan cepat.

"Ogah!" seru Ino kencang. Naruto kembali menyipitkan matanya, disusul oleh anggota Akatsuki yang lain serta Sakura. "K-kenapa aku ditatap seperti itu?!" kata Ino gugup, gadis itu melirik Sai, Sai tampak tenang-tenang saja. Sadar diperhatikan, Sai melirik Ino dan tersenyum, pemuda itu menunjuk-nunjuk bibirnya, pertanda bahwa pemuda itu menyuruh Ino menciumnya.

"Haaahh … kau tidak asyik Ino!" desah Sakura kecewa. Perempatan siku-siku muncul di pelipis Ino. Apakah dia benar-benar harus mencium Sai?!

"B-baiklah…" Akhirnya Ino menyerah, gadis itu tampak gugup dan menutup matanya. Wajahnya ia majukan pada Sai yang ada di sampingnya dengan perlahan. Sai juga mendekatkan wajahnya, dan dengan cepat menempelkan pipinya pada bibir Ino. "Eh?" Ino membuka matanya saat bibirnya menyentuh pipi Sai. Sai segera menjauhkan wajahnya dan tersenyum menatap Ino.

"Mencium tak selamanya pada bibir kan?" ujar Sai. Wajah Ino memerah, ia merasa kecewa dari lubuk hatinya yang paling dalam, namun ia juga merasa lega. Ino melirik Sakura, Sakura menatap Ino dengan tatapan menggoda, membuat wajah Ino semakin memerah. 'Tunggu giliranmu, Jidat sialan!' batin Ino beteriak.

"Baiklah, kita lanjutkan!" Naruto kembali memutar botolnya. Botol tersebut berputar dengan cepat, namun lama-lama semakin pelan dan terhenti di depan Sasuke yang menatapnya dengan tatapan datar. "Truth or Dare?" tanya Naruto pada Sasuke, Sasuke membuang wajahnya.

"Apakah aku harus mengikuti permainan konyol ini?" Naruto menatap Sasuke dengan pandangan menuntut.

"Tentu saja Teme!" jawab Naruto keras. Sasuke menghela nafas dan kemudian berkata. "Truth."

"Oke! Pertanyaannya-"

"Siapa orang yang kau sukai?"

Deg!

Perkataan Naruto terpotong, semuanya menatap ke arah Itachi yang baru saja melemparkan pertanyaan pada adiknya dengan wajah kalem yang terkesan dingin. Sasuke juga ikut menatap Itachi dengan wajah datar. Sakura tertunduk, wajah gadis itu memerah. Siapa yang disukai Sasuke? Ia juga tidak tahu, dan akan segera mendengar jawabannya.

"Apakah aku harus menjawab?"

"Tentu saja Teme!" Naruto tampak kehabisan kesabaran. Sedangkan jantung Sakura berdegup kencang menunggu jawaban Sasuke. Saat-saat inilah yang paling menegangkan bagi Sakura, ia memang menyatakan cintanya pada Sasuke, namun Sasuke sama sekali tak meresponnya. Dan sekarang…

"Jadi, siapa orang yang kau sukai?"

.

.

.

Chapter 11 : Who am I to you, Sasuke?

.

"Jadi, siapa yang kau cintai?"

Suasana tiba-tiba hening. Sasuke juga sedari tadi diam, tak menjawab pertanyaan yang diajukan padanya. Pemuda itu berdiri, masih dalam keadaan diam dan mata tertutup.

"Itu bukan urusan kalian," ucapnya dingin dan melangkahkan kakinya ke arah pintu, hendak keluar dari ruangan yang tiba-tiba hening tersebut.

"Tunggu Teme! Kau curang!" Teriakan Naruto menghentikan langkah pemuda bermarga Uchiha tersebut, Naruto menatap marah pada Sasuke. "Kau harus menjawabnya!" teriak pemuda itu lagi.

"Benar Sasuke!" Ino ikut bersuara, sebenarnya gadis itu merasa kasihan pada Sakura yang sedaritadi menunduk.

"Menjawab atau tidak, itu sama sekali tak berpengaruh pada kalian," ujar Sasuke dengan nada datar. Ino mengepalkan tangannya, Naruto ikut menggeretakkan giginya. Siapapun tahu, bahwa Sakura mencintai Sasuke. Dan siapapun tahu, bahwa Sasuke sampai saat ini masih menggantung perasaan gadis itu.

"Tapi Teme-"

DAK!

Semua makhluk yang berada di ruangan itu terkesiap saat mendengar suara hantaman tangan Sakura pada lantai di bawahnya. Gadis itu menunduk seraya berdiri, tangannya ia kepalkan kuat-kuat. Ino yang berada di bawahnya dapat melihat gadis itu menggigit bibir bawahnya yang sedikit bergetar.

"Kenapa…" Suara Sakura bergetar, sepertinya gadis itu menahan tangisnya. Pandangan para penghuni ruangan tersebut tertuju padanya, bahkan Sasuke pun ikut membalikkan badannya dan menatap ke arahnya dengan pandangan bertanya. "…kau tak menjawabnya?" lanjut Sakura masih dengan nada suara yang sama dengan sebelumnya. Sasuke tetap terdiam, tak ada niat untuk menjawab pertanyaan gadis berambut softpink tersebut.

"Sakura…" lirih Ino prihatin pada sahabatnya.

"Kenapa Sasuke?!" Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke dengan pandangan yang memancarkan kesedihan dan kesakitan. Teman-temannya tertegun melihat aksi Sakura yang berbeda dari biasanya.

"Kenapa kau menciumku?!"

Sangat, Sakura sangat ingin menghentikan perkataannya…

"Kenapa kau tersenyum padaku?!"

Namun, ini suara hatinya….

"Kenapa kau menyemangatiku?!"

Suara hati yang telah lama dipendamnya…

"Kenapa kau menghiburku saat aku terpuruk tentang ayahku?!"

Ia tak dapat menghentikannya, bahkan-

"Kenapa kau balas memelukku saat aku menyatakan cinta padamu?!"

-di depan para anggota Akatsuki dan teman-temannya.

Nafas Sakura ngos-ngosan. Air mata telah jatuh melalui kelopak matanya, Sasuke tertegun melihatnya. Ia-tidak, semuanya belum pernah melihat Sakura mengamuk seperti ini. Sakura mengigit bibir bawahnya, perasaannya berkecamuk. Ia lega telah mengatakan semuanya pada Sasuke. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap Sasuke yang masih terdiam seraya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Sekali lagi kutegaskan, ini bukan urusanmu." Suara dingin Sasuke terdengar begitu jelas.

"Ini urusanku!" sergah Sakura tegas. "Kau tahu … kau tahu bahwa aku mencintaimu!" Para angggota Akatsuki, Ino, Sai, Naruto, dan Hinata terperanjat kaget mendengar penuturan Sakura yang terkesan berani. Ino bahkan menutup mulutnya, menahan diri untuk tak memekik kencang. "Aku berhak mengetahui perasaanmu sebenarnya, Sasuke!" teriak Sakura lagi.

Sasuke terdiam. Sakura mengatur nafasnya dan mengusap air matanya. "Sebenarnya apa arti diriku…" Sakura tersenyum miris dan menatap Sasuke sendu, "…bagimu?"

Tanpa diduga, Sasuke tersenyum tipis. Sakura menatap Sasuke dengan pandangan heran. Tanpa merespon pandangan heran Sakura, pemuda itu membalikkan dirinya dan melangkah keluar ruangan. Kali ini, lidah Sakura dan teman-temannya terlalu kaku untuk menghentikan langkah pemuda tersebut. Sakura jatuh terduduk, namun segera ditahan oleh Ino. Ino mengelus punggung Sakura pelan.

"Kau hebat, Sakura," bisik Ino. Sakura menatap Ino kaget, seolah ia tersadar akan sesuatu. Sakura menatap sekeliling, semua pandangan tertuju padanya, membuat wajahnya memerah. Ia baru sadar apa yang dilakukannya. Memalukan! Sungguh memalukan! Apa yang dia lakukan tadi sungguh di luar alam sadarnya. Di depan para anggota Akatsuki, di depan teman-teman dan sahabatnya, dia menyatakan cinta yang kedua kalinya pada Sasuke! Dan respon Sasuke masih sama, hanya diam, tak menjawab pernyataan Sakura.

"A-aku…" Wajah Sakura memanas, ia menunduk, tak berani menatap orang-orang yang berada di ruangan tersebut.

"Hei! Hei! Kenapa aku tak tahu bahwa sebelum ini kau sudah menyatakan cinta pada Sasuke?" Ino menampilkan raut wajah kesal pada Sakura, membuat wajah Sakura semakin memerah tak karuan.

"I-itu bukan urusanmu," ucap Sakura gagap dan memalingkan wajahnya.

"Kau sekarang ketularan Sasuke!" tuding Ino kesal, gadis aquamarine tersebut melipat kedua tangannya di dadanya. Sakura baru saja hendak membalas perkataan Ino, tapi gadis itu lebih memilih menatap Hinata yang menghampirinya.

"Aku mendukungmu, Sakura-chan," kata Hinata tulus dan tersenyum pada Sakura. Sakura tercenggang, namun ikut tersenyum dan mengangguk semangat.

.

.

.

Dengan terpaksa, permainan Truth or Dare dihentikan. Para anggota Akatsuki kembali ke ruangannya untuk beristirahat, meninggalkan Sai, Ino, Naruto, Hinata dan Sakura di ruangan tadi. Kelima remaja tersebut sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, sampai Ino tiba-tiba menjentikkan jarinya seraya tersenyum sumringah, membuat teman-temannya menatap heran ke arahnya.

"Aku punya ide!" ucap Ino girang. Sakura tiba-tiba mendapat firasat buruk bahkan sebelum Ino mengatakan idenya itu. Ia sudah tahu bahwa 'ide' nona Pig tersebut pasti menyangkut tentang dirinya.

"Ide apa?" tanya Sai penasaran.

"Ide untuk membuat Sasuke mengakui perasaan sebenarnya pada Sakura!" Tuhkan. Tebakan Sakura benar.

"Oh ya? Bisa kau jelaskan idemu itu?" tanya Sai lagi.

"Kita akan membuat beberapa aksi agar Sasuke mengungkapkan perasaannya pada Sakura. Dan aku punya beberapa ide untuk itu!" Ino masih memasang senyum sumringahnya.

"Sepertinya menarik, tidak ada salahnya jika dicoba kan?" tutur Naruto. Sakura hanya tersenyum paksa, ia benar-benar merasakan akan ada hal aneh yang menimpa dirinya. Ino kemudian mengambil kertas dan pulpen dan menulis sesuatu di sana. Butuh waktu agak lama sampai wanita itu berhenti menulis. Ino kemudian meletakkan kertas itu di lantai, di kertas itu tertulis rencana-rencana nista Ino demi melancarkan ide 'cemerlang'-nya.

"Baik, Sakura. Kita akan memulainya besok, fufufu…" ucap Ino dengan tawa bak penyihir yang membuat Sakura meneguk ludahnya dengan susah payah.

.

.

.

Rencana 1 : Meminta maaf pada Sasuke dan mendekatkan diri padanya.

"E-emm … Sasuke, a-ano…" Sasuke menaikkan sebelah alisnya ketika Sakura tiba-tiba menghampirinya dengan wajah memerah dan kegugupan yang tak dapat gadis itu sembunyikan. "A-aku … minta maaf," ucap Sakura sungguh-sungguh.

"Sudahlah, tidak apa." Sasuke memalingkan wajahnya. Tanpa aba-aba, Sakura langsung duduk di sebelah Sasuke. Gadis itu bergeser agar lebih dekat dengan Sasuke. Sasuke hanya menatap heran Sakura dan ikut bergeser menjauhi Sakura. Sakura sekali lagi bergeser mendekati Sasuke, Sasuke sekali lagi menjauh. Sakura kembali bergeser, begitulah seterusnya sampai Sasuke memutuskan untuk berdiri.

"Ada apa denganmu?" tanya Sasuke heran. Sakura hanya menampilkan wajah polos.

"Tidak apa-apa," jawab Sakura enteng. Namun Sasuke tidak bodoh, pemuda itu tahu ada yang terjadi padanya.

"Kau meminum racikan Konan lagi?" Mata Sakura membulat mendengar pertanyaan Sasuke.

"T-tentu saja tidak!" sergah Sakura cepat. Sasuke kembali diam. Sakura memutuskan ikut berdiri dan mengait lengan Sasuke, membuat Sasuke tersentak.

"Hei! Kau kenapa?" tanya Sasuke heran. Aneh, Sakura sungguh aneh!

"Sudah kubilang aku tidak apa-apa!" Sakura semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Sasuke, sebenarnya dia menahan malu saat ini. Sasuke menghela nafas, pemuda itu kemudian menjentikkan jarinya. Dahi Sakura berkedut heran, mau apa Sasuke?

Pertanyaannya terjawab saat tubuhnya tak dapat bergerak. Ini … sihir picik nan aneh Sasuke lagi! Sasuke memasang wajah datar dan melepaskan lengannya dari pelukan Sakura dengan tenang. Sekarang, posisi Sakura seakan memeluk sesuatu dengan dahi berkedut. Sasuke menatapnya dengan datar.

"Kau akan tetap seperti ini sampai efek obat Konan habis," ucap Sasuke dan melangkah meninggalkan Sakura. Jika saja Sakura dapat bergerak, pasti matanya telah membulat saat ini. Jadi Sasuke menganggap Sakura sedang dikontrol oleh obat Konan?!

Sakura tetap menjadi patung. Sebenarnya ia mencari-cari Ino dan teman-temannya untuk menyelamatkan dirinya. Tapi mereka tak kunjung datang. 'Bagaimana ini?!' batin Sakura menangis. Sepuluh menit kemudian, barulah Ino dan teman-temannya datang dengan wajah cengo saat melihat 'keadaan' Sakura. Ino dan Naruto tertawa terbahak-bahak, sedangkan Sai dan Hinata terkikik geli. Sungguh malang nasib Sakura.

Rencana 1 : GAGAL!

=…=

Rencana 2 : Membuat Sasuke cemburu.

"Temeee!" Sasuke menoleh dan memandang Naruto yang berlari ke arahnya. Naruto mengatur nafasnya sejenak saat telah berada di depan Sasuke dan mendongak menatap pemuda raven tersebut. "Sakura-chan mencarimu!" ujarnya. Sasuke memandangnya heran.

"Di mana dia?"

"Di ruang latihannya!" Sasuke memandang curiga pada Naruto, membuat Naruto seketika gugup dan menelan ludahnya.

"Kenapa bukan dia saja yang ke sini?" tanya Sasuke sedikit menyipitkan matanya. Shappire Naruto bergerak-gerak gelisah, otak pemuda itu berputar cepat untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Sasuke.

"Err … karena dia ingin menemuimu di sana!" Nah, setelah sekian lama berpikir dengan otak yang bahkan sudah terbalik seratus delapan puluh derajat, jawaban tidak logis itulah yang dilontarkan Naruto. Namun Sasuke hanya menghela nafas menanggapinya, pemuda itu tidak terlalu memusingkan jawaban Naruto dan langsung melangkah ke ruang latihan Sakura, membuat Naruto bernafas lega.

"Kalian tidak menyembunyikan sesuatu 'kan?"

Glek!

Walaupun Sasuke sudah melewati Naruto, dan bahkan membelakangi Naruto, namun Naruto tetap saja merasa mata onyx Sasuke mengawasinya dan menatapnya tajam. Seperti yang kita ketahui, Uchiha Sasuke tidaklah bodoh-

"Sudahlah, lupakan."

-namun kita juga mengetahui bahwa ia terlalu cuek untuk mengetahui sesuatu.

.

.

.

"Kenapa harus aku?" Sasori menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bingung. Ketiga gadis di depannya menatapnya penuh harap, membuat pemuda berambut merah menyala itu tak tega untuk menolak permintaan mereka. Pemuda itu menghela nafas sejenak, kemudian berkata, "Baiklah."

"Yeeeeeeyyy!" Ino memekik girang, Hinata tersenyum, sedangkan Sakura merana. Ide cemerlang Ino kali ini ialah membuat Sasuke cemburu kepada Sasori yang akan berakting dengan Sakura kali ini.

"Sasuke dan Naruto datang!" teriak Sai memberi aba-aba pada ketiga gadis yang berjarak lima meter darinya. Ino dan Hinata segera duduk di sebuah kursi dan Sakura serta Sasori mengambil posisi sesuai skenario yang telah disusun oleh Ino.

Sasuke telah memasuki ruangan bersama Naruto. Sakura langsung mendekati Sasori dan berpura-pura menyembuhkan tupai yang tergeletak tak berdaya di depannya. Sasuke melangkah menuju Sakura, membuat Sasori mengambil posisi memeluk Sakura dari belakang dan meletakkan tangannya di atas punggung tangan Sakura.

"Seharusnya seperti ini, Saku." Sakura, Ino, dan Hinata blushing sendiri melihat perlakuan Sasori. Sakura sedikit melirik Sasuke, pemuda itu sedikit tercenggang, namun kemudian memasang wajah datarnya lagi dan tetap melangkah mendekati Sakura.

"Ada apa?" tanya Sasuke saat telah sampai di depan Sakura.

"Bisakah kau tidak mengganggu latihan kami, Uchiha?" Sasori menatap tajam Sasuke. Sasori benar-benar berbakat akting.

"Sakura yang memanggilku ke sini," tukas Sasuke datar.

"Bicaralah dengannya jika latihan kami sudah selesai," ucap Sasori dingin. Sasuke mengernyitkan alisnya, namun kemudian pemuda itu melangkah menjauh dan duduk di kursi yang berada di samping Sai dengan wajah datar.

Sasori melepas pelukannya, dari jauh mereka dapat melihat Sasori dan Sakura saling melempar senyum, dan reaksi Sasuke-

-masih datar.

Sasori mengelus lembut puncak kepala Sakura. Sakura sedikit melirik ke arah Sasuke, dan-

-masih datar.

Sasori kembali memeluk Sakura dari belakang, kali ini lebih rapat. Dan-

-masih datar.

Cukup! Sakura berdiri dan menghampiri Sasuke.

"Latihanku sudah selesai," ucapnya. Ino cengo.

"K-kenapa?!" tanya Ino dengan nada tak terima. Sakura hanya diam.

"Hn. Kenapa mencariku?" tanya Sasuke to-the-point. Sakura kini gegalapan, otaknya seketika blank. Ia lupa untuk menyiapkan pertanyaan pada Sasuke!

"Err- aku…" Peluh mengalir di pelipis Sakura. "A-aku ingin tahu k-kenapa…"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa Itachi-san bisa keriput di usia muda?"

Dan seketika, ruangan itu hening.

.

Rencana 2 : GAGAL TOTAL!

.

=…=

Rencana 3 : Menggoda Sasuke

"Sasuke-kun~" Sasuke sekali lagi mengernyit untuk kesekian kalinya kepada Sakura yang kini memasang wajah centil dan sok imut di ambang pintu ruangan Sasuke. Ino, Sai, Naruto dan Hinata mengintip lewat jendela yang menghubungkan kamar Sasuke dan lapangan yang berada di dekat danau.

"Ada apa?" Sakura tak merespon pertanyaan Sasuke. Gadis itu duduk di samping Sasuke dan melirik Sasuke dengan senyum ehem-sexy-ehem yang membuat Sasuke sedikit merinding dan menjauh dari gadis itu. "Kau kenapa lagi?" tanya Sasuke heran. Otak cerdik (cerdas dan licik) miliknya berputar cepat dan menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres pada Sakura hari ini.

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berada di dekatmu." Sasuke menoleh ke arah Sakura dengan pandangan yang sulit dijabarkan. Pemuda itu menghela nafas dan kemudian berdiri. Namun Sakura dengan gesit menahan tangan Sasuke, dan menatap pemuda itu dengan pandangan menuntut, seolah-olah berkata 'duduklah kembali' pada pemuda bungsu Uchiha tersebut.

"Entah apa rencanamu dengan yang lain, tapi yang seperti ini bukanlah dirimu, Sakura."

Deg!

Sakura membulatkan matanya. Kata-kata sederhana yang dilontarkan Sasuke tadi benar-benar pas di hati Sakura. Gadis itu terdiam dan heran, heran bagaimana Sasuke dapat dengan mudah mengetahui bahwa ini adalah bagian dari rencananya.

"Apa yang kau ketahui tentang diriku?" Tidak. Sakura seharusnya tidak mengatakan hal ini. Ino yang mengintip melalui jendela hanya menepuk jidatnya mendengar perkataan Sakura. "Kau bertingkah seolah-olah kau mengetahui diriku yang sebenarnya!" Emosi Sakura kembali melonjak. Ia tak tahu mengapa emosinya bisa naik kembali, yang ia tahu ia hanya kesal terhadap Sasuke –tanpa alasan yang logis-.

"Aku tidak pernah bertingkah seolah-olah aku mengetahui dirimu yang sebenarnya, Haruno." Nada suara Sasuke mendingin, membekukan suasana di ruangan tersebut. Sai, Ino, Naruto dan Hinata juga ikut terdiam. Sakura mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan Sasuke, tanpa menghiraukan nada dingin dalam ucapan pemuda raven tersebut.

"Tapi kau-"

"Sudahlah." Sasuke memotong ucapan Sakura. Pemuda itu menatap Sakura dengan tajam. "Sebaiknya kau buang perasaanmu padaku jauh-jauh." Sakura tertegun mendengar perkataan Sasuke. Sasuke membalikkan badannya, sebelum melangkah meninggalkan Sakura, Sasuke sempat mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Sakura membulatkan mata emerald-nya.

"Karena itu akan sia-sia aja."

Blam!

Sakura masih terdiam, begitu shock mendengar perkataan Sasuke yang menganggap cintanya pada pemuda itu hanyalah suatu hal yang sia-sia. Tanpa sadar, air mata Sakura jatuh kembali. Namun Sakura segera mengusapnya, ia harusnya tidak boleh menangis di saat seperti ini. Dia harus menjadi wanita yang tegar dan kuat.

