Cerita ini merupakan akhir dari peradaban manusia. Manusia yang serakah, manusia yang ingin
menang sendiri. Manusia suka mengarang cerita supaya terlihat lebih hebat atau
bagai superhero. Segala cara dapat dilakukan oleh Manusia, baik yang melampaui
akal maupun yang biasa – biasa saja. Manusia
acap kali menjatuhkan sesamanya supaya mereka terlihat lebih baik dari yang
lain. Aku tidak suka dengan tingkah manusia. Aku bukanlah manusia, lebih
tepatnya tidak sepenuhnya. Mungkin, di zaman dulu ada cerita tentang penyihir,
tetapi sesungguhnya penyihir tidak hanya ada di zaman dulu. Karena Akulah
buktinya. Tetapi, ada perbedaan antara penyihir zaman dulu dengan sekarang.
Penyihir selalu di ibaratkan dengan sesuatu yang jahat dan memiliki kekuatan,
sedangkan manusia makhluk biasa yang tak punya kekuatan. Aku rasa para penulis
kisah keliru, karena sebenarnya manusia dapat menjadi lebih jahat dari segala
makhluk yang ada di dunia ini.
"Hei Flo, sedang apa disana?" ucap seseorang.
"Aku sedang membaca buku cerita milikmu. Ceritanya
menarik" jawab seseorang yang tadi dipanggil Flo sambil menutup bukunya.
"Buku cerita apa? Sepertinya buku yang aku miliki
hanya cerita picisan dongeng. Hahaha." kata seseorang tadi sambil tertawa.
"Hei, tapi kurasa ini terlalu serius untuk ukuran
dongeng. Yasudahlah kita lanjutkan permainan kita saja.” kemudian mereka
melanjutkan permainan teka – teki silang mereka.
Flo dan Nara sebenarnya baru kenal 1 tahun, duduk di
bangku Sekolah Menengah Atas tingkat akhir di Cagim Senior High School. Flo dan Nara memulai pertemanannya ketika Nara
tidak sengaja melihat seseorang gadis seumurannya yang berambut berambut pirang
terlihat kebingungan seperti sedang mencari sesuatu di sekitar jalan dekat
sekolah Nara, melihat hal tersebut Nara berinisiatif untuk membantu. Dari
sanalah perkenalan mereka terjadi. Setelah lelah mencari Flo mengatakan untuk
menghentikan pencarian mereka saja. Flo menawarkan traktiran makan sore kepada
Nara karena telah membantunya yang tentu saja diterima oleh Nara. Mengingat hal
tersebut membuat Nara tersenyum kecil, bagaimana tidak, hanya karena pertemuan
tidak sengaja mereka dapat menjadi teman yang sangat dekat bagai sahabat dari
lahir. Flo merupakan gadis berambut pirang dan bermata biru cerah yang ceria
dan tidak ketinggalan dengan parasnya yang dapat membuat orang terpana,
sedangkan Nara merupakan gadis berambut hitam dan bermata coklat dengan
parasnya yang manis Nara sedikit memiliki sifat keras kepala dan tidak suka
bertele-tele. Flo dan Nara memiliki selera humor yang baik, terutama ketika mereka
sedang bersama. Dimana ada Flo, pasti ada Nara disana.
“Tumben sekali kau mau membaca buku di rumahku, Flo.”
tanya Nara.
“Aku hanya sedang bosan saja. Lagipula tadi kau lama
sekali ke kamar mandinya.” bela Flo.
“Ehehehe, maaf aku sakit perut.”
“Hm baiklah. Oh iya tidak terasa malam akan tiba, aku
pulang dulu ya Nat. Sampai jumpa besok.” ucap Flo sembari membereskan barang –
barangnya, kemudian bergegas untuk pulang ke rumah.
“Oke, hati – hati” jawab Nara sambil melambaikan tangan.
Flo membalas Nara dengan senyum riang.
Selama perjalanan pulang ke rumah, Flo selalu memikirkan
sesuatu hal yang mengganjal. Kenapa dia bisa berteman dengan mudahnya bersama
Nara, kenapa mereka seakan - akan memang ditakdirkan untuk berteman.
Menjadi sahabat baik dan menghabiskan waktu bersama bukan
berarti mereka benar – benar saling mengetahui rahasia masing – masing. Terkadang
pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
“Nara! Nara! Kau harus tau apa yang kutemukan tadi malam!”
ucap Flo, teman sekelas Nara dengan nada heboh sambil mengguncang bahu Nara
yang sedang termenung di bangku kelasnya. Flo merupakan teman sebangku Nara di
sekolah. “Flo, bisakah lebih santai?” balas Nara.
Bagaimana tidak, dia sedang terbuai dengan imajinasinya
dan tiba-tiba Flo datang dan menghancurkan semua bayangannya.
“Ehehehe, aku sedang bersemangat!” cengir Flo.
“Memang kapan kau tidak bersemangat?” timpal Nara.
“Baiklah kita langsung saja. Kau tau? Aku menemukan
sesuatu yang benar – benar menakjubkan!” ujar Flo dengan mata yang berbinar –
binar.
“Langsung ke intinya saja.” balas Nara dengan nada bosan.
“Huh, seperti biasa. Tidak suka bertele – tele. Lihat
ini!”
Flo menyodorkan sebuah foto yang sebenarnya terlihat
normal, berisi murid – murid yang berfoto di depan sebuah gedung sekolah. Tidak
ada yang aneh disana, hanya terlihat kumpulan murid yang berfoto bersama dengan
riang.
“...jadi apa maksudnya ini?” tanya Nara sambil
mengernyitkan dahi. Namun, pandangan Nara sekarang berbeda dari sebelumnya,
terlihat lebih tertarik.
“Lihat baik – baik! Bukankah mereka tidak terlihat
‘biasa’?” jelas Flo. Sambil menaik-turunkan alisnya.
Kemudian Nara menajamkan penglihatannya, ternyata
terdapat hal yang mengganjal di dalam foto tersebut. Bukan karena ada
penampakan atau sesuatu hal, tetapi latar tempat foto itu diambil membuat Nara
mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa sekumpulan murid yang jelas-jelas bukan
murid sekolahnya bisa berfoto di depan sekolahnya. Terima kasih kepada tanggal
yang tertera pada foto itu. Nara juga mengingat teman-teman seangkatannya
sendiri, dan oh ya apa-apaan seragam mereka itu? Apakah mereka sedang pesta
kostum?
“Kau dapat foto ini darimana?” tanya Nara.
“Hohoho, kemarin sepulang sekolah aku sedang mengerjakan
tugas di perpustakaan. Saat sedang asyik-asyiknya mengerjakan tugas, tiba-tiba
aku mendengar suara berisik di luar. Karena penasaran, akhirnya aku memeriksa
keluar, kau tahu apa yang kutemukan?” jelas Flo dengan nada serius.
“Apa?” balas Nara.
“Tidak ada, ahahahaha.” jawab Flo sambil tertawa.
“Ya, terserah kau saja.” tukas Nara sambil memutar bola
matanya.
“Hahahaha, ayolah aku hanya bercanda. Kau harus melihat
wajah seriusmu tadi, sangat lucu!” Flo mengatakannya sambil mengontrol tawanya dan
berusaha untuk melanjutkan kembali ceritanya.
“Sudah?” balas Nara.
“Sudah. Baik aku lanjutkan. Setelah aku mengetahui aku
tidak menemukan apapun di luar, akhirnya aku memutuskan untuk mengecek koridor
sekolah lebih jauh lagi, dan... BINGO! Aku menemukan foto ini.” ucap Flo sambil
tersenyum bangga.
“Kau tidak melihat keberadaan seseorang disana?” tanya
Nara.
“Tidak.” Jawab Flo.
Setelah mendengar penjelasan Flo, Nara tenggelam dalam
pikirannya. ‘Ini aneh’ pikir Nara dalam hati.
“Boleh kupinjam fotonya?” pinta Nara.
Hari ini adalah hari Sabtu, biasa Flo dan Nara akan bermain
di hari Sabtu, di rumah Nara tentu saja. Kali ini mereka hanya membaca buku
dengan santai. Flo melihat keanehan yang dalam diri Nara, ‘seperti sedang
terlilit hutang saja’ batin Flo.
“Kau kenapa Nara?” tanya Flo.
“Hanya memikirkan sesuatu.” jawab Nara sambil menerawang
kedepan.
Flo tidak berniat mengganggu Nara kembali akhirnya
memutuskan untuk terus membaca bukunya kembali.
“Hei Flo.” panggil Nara yang duduk di lantai sambil menyandar
ke pinggir kasurnya. Nara masih memegang bukunya.
“Ya?” balas Flo yang sedang berada diatas kasur Nara.
Setedik kemudian Flo menurunkan bukunya memandang Nara dari atas kasur.
“Apakah kau percaya kalau adanya makhluk selain manusia,
hewan, dan binatang di bumi ini?” tanya Nara sambil menerawang seperti melihat
sesuatu di depannya.
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Flo
sambil mengangkat alisnya satu.
“Aku penasaran.” ujar Nara yang kemudian Nara membalik
badannya menghadap Flo yang ternyata sudah mendudukkan dirinya.
“Bagaimana jika sebenarnya makhluk-makhluk yang ada di
cerita anak-anak benar adanya.” lanjut Nara.
“Aku tidak mengerti.” jawab Flo sambil menunjukkan
ekspresi kebingungan.
“Baiklah lupakan.” ujar Nara menyerah.
Flo menaikkan alisnya dan kembali membaca buku.
Senin merupakan hari yang menyedihkan. Tidak, bukan
karena hari itu merupakan hari sial. Tetapi, banyaknya umat manusia yang tidak
menyukai hari senin membuat hari itu terlihat menyedihkan. Mungkin jika sebuah
hari memiliki perasaan, maka dia akan merasa terpuruk.
Bel masuk sekolah berbunyi, menandakan pelajaran segera
dimulai. Nara sudah berada di bangkunya sebelum bel sekolah dibunyikan. Tidak
lama kemudian terlihat Flo yang terburu-buru masuk ke dalam sekolah dan dengan
segara duduk di bangkunya, sebelah Nara.
“Oh hal..o N-N..ara.” sapa Flo dengan napas yang
terengah-engah.
“Kau bisa memulihkan napasmu dulu.” jawab Nara.
“Oh baiklah.” balas Flo kemudian menarik napas
dalam-dalam sambil menutup matanya.
“Ehehe, terima kasih Nat, sudah mengingatkanku untuk
menghirup udara yang kaya akan oksigen ini.” lanjut Flo dengan nada yang
dilebih-lebihkan dan gerakan tangan yang seolah-olah menghirup semua oksigen
sampai habis.
“Dasar.” jawab Nara sambil tertawa dan menggelengkan
kepala. Terkadang Nara merasa terhibur melihat tingkah teman sebangkunya ini.
Bel tanda pelajaran berakhir akhirnya berbunyi.
Murid-murid dengan segera berhamburan keluar kelas, hanya tersisa Nara dan Flo
di dalam kelas. Terlihat Flo yang sudah merapihkan barang-barangnya sedangkan
Nara masih berkutat pada laptopnya, sepertinya Nara sedang sibuk mengerjakan
sesuatu.
“Kau tidak pulang?” tanya Flo kepada satu-satunya orang
disebelahnya, tentu saja Nara.
“Nanti saja. Aku sedang sibuk.” jawab Nara yang sedang
berkutat dengan laptopnya sambil sesekali mengerutkan dahi, serius sekali pikir
Flo.
“Baiklah, jangan pulang terlalu malam. Aku pulang
deluan.” Ucap Flo, kemudian dia berjalan menuju pintu keluar kelas.
“Yup, sampai jumpa.” balas Nara sambil melambaikan
tangannya, namun matanya masih fokus ke layar laptopnya. Tetapi, Nara masih
merasakan bahwa Flo belum benar-benar meninggalkan kelas.
“Kenapa kau masih ada disana?” tanya Nara dengan alis
kiri yang terangkat.
“Kau harus berhati-hati pada malam hari.” jawab Flo
dengan nada serius dan wajah yang meyakinkan.
“Maksudmu?” tanya Nara, ada sedikit rasa takut dalam
dirinya ketika mendengar peringatan Flo yang terdengar meyakinkan.
“Karena ada kehidupan malam hari yang siap menerkam dan
siap menarikmu kapan saja untuk bergabung bersama mereka kedalam kegelapan.”
terang Flo masih dengan ekspresi seriusnya.
“Hei, apa-apaan ucapanmu tadi.” kata Nara, tanpa perlu
dilihat lebih dalam juga dapat terlihat jika Nara sedang ketakutan.
“Pfft, mana yang katanya ingin mencari tau keberadaan
makhluk lain dan wajahmu sangat lucu kau tau? Astaga aku hanya bercanda.” ujar
Flo sambil tertawa.
“Ternyata kau sangat menyebalkan ketika sedang tertawa.”
jawab Nara yang kemudian membuang muka dan kembali berkutat dengan laptopnya.
“Baiklah, baiklah. Aku tidak tahu kau semudah itu
tertipu. Aku duluan.” kata Flo kemudian menutup pintunya.
Terlihat Nara yang masih berkutat dengan laptopnya.
Ternyata Nara sedang mengerjakan tugas sekolahnya, yaitu membuat novel. Pantas
saja dia terlihat sangat serius dan fokus. Terbuai dalam pekerjaannya, membuat
Nara tidak menyadari jika matahari sudah lama tenggelam. Jam tangan yang
bertengger di tangan kirinya menunjukkan bahwa waktu sudah menuju pukul 08.00
malam. ‘Oh yang benar saja, bahkan ini sudah sangat larut’ batin Nara. Walau
selesai sampai larut malam, Nara justru merasa senang karena tugasnya
terselesaikan dan dia dapat tidur sepuasnya di rumah. Selesai membereskan
barang-barangnya, kemudian Nara bergegas keluar meninggalkan ruang kelasnya
yang berada di lantai empat dan berjalan menyusuri koridor sekolahnya yang
hanya diterangi beberapa lampu membuat koridor sekolahnya terlihat menyeramkan.
Seketika Nara menyesal tidak mendengarkan kata-kata Nat untuk tidak pulang
malam. Untuk mengurangi rasa takutnya Nara berjalan sambil bersenandung kecil.
Ketika sampai di lantai tiga gedung sekolahnya keberanian Nara mulai menipis
kemudian dia semakin mempercepat langkahnya. Niat hati ingin cepat sampai
lantai satu, Nara justru mengalami kesialan. Tepat di anak tangga terakhir
lantai dua, Nara tersandung sesuatu yang tergeletak di lantai untung saja dia
tidak terjatuh. ‘Apa ini?’ tanya Nara dalam hati. Kemudian Nara berjongkok dan
memeriksa ‘sesuatu’ yang tergeletak disana. Sedetik kemudian Nara merasakan
jantungnya akan keluar dari tempatnya.
“Kau menginjakku tadi.” kata sesuatu yang sebelumnya tergeletak
tersebut. Sedetik kemudian dia merubah posisinya menjadi duduk.
Nara masih dalam posisi terkejut. Bagaimana tidak,
sesuatu yang tadi membuat dia hampir terjatuh tiba-tiba berbicara dan yang
lebih membingungkan lagi untuk apa ‘sesuatu’ itu menaruh dirinya di lantai anak
tangga.
“Kau bisu?” tanya sesuatu yang ternyata seseorang tadi.
“Ini gila.” ucap Nara pada dirinya sendiri.
“Jadi kau bukan bisu, tapi gila?” tanya sesuatu itu lagi.
Merasa kesal, kemudian Nara memandang tajam seseorang
itu.
“Kau yang gila. Tiduran di lantai anak tangga? Apa yang
kau pikirkan? Kau tidak takut terjatuh dan mati?” cerocos Nara.
“Asal kau tau, aku tidak akan mati hanya karena terjatuh
di tangga.” jelas seseorang itu.