"Sakura!" Ino melompat ke dalam melalui jendela tadi. Gadis itu mengusap punggung Sakura pelan dan menatap sahabatnya dengan pandangan prihatin. "Sakura…" lirih gadis berkucir itu pelan. Sakura tak menanggapinya dan malah melangkah meninggalkan Ino. Ino baru saja hendak mengejarnya, namun perkataan Sai menghentikan langkahnya.

"Biarkan dia sendirian." Ino mengangguk pelan. Sepertinya, rencananya gagal, dan bahkan malah membuat keduanya menjadi terpisah.

.

Rencana 3 : Gagal bahkan sebelum rencana dimulai.

.

=…=

"Sakura! Saatnya makan malam!" Ino membuka pintu Sakura tanpa izin dan menemukan Sakura sedang terbaring di kasurnya. Gadis itu duduk di tepi ranjang Sakura dan menggoyang-goyangkan tubuh Sakura dengan agak kencang.

"Hey~! Ayo makan!"

"Engghh…" Sakura mengeluh pelan, namun bangkit terduduk dan menatap Ino dengan pandangan malas. "Kau duluan saja. Aku ngantuk," usirnya pelan sembari mengipas-ngipaskan tangannya, menyuruh Ino pergi dari ruangannya.

"Huh! Kau mau bersembunyi dari Sasuke, heh?" Sakura tak merespon perkataan Ino, mata emerald-nya memandang sayu ke luar jendela. Merasa diacuhkan, Ino mengubah posisinya dan duduk tepat di depan Sakura, sehingga Sakura hanya dapat memandangnya saat ini. Gadis dengan marga Yamanaka tersebut memegang kedua pundak Sakura. "Masalah tak seharusnya dihindari," ucapnya serius. Sakura membuang wajahnya dan menepis tangan Ino.

"Ck, ini tidak ada hubungannya dengan Sasuke. Aku benar-benar mengantuk."

"Apakah kau akan membuang perasaanmu seperti apa yang dia suruh?" Gerakan Sakura untuk berbaring kembali terhenti. Sakura tersenyum miris kemudian memejamkan matanya.

"Sayangnya aku sudah terlanjur mencintainya." Sakura memandang Ino dan berkata, "dia cinta pertamaku. Mana mungkin aku mau melepaskannya begitu saja." Ino melebarkan matanya, gadis itu merasa takjub pada ketegaran Sakura.

"Ini baru Sakura yang kukenal!" tukas Ino semangat. Gadis itu kemudian menarik tangan Sakura tanpa menghiraukan raungan protes dari gadis musim semi tersebut.

"H-hey! Aku mau tidur! Heeeyy!"

.

"Konbawa minna!" Ino berujar senang dengan Sakura yang berada di belakangnya kepada para anggota Akatsuki dan teman-temannya yang sedang berkumpul di ruang makan. Sakura dapat melihat Sasuke yang juga menatapnya, namun pemuda tersebut segera memalingkan wajahnya, membuat Sakura menunduk sedih.

"Konbawa Ino-chan, Sakura-chan…" Hinata membalas sapaan Ino dengan senyum lembutnya yang khas. Ino menarik tangan Sakura dan mendekati Sasuke, yang tentu saja membuat Sakura langsung protes pada Ino.

"Konbawa, Sasuke!" Ino menepuk pundak Sasuke. Sasuke hanya menatap Ino dan Sakura dengan wajah datar, kemudian kembali memalingkan wajahnya. "Ck, bisa-bisanya kau menyukai pemuda dingin sepertinya," bisik Ino pelan, sedangkan Sakura hanya diam seraya menunduk, tidak berani menatap Sasuke.

"Ehem … baiklah, aku mau mencari Sai dulu!" Ino langsung melenggang pergi dengan cekatan tanpa sempat dihentikan oleh Sakura. Tinggallah Sasuke dan Sakura sendirian di pojok ruang makan. Walau bukan hanya mereka yang berada di ruangan itu, entah kenapa Sakura merasa canggung, seakan mereka hanya berdua di ruangan ini. Hening terus melanda mereka, Sakura bahkan terlalu kaku untuk bergerak, bernafas pun terasa susah baginya. Ia dan Sasuke terasa seperti orang asing yang tak saling mengenal.

"Hey Teme! Sakura-chan! Mari makan!" Panggilan Naruto membuat Sakura terasadar dari lamunannya, untung saja ada Naruto yang menyelamatkannya dari keheningan yang melanda mereka. Dari jauh, Sakura dapat melihat Naruto yang meringis kesakitan akibat Ino yang menjitaknya. Sakura segera melangkahkan kakinya menuju mereka.

"Apakah ada perkembangan?" tanya Ino antusias saat Sakura telah berada di hadapannya, gadis itu mendesah kecewa saat mendapat gelengan dari Sakura.

"Sepertinya percuma saja," gumam Sakura pelan.

"Lalu, a-apakah Sakura-chan mau membuang perasaan Sakura-chan pada Sasuke?" Gelengan kepala lagi-lagi ditunjukkan oleh Sakura demi menjawab pertanyaan Hinata. Ino berkacak pinggang.

"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Ino. Sakura hanya diam, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan demi memperjuangkan perasaannya. Ia tahu orang seperti Sasuke tidak akan mudah menunjukkan perasaannya atau pun tidak akan mudah mempunyai perasaan seperti Sakura. Sepertinya kata cinta adalah kata yang tabu di kamus besar milik Uchiha Sasuke.

"Mungkin sekarang mood Teme benar-benar tidak baik." Naruto ikut mengeluarkan suara setelah sekian lama mendengar cicitan-cicitan para gadis di sampingnya.

"Mood Sasuke tidak pernah baik." Sakura, Ino, Hinata dan Naruto hanya dapat tertawa kecil saat mendengar perkataan Sai.

"Hati Teme selalu susah. Tertawa pun tak pernah, bahkan tersenyum sangat jarang," ujar Naruto sambil berusaha menahan tawanya.

"Dia orang yang tak pernah merasakan kesenangan." Sai menampilkan senyum palsunya, kali ini Naruto tak dapat menahan tawanya.

"Aku tak mengerti apa yang disembunyikannya dibalik wajah datarnya!" Sakura, Ino, Hinata, Sai, dan Naruto terkekeh.

"Dia orang yang tak punya perasaan," lanjut Sai.

"Mungkin Teme orang yang tidak normal!"

"Apanya yang tidak normal?"

"Tentu saja sifat Teme yang- Hwaaa!" Naruto, Sai, Sakura, Ino dan Hinata terlonjak kaget saat Sasuke tiba-tiba muncul di belakang Naruto dengan wajah datarnya yang saat ini terkesan horror bagi siapa saja yang melihatnya, terutama Sai dan Naruto yang sedaritadi membicarakan sifat sang Uchiha tersebut.

"Mood tak pernah baik, tertawa dan tersenyum sangat jarang, tak pernah merasakan kesenangan, tak punya perasaan, dan tidak normal. Setelah itu apa lagi yang dapat kalian katakan?" Naruto bergidik ngeri saat merasakan nada horror dalam suara Sasuke.

"S-sebenarnya sejak kapan kau di sini?!" Sasuke memejamkan matanya dan membalikkan badannya.

"Setelah makan, ada beberapa hal yang harus kita bahas. Jangan meninggalkan tempat ini dulu sesudah makan malam," perintah Sasuke tanpa menghiraukan pertanyaan Naruto. Setelah mendapat anggukan takut dari Naruto, Sasuke pun melenggang pergi, membuat Naruto dan yang lainnya menghela nafas lega seraya berkata,

"Teme yang horror."

.

.

.

"Kau mau ke mana, Sakura?" Ino bertanya saat melihat Sakura hendak keluar dari ruang makan, gadis itu menempelkan tangannya di pundak Sakura. "Bukankah Sasuke menyuruh kita untuk tetap di sini?" tanyanya lagi dengan wajah yang sengaja ia miringkan.

"Aku mau ke toilet," jawab Sakura dengan senyum simpul. "Apakah Sasuke akan tetap melarangku?" Sakura menaikkan alisnya, membuat Ino bungkam. Ino melepaskan tangannya yang berada di pundak Sakura, pertanda bahwa gadis berkucir tersebut membiarkan Sakura pergi.

"Mau aku temani?" Sakura tertawa renyah mendengar pertanyaan Ino.

"Aku bukan anak kecil lagi!" sergah Sakura dan langsung melenggang pergi. Sakura terus melangkahkan kakinya seraya menatap keluar jendela. Wanita itu terus menatap bulan yang berbentuk sabit, sampai pandangannya tertuju pada Itachi yang duduk di teras seraya menatap ke danau. Sakura mengernyitkan alisnya. Gadis itu melangkahkan kakinya keluar, mendekati Itachi yang sama sekali tak menyadari keberadaannya.

"Itachi-san?" panggil Sakura pada Itachi. Itachi nampak terkejut sejenak, namun kembali memalingkan wajahnya menatap danau.

"Ternyata kau…" gumam Itachi. Sakura tersenyum dan duduk di sebelah Itachi. Keheningan melanda mereka. Itachi ternyata tak jauh beda dengan Sasuke.

"Ne, Itachi-san, kenapa kau ada di sini? Bukankah ada rapat di ruang makan?" tanya Sakura memecah keheningan. Itachi memang sama seperti Sasuke, namun setidaknya Sakura dapat lebih santai berada di samping Itachi dibanding di samping Sasuke yang notabane dicintainya.

"Kau sendiri?" Umpan balik. Setidaknya itulah kata yang cocok bagi Sakura. Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya meringis pelan. Bahkan ia sendiri tak tahu kenapa dia ada di sini.

"A-aku melihatmu, jadi aku ke sini," jawab Sakura polos. Itachi memandangnya dengan tatapan yang sulit diratikan, membuat Sakura kikuk sendiri. Satu lagi kesamaan Itachi dan Sasuke, pikiran mereka sama-sama sulit ditebak. Namun sedetik kemudian, Itachi terkekeh pelan, membuat Sakura bingung.

"Kau gadis yang polos," kata Itachi, pandangan mata kakak Sasuke itu melembut. "Aku mendukungmu dengan Sasuke. Kuharap kalian dapat bersatu." Wajah Sakura seketika memanas.

"S-Sasuke tidak menyukaiku…"

"Oh ya?" Sakura mengangguk. Namun kemudian, gadis itu tersentak, seakan mengingat sesuatu.

"Itachi-san, kau … benar-benar kakak Sasuke 'kan?" Itachi terkejut sejenak, namun kemudian tersenyum tipis, sedangkan Sakura terus menunggu jawaban dari Itachi.

.

Onyx Sasuke menelusuri ruang makan tersebut, mengecek keberadaan teman-temannya. Namun ia tak menangkap satu sosok. Sakura. Ralat, bukan hanya Sakura yang tidak ada, Itachi bahkan tak ada di ruangan ini. Saat melihat Ino, Sasuke langsung menghampiri wanita itu.

"Di mana Sakura?" Ino tampak tekejut, namun kemudian tersenyum menyebalkan -bagi Sasuke- seraya menatap pemuda itu dengan pandangan mengejek.

"Ternyata kau mencarinya saat ia tak ada. Kau sebenarnya selalu memperhatikannya 'kan?" Sasuke mendecak kesal.

"Bukan seperti itu, rapat akan segera dimulai." Ino terus menatap Sasuke dengan pandangan curiga.

"Tidak usah beralasan seperti itu, Sasuke~ fufufufu…" Sasuke menatap Ino dengan pandangan malas. Sepertinya percuma bertanya pada orang seperti Ino. "Kau ini benar-benar munafik. Bilang tidak padahal sebenarnya mau, tidak usah sungkan terhadapku, akui saja bahwa kau- hei! Kau mau ke mana? Perkataanku belum selesai!" Sasuke tetap berjalan meninggalkan Ino yang tidak sempat menahannya. Sasuke terus mencari Sakura dan Itachi. Sampai mata kelamnya menemukan mereka di teras, Sasuke dapat melihat mereka dari dalam. Sasuke baru saja hendak mendekati mereka sampai-

"Itachi-san, kau… benar-benar kakak Sasuke 'kan?"

Deg!

Langkah Sasuke seketika terhenti. Pemuda itu kemudian mengambil tempat untuk bersembunyi dengan jarak yang cukup untuk mendengar perkataan mereka.

.

Itachi sekali lagi terkejut, namun sejurus kemudian pemuda itu tersenyum tipis.

"Ya," jawab Itachi pelan.

"Lalu kenapa-"

"Dia adik yang sangat kusayang." Perkataan Sakura terputus saat Itachi tiba-tiba menyelanya. "Sampai saat ini pun aku masih menyayanginya." Sakura dapat melihat pancaran mata Itachi yang berbeda dari biasanya.

"Tapi kenapa kau tak mengakuinya?" Itachi menoleh pada Sakura dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi serius.

"Ada suatu insiden yang menimpa kami." Sakura memiringkan kepalanya.

"Insiden?" Itachi mengangguk.

"Insiden yang dilupakan oleh Sasuke. Aku yakin, Sasuke sama sekali tak dapat mengingatnya."

.

.

.

Chapter 12 : Itachi and Sasuke.

.

.

.

Flashback

"Onii-san!" Sebuah suara cempreng khas anak kecil membuat Uchiha Itachi membalikkan badannya dan menatap adik kecilnya. Itachi mengernyitkan alisnya kala melihat pakaian adiknya yang ternoda lumpur, rambut adiknya yang acak-acakan, serta wajah adiknya yang saat ini jauh dari kata tampan. Uchiha sulung tersebut mendekati bocah dengan model rambut aneh itu dan mengacak rambut pantat ayam Sasuke, membuat rambutnya lebih acak-acakan dibanding sebelumnya.

"Ada apa?" tanya Itachi seraya menjongkok untuk menyamakan tingginya dengan adiknya itu. Sasuke menggembungkan pipinya dan menatap tajam kakaknya, yang tentu saja disambut tatapan heran oleh Itachi.

"Onii-san dari mana saja? Aku ingin berlatih bersamamu!" Itachi tersenyum maklum pada adiknya.

"Kau yang dari mana saja? Aku sedari tadi hanya duduk di sini," balas Itachi masih dengan senyumannya. Tanpa aba-aba, Sasuke langsung meninju kakaknya –yang tentu saja dapat ditangkis oleh Itachi. "Menyerang tiba-tiba, heh?" ejek Itachi. Sasuke tersenyum miring dan melancarkan berbagai pukulan pada kakaknya itu, Itachi terus menangkis pukulan-pukulan adiknya dengan satu tangannya.

"Huh, aku akan membuatmu menggunakan kedua tanganmu!" Sasuke melancarkan tendangannya pada Itachi, Itachi menangkis tendangan tersebut ke bawah, namun dengan gesit Sasuke melancarkan pukulannya lagi pada area perut Itachi. Itachi yang menyadarinya dengan cepat menangkap lengan kecil Sasuke. Sasuke menyeringai dan hendak menubruk perut Itachi dengan kepalanya. Itachi yang kaget akan aksi Sasuke terpaksa menahan kepala adiknya dengan tangan yang satunya lagi.

"Hebat, kau berhasil membuatku menggunakan kedua tanganku, Sasuke." Sasuke menyeringai dan duduk di tanah berumput tempatnya berpijak tadi. Itachi ikut duduk disamping Sasuke. Duo kakak beradik tersebut menatap langit biru yang terlihat cerah.

"Onii-san…" Sasuke membuka suara, membuat pandangan Itachi yang tadinya tertuju pada langit teralihkan pada adiknya. "Katanya paman Obito mengalami lupa ingatan ketika terbentur di bagian belakang kepalanya saat diserang penjahat," ucap Sasuke dan memeluk kedua lututnya. "Katanya dia terbentur di bagian sini." Sasuke menunjuk kepala bagian belakangnya. Itachi hanya menatap adiknya itu dengan pandangan tenang.

"Oh ya? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" respon Itachi. Sasuke mengangkat kedua bahunya, pertanda bahwa bocah tersebut tak tahu, atau bahkan tak begitu peduli.

"Aku membayangkan penjahat itu, apakah penjahat itu masih berkeliaran?" Itachi menatap miris adiknya. Penjahat yang dimaksud adiknya itu tentu saja kaum hunter. Pemuda tersebut tak bisa membayangkan bocah kecil seperti adiknya hidup di dalam dunia yang kejam seperti ini. Perang, perang, dan perang. Itachi bahkan pernah berpikir, mengapa ia dan Sasuke harus lahir di klan Uchiha? Kenapa ia tak terlahir sebagai kaum manusia saja?

"Onii-san … ada apa?" Itachi tersentak saat mendengar panggilan Sasuke. Ia segera sadar dari lamunannya dan tersenyum pada Sasuke.

"Mungkin saja," jawab Itachi enteng. Jawaban tersebut membuat Sasuke meringkik ketakutan. Melihat hal itu, membuat Itachi mengepalkan tangannya. "Tapi tenang saja, Sasuke. Aku pasti akan melindungimu dari penjahat itu." Sasuke tersenyum sumringah saat mendengar pernyataan kakaknya. Bocah itu tak menyadari, bahwa mata kakaknya yang semula kelam kini menjadi semerah darah.

~~~0~~~

"Itachi, aku ingin membicarakan sesuatu padamu sesudah makan malam." Itachi memandang sang ayah heran, namun hanya sekilas sebelum pemuda itu kembali menyantap makanan di depannya. Sasuke yang juga mendengarnya nampaknya tak peduli dan tetap melahap makanannya dengan cepat. Setelah makan malam, Sasuke dipaksa oleh ayahnya untuk pergi ke kamarnya. Sedangkan Itachi disuruh diam di tempatnya. Uchiha Fugaku menatap Itachi dengan pandangan serius, Mikoto juga ikut duduk di samping suaminya dengan wajah gelisah.

"Ada apa, Ayah?" Itachi pun bertanya saat tak mampu lagi membendung rasa penasarannya, apalagi saat dilihatnya raut wajah ibunya yang jauh dari kata mengenakkan.

"Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu. Apakah kau tahu ritual keluarga Uchiha yang diadakan satu abad sekali?" Itachi mengerutkan keningnya, kemudian menggeleng pelan. Fugaku hanya menghela nafas pasrah saat melihat gelengan Itachi. "Ritual itu adalah sebuah ritual penting di klan Uchiha. Sebuah ritual yang dapat dilakukan oleh keluarga yang paling kuat di klan ini."

"Apa maksud Ayah? Ritual apa itu?" Mikoto yang berada di samping Fugaku bergerak gelisah.

"Ritual ini, yakni mengorbankan salah satu keturunan terkuat di klan Uchiha."

Bagaikan hantaman petir, Itachi terkejut bukan main. Ia benar-benar tak menyangka akan ada ritual seperti ini di keluarganya.

"A-apa-apaan ini?!" Itachi menggebrak meja di depannya dengan tampang marah. "Aku tidak terima jika salah satu anggota keluargaku dikorbankan! Aku tak terima!" amuk Itachi. Mikoto menunduk, sedangkan Fugaku menatap Itachi kaget, ia tak menyangka putra sulungnya akan bereaksi seperti ini.

"Ibu juga tidak terima, Itachi! Tapi, ritual ini untuk kepentingan klan kita!" Akhirnya Mikoto angkat bicara setelah sedari tadi diam.

"Kalau begitu, korbankanlah salah satu anggota klan kita yang tidak aku kenal." Nada suara Itachi perlahan-lahan menurun. Mikoto menatap anaknya, wanita itu menangis.

"Tidak bisa. Kau tahu sendiri Itachi, bahwa keluarga kita, keluarga Madara adalah keluarga terkuat di klan Uchiha. Apalagi yang mempunyai tiga aliran darah sekaligus, yaitu vampir, monster, dan manusia." Otak Itachi berputar pelan, ia kemudian tersentak pelan saat mengetahui maksud ayahnya.

"Jadi … aku yang harus menjadi tumbal?" Itachi menghela nafas. "Baiklah, aku setuju jika aku yang menjadi tumbal. Aku lebih baik mati daripada menyaksikan keluargaku dibunuh karena ritual ini."

"Tidak bisa." Itachi mengernyit saat mendengar ucapan ayahnya. "Kau tidak bisa menjadi tumbal. Maka dari itu, aku memilih Sasuke untuk dijadikan tumbal." Itachi membelalak lebar.

"Apa?! Tidak! Aku tidak setuju! Kenapa harus Sasuke? Kenapa bukan aku saja?!" Itachi berdiri dengan cepat. Fugaku memandang putranya dengan pandangan tajam.

"Kau hebat. Sangat disayangkan kehilangan seseorang sepertimu, Itachi. Jika Sasuke telah tumbuh besar, pasti ia juga akan menjadi pria yang hebat, namun aku tak yakin ia bisa menyamai kehebatanmu."

"Cih! Apapun alasanmu, aku tidak setuju jika adikku yang dijadikan tumbal! Persetan dengan ritual ini!" amuk Itachi. Pemuda itu sungguh kecewa dengan keputusan orang tuanya, saat pandangannya bertemu ibunya, ia menatap tajam wanita itu. "Dan kau! Bukankah kau manusia?! Kenapa kau begitu tega melihat putramu menjadi tumbal?! Bukankah manusia adalah makhluk yang mempunyai perasaan kasih sayang?!"

"Itachi! Tahan emosimu!" Fugaku menggebrak meja, namun bukannya lebih tenang, Itachi malah menendang meja di hadapannya sehingga meja tersebut terlempar beberapa meter.

"Aku tidak akan semarah ini jika saja kau tidak kehilangan kewarasanmu, Tua Bangka!" Fugaku terkejut bukan main. Itachi menghardiknya, anaknya yang terkenal penyabar dan hormat pada orang dewasa itu berani menghardiknya. Semarah inikah Itachi? –tidak. Pertanyaan yang paling tepat adalah-Sesayang inikah ia pada adiknya?

"Maafkan kami, Itachi … tapi kami juga terpaksa harus mengambil keputusan ini. Ini adalah keputusan terberat yang harus kami ambil sebagai orang tua." Mikoto berkata dengan lembut. Itachi mengepalkan tangannya sebelum keluar dari ruangan itu.

.

.

.

"Onii-san!" Itachi berbalik dengan lesu ke asal suara dan mendapati wajah adiknya yang tersenyum lebar padanya.

"Ada apa, Sasuke? Kenapa kau terlihat begitu senang?" Itachi tersenyum terpaksa, Sasuke yang tidak menyadari itu tetap melanjutkan ucapannya.

"Kata Ayah, aku akan menjadi anak yang berguna!" Tubuh Itachi menegang. Pemuda itu menatap kikuk Sasuke yang menyengir lebar. Melihat cengiran adiknya, membuatnya kembali mengingat percakapannya dengan kedua orang tuanya tadi malam. Ia menatap miris adiknya itu, mengapa takdir begitu kejam pada adiknya? Adakah cara untuk menghentikan semua ini?

"Onii-san?" Sasuke memiringkan kepalanya, heran saat melihat wajah kakaknya yang berubah menjadi sendu. "Ada apa?" Itachi tersentak, kemudian menatap Sasuke seraya tersenyum terpaksa.

"Tidak apa…" Sasuke mengernyit tak suka.

"Kau berbohong," ujar Sasuke. Itachi masih tersenyum.

"Kau memang selalu mengerti tentang diriku, Sasuke." Itachi menjongkok pelan. "Maafkan aku…" Sasuke menampilkan raut wajah bingungnya.

"Maaf? Untuk apa?" Itachi mengusap kepala Sasuke. Pemuda itu menunduk, tidak ingin memperlihatkan air matanya yang telah jatuh mata onyx -nya. "Kenapa kau menangis?" Itachi mengusap air matanya dan menatap Sasuke dengan pandangan sedih.

"Maaf, aku tak bisa melindungimu…"

.

.

.

"Ritual tersebut akan diadakan besok lusa. Ada pertanyaan?" Ruangan tersebut hening. Para tetua klan Uchiha menatap Fugaku, Mikoto, serta Itachi dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Terutama Itachi, semuanya menatap pemuda itu dengan pandangan khawatir, takut jika pemuda tersebut mengamuk. Akhirnya, Itachi membuka suaranya.

"Sebenarnya apa tujuan dari ritual ini?" Itachi mengepalkan tangannya. Sedangakan salah satu tetua di klan Uchiha tersebut menjawab.

"Jika ritual ini tidak dilakukan, makan klan Uchiha akan kehilangan kekuatannya. Kau tahu sendiri 'kan? Klan Uchiha adalah klan terkuat, hanya klan Uchiha lah yang dapat menghentikan perang ini." Itachi mendecih. Pemuda itu rela kehilangan kekuatannya, namun ia sungguh tak rela jika harus kehilangan adik semata wayangnya.

"Kalau begitu, apa yang terjadi jika aku mati sebelum ritual itu? Apakah Sasuke tetap akan menjadi tumbal?" Fugaku dan Mikoto tampak terkejut, Madara tersenyum kemudian menjawab.

"Tidak. Kita hanya mengambil keluarga yang mempunyai dua atau lebih penerus. Jika kita mengambil Sasuke, maka tak akan ada lagi keturunan vampire, monster, dan manusia. Keturunan yang mempunyai tiga darah tersebut adalah keturunan yang langka. Maka dari itu, kami akan mengambil keluarga terkuat setelah keluargamu." Itachi mengernyit bingung. Penjelasan bodoh. Ia betul-betul tak mengerti tentang semua penjelasan yang ditujukan padanya.

"Jangan bilang kau mau bunuh diri, Itachi…" Mikoto yang tak dapat membendung rasa khawatirnya akhirnya mengeluarkan suara. Itachi mendengus menahan tawa.

"Bisa jadi." Setelah berkata seperti itu, pemuda dengan dua garis di dekat matanya itu beranjak meninggalkan ruangan, yang meninggalkan sejuta tanda tanya pada Mikoto dan Fugaku.