“Terserah kau. Aku mau pulang.” ucap Nara yang kemudian
bersiap pergi. Namun, hal tersebut tidak terjadi karena seseorang yang ternyata
seorang pemuda berambut kuning dan bermata biru laut itu dengan segera berdiri
dan menghalangi jalan Nara.
“Kita belum berkenalan. Aku Naki.”
“Nara.” balas Nara.
“Nama yang bagus.” kata Naki sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Terima kasih. Permisi aku mau pulang.” ujar Nara dan
berjalan melalui Naki. Ketika berhasil melewati Naki, secara tidak sengaja Nara
menjatuhkan sesuatu.
“Ini...” gumam Naki yang masih dapat didengar Nara,
sedetik kemudian Nara membalik badan dan menyadari bahwa Naki sedang memegang
foto yang beberapa hari lalu dia pinjam dari Flo.
“Kembalikan.” kata Nara sambil menengadahkan tangannya.
“Kau dapat foto ini darimana?” tanya Naki sambil
memandang Nara dan foto itu bergantian.
“Temanku yang menemukannya di koridor sekolah. Kenapa?”
jawab Nara.
“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” tanya Naki
penasaran.
“Suatu hari dia pulang malam, lalu mendengar suara.
Kemudian berjalan menyusuri koridor sekolah dan menemukan foto tersebut. Puas?
Sekarang kembalikan.” jelas Nara kemudian berusaha merampas foto itu, tetapi
tidak berhasil.
“Apakah foto ini penting bagimu atau temanmu? Kau tidak
ada di foto ini padahal.” tanya Naki kembali sambil memandang Nara penasaran.
“Ah yang benar saja, kenapa kau sangat menyebalkan. Aku
menyimpannya karena aku penasaran dengan foto itu. Mereka tidak terlihat
seperti murid biasa dan lihat latar sekolahnya. Cagim Senior High School, aku bahkan tidak pernah melihat satupun dari
mereka selama hampir tiga tahun aku sekolah disini, dan oh astaga siapa kau?
Aku bahkan tidak pernah melihat kau!” cerocos Nara dalam sekali tarikan napas.
Nara baru menyadari bahwa dia belum pernah melihat pemuda di depannya ini.
Naki? Dia belum pernah mendengar nama itu.
“Wow, hebat sekali kau dapat berbicara dalam sekali
napas.” jawab Naki sambil menyeringai.
“Aku anggap itu pujian.” kata Nara sambil tersenyum yang
sebenarnya palsu, sedetik kemudian Nara berusaha merampas foto tersebut dan
keberuntungan berpihak kepadanya. Nara mendapatkan fotonya.
“Yey, dapat! Sampai jumpa Naki!” ucap Nara sambil
melambaikan tangannya dan berjalan menjauhi tempatnya berdiri tadi.
Tiba-tiba Naki menarik tangan Nara.
“Hei hei, apa yang kau lakukan?” tanya Nara tidak terima
karena tangannya asal ditarik oleh Naki.
“Membawamu pergi, tentu saja.” jawab Naki tidak peduli
akan pernyataan tidak terima Nara.
Naki terus menarik Nara kesuatu tempat. Akhirnya mereka
tiba di depan ruang kelas yang terlihat ramai seperti kelas yang ditinggal guru
pergi. ‘Ada kelas di malam hari?’ batin Nara heran.
“Yup, kau benar. Selamat datang di kelas malam.” ujar
Naki seakan mengetahui pikiran Nara.
“Aku akan memperkenalkanmu kepada teman-temanku.”
kemudian Naki menarik Nara kembali untuk masuk ke kelasnya.
“Perkenalkan ini teman baruku, namanya Nara.” ucap Naki
memperkenalkan Nara ke sekumpulan murid yang ada disana. Dalam hati Nara
berpikir ‘Teman baru katanya?’ kemudian Nara memandang bingung ke sekumpulan
orang disana. Nara seperti pernah melihat ketiga orang tersebut.
“Hai Nara, aku Nosa!” salam seseorang gadis berambut ungu
kehitaman sebahu dan memiliki warna mata yang unik, yaitu berwarna biru
kehijauan sambil tersenyum manis. ‘Cantik’ pikir Nara
“Hich.” kata satu-satunya pemuda di kerumunan tersebut.
Pemuda itu memandang Nara dengan tatapan tidak tertarik. Hich memiliki tinggi yang
sepertinya lumayan, walaupun sekarang posisinya sedang duduk. Dia memiliki
rambut berwarna merah gelap dan mata berwarna coklat. ‘Lumayan juga’ batin
Nara.
“Aku Shi.” salam seorang pemuda berambut biru kehitaman dan
memiliki warna mata hitam. Jika diperhatikan, pemuda ini memiliki taring yang
sedikit muncul. ‘Ini juga lumayan’ batin Nara
Nara menatap ketiga orang tersebut satu-satu, meneliti
wajah mereka satu persatu. Nara mengingat-ingat kira-kira dimana dia pernah
bertemu ketiga orang itu. Tiba-tiba bagai lampu muncul diatas kepalanya, Nara
mengeluarkan foto dari dalam tas sekolahnya yang sebelumnya dirampas oleh Naki.
“Jadi ini kalian?” tanya Nara.
“Astaga! Darimana kau dapat fotoku? Aku mencarinya sampai
kemana-mana.” ucap seseorang yang tadi memperkenalkan namanya sebagai Nosa.
“Jadi benar ini kalian?” tanya Nara masih belum menyerah
sebelum pertanyaannya di jawab.
Shi, Naki, Nosa, dan Hich saling berpandang satu sama
lain.
“Ya itu kami.” jawab Naki.
“Kenapa penampilan kalian di foto ini dan sekarang
berbeda?” Nara kembali bertanya.
“Kau berisik dan banyak tanya.” tukas Naki. Sejurus
kemudian Nara melayangkan tatapan tidak suka kepada Naki.
“Shi, Nosa, atau Hich bisakah kalian menjawab
pertanyaanku?” tanya Nara sekali lagi. Dia benar-benar penasaran.
“Baiklah, akan aku jawab. Alasan kenapa penampilan kami
berbeda saat berada di foto itu karena kami bukanlah manusia biasa, lebih
tepatnya kami setengah manusia. Foto tersebut berisi kami yang bukan dalam
wujud menjadi manusia, tetapi dalam wujud kami seharusnya, dan oh ya bisa
tolong kau kembalikan fotoku?” jelas Shi yang kemudian meminta foto yang berada
di tangan Nara.
Sebelum mengembalikan foto tersebut ke tangan Shi, Nara
kembali meneliti orang-orang di foto tersebut. Setelah puas memandangi, Nara
mengembalikan foto tersebut.
“Jadi... Hich yang dapat menjadi elang, Nosa mengeluarkan
cahaya biru, Shi macan putihj dan Naki si serigala kuning?” duga Nara.
“Yup! Kau benar. Asal kau tahu, aku juga dapat membaca
pikiran seseorang.” ucap Nosa bangga.
“Nara, aku punya permintaan untukmu.” pinta Naki.
“Apa itu?” ujar Nara sambil menautkan alisnya, tanda dia
sedang kebingungan dengan ucapan Naki.
“Tolong rahasiakan keberadaan kami, maka kau bisa bermain
kembali ke kelas ini jika kau mau.” lanjut Naki.
Nara membuka
harinya dengan ceria hari ini. Bagaimana tidak, ternyata dugaannya selama ini
benar. Ada makhluk lain di bumi ini.
“Kau aneh
hari ini.” kata seseorang yang duduk disebelah Nara.
“Oh ayolah. Aku
sedang gembira kau tahu?” balas Nara.
Flo hanya mengedikkan
bahu tidak peduli, kemudian pelajaran dimulai.
"Kau ingin tinggal di sekolah ini sampai
malam hari?" tanya Flo
saat mereka sedang berada di kelas.
Nara mengangguk yakin.
"Kau tidak takut?" tanya Flo lagi yang dibalas gelengan kepala dari Nara.
"Jika
kau melihat apa yang terjadi di malam hari, kau tentu
tidak akan berkata seperti itu. Tidak ada yang perlu ditakutkan." Flo heran mendengar penjelasan Nara.
"Memang ada apa di malam hari?" tanya Flo penasaran. Nara tersenyum tipis nan misterius yang tentu saja
membuat Flo semakin penasaran.
.
Seorang gadis berambut hitam di depan komputer
mengucek matanya yang mulai berair. Dia sangat lelah saat itu. Tapi, wajah
kelelahannya terganti menjadi wajah girang saat mendengar suara sebuah kelas.
Ia kemudian tersenyum kecil.
"Sudah datang," katanya pelan. Kemudian dia melangkah menuju pintu
dan mengintip. Ia melihat kelas yang terang, dan suara berisik yang berasal
dari kelas itu. Ia
kemudian melihat pemuda pirang yang keluar dari ruangan tersebut.
"Nara?"
seru Naki.
"Hai, kita bertemu lagi, Naki." ujar Nara memperlihatkan
senyumnya.
Entah mengapa, Nara merasa senang jika
bermain dengan ‘teman’ barunya.
“Halo, apakah ini Flo?” ucap seseorang di
telpon.
“Iya benar.” jawab seseorang yang tadi
dipanggil Flo.
“Flo, apakah Nara ada disana?” tanya
seseorang tadi lagi.’
“Tidak ada tante.” jawab Flo.
“Astaga, Nara belum pulang daritadi. Flo
bisakah kau untuk pergi ke sekolah dan memeriksa apakah ada Nara disana atau
tidak.” pinta Ibu Nara.
Flo menelan
ludahnya. Sekolah? Malam-malam begini? Yang benar
saja.
"Flo?
Aku mohon… aku sangat khawatir dengan Sakura…" pinta ibu Sakura. Ino
kembali menelan ludahnya. Tapi… demi Sakura, demi sahabatnya itu, ia mau tidak
mau harus melakukannya!
“Baiklah tante.“ kakak
"Baik baa-san," ucapnya setengah hati kemudian mematikan telpon.
"Baiklah Flo,
ayo berjuang." ucapnya.
Flo
melangkah memasuki gedung sekolahnya dengan wajah pucat, pertanda bahwa dia sangat ketakutan.
Bayangan-bayangan mitos hantu menuhi
di kepalanya.
Suara angin malam itu seakan mengejeknya yang
sedang ketakutan.
"Apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini,
Nona?" seseorang
menepuk pundaknya. Sedetik kemudian Flo merasa
merinding, gemetaran, dan ketakutan. Flo terlalu takut untuk membalikkkan badannya, mungkin
saat berbalik, dia akan
melihat hantu tanpa wajah, bersimbah darah, atau hantu bermulut sobek seperti
di kebanyakan film-film horror.
"Hei?" panggil orang yang menepuk
pundaknya itu ketika merasa dirinya tak direspon. Flo memberanikan dirinya melihat
kebelakang. Dan…
"UWAA! ASTAGA" teriaknya dengan suara
keras. Membuat sosok yang kini berada di depannya menutup telinganya.
"Hei? Kau kenapa?" tanya pemuda yang
tadi menepuk pundaknya itu.
"UWAA!"
teriaknya lagi.
"Tenanglah Nona."
ujar pemuda itu lagi. Flo yang
tadinya menutup wajahnya kini mencoba mengintip. Namun sedetik kemudian ia
menutupnya lagi.
"Kulitmu putih pucat! Kau pasti arwah gentayangan!" kata Flo sambil ketakutan.
"Arwah gentayangan? Aku bahkan belum
meninggal!" balas Shi tidak
setuju dengan perkataan Flo. Flo mulai kesal dengan makhluk yang
berada di depannya, kemudian
mengangkat tangan yang menutupi wajahnya dan membuka matanya. Saat ini, Flo melihat seorang pemuda dengan kulit
yang sangat pucat berdiri di depannya dengan raut wajah yang nampak protes.
Jika diperhatikan, pria di depannya ini memang tidak terlalu terlihat seperti
hantu gentayangan, malah… sebenarnya pemuda
di depannya ini sungguh tampan!
Floo
menggelengkan kepalanya. Tidak. Sekali hantu tetap hantu. Biarpun hantu itu tampan,
cantik, imut. Yang
jelas sosok di depannya ini adalah hantu, dan itu semua tidak bisa disangkal
lagi.
"… sepertinya kau bukanlah hantu yang
jahat," ucap gadis itu.
"Sudah kubilang aku bukan hantu, Nona."
Shi menatap gadis di depannya. Menurut Shi, Flo terlihat menarik.
"Baiklah, terserah kau! Aku datang ke sini
bukan untuk mencari temanku, Nara."
kata Flo mengalah. Shi mengernyitkan dahinya.
"Nara?" ulang Shi dengan wajah berpikir.
"Ya! Kau kenal dia? Atau jangan-jangan… kau
sudah memakan sahabatku itu?" tuduh Flo
sambil melayangkan tatapn curiga kepada Shi yang dibalas dengusan menahan tawa oleh Shi.
"Aku
tidak tertarik memakan sahabatmu itu…" Shi mendekati Flo.
"Aku lebih tertarik untuk memakanmu,
Nona." ujar Shi sambil menyeringai.
Naki sedang berjalan-jalan
dan terkejut melihat salah satu sahabatnya sedang berdebat
dengan seorang gadis yang tidak ia ketahui. Pemuda itu menghampiri mereka
berdua.
"Hantu!"
"Bukan,"
"Hantu!"
"Bukan,"
"HANTU!"
"Sedang apa kalian?" Tanya Naki. Shi
dan Flo serentak menoleh padanya.
"UWAAA! SERIGALA!" pekik Flo memekakkan telinga.
"Hei hei!
Tenanglah!" Shi mencoba
menenangkan Flo.
"Siapa dia?" tanya Naki pada Shi.
"Entahlah, mungkin dia teman Nara." kata Shi.
Flo melirik
Naruto. ‘oh astaga yang satu ini bahkan lebih parah
dari si mayat hidup’ batin Flo.
"Nara?
Kau mencarinya? Ayo ikuti aku!" kata Naki
mengajak Flo kemudian
berjalan di depan Shi dan Flo. Shi mengikutinya, namun Flo masih diam di tempatnya.
"Kenapa diam?" tanya Shi pada Flo yang ada di belakangnya,
sedangkan Naki masih
terus berjalan.
"Kalian berdua pasti akan memakanku!"
kata Flo. Shi hanya bisa menghela nafas jengah.
"Baiklah,
terserah kau." kata Shi
dan terus berjalan meninggalkan Flo.
"Hei! Jangan tinggalkan aku!" teriak Flo. Shi menghentikan langkahnya.
"Jadi kau mau apa, Nona?" tanya Shi seraya tersenyum palsu yang terlihat sekali paksaannya. Flo mendengus kesal.
"Yakin kau tidak akan memakanku?" tanya Flo memastikan.
"Kalau kau tetap cerewet, aku akan memakanmu
dalam sekali suapan." Shi
berkata dengan tenangnya. Flo
semakin kesal.
"Aku serius!" ucap Flo sambil berkacak pinggang.
"Ikuti saja aku dan Naki." kata Shi.
"Huh!" Flo
membuang mukanya sembari mendengus kesal, namun kali ini ia berjalan mengikuti
Shi. Shi
masih diam di tempatnya sampai Flo
berada di sampingnya, sehingga membuat mereka
berjalan beriringan dengan Flo yang masih membuang muka.
“NARAA!” suara Flo menggelegar.
Ketika Flo membuka sebuah pintu kelas,
dia dapat melihat Nara yang sedang duduk bersantai di bangku yang hampir
terjengkang karena mendengar suara Flo.
“Flo?!”
“Apa yang kau lakukan disini?” ucap Flo. Kemudian
Flo mengernyitkan dahi ketika melihat manusia serigala yang ia ketahui bernama
Naki berjalan dengan santai menghampiri dan mereka mengobrol asyik.
“Ayo pulang. Ibumu mencarimu kau tau?” Flo
kemudian menarik paksa lengan Nara seperti seorang ibu yang memaksa anaknya
untuk segera pulang.
"Aku pulang dulu Naki,
Shi!" pamit Nara,
sedangkan Flo
terus-menerus menariknya.