~~~0~~~

Hari ini adalah hari di mana ritual tersebut berlangsung. Itachi dan Sasuke ditempatkan ke suatu ruangan sebelum acara inti berlangsung. Itachi menatap adiknya dengan pandangan miris, sedangkan Sasuke telah berapa kali bertanya pada Itachi, membuat Itachi semakin sedih.

"Onii-san, apa yang dilakukan di sini? Di luar sedang diadakan pesta 'kan?" Itachi menghela nafas pelan, apa ia harus mengatakan yang sejujurnya? Tapi, apakah Sasuke akan menerimanya?

"Baiklah, aku akan mengatakannya padamu." Itachi menatap serius Sasuke. "Ini bukan pesta, tapi sebuah ritual." Sasuke menautkan kedua alisnya.

"Ritual?" Itachi mengangguk. "Ritual apa?"

"Ritual ini-"

PRAAANGG!

Itachi dan Sasuke menoleh kaget ke arah jendela. Kedua pasang onyx tersebut dapat melihat beberapa orang bercadar memasuki ruangan mereka dengan beberapa senjata di genggamannya. Itachi yang telah sadar dari keterkejutannya segera mengambil posisi di depan Sasuke.

"Sasuke, lari!" perintahnya. Orang-orang di depannya cukup banyak, Itachi tak yakin dapat melawan mereka seorang diri. Sedangkan Sasuke yang berdiri di belakangnya ketakutan sehingga tak dapat menggerakkan kakinya. Itachi mendecih pelan. Salah satu pria bercadar tersebut maju ke depan.

"Serahkan anak itu, maka aku tak akan menyerang kalian," ucapnya. Itachi menatap pria di depannya dengan pandangan tajam.

"Langkahi mayatku jika kau ingin mengambil adikku!" Setelah berkata seperti itu, Itachi berlari dan menyerang pria bercadar tadi, sedangkan lima pria lain di belakangnya tampak mendekati Sasuke. Itachi yang melihatnya dengan gesit menyerang mereka satu-persatu. Ia meninju, menendang, menonjok, menendang. Lama –kelamaan, Itachi mulai kehabisan tenaga. Ia menatap enam orang di depannya dengan nafas ngos-ngosan.

"Kami bilang, serahkan anak itu!"

"Aku bilang langkahi mayatku!" Itachi mengunci badannya, dua buah sayap kalelawar tumbuh di belakangnya.

"Heh, jangan membuatku benar-benar membunuhmu, bocah." Setelah berkata demikian, tubuh pria bercadar tersebut perlahan-lahan berubah menjadi seekor singa. Lima orang di belakangnya juga ikut berubah menjadi serigala, anjing, singa, macan, dan ular. Mereka berenam menyerang Itachi. Itachi menendang si singa di perutnya, kemudian ia berputar dengan cepat dan meninju serigala dan menangkap kakinya. Itachi memutar tubuh serigala tersebut dan memakainya untuk menyerang macan dan anjing. Itachi tersenyum meremehkan ketika melihat lawannya tumbang di lantai. Tapi tunggu, ia mengernyit. Dua singa, macan, anjing, serigala, dan … ular? Itachi berbalik dengan cepat, dan mendapat Sasuke yang tubuhnya telah dililit ular.

"Sasuke!" seru Itachi kencang.

"Diam, jika kau bergerak selangkah pun, akan kugigit adikmu ini." Pergerakan Itachi terhenti. Sasuke yang berada di lilitan sang ular tampak tak berdaya. Pemuda sulung Uchiha tersebut mendecih.

"U-ukh … Onii-san…" Itachi dapat mendengar lirihan Sasuke, ia mengepalkan tangannya.

"GRRRAAAAUUM!"

"AKKH!" Itachi berteriak kesakitan saat salah satu singa mengigit pundaknya. Ia lengah, pemuda tersebut memukul-mukul kepala singa yang menggigitnya. "Akh!" Itachi kembali merasakan sakit pada kakinya, kali ini akibat sang anjing yang menggigit betis kirinya. Sang macan dan singa yang satunya lagi ikut menyerang dan mengigit tangan serta kaki kanan Itachi.

"Onii-saaan!" Sasuke berseru kencang saat melihat kakaknya yang diserang. Mendengar teriakan Sasuke, membuat Itachi yang tadinya lemas seketika kembali mendapat tenaganya.

"Sasuke…" Itachi berlirih pelan. Pemuda tersebut perlahan bangkit. "Sasuke…" Itachi terus menggumamkan nama adiknya. "Sasukeee!" Itachi membuka matanya yang tadi terpejam. Mata onyx miliknya menjadi semerah darah. Kedua taring panjang tumbuh di gusinya.

"ARRGGHH!" Itachi berteriak kencang sebelum melancarkan serangannya lagi. Kali ini, dengan kekuatan yang luar biasa.

.

.

.

"…-san!" Itachi melenguh pelan. "Onii-san! Bangun!" Itachi perlahan membuka matanya, ia menatap Sasuke yang memandangnya khawatir. Itachi menatap sekeliling, para hunter tadi telah tumbang dengan wujud aslinya.

"Sasuke…" Itachi bangkit perlahan, pemuda itu duduk dengan tubuh lemas.

"Siapa mereka, Nii-san? Kenapa mereka menyerang kita?" Itachi tetap terdiam. Ia menatap adiknya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Ukh!" Itachi memegang pundaknya. Gigitan yang diberikan singa itu lebih sakit dibanding gigitan yang lainnya.

"Onii-san!" Sasuke memandang Itachi khawatir. Itachi menatap adiknya nanar. Sial. Kenapa ia harus hidup? Bukankah jika ia mati, ritual ini akan dibatalkan? Seharusnya ia mati saja setelah mengalahkan hunter di depannya! Pandangan Itachi tertuju pada sebuah vas keramik yang terletak di atas meja. Ia perlahan berdiri dan mengambil vas tersebut.

"Sasuke…" Sasuke memandang Itachi heran. Sedangkan Itachi tampak ragu, pemuda itu memejamkan matanya.

'Tidak. Kita hanya mengambil keluarga yang mempunyai dua atau lebih penerus. Jika kita mengambil Sasuke, maka tak akan ada lagi keturunan vampir, monster, dan manusia. Keturunan yang mempunyai tiga darah tersebut adalah keturunan yang langka. Maka dari itu, kami akan mengambil keluarga terkuat setelah keluargamu.'

Perkataan Madara terngiang di telinganya. Benar. Ritual ini harus dibatalkan, bagaimanapun caranya.

"Sasuke, dengarkan aku. Apapun yang kulakukan, ini semua untuk kebaikanmu." Sasuke tampak bingung dengan ucapan Itachi. "Kau tahu lupa ingatan yang menimpa paman Obito?" Sasuke mengernyit, kemudian mengangguk. Itachi tersenyum tipis. Kemudian ia meraba belakang kepala Sasuke. 'Sepertinya … di sini!" Itachi menatap Sasuke dengan pandangan bersalah.

"Onii-san?"

"Maafkan aku, percayalah. Ini semua untuk kebaikanmu. Aku harap kau akan melupakan kejadian ini. Ingatlah bahwa aku mati setelah dikalahkan para hunter. Jangan mengingat bahwa aku masih hidup, Sasuke…"

"Onii-"

"…maafkan aku."

PRAAANGG!

Dan setelah itu, Sasuke kehilangan kesadarannya.

.

.

.

End of Flashback

.

.

.

"J-jadi, kau berpura-pura mati?"

"Aku kabur dari klan Uchiha. Aku terpaksa memukul belakang kepala Sasuke, untuk membuatnya lupa ingatan." Sakura nampak tak percaya dengan perkataan pemuda di depannya.

"K-kau bisa membunuhnya!" tukas Sakura. Itachi tersenyum tipis.

"Tapi itu tidak terjadi, bukan? Aku berhasil, aku membuatnya melupakan kejadian ini." Sakura tak dapat menangkis perkataan kakak orang yang dicintainya itu. Ia hanya mampu memandang tak percaya pemuda dengan kedua garis di dekat hidungnya itu.

"Lalu, kau tahu bahwa ritual itu telah dibatalkan. Kenapa kau tak kembali?" tanya Sakura heran.

"Aku lebih senang di sini, meski kadang aku merindukan keluargaku." Itachi tersenyum. "Keluarlah, Sasuke. Kau telah mendengar semuanya." Sasuke yang berada di belakangnya segera keluar dari tempat persembunyiannya. Pemuda itu menatap Itachi dengan pandangan dingin.

"Bodoh." Hanya itulah kata-kata yang keluar dari bibir Sasuke. Itachi yang mendengarnya tersenyum.

"Ya, aku tahu." Itachi melangkah melewati Sasuke. "Rapat akan segera dimulai, ayo ke ruang tengah." Sasuke mengangguk. Itachi berjalan duluan, meninggalkan Sasuke dan Sakura di teras, membuat Sakura kikuk seketika.

"Ng … a-ano…" Sakura membuka suara. "M-maafkan aku soal yang tadi siang, aku terbawa emosi." Sasuke menatap Sakura dengan tatapan datar, kemudian menghela nafas.

"Sudahlah. Tak usah dipikirkan." Sasuke membalikkan badannya. Sakura tetap terdiam di tempatnya sampai Sasuke menolehkan kepalanya padanya. "Sampai kapan aku akan berdiam diri di situ?" tanyanya. Sakura segera sadar dengan wajah merona. Sasuke yang melihatnya tersenyum tipis dan menjulurkan sebelah tangannya.

"Eh?" Sakura terlihat heran dengan tindakan Sasuke.

"Cepatlah." Sakura cengo, namun kemudian ia tersenyum malu-malu dan menyambut uluran tangan Sasuke. Mereka berjalan beriringan ke ruang tengah dengan bergandengan tangan.

.

.

.

"Akhirnya kalian datang juga." Pein menatap kedua sejoli tersebut dengan pandangan lega. Ino yang juga menatap mereka berdua segera membelalak saat melihat kedua tangan mereka yang menyatu.

"Ciee! Ehem, ehem!" goda wanita pirang tersebut dengan lirikan penuh arti. Sakura dan Sasuke yang sadar akan hal itu segera melepas kedua tangan mereka. Wajah Sakura merona hebat. Dengan kikuk, ia mengambil tempat duduk di sebelah Ino. Sasuke juga ikut mengambil tempat duduk di sebelah Sakura.

"Apa yang terjadi pada kalian, hm?" bisik Ino. Wajah Sakura kembali merona.