"Perlu antaran, Nona?" tawar Shi. Flo
menatap tajam pemuda itu.
"Tidak perlu! Kami bisa jaga diri!" kata
Flo sarkastik.
"Bukan kau. Aku menawarkannya pada Nara" ucap Shi yang membuat Flo malu setengah mati.
"Tidak
perlu Sai, kami bisa jaga diri." Nara
tersenyum saat menjawab pertanyaan Sai. Kedua gadis itupun melangkah keluar,
namun Flo menyempatkan diri untuk
menginjak kaki Shi sebelum
mereka menghilang dari ambang pintu.
"Rasakan itu, mayat!" Flo tertawa kemudian.
.
"Sekarang aku tahu alasanmu selalu tak ingin
pulang jika jam pelajaran telah selesai!" Nara
memandang Flo kaget
saat gadis itu langsung menghampiri Sakura dan menunjuknya tepat di depan
hidungnya.
"Astaga!
Kau mengagetkanku saja. Baru
datang langsung saja menghampiriku dengan wajah menyebalkanmu itu!" Nara menepis tangan Flo, membuat gadis berambut pirang itu berkacak pinggang dan
menatap Nara dengan pandangan tajam.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menemaniku
menunggu di sini!"
Sakura memandang Ino kesal. Sedangkan Ino hanya
cengengesan melihat sahabatnya. Jam pelajaran telah selesai sejam yang lalu,
dan Sakura memang berniat menunggu Sasuke. Khawatir katanya. Namun gadis
bermahkota pink itu tidak menyangka bahwa Ino juga akan ikut menemaninya
menunggu. Jelas saja Sakura kesal, Ino pasti punya maksud lain. Gadis itu terus
mengumpat kesal dalam hati, pasti Ino ingin menemui Sasuke! Sahabatnya itu
ingin merebut pemuda yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta!
"Wah, kau jahat sekali Jidat, aku hanya ingin
memastikan bahwa kau baik-baik saja," jawab Ino enteng dengan wajah
innocent yang membuat perempatan siku-siku muncul di dahi Sakura.
"Menunggu di sini benar-benar membosankan!
Kau tidak bosan menunggu seperti ini setiap hari?!" tanya Ino. Sedangkan
Sakura hanya tersenyum-senyam.
"Tidak juga, membayangkan akan bertemu dengan
Sasuke membuat waktu seakan berputar begitu cepaaatt~" Ino memandang
Sakura dengan tatapan aneh. Sakura sudah gila sekarang! Tidak ada lagi Sakura
yang cuek, dia menjelma menjadi Sakura yang dramatis!
"Kita harus menunggu tiga jam lagi untuk
bertemu dengannya!" Sakura menunjuk arlojinya yang menunjukkan pukul 06.00
p.m, perkataan itu membuat Ino sukses membelalakkan matanya.
"HEEEEHHH?!"
~~~0~~~
.
.
.
"Sakura-chaaaannn!" Sakura dan Ino
menoleh ke sumber suara. Kini, mata emerald dan aquamarine itu melihat tiga
orang pemuda berjalan mendekatinya.
"Hah? Kau lagi?" Sai menunjuk Ino,
membuat gadis itu menatapnya galak.
"Apa?!" tanyanya. Sai cepat-cepat
menggeleng dan kembali memasang senyum palsunya. Sedangkan pemuda di belakang
Naruto dan Sai hanya memasang wajah datar seperti biasanya. Sakura menghampiri
Sasuke yang berada di belakang.
"A-ano… bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
Sasuke hanya menatapnya dan memegang perutnya.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik
saja."
"Sekali lagi maaf, Sasuke…" lirih Sakura.
Sasuke meresponnya dengan menggumamkan 'Hn' andalannya.
"Oh ya, Teme, Sai, ayo kita masuk! Sekarang
pelajaran Orochimaru-sensei!" sorak Naruto. Sakura yang mendengar nama itu
tersentak.
"Sa-Sasuke, Orochimaru? Bukankah dia-"
Perkataan Sakura terputus saat tangan Sasuke menutup mulutnya. Ino, Sai, dan
Naruto memandang keduanya bingung.
"Ng? Kau bilang sesuatu, Sakura-chan?"
tanya Naruto seraya mengorek kupingnya menggunakan telunjuknya, memastikan
bahwa tak ada yang salah dengan telinganya.
"Tidak. Dia tidak berkata apapun."
Sasuke menjawab pertanyaan Naruto. Pemuda berkumis kucing itu mengangguk dan
kemudian tersenyum cerah.
"Hei! Kalian berdua, bagaimana kalau kalian
ikut ke kelas kami?" ajak Naruto, membuat Sakura dan Ino kaget. Ikut di
kelas mereka? Berarti… belajar bersama mereka?
"Usul yang bagus," respon Sai dengan
senyum palsunya. "Aku rasa nona pirang ini setuju," lanjutnya.
"Hei! Aku bahkan belum berkata apapun!"
ucap Ino protes.
"Tapi aku benar 'kan? Aku yakin kau tak
keberatan," ucap Sai. Ino memanyungkan bibirnya, tapi kemudian mengangguk
pelan. Sakura yang mulutnya masih ditutup juga ikut menangguk pertanda bahwa ia
setuju dengan Ino yang setuju dengan Sai yang setuju dengan Naruto(?).
"Baiklah, ayo semuanya!" ucap Naruto
memimpin. Ketiganya berjalan, sedangkan Sasuke dan Sakura tetap diam di
tempatnya.
"Hoi? Teme? Sakura-chan? Ayo!" ajaknya.
"Kalian duluan saja, aku masih ada hal
penting yang harus kubicarakan dengannya," ujar Sasuke seraya melirik
Sakura melalui ekor matanya. Ino mengembangkan senyumnya.
"Kyaaa! Sakura! Ganbatte!" pekiknya.
Ganbatte? Untuk apa?
"Akhirnya penantianmu tidak sia-sia!"
pekiknya lagi. Sakura membulatkan matanya, ingin membalas perkataan Ino, namun
mulutnya masih dibekap Sasuke.
"Ayo! Kita masuuuk!" Ino menggenggam
tangan Naruto dan Sai, mengajak mereka berdua masuk.
"Wah, saking cintanya kau padaku,
sampai-sampai kau mencuri kesempatan untuk menggenggam tanganku?" Ino
memandang Sai kesal dan seketika melepaskan genggamannya dengan kasar.
"Mimpi saja kau, mayat!"
.
.
.
"S-Sasuke? Apa yang mau kau katakan?"
tanya Sakura gugup. Perkataan Ino sungguh membuatnya bertingkah seperti
sekarang ini. Dan yang membingungkan, Sasuke dari tadi hanya diam membisu,
membuat Sakura bertanya-tanya dalam hati. Apa Sasuke hendak merangkai kalimat
yang sesuai? Namun Sakura segera menepis bayangannya itu dengan menepuk-nepuk
pelan pipinya. Tidak. Tidak mungkin Sasuke menyatakan cinta padanya. Pasti ada
hal lain. Tapi… tidak ada salahnya berharap kan?
"Ino soal Orochimaru." Seketika hati
Sakura hancur berkeping-keping, namun ia berusaha tersenyum. Sudah ia duga, ia
terlalu berharap lebih.
"Ada apa dengannya?" Seakan kehilangan
kesadarannya, Sakura tersentak. "Ah! Iya! Aku baru ingat, Orochimaru itu…
mengajar di sini saat malam hari?" tanyanya bingung.
"Benar. Dia menyamar sebagai guru di sekolah
ini, namun aku tahu maksud dan tujuan sebenarnya, dia hanya ingin mendekati
para murid di sekolah ini, dan pastinya mencari target, juga untuk
menjadikannya sebagai budak."
"Bagaimana kau tahu?"
"Kakekku. Uchiha Madara. Dia sudah lama
bermusuhan dengan Orochimaru, dahulu, Orochimaru hanya mengejar kaum vampir,
tapi entah kenapa, sekarang bukan hanya vampir, namun makhluk seperti Naruto
dan Sai juga menjadi targetnya." Sakura mendengar dengan seksama
penjelasan Sasuke.