"Tidak ada apa-apa," jawab Sakura enteng. Ino baru saja ingin menggodanya lagi, namun Pein menyelanya.
"Baiklah. Sekarang kita mulai rapat kita." Semua makhluk yang berada di ruangan itu menatap Pein dengan serius. "Kalian sudah cukup lama berlatih, maka dari itu kita akan melakukan penyerangan besok lusa."
"Apa?! Besok lusa?!" Naruto dan Ino berteriak kaget. Sasuke, Sakura, Hinata serta Sai juga ikut terkejut, namun tak seheboh kedua makhluk pirang temannya itu.
"Kami tidak bisa menunda waktu lagi. Kami juga mempunyai banyak hal yang harus kami kerjakan setelah ini." Konan angkat bicara, wanita itu memejamkan matanya sebelum kembali berkata, "setelah kalian menang melawan Orochimaru, kami masih harus membereskan para hunter yang lain. Memang benar bahwa Orochimaru adalah ketua hunter, tapi kemungkinan besar para hunter membentuk organisasi jahat lagi."
"Kalian akan membunuh seluruh hunter?" Sakura bertanya dengan wajah ragu. Seperti yang diketahui, jumlah kaum hunter sangat banyak dan beredar di seluruh dunia. Mana mungkin sembilan orang di depannya dapat membunuh seluruh hunter 'kan?
"Itu tidak mungkin kami lakukan." Sasori tersenyum kecil kemudian berkata, "kami hanya memberikan arahan pada mereka. Jika ada yang memberontak, kami hanya akan melawan mereka tanpa membunuh mereka. Kami yang dulunya selalu bersembunyi di hutan ini dan muncul secara samar akan menunjukkan sosok kami yang sebenarnya." Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Sasori.
"Ada pertanyaan lagi?" tanya Pein pada keenam remaja di depannya. Sedangkan keenam remaja tersebut hanya diam, diam berarti tidak bagi leader Akatsuki itu. "Baiklah. Kita akan memulai strateginya." Pein memasang wajah serius.
"Pertama, Sasuke dan Naruto akan menyerang secara terang-terangan di bagian depan markas Orochimaru. Sebaiknya, kalian hindari pertarungan sebisa mungkin. Simpan tenaga kalian untuk melawan bos mereka, mengerti?" Sasuke dan Naruto mengangguk. "Kemudian, Sakura, Ino dan Hinata lewat pintu belakang untuk menyelamatkan ayah Sakura. Sai juga akan ikut di dalam tim kalian, tapi Sai hanya akan melawan hunter yang ada di pintu belakang saja. Saat Sai menghalangi penjaga untuk mengejar kalian, larilah secepat mungkin untuk pergi ke ruang tahanan." Konan membawa sebuah map yang cukup besar dan membuka gulunganya. Di map itu terdapat denah markas Orochimaru. Pein menunjukkan jalan yang akan ditempuh Sakura, Ino, Sai dan Hinata. Ketika melihat anggukan mengerti dari keempat remaja tersebut, Pein pun menunjuk salah satu ruangan pada gambar. Ruangan tersebut berada di tengah-tengah. "Setelah semua beres, kalian bertemu di ruangan ini. Kalian bereenam akan menyerang Orochimaru bersama-sama."
"Tunggu. Kau yakin Sakura, Ino dan Hinata akan mampu menyelamatkan ayah Sakura? Bukannya aku meremehkan kemampuan mereka, namun sepertinya mereka membutuhkan seorang lelaki yang dapat membantu mereka." Naruto mengangguk setuju saat mendengar ucapan Sai, sedangkan Pein hanya menyeringai.
"Maka dari itulah aku menyuruh Sasuke dan Naruto menyerang secara terang-terangan. Aku yakin pusat perhatian para hunter akan tertuju pada mereka berdua."
"Lalu apa tugas kalian?" Ino mendengus seraya menatap seluruh anggota Akatsuki.
"Kami akan menyusul. Namun sebelumnya, ada satu hal yang harus kami selidiki. Kami juga akan menonaktifkan semua jebakan yang dipasang di sana, meng-hack sesuatu adalah keahlianku!" Deidara menjawab pertanyaan Ino dengan santai.
"Percayalah pada kami, kami sebisa mungkin akan melindungi kalian," tutur Sasori dengan senyum meyakinkan. Melihat senyum Sasori, membuat sekelebat kelegaan muncul di hati Sakura, Ino dan Hinata.
"Ada pertanyaan?" Hening sekilas sebelum Sasuke mengangkat tangannya. "Ada apa, Sasuke?" Sasuke tampak ragu, namun kemudian ia menatap Pein dengan tatapan datar.
"Bisakah aku di tempatkan dalam satu tim dengan Sakura?" Mata seluruh makhluk yang berada di ruangan itu terbelalak. Terutama Sakura dan Ino, mereka tak menyangka seorang Uchiha Sasuke akan meminta sebuah hal yang tidak dapat dibayangkan seperti itu.
"Ada apa? Kau mau melindungi Sakura, heh?" Naruto tertawa renyah, namun malah terdengar aneh saat melihat wajah Sasuke yang tetap datar.
"Bisa kau jelaskan alasannya, Sasuke?" Sasuke terdiam sejenak, kemudian menjawab.
"Entahlah, tapi aku mempunyai firasat buruk tentangnya." Pein mengerutkan keningnya.
"Firasat buruk?" Sakura yang tadinya terdiam dengan wajah memerah kali ini menatap Sasuke dengan pandangan heran.
"Firasat buruk? Apa maksudmu, Sasuke?" tanya gadis itu saat tak mampu lagi membendung rasa penasarannya. Sasuke hanya terdiam, melihat Sasuke yang tampaknya tak ada minat untuk menjawab pertanyaannya, membuat Sakura memegang pundak Sasuke yang kebetulan berada di sampingnya. "Katakan padaku, apa maksud perkataanmu? Firasat buruk apa yang kau rasakan?" Karena tak tahan melihat wajah memelas Sakura, akhirnya Sasuke membuka suara.
"Firasat buruk. Aku merasa akan ada sesuatu yang buruk yang akan menimpa dirimu." Sasuke menghela nafas. "Sudahlah, lupakan saja. Mungkin firasat ini salah." Semuanya terdiam saat mendengar penegasan dari Sasuke. Mereka hanya dapat berdoa agar firasat yang Sasuke rasakan salah.
"Baiklah. Rapat selesai. Kalian punya satu hari persiapan sebelum penyerangan, beristirahatlah besok dan simpan tenaga kalian banyak-banyak." Setelah berkata demikian, para anggota Akatsuki meninggalkan ruangan disusul Sai, Ino, Naruto dan Hinata. Mereka meninggalkan Sasuke dan Sakura di ruang tengah.
"Sasuke…" Sasuke sedikit tersentak saat mendengar panggilan Sakura. "Apa yang kau lamunkan?" Sasuke menggeleng sebagai jawaban. Sakura menunduk, kemudian berkata, "sebenarnya, aku juga sedikit merasakan firasat buruk." Sasuke menoleh kaget pada Sakura. Melihat itu, Sakura tersenyum.
"Tapi aku yakin kita bisa mengatasi masalah yang terjadi padaku nanti. Jangan pikirkan hal itu, dan tidurlah. Oke?" Sakura tetap tersenyum. Sasuke mengangguk dan tersenyum tipis saat mendengar ocehan Sakura.
"Hn. Aku pasti akan melindungimu."
.
Chapter 13 : Evaluation, school festival, and go!
.
"Banguun! Banguun! Banguuun!"
Keenam remaja yang tadinya sedang asyik berpetualang di alam mimpi terpaksa harus membuka matanya saat mendengar teriakan Deidara. Ino yang masih setengah merem segera membulatkan matanya dan memasang wajah marah.
"Ini masih jam satu malam! Kenapa kita dibangunkan?!" protes wanita tersebut degan pemuda yang kurang lebih memiliki model rambut yang sama. Deidara tersenyum licik, membuat Ino sangat ingin menimpuk wajah sok ganteng Deidara dengan sepatu.
"Kalian akan melakukan beberapa latihan terakhir. Persembahan khusus dari kami, Akatsuki!" Deidara menepuk dadanya. Beberapa saat kemudian, Itachi memasuki ruangan keenam remaja tersebut dengan tatapan datar.
"Hn. Ternyata kalian tidur dalam satu ruangan, ini memudahkan kami untuk membangunkan kalian." Ino mengatupkan mulutnya, rupanya gadis itu tak berani protes pada salah satu keturunan Uchiha tersebut. "Ikuti kami," ucap Itachi dan kemudian meninggalkan ruangan disusul oleh Sasuke, Sakura, Ino, Sai, Hinata, Naruto, dan juga Deidara.
"A-apa yang akan kami lakukan?" Hinata bertanya dengan suara pelan. Itachi menoleh sedikit pada gadis mungil tersebut, kemudian berkata dengan nada dingin,
"Kalian akan melakukan latihan terakhir." Keenam remaja malang tersebut sontak terpekik kaget.
"Malam-malam begini?! Kau bercanda?!" Gadis Yamanaka yang sifatnya memang blak-balakan tersebutlah yang paling pertama mengajukan protes. Tapi sayangnya, Ino menjawab pertanyaannya sendiri saat melihat raut wajah serius Itachi yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi bercanda, terbukti dengan melihat keriput di kedua sisi hidung pria tampan tersebut yang semakin memanjang(?). Saat melihat ekpresi Itachi, keenam remaja tersebut tidak lagi berkomentar apapun. Mereka yang langsung menjadi jinak segera mengikuti langkah Itachi. Sampai di depan markas Akatsuki, Itachi menunjuk hutan belantara yang berada di depan mereka dan berkata dengan sadisnya,
"Masuklah ke dalam hutan itu." Keenam remaja malang tadi lagi-lagi terkejut, terutama Ino yang –walau sudah sedikit berkurang- percaya dengan hal-hal berbau gaib.
"APAAA?! Ini jam satu malam! Ini latihan atau uji nyali?!" Itachi merespon Ino dengan membalikkan badannya seraya melangkah menjauhi keenam remaja tersebut.
"Kudoakan yang terbaik," ucap pemuda tersebut sebelum memasuki markas kembali. Sepeninggal Itachi, Sasuke, Sakura, Sai, Ino, Naruto dan Hinata saling berpandangan untuk meminta pendapat satu sama lain.
"Tidak … aku tidak mau memasuki hutan itu! Kalian ingat ketika pertama kali ke sini? Di hutan itu ada badak! Dan itu tak menutup kemungkinan kalau ada hewan buas lagi yang berkeliaran di hutan menyeramkan itu! Aku tidak mau mati muda!" Oke, dengan mengesampingkan kalimat terakhir, perkataan Ino ada benarnya juga.
"Jadi?" Sai bertanya dengan nada datar, pemuda tersebut terlihat santai-santai saja. Satu-satunya pemuda yang terlihat tak santai adalah Naruto, pria pirang tersebut sepertinya juga sedang ketakutan.
"Aku setuju dengan Ino!" ucap Naruto dengan suara bergetar karena menahan ketakutannya.
"A-aku … menurutku, ini berbahaya. T-tapi ini untuk latihan 'kan?" Hinata dengan malu-malu menyeruakkan pendapatnya. Sakura yang melihat masing-masing ekspresi teman-temannya segera menarik lengan baju Sasuke.
"Sasuke … bagaimana menurutmu?" tanya Sakura. Sasuke tampak berpikir, kemudian pria itu mengalihkan tatapannya ke arah hutan.
"Ayo kita pergi," kata Sasuke yang disusul pekikan nyaring dari Ino dan Naruto.
.
"Aku takuuuuuuut!" Ini sudah sepersekian kalinya Ino meneriakkan kalimat tersebut. Hutan tempat mereka berada ini memang tampak menyeramkan, tak ada yang menerangi hutan tersebut kecuali sinar bulan. Sudah lima menit mereka memasuki hutan ini, dan sudah lima menit pula mereka mendengar suara-suara aneh yang tidak diketahui asalnya.
"Auuuuuuu!"
"Kyaa!" Ino memekik saat mendengar lolongan serigala. Ia segera memeluk lengan Sai yang kebetulan berada di sampingnya. Ino kali ini tak memedulikan seringaian menyebalkan Sai, yang Ino pedulikan adalah bagaimana cara ia meluapkan rasa takutnya.
"Hiiii!" Nampaknya bukan hanya Ino, Naruto pun bahkan ikut bergidik ngeri, membuatnya langsung disuguhi tatapan heran dari berbagai pihak. "A-ada apa? Wajar 'kan kalau aku takut, lolongan tadi terdengar sangat besar!" ucap Naruto membela diri.
"Kenapa kau takut? Kau dan serigala berada di species yang sama," ujar Sai seraya menatap Naruto dengan pandangan aneh.
"Aku rubah! Bukan serigala!" seru Naruto kencang.
"Naruto, diamlah." Naruto langsung terdiam saat dirinya mendengar teguran dari Sasuke, ia hendak protes, namun saat melihat raut wajah Sasuke yang terlihat serius, niatnya langsung batal.
SRRRKKK… KRESEK…
"Suara apa itu?" Sakura langsung merapat pada Sasuke, keenam remaja tersebut langsung menampilkan raut wajah penasaran sekaligus panik.
"Merapat padaku, Sakura…" perintah Sasuke. "Kalian berdua, merapatlah pada Sai dan Naruto!" perintah Sasuke pada Ino dan Hinata, kedua gadis tersebut langsung mengangguk dan merapat pada Sai dan Naruto.
Kressek … sreek…
Bunyi semak-semak tersebut semakin keras. Keenam remaja tadi siap dalam posisi bertempur masing-masing.
"GROAAAMM!"
"WUAAAAA!" Sasuke, Sakura, Naruto, Hinata, Sai, dan Ino langsung memekik kaget saat seekor macan langsung menyerbu mereka. Keenam remaja tersebut berlari dengan kecepatan semaksimal mungkin, macan yang cukup besar tersebut tampak mengejar mereka dari belakang.
"Sial! Larinya cepat sekali!" umpat Ino. Gadis itu menoleh ke belakang dan menatap sang macan. "Perlambat larimu, macan bodoh!"
"GRROOOAAAMM!" Bukannya malah memperlambat larinya, macan tadi semakin mempercepat larinya, mempersempit jarak mereka.
"Ini gara-gara kau, Nenek sihir!" Ino melototi Sai yang hanya memasang wajah innocent, Ino baru saja hendak membalas lagi, namun Naruto seketika melintas di depannya dengan kecepat seperti kilatan petir yang membuat Ino dan Sai seketika sweatdrop.
"WUAAAA!" Naruto berteriak seraya berlari, keenam remaja di belakangnya langsung cengo saat melihat kecepatan lari Naruto yang jauh di atas rata-rata.
'Dia ini keturunan monster atau bukan sih?' batin Ino sweatdrop. Karena melihat Naruto berlari, membuat pandangan gadis tersebut tak terfokus pada jalanan di depan dan tak melihat sebuah batu besar di depannya. Alhasil, gadis tersebut jatuh dengan indahnya di tanah.
"Ino!" Sai yang pertama kali sadar segera berbalik arah.
"Sai!" Sakura yang melihat Sai membalikkan badannya juga ikut berbalik arah, gadis itu tak tega membiarkan kedua temannya berjuang sendiri melawan seekor macan yang tampak ganas tersebut.
"Sakura!" Sasuke yang nampaknya juga sadar segera menyusul Sakura.
"Sasuke-kun!" Hinata yang juga ingin ikut-ikutan dalam panggilan berantai tersebut juga membalikkan badannya. Naruto yang juga sadar namun tak bisa mengerem larinya hanya bisa tersenyum kecut dan menoleh ke belakang, namun akibat menoleh ke belakang, ia tak sadar dengan sebuah pohon di depannya. Sedetik kemudian, terdengarlah bunyi 'Brukk' yang terdengar nyaring di hutan belantara tersebut. Sungguh malang nasib pemuda rubah tersebut.
"Tolong akuuu!" Ino memekik keras, kakinya terlalu kaku untuk digerakkan. Gadis itu semakin meringkik ketakutan saat melihat sang macan semakin mendekat.
"Inooo!" Ino segera mendongakkan kepalanya dan melihat Sai disusul Sakura, Sasuke dan Hinata di belakangnya. Ino tersenyum sumringah, ia merasa melihat seorang pangeran dengan kuda putih diikuti ketiga dayang di belakangnya.
"Cih." Sai mendecih pelan dan terus berlari. Pemuda tersebut berlari melewati Ino dan menghampiri sang macan yang siap menerkam mereka. Pemuda dengan kulit pucat tersebut segera memutar tubuhnya dan melancarkan tendangannya tepat di wajah sang macan. Tak ingin kalah, si macan kembali berlari untuk menerkam Sai, namun Sai tampaknya tak tinggal diam dan meluncurkan tinjuannya di pipi macan malang tersebut. Tinjuan yang cukup keras tadi membuat sang macan terlempar beberapa meter ke belakang dan menubruk pohon di belakangnya, membuat macan tersebut langsung pingsan seketika. Sai menatap macan yang terkapar di tanah tersebut dengan pandangan tajam, namun hanya sesaat sebelum ia berbalik ke arah Ino dan menampilkan senyum palsunya.
"Kau tak apa-apa?" tanya Sai pada Ino. Ino mengangguk dan segera memeluk Sai.
"Huaaa! Aku pikir aku akan matiii!" Tangis Ino pecah. Sakura, Sasuke, dan Hinata yang tertegun melihat aksi Sai hanya terdiam. Setelah Ino melepas pelukannya dengan tangis yang telah mereda, Sasuke segera maju selangkah untuk mendekati Sai.
"Darimana kau mendapat kekuatan seperti itu?" tanya bungsu Uchiha tersebut, yang membuat Sai menyeringai kecil.
"Entahlah. Mungkin inilah hasil latihan kita bersama dengan anggota Akatsuki. Badanku menjadi ringan digerakkan, dan aku merasa ada kekuatan yang muncul dari dalam diriku." Sasuke mengangguk dan tersenyum tipis.
"Aku mengerti. Jadi ini adalah evaluasi, bukan sebuah latihan." Sai, Ino, Sakura, dan Hinata ikut tersenyum.
"Baiklah, kalau kekuatanku juga sama seperti Sai, aku tak akan melarikan diri dari hewan-hewan ganas lagi! Aku akan langsung menghabisi mereka!" seru Ino bersemangat seraya mengepalkan tangannya. Wanita tersebut tersenyum sumringah. "Ayo!"
"Tunggu, sepertinya kita melupakan seseorang." Sakura mencegah pergerakan Ino. Kelima remaja tersebut membalikkan badannya dan menatap Naruto yang sedang terkapar di tanah.
.
"Ciaaaat!" Ino menendang seekor serigala dengan senyum sumringah, serigala tadi terlempar dua meter ke belakang, namun kemudian kembali menyerang Ino. "Heh? Tendanganku tak cukup untuk membuatmu pingsan? Baiklah…" Ino mengambil ancang-ancang, gadis itu berlari dan menendang serigala tersebut bak bola kaki, membuat tubuh serigala tersebut melambung tinggi di udara. "INO EXPLOSION!" Ino menampilkan cengirannya, membuat kelima temannya hanya memandangnya dengan tatapan aneh.
"Wah, kau sudah memberi nama pada jurusmu." Naruto berkomentar, Ino hanya terkekeh pelan menanggapinya.
"Sebaiknya kau lihat tanganmu sebelum menampilkan cengiranmu." Sai mendekati Ino dan mengangkat tangan kanan wanita itu. Tiga buah goresan tercetak di kulit mulus gadis tersebut.
"Hah?! Kapan aku tergores?" tanya Ino heran. Sai menghela nafas pelan.
"Kau dicakar serigala tadi. Kau jangan terfokus pada satu hal saja, Ino." Ino menatap heran Sai yang menatapnya dengan serius. Baru kali ini Sai berbicara serius pada Ino.
"Biar kulihat." Sakura ikut mendekati Ino dan melihat goresan tersebut. Gadis berambut softpink itu meletakkan tangannya di atas goresan tadi, Sakura menutup matanya, perlahan namun pasti, sebuah cahaya berwarna hijau muda muncul dari telapak tangan Sakura, yang membuat Sasuke, Sai, Ino, Hinata, dan Naruto sedikit tercenggang. Lima detik kemudian, Sakura menjauhkan telapak tangannya. Ino melihat goresan tadi telah hilang, membuatnya tersenyum takjub.
"Waah! Kau hebat, Sakura!" pujinya. Sakura hanya tersenyum malu. Tak lama kemudian, muncul secercah cahaya dilangit.
"K-kembang api!" Hinata memekik senang. Sasuke, Sakura, Ino, Sai, dan Naruto ikut menengadah, mereka dapat melihat kembang api terpatri dengan indahnya di langit malam.
"Indahnya!" Ino menatap kagum kembang api tersebut. Namun keenam remaja tersebut seketika tertegun saat kembang api tersebut membentuk sebuah kanji 'Berjuanglah'. Disusul kanji-kanji lain, pesan dari para anggota Akatsuki.
'Kalahkan hunter itu!' Pein.
'Jangan menyerah!' Konan.
'Selamatkan para monster, dan jadilah anak baik!' Tobi.
'Kalian harus membayar biaya latihan!' Kakuzu.
'Aku tak mau kalian mengecewakan kami' Zetsu.
'Jangan berada di aliran yang sesat!' Hidan.
'Aku tidak mau membuang-buang waktuku demi kekalahan kalian!' Deidara.
'Kalian pasti bisa, berjuanglah.' Sasori
'Jaga diri kalian.' Itachi.
Keenam remaja tadi tersenyum saat melihat pesan-pesan yang disampaikan para anggota Akatsuki melalui kembang api.
"Dasar … kenapa mereka menyampaikannya dengan cara ini? Kenapa mereka tak langsung mengucapkannya saja?" desis Naruto, namun pemuda rubah tersebut masih tersenyum. Setelah beberapa saat, kembali muncul kembang api dengan tulisan kanji 'Kembalilah ke markas dan tidurlah'.
"Hn, ayo kembali." Sasuke lah yang pertama membalikkan badannya, disusul kelima temannya yang melangkah dengan semangat. Mereka tahu, bahwa sebuah beban besar sedang mereka pigul sekarang, mereka tahu bahwa pertarungan mereka menyangkut hidup atau tidaknya mereka nanti, mereka tahu bahwa takdir para monster berada di tangan mereka sekarang. Oleh karena itu lah, mereka harus menang!
~~~0~~~
"Bagaimana? Kalian suka hadiah kami tadi malam?" Konan bertanya seraya menyediakan sarapan pagi. Sasuke dan yang lainnya mengangguk, membuat para anggota Akatsuki tersenyum puas.
"Maaf karena harus membangunkan kalian tengah malam, karena kembang api hanya bersinar di malam hari." Konan meletakkan sepiring roti bakar di meja. "Aku ingin kalian bersenang-senang hari ini."
"Hah? Bersenang-senang?" Naruto tampak kebingungan.
"Hum. Bersenang-senang. Kalian boleh meninggalkan markas Akatsuki, dan pergi ke tempat lain."
"Tapi ke mana?" Naruto tetap bertanya. Konan mengedikkan bahunya.
"Itu terserah kalian." Naruto hendak berkomentar lagi, namun Sakura segera menyela.
"Bagaimana kalau…" Gadis itu menunduk pelan. "…kita ke sekolah?"Naruto, Ino, Sai, dan Hinata membelalak kaget.
"Hah? Ke sekolah? Untuk apa?" Sakura tersenyum kecil.
"Hari ini adalah hari festival sekolah. Bagaimana kalau kita ke sana?" usul Sakura. Ino menjentikkan jarinya.
"Ide bagus!" ucap wanita berambut pirang tersebut. Naruto juga nampaknya setuju dengan usul Sakura, Sai, Hinata, dan Sasuke juga tampak tak keberatan, membuat Sakura tersenyum lebih lebar.
"Kalau begitu, ayor bersiap-siap!"
.
"Wah, lihat mereka!"
"Mereka ganteng sekali!"
"Kyaaa!"
Sakura, Ino, dan Hinata sontak mengernyit tak suka saat mendengar Sasuke, Sai, dan Naruto dipuji-puji oleh para siswi. Sakura segera merapatkan diri pada Sasuke, begitu pula Ino dan Hinata yang merapatkan diri pada Sai dan Naruto.
"Kau kenapa?" Sasuke bertanya pada Sakura yang tiba-tiba mendekat padanya. Sakura mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tidak ada apa-apa," jawab Sakura dengan nada secuek mungkin, namun sebenarnya wajah gadis ini sudah memerah. Sasuke yang sepertinya membiarkan gadis ini berada di dekatnya hanya terdiam.
"Sakura?" Sakura menoleh ke asal suara dan mendapati Gaara yang tersenyum menatapnya. Sakura juga ikut tersenyum sumringah saat melihat ketua dewan murid tersebut.
"Gaara!"
"Heh, kau menghilang entah ke mana. Dan ternyata kau sedang asyik bersama pacarmu." Wajah Sakura sontak memerah mendengarnya.
"D-dia bukan…"
"Siapa dia?" Sakura menoleh pada Sasuke yang mengernyit tak suka saat menatap Gaara. T-tunggu, mengernyit tak suka?! Ke Gaara?! Di dalam hati, Sakura mulai ke-GeeR-an, namun karena sifat Sasuke yang selama ini selalu dingin, membuat harapan Sakura runtuh dengan tidak elitnya.
"Dia Gaara. Gaara, ini Sasuke." Sakura memperkenalkan masing-masing pihak. Sasuke tetap menatap tajam Gaara, namun Gaara yang tidak peka hanya tersenyum pada Sasuke. Setelah beberapa saat, Gaara akhirnya meninggalkan mereka berdua karena harus mengurus hal lain.
"Ah, aku merasa kasihan pada Gaara. Seharusnya aku membantunya dalam menyelenggarakan festival ini," ucap Sakura dengan nada bersalah. Namun Sasuke yang berada di dekatnya hanya terdiam. "Eh? Sai, Ino, Hinata, dan Naruto mana?" Sakura yang baru sadar segera celingak-celinguk mencari mereka, namun sayang wanita itu tetap tak dapat menemukan keempat temannya itu.
"Sudahlah, mereka mungkin ke tempat lain." Sasuke menarik tangan Sakura. "Kita juga sebaiknya menikmati festival ini." Sakura cengo melihat tingkah Sasuke, namun perasaan senang menyelimuti hatinya. Ini pertama kalinya Sasuke menarik dan menggenggam tangannya.
"Hum! Ayo nikmati festival ini!"
.
"Ini." Sai menyodorkan segelas es krim pada Ino. Ino tersenyum sumringah seraya menggumamkan kata 'terimakasih'. Sai ikut duduk di samping Ino seraya memandang sekeliling festival. Festival ini sungguh ramai, ia takjub pada para pengurusnya. Berbagai manusia datang ke festival dengan para teman baiknya, pacar, keluarga, dan sebagainya. Sai melirik Ino yang sedang asyik memakan es krimnya, merasa diperhatikan, membuat Ino balas memandang Sai.
"Kenapa? Mau?" Ino menyodorkan es krimnya pada Sai. Sai terkekeh pelan, kemudian menjawab,
"Suapi aku." Ino merengut sebal mendengar jawaban Sai.
"Ogah!" tolaknya. Ino kembali memakan es krimnya. Namun lama-kelamaan, Ino kembali memandang Sai, dengan secercah keraguan, ia menyendok es krimnya dan menyodorkannya pada Sai. "Hanya sekali," ucapnya. Sai menyeringai dan memakan es krim tersebut, membuat wajah Ino sedikit memerah. Dengan gerakan gesit, Sai memindahkan mulutnya dari sendok ke bibir Ino, membuat Ino terpekik kaget sehingga menjatuhkan segelas es krim di genggamannya. Kini Ino dapat merasakan bibir lembut Sai menyentuh bibirnya, dengan sensasi dingin es krim rasa vanilla tersebut. Setelah beberapa detik kemudian, Sai melepaskan ciumannya dan menyeringai.
"Cara memakan es krim seperti ini lebih bagus," ucapnya. Ino yang otaknya sedang koslet hanya bisa cengo di tempat dengan mulut menganga. Setelah otaknya loading dengan sempurna, ia segera memekik.
"Akh!" Ino menutup bibirnya dengan wajah memerah. Ia baru saja melakukannya! Ciuman pertamanya! Entah Ino harus marah atau merasa senang. Melihat kebimbangan dalam diri Ino, membuat Sai tersenyum lembut.
"Jadilah pacarku," kata Sai dengan nada lembut, membuat aquamarine Ino membelalak lebar.
"A-apa? Pacar?" Ino sangat terkejut dengan Sai yang tiba-tiba menembaknya. Tanpa sadar, perasaan hangat menyelimuti diri Ino saat ini. "Kenapa?" Bodoh! Ino memekik dalam hati, kenapa ia bisa meluncurkan pertanyaan bodoh seperti itu?! Namun sepertinya Sai tak keberatan menjawabnya, malah pertanyaan itu membuat Sai semakin tersenyum lembut.
"Tentu saja karena aku mencintaimu." Wajah Ino semakin memerah. Sai sangat terang-terangan menjawabnya! "Bagaimana?" tanya Sai lagi. Ino menunduk, kemudian dengan wajah memerah, ia mengangguk pelan, membuat senyum Sai semakin mengembang. Ia benar-benar senang Ino menerimanya, pemuda tersebut segera memeluk Ino, yang tanpa ragu-ragu langsung dibalas oleh Ino.
.
"Sudah sore," gumam Sakura pelan. Sasuke yang duduk di dekatnya juga mengalihkan tatapannya ke langit yang telah berubah warna menjadi jingga.
"Hn. Waktu menyerangnya semakin mendekat." Sakura tersenyum kecil.
"Aku harap kita menang!" Sasuke tersenyum kecil dan mengangguk. "Emm … Sasuke."
"Hn?"
"Apakah firasat burukmu tentangku telah lenyap?" Sasuke terdiam, membuat Sakura memandang pemuda tersebut dengan pandangan khawatir.
"Belum. Perasaan itu masih ada, dan semakin membesar seiring dengan waktu yang semakin mendekat." Sakura tersenyum maklum, kemudian menunduk.
"Aku bilang aku akan baik-baik saja, tak perlu khawatir." Sakura terkekeh pelan. "Kita pasti akan menang, Sasuke…" Sakura berdiri, ia berdiri tepat di hadapan Sasuke. Sakura tersenyum lembut di bawah langit sore. "Dan setelah menang…" Sakura menjeda kalimatnya, ia menghirup nafas dalam-dalam.
"…aku akan kembali menyatakan perasaanku padamu. Dan saat itu tiba, kau harus menjawabnya. Baik itu berupa penolakan, atau apapun. Kau tak boleh diam atau melarikan diri lagi." Sasuke tertegun mendengar perkataan Sakura. Namun lama-kelamaan, Sasuke tersenyum tipis. "Janji?" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan menuntut, Sasuke mengangguk, kemudian mendekatkan dirinya pada Sakura. Dengan perlahan, bibir tipis Sasuke menyentuh bibir mungil Sakura, membuat Sakura terkejut, namun kemudian Sakura membalas ciuman Sasuke. Setelah beberapa saat, mereka saling melepas diri masing-masing, Sakura tersenyum dengan wajah memerah. Sasuke juga ikut tersenyum tipis.
"Itu ikrar perjanjian." Sasuke berkata sebelum membalikkan dirinya. "Ayo pulang." Sakura terdiam sejenak, kemudian mengangguk seraya tersenyum sumringah.
.
Markas Akatsuki, malam hari…
"Haah?! Kalian pacaran?!" Ino mengangguk malu-malu, sedangkan Sai yang berada di samping Ino tetap menampilkan senyum palsunya.
"Selamat, Ino-chan, Sai-kun…" Hinata tersenyum lembut pada mereka berdua.
"Terimakasih Hinata," ucap Ino dengan malu-malu.
"Selamat! Aku senang mendengar hal ini!" pekik Sakura. Ino tertawa pelan, kemudian membalas perkataan gadis musim semi tersebut.
"Hum. Aku harap kau juga segera menyusulku, Sakura." Sakura yang mendengar itu terdiam dengan wajah memerah, kemudian Ino menatap Hinata. "Kau juga, Hinata. Aku harap kau dan Naruto segera menyusulku."
"Justru kita yang menyusul mereka." Sakura dan Ino menoleh heran pada Sai. "Naruto dan Hinata telah lama berpacaran."
"Heeh? Kenapa kalian tak memberitahu kami?!" pekik Sakura dan Ino di saat bersamaan.
"Eh? Kalian baru tahu? Aku pikir kalian sudah bisa menebak," ucap Naruto dengan tampang tak berdosa.
"Tapi waktu aku berdebat dengan Hinata, Hinata bilang 'tak suka' pada Naruto." Ino mengangkat sebelah alisnya heran. Naruto yang mendengar hal itu langsung menampilkan wajah sakit hati.
"Benarkah Hinata-chan? Hiks…" Naruto langsung menoleh pada Hinata dengan pandangan sedih. Hinata segera ber-blushing ria, kemudian menjawab dengan cepat,
"A-aku malu mengakuinya, j-jadi … a-aku…" Hinata tampak tergagap. Ino dan Sakura tertawa keras melihat tingkah Hinata.
"Kalian sudah puas mengerjai mereka?" tanya Sai pada duo wanita aneh di depannya. "Wanita memang mengerikan."
"Sudahlah. Ayo tidur. Kita harus bangun pagi besok." Sasuke berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut untuk kembali ke kamarnya. Ino, Sai, Naruto, Hinata, serta Sakura mengangguk pelan. Besok adalah hari perjuangan mereka. Mereka tak tahu apakah mereka masih bisa mengobrol seperti ini besok.
.
Keesokan harinya…
Markas Akatsuki
07.00 a.m
"Kalian sudah siap?" Sasuke bertanya pada teman-temannya yang berada di belakangnya.
"Yeaah!" seru mereka bersamaan.
"Berjuanglah, kalian." Para anggota Akatsuki muncul dari dalam markas. Sasuke yang melihat Itachi segera menghampiri pemuda tersebut.
"Terimakasih atas segalanya," ucap Sasuke. Itachi tersenyum lembut kemudian mengusap kepala adik semata wayangnya tersebut.
"Berjuanglah, Sasuke…" Sasuke mengangguk. Pemuda tersebut segera membalikkan badannya, pemuda tersebut ternyeum tipis pada seluruh anggota Akatsuki.
"Kami akan menyusul nanti," ucap Pein. Keenam remaja tersebut mengangguk, kemudian mulai berjalan meninggalkan markas Akatsuki.
"Ayo!"
.
Chapter 14 : The War (1)
"Kita akan berpisah di sini." Sakura, Naruto, Ino, Sai, dan Hinata menghentikan langkahnya saat mendengar perintah Sasuke. Sasuke merogoh kantungnya dan mengeluarkan lima buah headset dan microphone kecil kemudian menyerahkannya pada kelima temannya. "Ini alat komunikasi buatan Sasori. Tekan tombol merah ini, dan kalian akan berkomunikasi denganku. Gunakan ini jika kalian ingin berbicara padaku, mengerti?" Kelima temannya mengangguk seraya mengambil kedua benda tersebut dari telapak tangan Sasuke dan memasang headset di masing-masing telinga mereka.
"Kenapa hanya terhubung padamu?" tanya Ino bingung. Namun Sasuke hanya diam tanpa menjawab pertanyaan gadis berkucir satu itu.
"Jalan itu yang akan kalian tempuh untuk pergi ke pintu belakang markas Orochimaru." Sasuke menunjuk jalanan di sampingnya. Sakura, Sai, dan Hinata mengangguk, sedangkan Ino menggembungkan pipinya kesal bak ikan fugu karena tidak digubris oleh Sasuke.
"Ah, sebelum kita berpisah…" Sakura menjulurkan tangannya ke depan. Ino yang duluan mengerti tersenyum dan menumpuk tangannya di atas telapak tangan Sakura, diikuti Sai, Naruto, dan Hinata. Sedangkan Sasuke hanya menatap datar pemandangan di depannya.
"Hey, Teme! Ayolah, ini hanya sebagai ucapan penyemangat!" Dengan ragu, Sasuke meletakkan tangannya di atas tangan Hinata.
"Semoga kita berhasil," gumam Sakura pelan disertai dengan senyum kecil.
"Hum! Semoga besok kita bisa bermain Truth or Dare lagi!" lanjut Ino semangat.
"Semoga … tak ada yang mati," lirih Sakura pelan. Namun kemudian ia tersenyum. "Satu … Dua…"
"YEAAY!" Mereka menghentakkan tangan mereka ke atas disertai dengan sorakan, terkecuali Sasuke yang hanya menatap malas teman-temannya.
"Baiklah, sampai jumpa nanti. Naruto, Sasuke." Naruto dan Sasuke mengangguk dan kemudian berlari ke depan meninggalkan Sai beserta tiga teman wanitanya.
"Kita juga sebaiknya segera pergi," ucap Sai. Hinata, Ino, dan Sakura mengangguk. Sedetik kemudian, mereka berlari ke arah samping.
.
Sai, Sakura, Hinata dan Ino memincingkan matanya saat melihat lima hunter yang menjaga pintu markas belakang dari balik semak-semak. Sai mengerutkan alisnya, ia pikir hanya akan ada dua monster yang akan menjaga pintu belakang. Lima sama sekali bukan angka yang telah diprediksinya. Pemuda klimis tersebut tidak yakin bahwa ia bisa menghadang kelima-limanya agar tidak menyusul Ino, Hinata dan Sakura nanti.
"Ada apa, Sai?" Ah, pacarnya yang satu ini lah yang memang paling mengerti perubahan raut wajah Sai. Dengan senyum palsu, lelaki itu menjawab.
"Aku tidak menyangka bahwa mereka akan sebanyak itu." Sai menunjuk para monster dengan senyum palsu yang perlahan-lahan berubah menjadi senyum cemas.
"Tentu saja. Aku tahu kau kuat, tapi melawan kelima-limanya…" Ino meneguk ludahnya.
"A-ano, bagaimana kalau Ino-chan menemani Sai-kun? Aku dan Sakura-chan yang akan menyelamatkan ayah Sakura-chan," usul Hinata. Ino seketika menjentikkan jarinya.
"Ide bagus!" ucapnya sumringah.
"Tapi, bukankah itu mengubah rencana awal?" tanya Sai ragu.
"Aku dan Hinata tidak akan apa-apa! Dan bukannya kalian mendapat kesempatan berdua?" Sakura menyipitkan matanya seraya tersenyum menggoda.
"Hei, ini bukan waktu untuk berpacaran! Dasar kau ini!" Ino menegur Sakura dan mendengus ala wanita tsundere. Sedangkan Sakura hanya terkikik geli.
"Sebaiknya kita mengubungi Sasuke dulu sebelum mengubah rencana awal." Sai mengambil microphone kecil yang ia taruh di kantongnya.
"A-aku rasa tak perlu menghubungi Sasuke-kun, bukankah dia juga sedang bertarung sekarang?" Sai menghentikan gerakannya.
"Ya! Hinata benar Sai, jangan meremehkan kami!" Sakura mendengus sebal, ia sedikit tersinggung akan sikap Sai yang seakan-akan meremehkan dirinya dan Hinata. Melihat tatapan-tidak, bisa dibilang pelototan dari ketiga wanita di depannya, Sai dengan tampang pasrah pun menghela nafas.
"Terserah kalian saja," ucapnya. Ia yakin tak akan bisa menang melawan tiga kaum hawa nan keras kepala di depannya. "Kalau begitu, aku dan Ino akan duluan menyerang mereka. Kalian carilah waktu yang pas untuk berlari ke dalam." Hinata dan Sakura mengangguk.
"Kalian berdua, berjuanglah!" Sai dan Ino tersenyum tipis. Kemudian, mereka berlari ke arah lima hunter di depannya. Kelima hunter tersebut tentu saja langsung menyadari kedua insan yang datang menyerang mereka. Dengan cepat, tiga dari lima orang tersebut merubah wujud mereka ke wujud monster.
"Monster serigala, heh?" Ino mendengus tawa. Dengan gesit, wanita itu melancarkan tendangannya ke arah salah satu monster serigala tadi. Sai menghajar salah satu monster yang masih berwujud manusia itu dengan penuh kekuatan, sehingga makhluk malang tersebut terlempar beberapa meter ke belakang. Dua monster berwujud serigala yang tersisa menerjang Ino, namun Ino lebih dulu melompat ke atas.
"Ino explosion!" teriak Ino dan melancarkan tendangan kakinya di atas dua monster serigala tadi. Tentu saja hal itu membuat Ino tersenyum bangga. Sai juga ikut tersenyum seraya meninju monster satunya lagi, ketika mereka berlima tumbang di tanah, Sakura dan Hinata dengan gesit keluar dari tempat persembunyian mereka dan berlari ke dalam.
"Sakura, Hinata, ganbatte!" sorak Ino, Hinata dan Sakura tersenyum dan mengangguk seraya terus berlari.
"Cih, kalian…" Salah satu monster berwujud manusia yang tadi Sai tinju bangkit dan hendak menyusul Hinata dan Sakura, namun Sai tiba-tiba menghadangnya.
"Lawan kalian adalah kami!" ujar Sai dengan pandangan yang menajam. Ino juga ikut memicing tajam saat melihat keempat monster tadi ikut bangkit dan kembali menerjang mereka.
.
"Sepuluh orang, heh?" Naruto mendengus tawa kala melihat para hunter yang telah bersiaga menyerang mereka di pintu utama markas Orochimaru.
"Siapa kalian?" tanya salah satu hunter tersebut seraya menatap Sasuke dan Naruto dengan pandangan menyelidik.
Bugh!
Naruto memukul hunter yang bertanya tersebut sehingga terkapar di tanah. Mata shappire miliknya memandang kesembilan lainnya dengan pandangan meremehkan. "Hanya sepuluh orang? Itu tak cukup untuk mengalahkan kami!" ucap lelaki berkumis tersebut dengan percaya diri. Sedangkan Sasuke hanya mendengus saat melihat kesombongan teman blonde-nya itu.
Delapan hunter yang menyaksikan temannya terkapar tersebut segera menyerang Naruto dan Sasuke. Tendangan, pukulan, tinjuan, dan berbagai hal lainnya saling mereka lancarkan. Satu hunter yantg tersisa berlari ke dalam markas, dan kembali membawa lima orang hunter lainnya. Melihatnya, membuat Sasuke mendecih pelan.
"Berlari ke dalam dengan musuh sebanyak ini sungguh sulit," gumamnya seraya terus melawan hunter yang menyerangnya.
"Teme! Pukul saja tengkuk mereka!" seru Naruto. Sasuke kemudian tersenyum tipis, ide Naruto tidak buruk juga. Dengan gerakan gesit, Sasuke dan Naruto mulai mengincar tengkuk para hunter yang menyerangnya. Satu persatu hunter dengan berbagai wujud itupun tumbang di tanah. Sasuke dan Naruto bernafas lega saat melihat tak ada lagi hunter yang tersisa, peluh menghiasi wajah kedua pemuda tampan itu, nafas mereka juga terengah-engah. Nampaknya menghabisi lima belas hunter dalam waktu singkat sungguh menguras tenaga mereka. Tapi kalau tidak cepat, Orochimaru akan mempunyai kesempatan untuk menyerang balik mereka.
"Sai?" Sasuke berbicara dengan microphone mini di tangannya. Cukup lama sebelum Sai membalas ucapan Sasuke.
"Ah, Sasuke!" Sasuke dapat mendengar suara pukulan dari tempat Sai. Sepertinya temannya itu sedang bertempur. Seraya berlari, pemuda berambut raven tersebut kembali melanjutkan perkataannya.
"Apakah di sana baik-baik saja?" tanya Sasuke sedikit khawatir.
"Ya, tapi sepertinya hunter penjaga pintu belakang ini sangat tangguh. Mereka terus bangkit kembali, sungguh menyusahkan." Sasuke merasa sedikit khawatir dengan sahabatnya itu.
"Sai! Awas di belakangmu!" Sasuke dapat mendengar teriakan Ino dan disusul dengan suara tinjuan.
"Ino? Kenapa di sana ada Ino?" tanya Sasuke heran. Seharusnya gadis itu sudah daritadi berlari ke dalam untuk menyelamatkan ayah Sakura.
"Ah, maaf Sasuke. Tapi kami mengubah rencana,tadi…"
.
"Apa?!" Naruto tersentak saat melihat Sasuke membentak. Ia dan Sasuke menghentikan langkahnya. "Sudah kubilang jangan mengubah rencana! Sakura dalam bahaya sekarang!" bentaknya lagi. Sasuke kemudian mendecih pelan, kalau sudah begini, ia harus menyusul Sakura ke tempat ayah gadis itu.
"Memangnya kenapa Teme?" tanya Naruto heran saat melihat aksi Sasuke yang berlebihan. Bukannya ada Hinata yang menemani Sakura?
"Fufufufu … sepertinya tak berjalan sesuai rencanamu, heh?" Sasuke dan Naruto menoleh dengan cepat ke belakang, di sana berdiri Kabuto yang bersandar di dinding dengan seringai liciknya.
"Siapa kau?" tanya Naruto heran.
"Aku adalah tangan kanan Orochimaru -sama, sudah kuduga para hunter itu tidak sanggup melawan kalian."
"Cih, jadi kau ke sini untuk menghentikan kami?" Sasuke mendecih, Kabuto tertawa sinis.
"Tentu saja, sekarang target kami adalah Haruno Sakura. Namun kebetulan sekali dia datang membawa para monster dari klan terkenal." Kabuto mulai berjalan mendekati Sasuke dan Naruto. "Sekarang, ayo lawan aku."
Sasuke dan Naruto tak berkutik ketika Kabuto sudah berada di dekatnya dan melayangkan sebuah pisau, Sasuke hampir saja kena kalau Naruto tak segera menarik pemuda itu. "Heh, reaksimu bagus juga, Uzumaki." Setelah berkata demikian, Kabuto dengan cepat berubah menjadi seekor ular dan menerjang Sasuke tanpa aba-aba. Sasuke yang cepat sadar segera menghindar, gerakan Kabuto lebih cepat ketika ia menjadi seekor ular.