"Tu-tunggu sebentar! Mengincar makhluk
seperti Naruto dan Sai? Saat itu, aku sedang bersamamu, berarti dia…"
"Ya, dia menduga kau juga seperti kami."
Sakura merenung, namun tiba-tiba pertanyaan kembali meluncur di otaknya.
"Tidak masuk akal, Orochimaru mengajar di
sekolah ini. Dan kelas malam hanya terdiri satu kelas, tidak mungkin dia tidak
mengahafal siapa muridnya dan siapa yang bukan muridnya, bukan?" Sasuke
menyunggingkan senyum mendengar perkataan Sakura.
"Orochimaru hanya melaksanakan misinya di
sini. Dia tidak perlu menghafal semua muridnya. Lagipula, Orochimaru adalah
guru baru. Semenjak dia mengajar, dia selalu menyebut namaku, meminta
pendapatku, seakan mengejekku sebagai cucu Madara yang notebane adalah
musuhnya. Namun yang lainnya salah mengartikan, mereka mengira bahwa Orochimaru
menyukaiku sebagai murid." Sakura merenung kembali. Orochimaru… nama itu
melintas di pikirannya, entahlah. Menyebut namanya saja membuat Sakura
merinding. Apakah Orochimaru itu orang yang menyeramkan?
"Aku rasa, lebih baik kau dan teman pirangmu
itu pulang sekarang. Orochimaru itu berbahaya, dia pasti akan lebih mengincarmu
dan kau akan tercatat sebagai targetnya." Sakura tersenyum mendengarnya.
"Kau mengkhawatirkanku?" Sasuke terkejut
mendengar penuturan Sakura. Khawatir? Apa dia benar-benar khawatir pada gadis
itu?
"Aku tidak akan apa-apa. Percayalah."
Sasuke tercenggang mendengar perkataan Sakura.
"Aku… kurang lebih sekarang bisa mengerti
sifatmu, Sasuke. Kau memang dingin, tapi kau lebih memperhatikan orang lain
dibanding dirimu sendiri." Sasuke mengernyit kebingungan. Apa maksud gadis
itu?
"Kau tidak ingin Naruto dan Sai, serta
teman-temanmu yang lain tahu bahwa Orochimaru itu menyamar, dan sebenarnya
membahayakan. Itu karena kau ingin berjuang sendiri, kau tidak ingin melibatkan
orang lain. Kau ingin melawan Orochimaru sendiri. Bukan begitu, Sasuke?"
Mata onyx Sasuke sedikit terbelalak. Bagaimana bisa Sakura mengetahui wataknya
yang bahkan ia sendiri tak mengetahuinya?
"Tapi kau salah. Meskipun hanya sedikit, tapi
kau juga manusia. Manusia ialah makhluk social, bukan individu, tidak akan bisa
berjuang sendiri. Aku yakin teman-temanmu bisa membantumu, Sasuke. Cobalah
sedikit terbuka dengan orang-orang di sekitarmu." Sasuke tersenyum simpul.
Dan kemudian lelaki itu berjalan di depan Sakura.
"Ayo," ajaknya. Sakura yang kebingungan
hanya terdiam di tempatnya.
"Ke mana?" Sasuke membalikkan badannya.
"Menemui Orochimaru."
~~~0~~~
.
.
.
Sakura dan Sasuke memasuki kelasnya. Sakura
melihat Ino sedang mengobrol dengan gadis tanpa pupil dengan seorang gadis
dengan rambut diikat empat. Sakura mengingat-ingat nama gadis manis tanpa pupil
itu, kalau tidak salah… namanya… ya! Hyuuga Hinata! Sakura menghampiri Ino yang
duduk di sebelah Sai. Entahlah, meskipun tampak saling tidak menyukai, Ino dan
Sai seperti pasangan yang kompak.
"Sakuraa!" seru Ino saat melihat Sakura.
"Sa-Sakura-chan." Sakura tersenyum
melihat Hinata yang mengeluarkan semburat merah tipis di wajahnya, dan mata
emeraldnya bergulir melihat gadis pirang berikat empat dengan kipas besar di
belakangnya.
"Temari." Gadis itu memperkenalkan diri
tanpa disuruh.
"Sakura," kata Sakura memeprkenalkan
diri sembari tersenyum.
"Wah, aku tidak menyangka bahwa ada manusia
yang tidak takut pada kami," ujar Temari. Sakura dan Ino tersenyum
sumringah mendengarnya. Sebuah kebanggaan disebut seorang 'pemberani' secara
tidak langsung.
Seketika suara riuh kelas hening saat seseorang
masuk ke dalam kelas itu. Semua murid beranjak kembali ke tempatnya. Sakura
bingung sekarang, dia tidak tahu di mana ia harus duduk sekarang.
"Sakura, kemari." Bak seorang pahlawan,
Sasuke memanggil Sakura untuk duduk di sampingnya. Naruto yang tadinya duduk di
samping Sasuke telah diusir dan terpaksa harus duduk di samping Hinata yang
membuat Hinata tak sadarkan diri saking malunya.
Sakura melihat Orochimaru memasuki kelas. Mata
Sakura membelalak kaget melihat sosok Orochimaru. Dia… seperti jelmaan ular!
Sakura merinding melihat Orochimaru, dari tampangnya saja, Sakura sudah tahu
bahwa Orochimaru adalah orang yang berbahaya! Merasa diperhatikan, Orochimaru
menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Sakura membuang
mukanya. Keringat meluncur di pelipis Sakura, gadis itu tengah ketakutan saat
ini.
Sakura melihat lagi ke arah Orochimaru, ular tua
itu masih saja memperhatikan Sakura dengan mata tajamnya, membuat Sakura
bergidik ngeri. Ada apa dengan Orochimaru? Apa dia sadar bahwa Sakura sudah
mengetahui maksud dan tujuannya berada di sekolah ini? Tubuh Sakura bergetar,
namun seketika getarannya itu seakan hilang di terjang ombak saat sebuah
telapak tangan menyentuh tangannya dan menggenggamnya. Sakura menoleh ke
sampingnya, ke arah Sasuke. Sasuke nampak tidak menghiraukan Sakura dan embuang
tatapannya ke depan, namun tangannya tetap menggenggam tangan Sakura, seolah
pemuda itu ingin menenangkan Sakura. Menyadari bahwa Sasuke tengah
menyemangatinya tanpa ada yang tahu, Sakura tersenyum lembut, dan kemudian
menatap Orochimaru dengan pandangan menantang. Entah sadar dipandang dengan
tatapan seperti itu, Orochimaru membuang pandangannya ke arah lain, membuat
Sakura bernafas lega.
.
.
.
"…membuat kita harus mempertahankan diri kita
sendiri dari buruan makhluk lain…" Sakura mengernyit heran. Pelajaran apa
ini?! Ini bukannya pelajaran biologi, fisika, kimia, ekonomi, ataupun pelajaran
lainnya, tapi ini pelajaran bertahan hidup! Sakura melirik Ino, nampaknya gadis
itu juga cengo melihat pelajaran kelas malam ini. Sejak Orochimaru menjelaskan,
yang masuk di otak Sakura hanya bertahan, memburu, membunuh, menerjang, dan
sebagainya!
"…oleh karena itu, kalian harus cerdik
mengendalikan kemampuan kalian, bukan begitu, Uchiha Sasuke?" Sakura
tersentak saat Orochimaru menyebut nama Sasuke. Sakura dapat mendengar dengan
samar siswa-siswi di kelas itu berbisik-bisik 'Sasuke lagi… Sasuke lagi…'
Setidaknya itulah bisikan mereka. Sakura menoleh ke arah Sasuke, sedangkan
pemuda itu menatap Orochimaru tajam.
Sedetik kemudian, bel berbunyi. 'Istirahat mungkin,'
batin Sakura. Dan tebakannya benar, Orochimaru keluar ruangan, sementara para
murid keluar kelas.
"Huaa… Sakura, aku akan dimarahi oleh ayahku!
Sekarang sudah pukul sebelas malam!" ucap Ino cemas. Sakura juga cemas
dalam hatinya, mungkin ibunya sekarang sudah menelpon teman-temannya yang lain
untuk mengorek informasi tentang dimana ia berada saat ini.