"Teme, bagaimana ini?!" seru Naruto. Sasuke merogoh kantungnya dan mengeluarkan sebuah biji-bijian. Ia melempar biji-bijian itu ke arah Kabuto dan menghindar dengan jarak sejauh mungkin.
DUAR! DUAR!
"HUWAA! Apa itu?!" Naruto memekik kaget.
"Bom buatan Deidara. Sekarang kita harus bergegas!" Sasuke dan Naruto segera berlari ke dalam, Kabuto tak dapat menyusul mereka karena terhalang batu-batuan dari atas akibat bom tadi.
"Fufufu, usaha mereka bagus juga, tapi ini hanya menghalang, bukan mengalahkan," desis Kabuto yang telah berubah ke wujud manusianya dengan seringai yang tertampang di wajahnya.
.
"Ah, di sini yah?" Sakura dengan perlahan membuka pintu ruangan yang tampak gelap tersebut. Mata emerald-nya beradaptasi dengan gelapnya ruangan tersebut, tangannya mulai meraba-raba dinding, mencari saklar lampu, setelah ia menemukannya, gadis itu segera memencetnya dan terbelalak kaget melihat isi ruangan tersebut.
"A-apakah dia ayahku?" Sakura mendekati seorang paruh baya dengan tangan yang diikat ke atas tersebut dengan pandangan sedih. "A-ayah!" Tidak salah lagi, Sakura dapat merasakan ikatan yang kuat dengan ayahnya, mana mungkin ia salah. Sakura hendak mengulurkan tangannya untuk membuka tali yang mengikat ayahnya, namun sebuah tangan menghalanginya.
"Tidak secepat itu, Nona Muda." Sakura menoleh pada asal suara dan membelalakkan matanya.
"Ne-Neji?!" pekiknya kaget. "Kau sudah selamat?! Ah, syukurlah, Hinata sangat mengkhawatirkanmu!" Sakura tersenyum sumringah, sedangkan Neji mendengus tawa.
"Kau sudah mengerjakan peranmu dengan baik, Hinata." Sakura mengerutkan alisnya, ia melihat ke arah Hinata yang menampilkan ekspresi biasa-biasa saja. Bukankah gadis itu seharusnya senang?
"Gomen, Sakura-chan." Pupil Sakura mengecil, menandakan bahwa wanita itu terkejut dengan perkataan Hinata. Apa maksud semua ini?! Adakah yang bisa menjelaskannya?!
Braak!
"Hah … hah…" Sakura bernafas lega saat melihat sosok Sasuke di pintu. Nafas pemuda tersebut terengah-engah akibat berlari.
"Cih, pengganggu datang," desis Neji dengan pandangan tajam.
"Sudah kuduga," ucap Sasuke ketika berhasil menetralkan nafasnya.
"S-Sasuke? Apa maksud semua ini?" tanya Sakura heran.
"Sakura! Sasuke! Naruto! Hinata!" Keempat pemuda tersebut menoleh pada Sai dan Ino yang berlari mendekati mereka, nampaknya kedua sejoli tersebut telah berhasil menumbangkan para hunter penjaga pintu belakang markas. "Eh? Neji?" Ino menatap heran Neji. Apakah ia sudah berhasil diselamatkan?
"Kau, tidak pernah tertangkap," ucap Sasuke mulai menjawab sekelebat pertanyaan yang muncul di pikiran teman-temannya. "Kau bekerja sama dengan Orochimaru untuk memusnahkan para monster dan manusia. Seseorang diketahui hilang dengan ikat rambut yang menjadi petunjuk hanyalah omong kosong belaka."
"J-jadi, maksudmu? Hinata-chan…" Naruto menyiratkan kekecewaan dan sinar tak percaya pada matanya.
"Hn, dia bersekongkol dengan Neji dan Orochimaru. Aku juga sudah menduga serangan ini akan diketahui oleh Orochimaru, tentu saja dengan Hinata sebagai penghubung dan pengumpul informasi." Sasuke mengambil nafas sejenak, kemudian melanjutkan, "karena itulah penjagaan pintu belakang diperketat dengan lima hunter kuat yang berjaga di sana. Hinata sengaja mengusulkan ide tadi dan membuatnya sealami mungkin, namun sebenarnya itu memang telah direncanakannya." Sasuke menatap tajam Hinata yang sedang menunduk.
"Klan Hyuuga terdiri dari klan bawah dan klan atas. Klan bawah adalah Neji, sedangkan klan atas Hinata. Aku tahu penyebab Neji ingin menghancurkan para monster dan manusia, kehidupannya sebagai klan bawah pasti sangat sulit, dan ia pasti telah dijanjikan sebuah posisi yang bagus oleh Orochimaru. Tapi aku tak mengerti alasan Hinata membantu Neji." Semua mata menadang gadis berambut indigo tersebut dengan pandangan tak percaya.
"Hinata-chan, apakah itu benar?" Suara Naruto terdengar parau, ia tak menyangka kekasihnya akan mengkhianatinya. Cukup lama Hinata terdiam, kemudian ia tersenyum kecil dan menjawab.
"Ya, itu benar." Hinata mulai mengangkat kepalanya dan menatap teman-temannya. "Neji -nii-san akan menyayangiku jika aku membantunya untuk menguasai dunia. Kalian tak akan tahu bagaimana rasanya dibenci oleh sepupu sendiri!" Hinata meninggikan volume suaranya, bahkan Naruto baru pertama kali melihat Hinata membentak seperti ini.
"Tapi caramu salah! Aku tahu kau ingin disayang oleh Neji, tapi dengan kejahatan…" Naruto menatap Hinata dengan penuh rasa kecewa. "Aku kecewa padamu, Hinata-chan…" lirih pemuda itu. Hinata kembali menunduk, baru kali ini Naruto membentaknya.
"Hahahaha!" Semuanya memandang Neji yang tertawa terbahak-bahak. "Kau sangat lucu, Hinata! Apakah kau benar-benar berpikir bahwa aku akan menyayangimu?! Kau sungguh bodoh!" Hinata tersentak kaget. "Aku berniat membunuhmu setelah semuanya selesai, tapi aku mengubah rencanaku. Aku akan membunuhmu bersama teman-temanmu!" Hinata memandang Neji dengan pandangan tak percaya.
"N-Neji -nii-san…" Neji menyeringai licik.
"Aku tak menyangka klan Hyuuga atas melahirkan seseorang yang bodoh sepertimu! Kau tak pantas berada di klan Hyuuga!" Hinata tak tahan lagi, air mata telah jatuh di pelupuk matanya. Ia tak menyangka kakak sepupunya itu akan ditelan kegelapan seperti ini.
"Diam kau!" Hinata tersentak saat Naruto tiba-tiba maju dan menampilkan wajah marah pada Neji. "Kau yang tidak pantas dilahirkan di klan Hyuuga!" ucap pemuda berkumis kucing tersebut dengan nada marah.
"Naruto, tenanglah." Sai menepuk pundak Naruto, berusaha menenangkan amarah pemuda tersebut.
"Naruto-kun…" Air mata Hinata semakin jatuh saat melihat aksi Naruto. Ia menyadari kesalahannya sekarang, ia … mengorbakankan teman-temannya, cintanya, untuk suatu hal yang bodoh, hal yang dapat membahayakan kekasih dan temannya sendiri. Neji benar, ia sungguh bodoh…
"Oh ya?" Neji terkekeh pelan. "Kalau begitu, aku dan Hinata akan membuktikan siapa yang pantas menjadi anggota klan Hyuuga." Neji mengeluarkan sebuah pedang yang daritadi telah tergantung manis di punggungnya.
"Jika kau ingin melawan Hinata, lawan aku dulu!" Mata Naruto perlahan memerah, kuku-kukunya memanjang, serta sebuah cahaya merah berbentuk ekor muncul di belakangnya.
"Naruto, hentikan," cegah Sasuke. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Apakah ia harus membiarkan Naruto untuk menghabisi Neji? Tapi bagaimana dengan Orochimaru nanti? Selain itu … bagaimana dengan ayah Sakura? Apakah mereka akan menyelamatkannya di saat ada waktu yang pas?
"Tidak. Aku tidak akan membiarkannya menyentuh Hinata-chan! Dia benar-benar keterlaluan!" Oke, Sasuke tahu bahwa kali ini Naruto benar-benar marah. Dengan situasi seperti ini, pasti Naruto tak akan bisa dihentikan dengan cara apapun.
"Cih, baiklah. Tapi berjanjilah padaku, bahwa kau akan menyelamatkannya." Naruto mengangguk. "Aku, Sakura, Ino dan Sai akan pergi ke ruang Orochimaru untuk menyerangnya. Aku serahkan Neji padamu, jangan sampai kalah, Naruto." Naruto menolehkan kepalanya pada Sasuke dan menampilkan cengirannya.
"Aku pasti tak akan kalah dengan orang sepertinya," janjinya masih dengan cengiran khas-nya. Sasuke tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandangannya pada Sakura, Ino dan Sai.
"Ayo kita pergi."
"T-tunggu, bagaimana dengan ayahku?" tanya Sakura dengan raut wajah khawatir.
"Tenang saja Sakura-chan, serahkan ayahmu padaku. Aku akan menyelamatkannya!" Sakura menatap Naruto dengan pandangan cemas, namun saat melihat sinar kepastian dari shappire pemuda berkumis kucing tersebut, Sakura pun mengangguk.
"Baiklah, berjuanglah, Naruto." Setelah berkata demikian, Sakura, Sasuke, Ino dan Sai segera meninggalkan Naruto. Sepeninggal teman-temannya, Naruto melirik pada Hinata yang masih menunduk, mungkin gadis itu terlalu shock. Kemudian Naruto mengalihkan perhatiannya dan memandang tajam Neji yang berada di depannya.
"Aku akan mengalahkanmu!"
.
"Aku khawatir dengan Naruto," ucap Ino cemas.
"Hum, aku juga. Tapi selain itu, Sasuke, sejak kapan kau mulai curiga pada Hinata?" Sakura memandang heran pada Sasuke.
"Hn, sejak Neji memberitahuku tentang penculikan monster, aku sudah mulai curiga. Mengapa mereka memberitahu kita tentang hal seperti itu? Dan tepat setelah itu, dia yang diculik. Kecurigaanku memuncak saat Hinata meminta ikut untuk menyelamatkan Neji." Sakura dan Ino memandang Sasuke dengan pandangan cengo.
"Heeh? Kau bisa curiga dengan seseorang hanya karena alasan itu?" tanya Ino tak percaya, sedangkan Sasuke hanya membalasnya dengan gumaman tak berarti.
"Tapi aku kasihan dengan Hinata, dia dijebak oleh kakaknya sendiri," lirih Sakura dengan pandangan sendu. Ino ikut sedih mendengar perkataan Sakura dank ala mengingat Hinata, Hinata adalah gadis yang baik dan polos. Mereka mulai teringat kebersamaan mereka dan Hinata, mereka yakin Hinata juga sebenarnya menikmati saat-saat itu.
"Semoga Naruto bisa mengalahkan Neji, agar mereka berdua akan bahagia kembali." Ino berkata seraya tersenyum tipis.
Mereka semua terdiam seraya tetap berlari. Terowongan di markas Orochimaru sangat sepi. Tak ada satu pun hunter yang menjaga jalan menuju ruangan bos besar mereka. Mungkin ini normal-normal saja bagi Ino, Sakura, dan Sai. Tapi tidak bagi Sasuke. Firasat buruk kembali menghantuinya, dan semakin buruk saat mereka berempat semakin dekat dengan markas Orochimaru. Mungkinkah, ini jebakan?
"Ino, Sai, Sakura, berhati-hatilah," ucap Sasuke dengan alis yang dikerutkannya. Firasat ini, sungguh…
"Memangnya kenapa, Sasuke?" Ino yang berjalan di depannya bertanya tanpa memandang Sasuke.
"Entahlah, tapi aku merasakan firasat buruk lagi."
"Memangnya kena-" Ino menoleh pada Sasuke, kalimatnya seketika terputus, mata aquamarine-nya membelalak. Bukan, ia bukannya terkejut ketika melihat Sasuke. Tapi di belakang Sasuke dan Sai…
"Ada apa, Ino?" tanya Sai heran saat melihat ekspresi terkejut Ino. Sasuke juga ikut heran dan berbalik ke belakang, sepasang mata onyx-nya juga ikut membulat. Sakura…
"Khukhukhu, tak kusangka kalian dapat ke sini secepat ini." Di belakang mereka, Orochimaru dan Kabuto menyeringai, namun bukan hanya itu yang membuat mereka terkejut, Sakura … berdiri di belakang mereka dengan mata terbelalak, darah menetes dari mulut gadis itu. Dan Sasuke dapat melihat sebuah pedang yang menusuk Sakura tepat di daerah jantung Sakura.
"Sa-Sasu … ke…"
CRAAASH!
Orochimaru mencabut pedangnya dengan cepat. Tubuh Ino, Sasuke, dan Sai masih membeku saat Sakura tumbang di lantai.
"Satu telah tumbang, siapa selanjutnya?" Setelah mendengar perkataan Orochimaru, ketiga remaja tersebut seketika sadar, bahkan Ino telah meneteskan air matanya.
.
"SAKURAAAA!"
.

Chapter 15 : The War (2)
.
Semuanya terpaku saat tubuh Sakura sukses tumbang di tanah. Ino menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, menahan pekikan yang sangat ingin dikeluarkannya. Air mata telah merembes paksa dari kedua mata aquamarine-nya, namun ia masih tak bergerak, masih terlalu syok dengan adegan satu menit yang lalu, di mana sahabat yang ia sayangi dtusuk di depannya, dan tepat di bagian jantungnya.
"Sa-" Gadis itu mulai dapat mengeluarkan suaranya, saat telah sadar seratus persen, ia memekik kencang. "SAKURAAAA!"
"Brengsek!" umpat Sai. Pemuda berambut klimis tersebut menatap Orochimaru dan Kabuto yang berada di depan mereka dengan tatapan marah. "Apa yang kau lakukan pada Sakura?!" Sai meninggikan nada suaranya, sebuah hal baru oleh pemuda yang selalu memasang senyum palsu tersebut.
"Membunuhnya," jawab Orochimaru enteng. "Lagipula, wanita yang terlihat lemah seperti itu tak akan berguna di pertarungan ini."
"K-kau-"
Bugh!
Sai baru saja ingin melancarkan serangannya, namun Ino mendahuluinya. Gadis itu telah melancarkan tinjuannya pada Orochimaru, namun Kabuto segera menangkis serangannya. "Pindah kau, Kacamata sialan!" amuk Ino. Gadis itu mulai menyerang secara membabi buta, namun Kabuto terus menangkisnya dengan cepat.
"Ino, hentikan!" perintah Sasuke.
"Tidak! Dia … dia membunuh Sakura! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANNYA!"
Bugh!
"Ugh, kau kuat juga," komentar Kabuto dengan senyum licik.
"Kubilang hentikan!" perintah Sasuke lagi, kali ini nada suaranya meninggi. Ino segera mengambil langkah mundur dan menjauh dari Kabuto. Ia kemudian menatap Sasuke dengan tatapan marah.
"Bodoh! Kenapa kau bisa setenang itu?! Sakura … dia-" Air mata kembali merembes melalui iris aquamarine Ino. Sasuke menyunggingkan senyumnya, walau sangat tipis.
"Sakura tidak akan mati semudah itu," ucapnya tenang.
"B-benar … aku … tidak akan mati … semudah itu…" Mata Ino terbelalak. Bukan hanya Ino, bahkan Orochimaru dan Kabuto juga terbelalak, sedangkan Sai tersenyum tipis.
"Sakura!" Ino meneriakkan nama sahabatnya yang sedang berusaha untuk berdiri itu. Lubang kecil di dadanya akibat pedang Orochimaru tadi perlahan-lahan menutup, membuat Kabuto dan Orochimaru tersenyum takjub.
"Hahaha!" Tawa Orochimaru menggelegar. "Seperti yang kuharapkan dari anak Haruno Kizashi. Kemampuan penyembuhanmu lebih bagus darinya." Sakura menatap tajam Orochimaru.
"Apa yang kau lakukan pada ayahku?!" amuk Sakura, sedangkan Orochimaru tertawa lagi, membuat mata Sakura semakin menajam.
"Seperti sebuah percobaan, aku menusuknya berkali-kali dan menghitung waktu yang ia butuhkan untuk penyembuhannya." Sungguh kejam. Itulah pemikiran keempat remaja di depannya.
"B-brengsek! Lepaskan ayahku!" Sakura hendak maju untuk melawan Orochimaru, namun Sasuke menahannya. Pemuda itu tak peduli dengan Sakura yang terus memberontak, ia tahu bahwa Sakura sangat marah saat ini. Namun, marah bukan berarti gadis itu harus bertindak gegabah, apalagi dengan orang seperti Orochimaru.
"Hahahahaha! Serang aku, gadis pintar." Emosi Sakura semakin memuncak. Ia berapakali menyentakkan tubuhnya untuk keluar dari dekapan Sasuke. Pria paruh baya di depannya benar-benar monster, kejahatan yang ia lakukan tak bisa ditolerir lagi.
Sasuke semakin menguatkan dekapannya. Ia mendecih, Orochimaru pasti sengaja memancing kemarahan Sakura agar mendekat padanya. Saat melihat pedang Orochimaru, Sasuke sudah menyimpulkan bahwa tipe bertarung pria itu adalah jarak dekat. "Tahan emosimu, Sakura," bisik Sasuke. Namun sepertinya Sakura tak mendengarkan, gadis itu masih saja memberontak.
"Kau monster!" Kali ini Ino lah yang berteriak. Orochimaru melirik Ino sejenak, kemudian tersenyum picik.
"Aku tidak memiliki jiwa manusia seperti kalian. Tenang, aku tidak akan membunuh kalian. Aku hanya ingin menjadikan kalian sebagai percobaan-percobaan kecil, dan tentu saja sebagai pion untuk menguasai manusia." Orochimaru melirik Kabuto. "Kabuto, aku serahkan gadis pirang dan pemuda itu untukmu. Aku yang akan melawan gadis keturunan Haruno ini dan juga-"
Sasuke mendelik saat Orochimaru menatap dirinya seraya menjilat bibirnya, pria ular tersebut kemudian melanjutkan kata-katanya, "-mangsa terbesarku, Uchiha Sasuke."
"Baiklah, Orochimaru-sama." Setelah berucap demikian, Kabuto melemparkan sebuah bom kecil dan berlari menghampiri Ino dan Sai.
Duaaaarr!
"Sai! Ino!" Sakura berteriak saat bom tersebut meledak. Langit-langit di atas mereka runtuh, membuat mereka terpisah satu sama lain. "Sai! Ino! Kalian tidak apa-apa?!" Sakura menatap khawatir pada reruntuhan batu-batu di depannya.
"Kami baik-baik saja!" Sakura menghela nafas lega saat mendengar suara Ino dari seberang reruntuhan batu-batu tersebut. Sedangkan Sasuke menatap tajam pada Orochimaru.
"Jadi ini rencanamu, memisahkan kami seperti ini," desis Sasuke.
"Aku tidak ingin seorang pun mengacaukan rencanaku untuk menangkap kalian." Orochimaru menjilat pedangnya, Sasuke dan Sakura menatap fokus pada pria itu sekarang. Bagaimanapun, mereka harus mengeluarkan seluruh kemampuan mereka untuk melawan Orochimaru. "Aku takjub kalian datang ke sini dengan tangan kosong." Orochimaru mengeluarkan salah satu pedangnya lagi, kemudian pria itu melemparkannya pada Sasuke.
"Gunakan itu untuk melawanku, Uchiha Sasuke," perintah Orochimaru, kali ini Orochimaru menatap Sasuke dan Sakura dengan pandangan serius. "Nah, kita lihat, sejauh mana kemampuan kalian."
.
TRANG!
Bunyi pedang beradu dengan kuku panjang Naruto terdengar nyaring di ruangan tempat ayah Sakura disandera. Neji menyerang Naruto dengan kecepatan yang tinggi, membuat Naruto agak sulit untuk menangkis semua serangan pemuda berambut coklat tersebut.
"Ada apa, heh?" Neji tersenyum meremehkan, sedangkan Naruto mendecih. Ia melirik sejenak Hinata yang berada di belakangnya. Kondisi gadis itu masih sama, menunduk tak berkutik, bahkan saat Neji berkali-kali hampir menyerangnya, untunglah ada Naruto yang selalu menlindunginya. Namun, sampai kapan Naruto bisa bertahan?
"Hinata! Berdirilah!" Hinata sama sekali tak memedulikan sorakan Naruto, membuat Naruto menghela nafas pasrah seraya terus menangkis serangan Neji. "Hinata! Kumohon, berdirilah!" teriak Naruto sekali lagi.
"Tidak…" Kali ini Hinata merespon, walau dengan tolakan. Naruto menggertakkan giginya, ia paham bahwa Hinata berada di masa-masa tersulit, di mana kakak yang ia percayai dan sayangi begitu tega memanfaatkan dan membohonginya. Perasaan tulus Hinata dibalas dengan kebohongan, dan itu membuat Naruto sangat marah.
"Tetaplah seperti itu, Hinata. Sebaiknya kau renungi nasibmu itu, berada di klan Hyuuga Atas tak pantas untukmu." Naruto menggeram kesal, perkataan Neji semakin membuat Hinata menunduk.
"K-kau…" Naruto menatap tajam Neji. "Itu tidak benar, Hinata!" tukas Naruto dengan nada yang meninggi. "Kau … kau pantas berada di klan Hyuuga! Kau kuat! Kau pemberani! Percayalah itu, Hinata!" Hinata menunjukkan sedikit pergerakan, membuat Naruto tersenyum kecil.
"Lihat di mana lawanmu, Bodoh!"
Crash!
"Akh-" Naruto meringis tertahan. Mendengar suara itu, Hinata segera mendongakkan kepalanya dan tercenggang kaget saat pedang Neji berhasil menggores lengan Naruto.
"N-Naruto-kun!" teriak Hinata dengan nada khawatir, ia dengan cepat menghampiri Naruto yang memegang lengannya yang tergores itu.
"Akhirnya kau bangkit juga, heh?" desis Neji seraya memandang sinis pada Hinata.
"Kenapa … kenapa kau begitu membenciku?!" amuk Hinata. Neji hanya terdiam kala melihat adik sepupunya tersebut. Pandangan pemuda bersurai coklat itu masih saja sama, memandang sinis pada Hinata yang tampak lemah. Ia sangat membenci Hinata. Wanita lemah seperti Hinata tak pantas duduk di posisi tinggi di keluarganya.
"Kau … masih bertanya mengapa?" Hinata tak dapat melihat mata Neji karena pemuda itu menunduk terlalu dalam, namun saat Neji mendongakkan kepalanya, ia dapat melihat dengan jelas sorot kebencian yang sangat dalam di mata Neji. "Kau! Klan Hyuuga Atas telah membunuh ayahku!"
Hinata terkesiap. "A-apa? Ayahmu…"
Neji mendecih pelan. "Inilah yang aku tidak suka darimu. Kau tak tahu apa-apa, kau tak tahu bagaimana perasaan Klan Hyuuga Bawah yang selalu saja dijadikan budak oleh keluargamu! Dan kau tak tahu bagaimana rasanya saat ayah yang sangat kusayangi di bunuh di depanku! Aku sangat membenci keluargamu!"
"Kebencianmu salah, Neji." Neji menatap Naruto yang memandanganya tajam. "Kau tidak harus melimpahkan semua kekesalanmu pada makhluk tak berdosa. Orochimaru ingin menguasai dunia, memperbudak manusia, serta menggunakan kekuatan monster seperti kita. Kau membantunya karena alasan ingin balas dendam pada keluarga Hinata? Omong kosong!"
Buk!
Naruto memukul dinding di belakangnya, sehingga dinding tersebut sedikit retak. "Hal yang paling baik kau lakukan adalah mencari kesalahan ayahmu! Aku yakin keluarga Hinata tak akan membunuhnya tanpa alasan!"
"Cih, aku sangat tidak suka dengan orang sepertimu." Neji menarik pedangnya kembali. "Sepertinya, aku akan mengakhiri ini dengan kematian kalian berdua."
.
"Dasar Kacamata sialan! Jelek! Berhidung pesek! Ular menjijikkan!" Sai memandang Ino sweatdrop saat wanita itu tak henti-hentinya melemparkan hujatan pada Kabuto yang hanya tersenyum tipis saat ini. Namun Sai tahu dibalik senyum itu pasti hati Kabuto sedang tertohok, berilah tepuk tangan kepada Ino yang telah melemparkan serangan mental pada Kabuto. "Kenapa kau memisahkan kami? Bodoooh!" amuk Ino kesal.
"Kau hanya akan menganggu Orochimaru-sama. Haruno dan Uchiha adalah tangkapan bagus, sangat berguna dalam misi kami untuk menguasai dunia." Mendengar kalimat Kabuto, membuat Ino semakin kesal saja.
"Menguasai dunia? Sungguh konyol! Sebaiknya kau menguasai monyet-monyet saja!" tutur Ino seraya menunujuk batang hidung Kabuto.
"Fufufu, kau sungguh menarik. Tapi, aku lebih tertarik padamu." Pandangan Kabuto beralih pada Sai. "Kau selalu saja menunjukkan senyum palsu, sebenarnya, tipe monster macam apa kau ini?" Sai terdiam sejenak, kemudian terkekeh pelan.
"Tipe atau apapun itu tidak penting saat ini, yang terpenting adalah mengalahkanmu!" Tatapan Sai berubah. Hawa di tempat itu juga lebih dingin dibanding yang tadi.
Kabuto dan Sai saling menerjang satu sama lain. Kabuto segera merubah wujudnya menjadi ular, membuat gerakannya semakin gesit. Kabuto hendak menerjang leher Sai, namun Sai dengan cepat mencengkram leher ular Kabuto dan melemparkannya ke sembarang arah. "Fufufu, lumayan juga kau," komentar Kabuto.
"Tapi kita lihat, apakah kau bisa menghindari ini." Setelah berucap kemudian, badan Kabuto yang sedang berwujud ular semakin membesar. Bukan hanya membesar, sebuah kepala lain tumbuh, membuat Kabuto terlihat semakin menyeramkan. Sai dan Ino tercenggang kaget, namun kedua remaja itu masih tetap fokus pada gerakan-gerakan Kabuto.
Kabuto kembali menyerang Sai, tentu saja dengan gerakan yang lebih cepat dibanding tadi walau ukuran tubuhnya membesar. Sai bahkan cukup bingung menentukan dari arah mana Kabuto akan menyerangnya.
Duak!
Sai berhasil menendang salah satu kepala Kabuto sehingga terpental cukup jauh. Namun tubuh Kabuto sangat panjang, Sai yang lengah berhasil dililit oleh ekornya.
"U-ugh." Sai berusaha melepaskan diri, namun lilitan Kabuto semakin erat.
"Ular sialan! Lepaskan Sai!"
Crash!
Ino menusuk-nusuk ekor Kabuto menggunakan pisau lipat miliknya, membuat Kabuto meringis. "Aarrgh! Sialan kau!" umpat Kabuto. Lilitan Kabuto merenggang, membuat Sai dapat bebas. Ino semakin memperdalam tusukannya, sedangkan Sai memegang dadanya. Lilitan Kabuto yang sangat keras tadi membuat tubuhnya seakan-akan remuk.
Graup!
"Arrggh!" Ino dengan cepat menoleh pada Sai. Di sana Kabuto telah berhasil menggigit tangan Sai, membuat Sai meringis kesakitan.
"Sai!" teriak Ino khawatir, pandangan Ino terlalu fokus ke Sai sampai tak memedulikan ekor Kabuto yang menyerangnya.
Duaaak!
"Kyaaa!" Ino terpental beberapa meter.
"Ino!" Sai mendecih, Kabuto ternyata sungguh merepotkan baginya. Kalau seperti ini, tak ada cara lain lagi selain-
GOAAAARRMM!
Kabuto yang menyadari perubahan Sai segera menjauh dari pemuda itu. Badan Sai perlahan berubah, kedua taring muncul dari gigi Sai. Ino yang memerhatikan hal itu juga ikut tercenggang kaget.
"Fufufu, macan, yah?" Kabuto mengernyit. Benarkah macan? Kabuto baru kali ini melihat monster macan berbulu putih seperti ini. "Fufufu, macan berbulu putih. Kau sungguh menarik, Sai."
Kedua pria tersebut saling menerjang lagi. Kali ini gerakan Sai lah yang menyulitkan Kabuto. Sai terus menerjang Kabuto, dan Kabuto terus menghindar. Namun tentu saja gerakan Sai lah yang lebih cepat.
"Aaaarrghh! " Kabuto berteriak kesakitan saat Sai berhasil menggigitnya, bukan hanya menggigit, Sai mengoyak daging Kabuto yang sedang berubah wujud tersebut. Sekali, dua kali, tiga kali, Sai terus mencakar dan menggigit Kabuto, membuat Kabuto terus meringis kesakitan.
DUAAAK!
"Jangan lupakan aku, Bodoh!" Ino menunjukkan seringai lebarnya saat berhasil menendang Kabuto sehingga terpental ke dinding. Tubuh Kabuto perlahan-lahan berubah menjadi seperti semula. Tampak lah banyak luka ditubuh pria itu akibat serangan Sai.
"Haahh … haahh…" Nafas Kabuto ngos-ngosan. "Sepertinya aku tidak bisa meremehkan kalian berdua." Kabuto merogoh sesuatu dari dalam kantungnya, kemudian melemparkan itu ke tengah-tengah.
POOFF!
'Bom asap!' Ino menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya, ia menyipitkan matanya saat asap berwarna ungu tersebut mulai mendominasi tatapannya. Ia melihat Kabuto yang sedang menyeringai licik seraya menutup hidungnya di sana. Saat asap bom tersebut telah habis, Ino mendelik pada Kabuto.
"Asap apa itu?!" tanya Ino galak.
"U-ugh…" Ino menoleh dengan cepat ke arah Sai. Tampak Sai perlahan-lahan berubah ke wujud semulanya dan perlahan tumbang ke lantai, membuat Ino berteriak histeris.
"Itu adalah asap untuk melumpuhkan para monster seperti kalian." Kabuto menyeringai. "Kau dan Sai akan lumpuh selama beberapa jam ke depan. Dan saat itulah, aku akan membunuh kalian!" Ino membelalakkan matanya.
"Dasar licik!" ucapnya.
"Fufufu … tapi, kenapa itu tak bereaksi padamu?!" Ino tertawa sinis.
"Aku manusia, Kacamata Bodoh!" Kabuto tercenggang kaget. "Asap bom tadi tidak berpengaruh padaku!" Ino mengepalkan tangannya. "Aku … yang akan melawanmu!"
"I-Ino…" lirih Sai. Dirinya sungguh menyedihkan, dilindungi oleh seorang gadis yang merupakan kekasihnya sendiri. Berterimakasihlah kepada si brengsek Kabuto yang melemparkan bom asap pelumpuh tadi. "Berhati-hatilah…"
"Tentu saja!"
.
"Haahh … haahh…" Nafas Sasuke dan Sakura menggebu-gebu. Kedua pasangan tersebut telah berkali-kali melancarkan serangan mereka pada Orochimaru, namun sepertinya itu sama sekali tak berefek pada makhluk ular di hadapan mereka itu.
"Apakah hanya seperti itu kekuatan kalian?" komentar Orochimaru seraya tersenyum remeh.
Trang!
Sasuke dengan cepat menangkis pedang Orochimaru. Kemampuan pedang Sasuke memang hebat, namun kemampuan pedang Orochimaru lebih hebat lagi, membuat Sasuke kewalahan bahkan jika itu hanya untuk menembus pertahanan pria itu.
Crash!
Satu goresan telak didapat oleh Sasuke. Orochimaru tersenyum meremehkan, Sasuke yang merasakan kesakitan di bagian pipinya segera mengambil jarak dari Orochimaru. "Sasuke!" Sakura meneriakkan nama Sasuke dengan nada khawatir, membuat pandangan Orochimaru beralih padanya.
"Aku berubah pikiran," ucap Orochimaru. "Aku akan membunuh kalian, di sini." Sakura memandang tajam pada Orochimaru yang mendekat padanya. Dengan gesit, Sakura berlari menghampiri Sasuke. Ia letakkan tangannya ke atas pipi Sasuke, menggunakan teknik yang diberitahukan Sasori kepadanya untuk menyembuhkan luka orang lain tanpa air mata.
Berhasil. Luka di pipi Sasuke perlahan-lahan menutup. Orochimaru tertegun, kemudian ia tertawa. "Hahahaha! Kau sungguh menarik, Sakura! Baiklah, aku memutuskan untuk membunuhmu terlebih dahulu."
"Tidak akan kubiarkan!" Sasuke mendelik tajam.
"Hahahaha! Sungguh pertunjukan ini akan menarik," tawa Orochimaru lagi. "Baiklah, pertunjukan dimulai~"
Trang!
Sasuke menangkis serangan Orochimaru, namun tekanan yang diberikan Orochimaru sungguh luar biasa. "Ugh," ringis Sasuke saat ia hampir tak dapat menahan serangan Orochimaru lagi. Orochimaru tersenyum licik.
Duak!
Di tendangnya perut kanan Sasuke, sehingga pemuda itu terlempar beberapa meter dan membentur tembok dengan cukup keras. Kemudian Orochimaru kembali mengalihkan perhatiannya pada Sakura. ia mendekat ke arah gadis itu, dengan cepat, Orochimaru menendang Sakura sampai terjatuh dan mengayunkan pedangnya pada Sakura, saking cepatnya, Sakura tak dapat menghindar dari serangan itu.
Crash!
Emerald Sakura membulat saat darah bercipratan ke wajahnya. "Sas-" Suara Sakura tertahan. "SASUKE!"
"U-ukh," ringis Sasuke. Orochimaru mencabut pedangnya yang tertancap di perut Sasuke dengan cepat. Sasuke yang tak dapat lagi menahan rasa sakit di perutnya jatuh terduduk dan memegang lukanya. Darah mengalir deras di luka tersebut.
"B-bodoh! Kenapa kau melindungiku lagi?!" Sakura berteriak histeris dengan air mata yang mengalir di pipinya. Pikirannya melayang pada hari di mana Sasuke juga melindunginya dari tembakan peluru Orochimaru, dan Sakura sadar … bahwa ia sama sekali tak berguna.
Sakura segera meletakkan tangannya di luka Sasuke, hendak menyembuhkannya, namun-
Duak!
Orochimaru menendang luka Sasuke. Sasuke kini terpental jauh dari Sakura seraya meringis kesakitan. "Sasuke!" Air mata Sakura semakin deras. Ia memegang perutnya sendiri, pasti Sasuke merasakan sakit yang luar biasa saat ini. Perutnya ditusuk, dan luka tersebut dintendang dengan keras Orochimaru, orang biasa akan pingsan gara-gara sakit itu.
"Sepertinya aku harus melumpuhkanmu dulu, Sasuke-kun." Orochimaru menghampiri Sasuke yang masih tergeletak di lantai.

Crash!
Orochimaru mengayunkan pedangnya lagi, untung saja Sasuke menghindar, sehingga hanya mengenai lengannya. Namun tentu saja tetap sakit. Darah kembali merembes di lengan Sasuke. "Arrgghh!" erang Sasuke. Orochimaru mencabut pedangnya, kemudian ia menusukkan pedangnya ke kaki Sasuke.
"AAARRGGH!" Mendengar teriakan kesakitan Sasuke, membuat Sakura semakin menangis. Tak tega, Sakura segera menghampiri Orochimaru.
"Brengsek kau!"
"Sa-Sakura! J-jangan ke sini!" bentak Sasuke disela-sela rintihannya.
"Mana bisa aku diam saja melihatmu?!" amuk Sakura. Ia lancarkan pukulannya pada Orochimaru, Sakura tak pintar bertarung, maka dari itu pukulan Sakura hanya mengundang tawa Orochimaru.
"Lari, bodoh!" bentak Sasuke. Namun Sakura menggelengkan kepalanya.
"TIDAK!"
"Aku sudah berjanji untuk melindungimu! Walau aku mati, kau harus selamat!" Sakura terus menggelengkan kepalanya.
"Mana bisa seperti itu! Kau … kau berjanji untuk mengatakan sesuatu kepadaku setelah semua ini! Maka dari itu kau juga harus selamat, Bodoh!" Sasuke tertegun. Benar juga, ia sudah berjanji akan mengatakan sesuatu pada Sakura setelah semua ini berakhir.
DUAAAK!
Orochimaru menendang Sakura, membuat Sasuke menggeram kesal. Ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya, bahkan bergerak pun sangat sulit untuknya. Lebih buruk lagi, kesadarannya menurun, matanya mulai terkatup perlahan-lahan.
Tidak! Ia tidak boleh pingsan! Masih ada Sakura yang harus dia selamatkan!
"Kalau kau tidak bisa dibunuh dengan tusukan pedang, maka-" Orochimaru mencekik Sakura, mengangkat gadis itu ke atas. "-ini adalah cara yang tepat."
"A-akh!" Sakura meronta-ronta. Orochimaru mencekiknya dengan keras, membuatnya kesulitan untuk bernafas. "U-ukhh-uhuk-"
Sasuke melihat Sakura dengan pandangan sayu. Apa … yang harus ia lakukan sekarang? Ia tak mempunyai tenaga bahkan hanya untuk mempertahankan kesadarannya.
Mata Sasuke mulai menutup, hal terakhir yang ia lihat adalah Sakura yang meronta-ronta dicekikan Orochimaru.
Apa … yang harus ia lakukan sekarang?
Apakah … ada cara agar mereka bisa selamat?
Sasuke menatap Sakura sekali lagi dengan pandangan sayu, sebelum-
-semuanya menggelap.


The last chapter : The End.

.
Bugh!
Ino mendecih kesal saat serangannya sedari tadi tak melukai kacamata bodoh di hadapannya. Kabuto hanya tersenyum sinis, membuat Ino semakin muak melihat wajahnya.
"Hanya itu? Hanya itu yang bisa kau perbuat saat macan lemah itu tumbang?" sindir Kabuto sambil melirik Sai yang menatap sayu pada Ino.
"Jangan menghina Sai! Setidaknya Sai lebih tampan darimu!"
BUGH!
"Ukh-"
Satu tendangan berhasil Ino luncurkan dan menghantam wajah Kabuto dengan keras. Ino meringis sendiri kala mendengar bunyi hantaman itu. Aw, sepertinya sakit. Pray for Kabuto. "Hahaha! Makan itu!" Ino tertawa bangga, sedangkan Kabuto mendelik tajam.
"Sepertinya aku terlalu banyak bermain-main denganmu, Nona." Tubuh Kabuto perlahan berubah kembali menjadi ular, membuat Ino memundurkan langkahnya. "Ayo, sekarang lawan aku." Siratan keraguan terlihat jelas di wajah Ino. Oh, sepertinya dia telah membangunkan seorang hunter kejam bodyguard Orochimaru tersebut.
Ekor panjang Kabuto mulai mengincar Ino. Ino menghindar dengan gesit, namun ekor Kabuto memburu Ino dengan cepat, sehingga ekor tersebut melilit kaki Ino, membuat Ino tersandung dan terjatuh. "A-akh!"
Gadis bermanik aquamarine tersebut refleks memegang hidungnya yang lebih dulu terjatuh di tanah. Sakit. Tentu saja. "Ino! Di belakangmu!" Mata Ino membulat dan segera menghindar kala mendengar teriakan Sai. Namun terlambat, ekor Kabuto yang tergolong besar tersebut menghantam belakang Ino dengan cukup keras sehingga gadis itu terpental cukup jauh.
"Ino-! Ukh!"Sai ingin bangkit, tapi racun sialan milik Kabuto belum juga menghilang. Pemuda itu dapat melihat Ino bangkit secara perlahan dengan mata yang masih menajam. Sepertinya pertarungan gadis itu belum usai. Semangat juang masih berkobar di mata aquamarine-nya. Ia mendelik tajam pada Kabuto, Kabuto nampak cukup terkejut dengan kegigihan Ino.
"Heh, kau menarik …"
.
Trang!
Kuku dan pedang tersebut kembali beradu. Suasana yang tercetak sungguh menegangkan bagi Hinata. Pergerakan kedua pemuda yang sedang bertarung di depannya sungguh cepat, membuatnya tak dapat berkutik. Ia hanya dapat menghindar saat Neji hendak menerjangnya. Walau hanya dapat melakukan hal demikian, tapi Naruto sungguh bersyukur untuk itu. Itu artinya dia hanya harus fokus melawan Neji, karena Hinata telah pandai untuk melindungi dirinya sendiri.
"N-Neji -nii-san … kumohon, berhenti!"
"Kau cerewet!"
SRASSHH!
Pedang tersebut menebas angin sebab Hinata lebih dahulu menghindar. "Seharusnya aku membunuhmu lebih dulu, Hinata." Neji mendelik tajam. "Kau hanya seonggok sampah yang tidak berguna, aku berdosa jika membiarkanmu hidup."
"Siapa yang kau panggil seonggok sampah, hah?!"
CRAASHH!
Kuku tajam Naruto mengenai lengan Neji, membuat pemuda berambut panjang tersebut meringis kesakitan dan perlahan mundur ke belakang.
"N-Naruto-kun! Kumohon jangan menyakitinya!" Hinata tak dapat menahan tangisnya. Ini pertarungan antara dua orang yang dia sayang. Ia tidak ingin seperti ini. Ia tidak ingin kekerasan!
"Kau lemah!" Tanpa dapat dihindari, Neji mengayunkan pedangnya pada Hinata dan menggores lengan gadis itu. Naruto menggeram marah. Perlakuan Neji yang sungguh tega terhadap Hinata tidak dapat ditolerir lagi. Ia harus memakai kekerasan. Neji tidak akan pernah sadar hanya dengan kata-kata.
"Hinata, kau tidak apa-apa?" ucap Naruto khawatir. Hinata tersenyum dan menggeleng pelan, walau sebutir keringat menetes dari pelipisnya. Kini pemuda dengan rambut pirang tersebut menatap Neji dengan tatapan tajam. "Gomen, Hinata. Sepertinya aku tidak bisa menahan diri lagi." Mata Hinata membulat.
"N-Naruto -kun! Jangan-"
"-kau lihat sendiri 'kan? Berapa ratus katapun kau berucap padanya, dia tidak akan mendengarmu. Hatinya dipenuhi oleh kebencian." Hinata memegang tangan Naruto, mencegahnya agar tak bertarung lagi.
"Kumohon, biar aku sendiri yang menyelesaikannya …" pinta Hinata.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu terluka!" gertak Naruto pada Hinata, namun gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak usah lagi ikut campur dalam permasalahan ini, Naruto-kun. Setidaknya, aku bersyukur pernah bertemu dengan pemuda sepertimu." Naruto menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit dideskripsikan, ia terlalu terkejut dengan ekspresi Hinata saat ini, ekspresi yang seakan-akan mengatakan bahwa ia akan mati dalam pertarungan ini. "Kau selamatkan ayah Sakura-chan, dan lari dari sini. Aku sendiri yang akan menghalangi Neji -nii-san."
"Hinata-"
"Kumohon! Naruto -kun! Kalau tidak seperti ini, aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu …" Hinata tersenyum lembut. "Selamat ti-"
Plak!
Omongan Hinata terhenti saat dirasakannya tamparan Naruto. Ia hanya dapat melihat tatapan Naruto yang tadinya lembut berubah menjadi tatapan tajam.
"Jangan bercanda!" bentak Naruto pada gadis itu. "Kita sudah sampai sejauh ini! Aku di sini untuk melindungimu, bodoh!"
"T-tapi aku tidak mau kau terluka! Kau seharusnya tidak terluka karena aku!"
"Dan aku tidak mau dilindungi olehmu! Aku yang akan melindungimu! Kalau kau berkata seperti itu, lalu apa gunanya aku sebagai pacarmu?" Naruto menyentuh pipi Hinata. "Kita akan berjuang bersama, oke?"
.
"U-ukh … Sas-uhuk!"
"Khukhukhu … bagaimana, Uchiha Sasuke? Ingin melihat temanmu mati di hadapanmu?"
"S-Saku …" Sasuke berlirih dengan sisa tenaga yang ia punya. Sakit dirasakan di sekujur tubuhnya sehingga ia tak sanggup untuk bergerak sedikit pun. Ia hanya dapat menatap nanar Sakura yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sakura, kenapa kau menangis, bodoh?
Ia utarakan kata-kata tersebut melalui pandangan matanya. Ia tahu Sakura menangis karena dirinya yang terluka. Ia tahu sifat gadis itu. Tapi, apa yang bisa dia lakukan sekarang? Menolong Sakura? Bahkan berdiri saja dia tidak sanggup. Kenapa sakit di sekujur tubuhnya itu sungguh menyiksa?
Aku pasti akan melindungimu.
Sasuke tersentak. Ya, dia pernah mengucapkan kata itu pada Sakura. Dia pernah berkata dengan yakin akan melindungi gadis itu apapun yang terjadi. Dia tidak seharusnya terbaring tak berdaya seperti ini. Keselamatan Sakura, adalah tanggung jawabnya.
"Uchiha Sasuke. Jadilah bawahanku." Orochimaru tersenyum licik. "Kalau kau menolak, maka akan kubunuh gadis ini." Mata Orochimaru ia gulirkan pada Sakura, lalu ia gulirkan lagi pada Sasuke. "Jawablah dalam lima detik."
Sasuke tersenyum sinis. Ia kerahkan seluruh tenaga yang ia punya untuk bangkit kembali, bersamaan dengan itu Orochimaru mulai menghitung. "Satu …"
"Ular yang tenggelam dalam keserakahan …" Sasuke masih tersenyum sinis, pemuda itu sukses duduk dan mengambil ancang-ancang untuk berdiri walau dengan susah payah.
"Dua …"
"Kegelapan telah merenggut dirimu …" Kini Sasuke setengah berdiri, Orochimaru memandang tajam ke arah pemuda itu.
"Tiga …" Sakura mulai terbatuk. Ia sangat susah untuk menarik napasnya kesadaran gadis itu mulai hilang.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu, heh?" Aura hitam menguar dari tubuh Sasuke. Mata pemuda itu perlahan berubah menjadi merah, semerah darah.
"Empat …" Sakura melirik Sasuke dengan tatapan kaget. Gigi runcing mulai keluar dari mulut Sasuke.
"Ular yang malang …" Dua buah sayap tumbuh di punggung Sasuke. "Makhluk menyedihkan sepertimu, harus dimusnahkan!"
"Lima-"
CRAAASSHH!
Orochimaru menghindar dengan gesit, sehingga yang terluka hanya punggungnya. Di cengkraman pria itu masih ada Sakura, walau cekikannya sudah sedikit renggang akibat serangan Sasuke. "Apa-apaan itu …" gumam pria tersebut. Memangnya apa yang bisa menggoresnya seperti itu? Sasuke tak punya pedang, Sasuke tak punya apa-apa yang membuat punggungnya tergores.