"Benar juga… bagaimana kalau kita pulang
sekarang?" ajak Sakura. Ino mengangguk.
"Butuh antaran Nona?" tawar Sai. Ino
yang mempunyai pengalaman buruk atas pertanyaan ini hanya diam saja.
"Tidak perlu Sai," jawab Sakura. Sai
hanya tersenyum palsu seperti biasanya.
"Kali ini bukan kau, aku menawarkan kepada
seseorang yang telah jatuh cinta padaku sehingga rela duduk berdampingan
denganku," ujarnya tenang. Ino menatap Sai tajam. Ke-GR-an sekali dia!
"Tidak perlu! Kalaupun ada yang kutakuti, itu
berarti kau!" tunjuk Ino. Sai menunjukkan ekspresi sedih yang baru kali
ini Naruto, Sasuke, serta Sakura lihat. Ino yang merasa telah keterlaluan
segera meminta maaf.
"Ah, ma-maafkan aku Sai, bukannya aku
bermaksud untuk-"
"Sesulit itukah kau jujur dengan perasaanmu
bahwa kau ingin diantar olehku yang telah membuatmu jatuh cinta ini?" Dan
perkataan itu sukses membuat Ino membalikkan badannya.
"Cih! Sakura! Ayo kita pulang!" ujarnya
kesal. Sakura pun berpamitan pada Naruto, Sai, dan Sasuke. Setelah berpamitan,
mereka pun berjalan meninggalkan ketiga pemuda itu. Namun di tengah perjalanan,
saat ingin menuju ke lapangan, Sakura terjatuh tanpa alasan (baca : jatuh konyol)
membuat Naruto dan Ino tertawa kencang melihatnya. Namun seketika mereka
berhenti tertawa saat Sakura meringis kesakitan. Gadis itu memegang lututnya.
Ino terbelalak melihat darah mengalir di lutut Sakura.
"Sakura!" teriaknya. Sasuke segera
menghampiri Sakura dan melihat lututnya. Sasuke melihat beling-beling kaca
serta paku payung yang menancap di lutut gadis itu, yang membuat darah mengalir
di lutut Sakura. Sakura tetap meringis.
"S-sakit…" rintihnya. Sasuke menggendong
Sakura menuju tempat duduk di sekitar lapangan.
"Bagaimana kau bisa seceroboh ini?"
gumam Sasuke dan melihat luka-luka Sakura.
"Akh!" Sakura tak kuasa menahan tangis
saat Sasuke mencabut salah satu paku payung yang menancap di lutut kirinya.
Paku itu menancap cukup dalam. Naruto dan Sai yang daritadi menghilang kini
kembali membawa kotak P3K.
"Tahanlah," perintah Sasuke dan mencabut
paku payung serta beling-beling kaca dari lutut Sakura. Tangis Sakura semakin
pecah, air matanya jatuh membasahi luka-lukanya.
"Semuanya sudah kucabut, aku akan
mengoles-" Perkataan Sasuke terputus seketika. Onyxnya membelalak.
"Ada apa, Sasuke?" tanya Ino yang
mewakili pertanyaan Naruto dan Sai.
"Sakura, lukamu…" Sakura berhenti
terisak. Ia melihat lukanya, ada apa dengan luka itu?
"Kenapa… bekas tancapan beling dan paku
payung itu hanya tinggal tiga?" Semuanya memperhatikan lutut Sakura. Benar
juga, tadi luka itu ada banyak, mungkin lebih dari lima, tapi kenapa tinggal
tiga?
"Sakura, air matamu…" Sakura menutup
matanya rapat, membuat sisa-sisa air mata tadi jatuh dan menetes di salah satu
lukanya, semuanya terkejut melihat luka yang ditetesi air mata tadi
perlahan-lahan menutup, seakan telah sembuh dan seakan tidak terjadi apa-apa di
sana.
"A-aku…" Sakura kehilangan kata-katanya,
masih shock dengan peristiwa yang dihadapinya saat ini.
"Sakura kau…" Naruto memandang Sakura
tak percaya.
.
.
.
"…bukan manusia biasa."
.
.
.
Gadis kecil itu nampak celingak-celinguk mencari
ibunya. Desak-desakan orang dewasa tak ayal membuat tubuhnya berkali-kali linglung
saat orang-orang menabraknya. Theme Park kali ini memang ramai sekali. Ia
mendongakkan kepalanya, ia masih tak melihat ibunya.
"Ibu…" lirihnya dengan suara bergetar
dan mata berkaca-kaca. Sudah setengah jam ia terpisah dari ibunya karena gadis
kecil itu terlepas dari genggaman ibunya saat ia ingin melihat boneka teddy
bear besar berwarna putih yang membuatnya tertarik. Namun alhasil, ia terpisah
dari ibunya. Ia berkeliling di Theme Park itu, namun ia masih tak dapat
menemukan ibunya.
"Hiks…" Air mata mulai membasahi pipi
chubby-nya. Ia kemudian berjongkok dan menutup wajahnya dengan tangan mungilnya
sambil menangis. Sekarang, ia pasti akan diculik. Pikirannya mulai melayang ke
berita yang biasa dinonton ibunya tentang kasus penculikan, kasus penculikan
tersebut bertujuan untuk memperbudakkan anak-anak. Air matanya semakin deras
saat mengingat berita tersebut.
"Ayah…belikan aku boneka yang ini~!"
Sebuah rengekan membuatnya mendongak. Ia kini melihat seorang anak yang berada
di gendongan ayahnya menunjuk-nunjuk boneka teddy bear yang membuatnya
tertarik. Ayah anak itu terlihat tersenyum simpul seraya menyerahkan anak tadi
ke gendongan ibunya.
"Tunggu sebentar sayang, boneka itu pasti
akan menjadi milikmu." Ayah anak itu kemudian menyerahkan beberapa lembar
uang pada penjualnya dan mengambil boneka itu, lalu ia serahkan kepada anaknya
yang tersenyum sumringah kala menerima boneka yang ia inginkan itu.
"Terima kasih ayah! Aku sayang ayah!"
ucap anak itu. Ayahnya mengelus pucuk rambut coklat anak kecil tadi.
Sedangkan gadis kecil berambut pink yang tadi
melihatnya tertegun di tempatnya melihat sebuah keluarga di depannya.
"Sakura!" Ia tersentak dan melihat
ibunya tergopoh-gopoh berlari ke arahnya.
"Ibu!" Sakura berlari ke pelukan ibunya
dan memeluknya erat.
"Terima kasih kami-sama…" Ibunya tampak
sangat bahagia melihat anak gadis semata wayangnya itu. Sakura membalikkan
badannya, hendak melihat keluarga kecil tadi, namun matanya kini hanya
memandang si penjual, keluarga tadi sudah pergi.
"Ayo kita pulang, Sakura…" ucap ibunya
dan menarik halus tangan Sakura.
"Ibu…" Sakura menarik tangan ibunya.
"Ya sayang?" Sakura menundukkan
kepalanya.
"Kenapa aku… tidak punya ayah?"
Night School
Rated : T (teen)
Pairing : SasuSaku of course
Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Genre : Romance, Fantasy.
Warning : Ooc, abal, gak menarik, don't like don't
read!
Chapter 7 : The truth
.
.
.
"Ngghh…" Desahan kecil dilontarkan oleh
seorang gadis yang kini terbaring di kasurnya. Desahan tersebut diakibatkan oleh
kurang nyamannya sang gadis terhadap cahaya yang masuk melalui
ventilasi-ventilasi kamar berukura meter itu. Sang gadis menggeliat di kasurnya
sebelum membuka matanya. Ia kemudian bangun dan terduduk di kasurnya seraya
mengucek matanya. Kepalanya sungguh pusing sekarang, ia mengingat-ingat apa
yang terjadi padanya.
Ingatannya mulai melayang saat ia terjatuh di
sekolahnya. Saat ia menangis, lukanya sembuh, dan perkataan Naruto. Seingatnya,
setelah itu ia langsung pamit pulang bersama Ino tanpa mengucapkan sepatah
katapun. Ia terlalu shock dengan kenyataan yang diterimanya.