"Meleset, hm?" Sasuke tersenyum sinis. Menyeramkan. Uchiha Sasuke berubah menjadi makhluk yang menyeramkan. "Kali ini, aku pasti akan memotong lehermu."
CRAAASSHH!
Cepat. Orochimaru tak dapat melihat pergerakan pemuda itu. Ia melesat seperti petir. Darah mengalir dari bagian pipi Orochimaru.
"Buang wanita yang ada di cengkramanmu itu! Dia hanya mengganggu kesenanganku!"
Sakura terbelalak. Bukan. Pemuda itu bukan Uchiha Sasuke yang ia kenal. Kenapa, Sasuke …
"Kalau kau tidak mau membuangnya, apa boleh buat. Jangan salahkan aku jika aku melukai wanita itu." Orochimaru menatap Sasuke dengan bingung. Pemuda itu ingin melukai temannya sendiri?
CRASSSHH!
"Kyaaa!" Sakura memekik saat Sasuke kembali menerjang Orochimaru. Kalo ini lengannya, membuat cengkraman Orochimaru pada Sakura sukses lepas, membuat Sakura jatuh ke lantai.
CRASHH! CRASSHH! CRASSHH!
"Aaarrgghh!" Orochimaru mengerang kesakitan. Uchiha Sasuke yang sekarang benar-benar monster. Sakura hanya dapat terbelalak saat darah bercipratan ke mana-mana. Sasuke … dia …
"H-hentikan!" Gadis itu berteriak kencang. Sejahat apapun Orochimaru, tapi dia tidak ingin seperti ini. Dia tidak ingin Sasuke membunuh Orochimaru dengan cara sekeji ini. Dia tidak ingin Sasuke menodai tangannya!
Gerakan Sasuke terhenti. Mata semerah darah tersebut bergulir ke arah Sakura. "Berisik," ucapnya.
"S-Sasuke … kau tidak seharusnya seperti ini! Kembalilah ke Sasuke yang dulu!" Mata Sakura berkaca-kaca. Ia tidak ingin orang yang dicintainya menjadi seperti ini …
"H-hahahaha! Yang dulu? Heh? Uchiha Sasuke yang dulu hanya orang yang tidak berguna!" Sasuke kini mendekat ke arah Sakura dengan mata yang menajam. "Sepertinya, kau harus kubungkam."
"U-ugh-!" Sakura kembali merasakan cekikan pada lehernya, kali ini oleh Sasuke. Dia hanya dapat menatap Sasuke dengan pandangan tidak percaya, dan Sasuke manatap gadis itu dengan senyum sinisnya.
.
Kabuto tersentak. Firasatnya buruk. Ia yakin ada hal buruk yang terjadi pada tuannya.
"Jangan alihkan perhatianmu!"
Bugh!
Tendangan Ino sukses mengenai wajah Kabuto. Kabuto meringis pelan. Gadis di depannya itu monster, lebih tepatnya disebut sapi ganas. Dia manusia, tapi kekuatannya benar-benar luar biasa.
"Hehe … kau memang gadisku, Ino." Sai terkekeh. Pemuda itu bangun dengan perlahan.
"Sai!" Ino berucap gembira. Akhirnya racun sialan Kabuto sudah menghilang, membuat Sai leluasa untuk bergerak dan tidak merasa kesakitan lagi.
"Cih!" Kabuto mendecih. Kebangkitan Sai membuat semuanya menjadi lebih merepotkan.
"Sebenarnya racunnya sudah hilang daritadi, tapi aku ingin melihat seorang gadis cantik menari-nari." Sai tersenyum palsu, Ino memandang pemuda itu sweatdrop. Sai sialan.
"Kita selesaikan ini, Ino." Senyum tadi luntur, berubah menjadi sorot mata tajam.
"Yeah!"
Sai menerjang Kabuto, Kabuto menghindar, namun dengan cepat Sai kembali memutar tubuhnya dan melancarkan tinjuannya pada Kabuto. Pemuda itu terlempar beberapa meter ke belakang, namun di belakang pemuda itu sudah ada Ino yang tersenyum angkuh seraya memamerkan kaki-kaki jenjangnya, menendang kembali Kabuto dengan kaki jenjang tersebut.
"U-ukh!"
"Masih belum." Sai kembali menerjang, memukul pemuda itu berkali-kali. Darah sudah mengalir dari sudut bibir Kabuto. Diterjangnya perut, wajah, dada dan bagian tubuh lainnya pada Kabuto dengan cepat.
"E-err … apakah … dari dulu Sai sekuat ini?" Ino bergumam saat menyaksikan adegan tersebut. "Ataukah sebenarnya racun Kabuto mengandung penambah stamina?" Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
"Cih!" Kabuto terengah. Dia telah meremehkan Sai. Dia tidak tahu ternyata pemuda tersebut sekuat ini. Gerakannya yang cepat membuat Kabuto sulit untuk menghindar. "Orochimaru-sama …"
"Sasuke yang sangat marah menyeramkan lho …" Sai memasang senyum palsunya. "Pray for your Orochimaru-sama."
"B-brengsek-!" Kabuto mengeluarkan kapsul-kapsul kecil dari tasnya. "Sampai jumpa, pasangan bodoh," ucap pemuda itu seraya melempar kapsul tersebut.
"H-hah?! H-hei! Mau ke mana kau?!" Ino hendak mengejarnya, tapi Sai langsung mencegah gadis itu.
"Ino! Awas!"
DUAAARR! DUAAARR!
Ino hampir saja tertimpa langit-langit terowongan kalau Sai tidak cepat melindunginya. Kapsul tadi ternyata bom, bom dengan ledakan yang cukup besar. "Cih! Dasar pengecut!" umpat Ino kesal.
"Sudahlah. Dia sudah terlanjur lari. Kalau tidak salah, Naruto dan Hinata ada di sebelah sana 'kan? Kita ke sana, membantu mereka dan segera menyusul Sasuke dan Sakura." Sai tampak khawatir, membuat Ino kebingungan. "Aku khawatir pada Sakura …"
"Hei! Jangan meremehkan Sakura yah!" Ino menggembungkan pipinya. "Dia bukan wanita yang lemah. Lagipula, ada Sasuke yang akan melindunginya!"
"Justru itu yang aku takutkan." Sai menghembuskan napasnya. "Jika Sasuke marah, dia akan kehilangan kendali. Dia tidak dapat mengontrol emosinya, sehingga dia lupa siapa kawan dan siapa lawan."
"Hah?!" Ino tercenggang kaget. "Berarti, maksudmu … kalau Sasuke berubah sekarang, dia tidak bisa membedakan mana Sakura dan mana Orochimaru?! Hah?! Sialan si Sasuke! Bisa-bisanya dia tidak bisa membedakan mana seorang gadis cantik mana pria tua bangka! Bisa-bisanya dia menyamakan Sakura dan ular itu! Kalau aku jadi Sakura, aku akan memukul Sasuke bertubi-tubi dengan ganas sampai Sasuke berlutut minta maaf kepadaku!"
"Pfftt-"
"Hei! Kenapa kau tertawa?!" Sai memasang senyum palsunya dan menggeleng pelan.
"Tidak ada apa-apa, ayo kita pergi."
.
Trang! Crash!
"Ukh!"
Neji mundur ke belakang, napasnya terengah-engah. Ia tidak tahu bahwa akan sesulit ini untuk melawan Naruto dan Hinata. Tadi cuma Naruto yang menyerangnya, namun sekarang Hinata juga ikut membantu Naruto, membuat gerakan Neji menjadi terbatas. Meskipun Hinata tak pernah menyerang bagian vitalnya, namun serangan gadis itu cukup untuk membuatnya mengerang kesakitan.
"Kita akhiri ini, Neji." Neji mendecih. Naruto telah mengambil ancang-ancang untuk memukulnya lagi, Neji pun demikian. Namun kecepatan Neji kalah telak, sehingga pukulan Naruto lah yang mengnai wajahnya sehingga membuat pemuda itu terpental beberapa meter. Naruto kembali mendekatinya, kali ini dengan kuku-kuku yang lebih menajam. "Selamat ting-"
"-tunggu!" Hampir saja kuku Naruto mengenai permukaan kulit Neji kalau saja Hinata tidak mencegahnya. "J-jangan membunuhnya … kumohon, Naruto-kun …"
Naruto menghela napasnya. Sebenci apapun ia pada Neji, namun ia tidak tega menolak permintaan Hinata. Ia mundur perlahan, menjauhi Neji yang terbaring tak berdaya.
"Kenapa-" Neji memandang tajam Hinata. "Kenapa kau mencegahnya, bodoh?!"
Hinata menggigit bibir bawahnya. "Aku … tidak ingin melihat Naruto -kun membunuhmu, aku tidak ingin kau mati …"
"Sifatmu itulah yang membuatmu lemah!" Neji mengepalkan tangannya. "Kau membenciku 'kan? Aku berniat untuk membunuhmu, bodoh!"
Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Aku tidak pernah membencimu! Bagaimana pun kau … sebenci apapun kau padaku … kau tetap …" Hinata mendongakkan kepalanya, menatap mata Neji dalam-dalam. "…kau tetap kakak yang aku sayangi. Kau tetap kakakku yang berharga!"
Neji terdiam, pemuda itu masih tersungkur tak berdaya. Ia mengangkat tangannya, menutupi kedua matanya dengan lengan. "Kau bodoh …" lirihnya. "Tapi … entah mengapa, ucapan bodohmu membuatku senang …" Hinata dan Naruto dapat melihat air mata yang menetes dari pelipis Neji. Naruto dan Hinata tersenyum. Hinata tahu bahwa kakaknya sebenarnya tidak bermaksud jahat. Ia tahu bahwa Neji sebenarnya hanya haus akan kasih sayang. Ia tahu Neji hanya sakit hati karena selalu dikucilkan oleh keluarganya. Ia tahu … bahwa sebenarnya Neji adalah pemuda yang baik. Walau Neji ternyata membencinya sejak dulu, namun Neji lah yang selalu melindunginya jika ada yang mengincar Hinata. Hal itu lah yang membuat Hinata sayang padanya, walau ia dari dulu tahu bahwa Neji menyimpan rasa iri pada dirinya.
"Kunci borgol pria itu ada di lemari sebelah kanan. Kalian pergilah dari tempat ini. Aku yakin bahwa terowongan ini akan runtuh." Neji berucap. Hinata dan Naruto mengangguk dan segera mencari kunci borgol ayah Sakura. Mereka membuka kunci tersebut dan membantu ayah Sakura untuk duduk.
"Apakah dia pingsan, Neji?" tanya Naruto saat ayah Sakura tak kunjung membuka matanya.
"Hn. Periksa sakunya, ada beberapa butir obat di dalamnya, dia akan segera terbangun saat meminum obat itu." Naruto langsung mengecek saku ayah Sakura dan menemukan obat di sana. Pemuda itu segera memasukkannya ke dalam mulut ayah Sakura, membuat ayah Sakura perlahan-lahan membuka matanya.
"Naruto! Hinata!" Sai dan Ino memanggil dari jauh dan menghampiri mereka. Sai dan Ino tersenyum saat melihat mereka beempat. Sepertinya Naruto dan Hinata juga sudah selesai.
"Ah … kalian. Bagaimana dengan Kabuto?"
"Dia lari." Ino mendengus. "Hei Neji. Untuk sampai ke tempat Sasuke dan Sakura, apakah kita harus memutar?"
"Tidak. Ada lubang yang tertutup di terowongan sana, kita bisa melewatinya. Aku yakin Kabuto juga menggunakan jalan yang sama."
"Tu-tunggu! Aku tidak kenal siapa kalian, di mana aku, kalian mau apakan aku, dan … dan …" Kelima remaja tersebut saling berpandangan, kemudian bersamaan terkikik geli.
"Hei Paman, kau mau menemui putri semata wayangmu?" Mata ayah Sakura terbelalak kaget.
"P-putriku?" Naruto mengangguk semangat.
"Ya, putrimu. Namanya Haruno Sakura. Sekarang dia di sini untuk menyelamatkanmu. Kau seharusnya bangga dengannya."
"Sudahlah. Sebaiknya kita bergegas ke tempat Sasuke, aku yakin Sasuke sudah berubah sekarang." Sai menepuk pundak ayah Sakura. "Ikuti kami, Paman."
.
"Orochimaru-sama!" Kabuto menghampiri Orochimaru dengan pandangan khawatir, hal itu membuat perhatian Sasuke teralihkan sejenak.
"Siapa kau?" tanya Sasuke tajam pada Kabuto. "Ahh … kau anak buahnya 'kan? Yang menembakku waktu itu?" Sasuke menampilkan seringainya. "Matilah."
DUAAAAK! BUGGHH!
Kabuto mengerang kesakitan. Sasuke menyeringai. "Kau membuatku sakit, maka kau harus mendapatkan kesakitan berkali-kali lipat."
"H-h-hen … ti … kan …"
Sasuke menggulirkan matanya pada Sakura. "Huh. Kau benar-benar pengganggu yah." Sasuke menghembuskan napasnya. "Kalau begitu, sudah kuputuskan. Kau yang akan duluan kubunuh."
"Ukh-!"
"Sasuke! Hentikan!" Sasuke mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Di sana sudah ada Neji, Sai, Ino, Hinata, ayah Sakura dan Naruto yang menatap Sasuke dengan pandangan tajam.
"Semakin banyak pengganggu." Sasuke mendelik. "Kalau kalian mengangguku, maka wanita ini dan kau sendiri akan mendapat akibatnya."
"Kubilang hentikan, Teme!" Naruto hendak menerjang Sasuke. Sasuke tersenyum miring dan mengarahkan telapak tangannya pada Naruto, hal itu membuat sebuah kekuatan berupa angin kencang membuat Naruto terpental ke belakang.
"Sasuke-!" Kali ini Sai yang maju, namun ia bernasib sama dengan Naruto. Untung saja di belakangnya ada Ino yang menahannya, namun akibatnya Ino juga ikut terpental.
"Sasuke! Dia, Sakura, dia temanmu! Dia orang yang berharga bagimu! Dia orang yang ingin kau lindungi!" Ino berteriak histeris. "Dasar ayam potong bodoh! Sadarlah, bodoh!"
Sasuke mengernyitkan alisnya. "Orang yang berharga? Dia? Huh! Jangan membuatku tertawa!"
"Sasuke! Dia Sakura! Haruno Sakura!" Naruto menggeretakkan giginya. "Persetan dengan sifat tsundere-mu itu, tapi aku yakin kau menyayanginya!"
"Kalian semua, lebih baik diam." Pandangan mata Sasuke menajam.
"S-Sasuke …" Sakura berlirih.
Sasuke!
Sasuke!
Sasuke …
Sasuke memegang kepalanya. Bayangan berbagai ekspresi Sakura terlintas di pikirannya. Sakura yang tertawa, Sakura yang menatapnya penuh harap, Sakura yang tersenyum lembut padanya, wajah Sakura yang cemas, dan … saat di mana ia mengusap ujung kepala Sakura.

Aku akan melindungimu …
"AAARRRGGGHH!" Sasuke memegang kepalanya yang terasa sakit, membuat Sakura terjatuh ke lantai. Ino yang melihatnya segera menghampiri dan memeluk Sakura. Tubuh Sakura sangat lemas, ia hanya dapat menatap lemah Sasuke yang mengerang kesakitan seraya memegang kepalanya.
"AAARRGGHH! AARRGGHHH!"
"Teme-!" Naruto hendak menghampiri Sasuke, namun tangannya segera ditahan oleh Sai.
"Naruto, kalau Sasuke sudah seperti ini. Lebih baik jangan mendekatinya."
"S-Sasuke!" Sakura yang tidak tahan melihat Sasuke terus mengerang seperti itu segera melepaskan pelukan Ino dan berlari ke arah Sasuke.
"Sakura, jangan!" Naruto dan Sai berteriak untuk menghentikannya.
Tubuh Sakura terpental ke belakang, angin tiba-tiba menerjangnya. "Sasuke!" Namun wanita itu berdiri lagi, berlari lagi ke arah Sasuke, walau akhirnya wanita tersebut terpental lagi beberapa meter ke belakang.
"Sakura, hentikan!" Ino memekik saat tubuh Sakura kembali terpental.
"Meski sadar pun, hati Sasuke itu keras." Sakura tetap memasang senyumnya."Walau sekeras batu pun, aku tetap akan berusaha untuk melunakkannya …" Sakura kembali menghampiri Sasuke. Kali ini angin yang menerjangnya ia lawan dengan sekuat tenaga, mempertahankan posisinya dan terus maju mendekati Sasuke.

"Sasuke … sadarlah …" Tangan wanita itu ia ulurkan pada pipi Sasuke. Sentuhan tangan Sakura membuat Sasuke berhenti mengerang, suasana kembali normal, angin aneh tadi juga hilang entah ke mana. Sakura tersenyum lembut, walau sebenarnya wanita tersebut sudah sangat ingin menitikkan air matanya. Ia memeluk Sasuke dengan erat, menenggelamkan wajah Sasuke pada dadanya.
Sasuke kembali tenang. Tubuhnya juga perlahan kembali ke wujud normal, membuat Sai, Ino, Naruto, Hinata, Neji serta ayah Sakura tersenyum melihatnya.
"Kepalamu sakit?" tanya Sakura dengan lembut, yang dibalas anggukan lemah dari Sasuke.
"Maaf …" Satu kata dari Sasuke, mengakhiri segalanya.
.
"Kerja bagus." Pein menepuk semua kepala para remaja tersebut, tak terkecuali Neji. "Orochimaru dan Kabuto akan kami tahan. Neji, kau juga seharusnya ditahan untuk beberapa waktu."
"Aku tidak keberatan." Pein mengangguk seraya tersenyum.
"Emm … hai Ayah." Sakura berucap canggung pada pria paruh baya di depannya. Ayah Sakura tersenyum lembut dan mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Aku sangat senang melihatmu tumbuh menjadi seperti ini … anakku …" Sakura tak dapat lagi membendung air matanya. Ia segera berhambur ke pelukan pria tersebut, memeluknya dengan erat. Akhirnya, semuanya telah selesai.
"Hei, adik bodoh. Kau apakan Sakura, hah?" Sasuke mendengus. Ia sudah merenungkan kesalahannya saat ini, dia tidak perlu pertanyaan seperti itu.
"Setidaknya aku melindunginya dari Orochimaru." Sasuke membuang wajahnya. "Lagipula, aku sudah meminta maaf padanya."
"Heee~ meminta maaf dan memeluknya, hmm?" Deidara ikut menimpali. "Kau tidak sadar bahwa tadi kepalamu ditenggelamkan di dadanya yah? Atau kau terlalu menikmatinya?"
"Kau-!" Sasuke men-deathglare Deidara.
"Hei, hei, aku hanya bercanda." Deidara tersenyum jahil. "Jangan pasang wajah menyeramkan, Sasuke."
"Sasuke!" Sakura memanggil Sasuke dari jauh. "Semuanya akan membakar api unggun! Bantu aku menemukan ranting!" Sasuke menghela napas dan segera menghampiri Sakura, namun ia sempat mendengar godaan Deidara yang mengatakan,
"Yuhuu~ Sasuke, buktikan bahwa kau lelaki jantan!"
Uchiha Sasuke hanya dapat terdiam seraya mendengus kesal.
.
"Aaaahh! Aku pikir sudah banyak. Ayo kembali!" Sakura tersenyum puas saat melihat hasil kumpulannya dan Sasuke. Sasuke hanya terdiam, membiarkan Sakura memungut dan mengangkat sebagian ranting-ranting tersebut.
"Sakura …" Langkah Sakura terhenti. Ia membalikkan badannya ke arah Sasuke dan tersenyum. "Aku benar-benar meminta maaf …"
Sakura tersenyum maklum. "Hei, sudahlah! Yang penting, semuanya telah selesai." Sasuke hanya menunduk, membuat Sakura menatapnya dengan heran.
Gyuut!
Ranting yang ada di dekapan Sakura terjatuh saat Sasuke tiba-tiba memeluknya. Hangat. Tubuh Sasuke dan pelukan ini terasa sangat hangat. "S-Sasuke …"
Sasuke memeluk wanita itu kurang lebih tiga menit, sampai ia melepasnya seraya berucap, "ayo kembali."
Sakura tak bergeming. Badannya terlalu kaku untuk bergerak. "Mmm … Sasuke, kau ingat janji kita saat di festival?" Tak ada jawaban dari Sasuke. "Aku bilang … aku akan menyatakan cintaku sekali lagi padamu, dan … dan … kau harus menjawabnya, baik berupa penolakan atau penerimaan." Sasuke tetap terdiam, membuat Sakura kembali melanjutkan kalimatnya.
Sakura tertunduk sejenak, namun dengan tegas ia kembali mendongakkan kepalanya dan menatap dalam-dalam onyx Sasuke. "Aku mencintaimu, Uchiha Sasuke. Aku sangat mencintaimu." Sasuke masih menatap Sakura dalam diam. "Mencintaimu membuatku bodoh dan nekat. Tapi … aku senang dengan perasaanku. Aku senang saat mengetahui pemuda yang kucintai adalah kau."
"Saat pertama bertemu," Sakura memutuskan kalimatnya ketika mendengar Sasuke bersuara. "Ada aura lain yang menguar dari dalam dirimu."

Sakura bingung maksud Sasuke, namun gadis itu hanya diam. "Aura seorang gadis yang belum pernah aku lihat, aura yang membuatku tertarik, aura yang membuatku sangat ingin melindunginya." Sasuke tersenyum tipis. "Hal itu membuatku ingin memilikimu."
"T-tapi kenapa-"
"Kenapa aku tidak membalas perasaanmu waktu di dermaga? Saat itu, hatiku sedang kacau. Kacau karena aku menemukan kakak yang aku cintai tidak sama seperti sebelumnya." Sakura termangu. "Kenapa aku tidak membalas perasaanmu ketika permainan konyol truth or dare? Huh, bukan tipeku untuk mengatakan hal memalukan seperti ini di depan banyak orang." Mata Sakura telah berkaca-kaca. "Kenapa aku tidak membalas perasaanmu ketika di festival? Karena kau bilang, kau akan mengatakannya lagi. Dan aku ingin mendengar hal itu darimu sekali lagi, setelah kemenangan."
"Sasu …"
"Maafkan aku karena telah membuat perasaanmu tergantung seperti ini." Sasuke kembali menampilkan senyum tipisnya. "Aku tidak akan mati-matian melindungi seseorang seperti ini." Sasuke menempelkan dahinya ke dahi Sakura dan menatap emerald gadis itu dalam-dalam.
"Alasan terkuat untuk melindungimu adalah-"Batang hidung mereka saling menempel. Sakura dapat merasakan hembusan napas Sasuke. "-karena aku mencintaimu."
Bibir mereka menyatu, bersamaan dengan air mata kebahagiaan Sakura yang terjatuh. Gadis itu menutup matanya, menikmati sensasi lembut dan kehangatan yang mengalir di setiap pembuluh darahnya. Ia mulai mengenang semua peristiwa yang terjadi padanya. Mulai saat ia begitu takut karena sendirian sampai tengah malam di sekolahnya, saat dia bertemu Naruto, Sai dan Sasuke, saat dia tergila-gila pada Sasuke, saat Sasuke melindunginya dari tembakan, saat ia mulai berkenalan dengan para monster lainnya, saat Ino juga bergabung dengannya, saat mengetahui fakta bahwa ayahnya masih hidup, awal petualangan mereka, awal mereka berlatih dengan akatsuki, saat di festival sekolah, persembahan kembang api dari Akatsuki, dan terakhir … saat perang dengan Orochimaru.

Begitu banyak yang mereka lalui bersama. Begitu banyak canda tawa serta suka dan duka di antara mereka semua, dan akhirnya mereka mencapai titik akhir. Titik yang membawa mereka menuju kebahagiaan.
Semua kebahagiaan mereka, berawal dari sekolah malam.

.

.

.

~~The End~~








No comments:

Post a Comment

novel

Cerita ini merupakan akhir dari peradaban manusia.    Manusia yang serakah, manusia yang ingin menang sendiri. Manusia suka mengarang ceri...