Gadis itu beranjak dari kasurnya dan menuruni
tangganya. Ia melihat ibunya sedang menyiapkan sarapan. Melihat ibunya,
membuatnya teringat mimpi yang menceritakan masa lalunya saat ia masih kecil,
saat ia tersesat di salah satu Theme Park yang berada di Iwagakure. Saat itu,
saat ia menanyakan mengapa ia tak punya ayah, ibunya hanya tersenyum dan
mengatakan bahwa ayahnya kini berada di tempat yang jauh. Dan saat itulah
Sakura menyimpulkan bahwa ayahnya telah tiada. Ayahnya telah meninggal,
meninggalkannya dan ibunya, dan Sakura juga menyimpulkan bahwa ayahnya telah
tiada bahkan sebelum gadis itu lahir.
"Sakura? Apa yang kau lakukan di situ?
Pagi-pagi sudah melamun!" Sakura tersentak dan menghampiri ibunya. Gadis
itu menduduki salah satu kursi yang berada di hadapannya sambil mengoleskan
selai pada rotinya.
"Ibu, kepalaku pusing. Aku tak mau sekolah
hari ini." Perkataannya membuat ibunya menghentikan aktivitasnya. Ibunya
kemudian menempelkan telapak tangannya di kening lebar anaknya.
"Hangat. Ya sudah, setelah makan, minum obat
dan beristirahatlah," ucap ibunya yang bernama Haruno Mebuki itu dengan
senyum lembut yang menghiasi wajahnya. Sakura mengangguk sebagai jawaban.
Setelah makan, ia mengambil obat dan meminumnya serta beranjak ke kamarnya
untuk tidur. Sungguh. Kepalanya sangat pusing hari ini.
.
.
.
~~~0~~~
.
.
.
"Sakura, Ino menelpon, ia ingin berbicara
denganmu."
"Bilang kalau aku tidur!" Ibu Sakura
menghela nafas mendengar jawaban putrinya. Ia kemudian nampak berbicara di
telpon dan menghampiri Sakura yang terbaring di kasurnya.
"Kau ada masalah?" tanya ibunya pelan.
Sakura menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak biasanya kau seperti ini. Kau sudah
tiga hari tak masuk sekolah, tak ingin mengangkat telepon dari temanmu, dan
sebagainya…" Sakura terdiam mendengar perkataan ibunya.
"Aku hanya pusing, tak ada apa-apa, ibu
keluarlah. Aku ingin sendiri." Haruno Mebuki hanya mendesah dan
meninggalkan Sakura di kamarnya. Sakura mengangkat kepalanya saat ibunya keluar
kamarnya.
"Aku tidak apa ibu, aku hanya terlalu sulit
menerima kenyataan." Gadis itu menutup matanya. Ya, dia tidak sanggup
menerima semua ini. Kenyataan bahwa ia bukan manusia membuatnya terpukul. Bukan
manusia. Padahal ibunya jelas manusia. Satu kesimpulan ditariknya saat
memikirkan itu. Ia bukan anak ibunya, dan ayahnya tak meninggal. Hanya ayahnya
memang benar-benar tidak ada sejak awal. Entah darimana ibunya memungutnya,
Sakura tak mau tahu, dan ia tak mau menanyakannya. Kenyataan pasti sangat
membuatnya sakit.
Air mata menetes di wajahnya. Ia sayang ibunya.
Membayangkan bahwa wanita itu bukan ibunya membuatnya terpuruk dan sedih.
Tunggu. Tapi itu hanya kesimpulan. Bisa saja itu tidak benar, bukan?
Namun, penjelasan tentang bagaimana Sasuke
terbentuk(?) membuatnya terpuruk kembali. Tidak mungkin ibunya itu manusia
sedangkan dia salah satu bagian dari Sasuke. Bukan manusia, Sakura tak tahu ia
spesies yang bagaimana, ia lagi-lagi tak mau tahu.
Sakura melirik ponselnya. Ponselnya itu sudah
berapa kali bergetar, namun ia tak kunjung meliriknya. Dan sekarang ia
mengambil benda mungil itu dan membuka flip-nya.
18 missed call
21 messages
Mata emeraldnya membelalak saat melihat jumlah sms
dan panggilan tak terjawab yang masuk. Semuanya dari Ino. Ia tak menyangka
sahabat pirangnya itu sungguh mengkhawatirkannya.
From : Ino-Pig
Hey Jidat! Kenapa kau tak ke sekolah? Aku
kesepian!
Sakura tersenyum kecil melihat pesan Ino. Ia
kemudian membuka salah satu pesannya lagi.
From : Ino-Pig
JIDAATTT! Kau sudah mati yah?!
Sakura sweatdrop melihatnya. Ini pesan kemarin
yang belum sempat di bukanya. Tunggu. Sakura melihat nama lain yang
menghubunginya. Sakura membaca pesan tersebut.
From : Gaara-taichou
Hei. Kau masih sakit? Untuk sementara, jabatanmu
aku berikan pada Ino. Festival yang akan diadakan semakin mendekat, tak ada
jalan lain selain memberikan pangkat sementara pada sahabatmu, si cerewet
berotak kosong itu.
Sakura tertawa saat melihat kata 'si cerewet'.
Namun ia merasa bersalah pada Gaara. Ia kemudian membuka pesan Ino. Sakura
dapat melihat tanggal pengirimannya, pesan ini baru dikirim sejam yang lalu.
From : Ino-Pig
Sakuraaa! Kau benar-benar meninggal yah? Kenapa
tak mengangkat telponku? Kau kritis? Kau baik-baik saja kan? Kau jangan
membuatku khawatir bodoh!
Dan… gara-gara kau, aku ditunjuk sebagai
penggantimu! Dalam rapat, aku tak tahu mau bilang apa, sehingga kuceritakan
saja pengalamanku saat berbelanja di mall. Hohohohoho!
Sakura sekali lagi sweatdrop melihat pesan Ino.
Dasar Ino! Sahabatnya itu memang ada-ada saja perilakunya. Ia memutuskan untuk
membalas pesan Ino.
To : Ino-Pig
Maaf, aku sibuk sehingga tak membalas pesanmu
(maklum, artis…)
Kau sabar saja dalam memimpin rapat…hahaha…
Sakura menekan tombol send yang tertera di
ponselnya, 0,5 detik setelah pesan itu terkirim, sebuah balasan masuk lagi. Ino
sudah membalasnya. Wow. Cepat sekali gadis pirang itu membalasnya.
From : Ino-Pig
Hwek!
Ah, Sakura, maaf aku tak menjengukmu, tugas
sebagai wakil itu sungguh melelahkan! T.T
Tapi nanti aku berencana menjenguku lhooo!
Sakura memiringkan kepalanya. Ino ingin
menjenguknya! Cicitan gadis itu pasti akan membuat kepalanya semakin sakit,
namun tak dapat dipungkiri, Sakura merasa terhibur oleh pesan-pesan Ino. Ino memang
sahabat yang bisa diandalkan.
.
.
.
~~~0~~~
.
.
.
"Sakura, ada tamu untukmu!" Teriakan
ibunya membuat Sakura menuruni tangga dengan cepat. Pasti Ino, pikirnya.
"Sakuraaa!" Nah, tebakan Sakura benar.
Suara cempreng Ino membuatnya menutup telinganya.
"Lihat, siapa yang datang!" Sakura
melihat tiga pemuda di belakang Ino. Naruto, Sai, dan… Sasuke?
"Hai Sakura-chaannn~" Naruto tersenyum
tiga jari saat melihat Sakura. Sakura tersenyum melihatnya.
"Ah, kau…" Ibu Sakura menunjuk Sasuke.
"Kau yang pernah mengantar Sakura saat dia ketiduran di sekolah kan?"
Sasuke mengangguk mendengar pertanyaan ibu Sakura.
"Terima kasih sudah mengantarnya, aku tidak
sempat berterimakasih dulu, karena kau langsung saja menghilang." Sasuke
tersenyum tipis mendengarnya.
"Eh?" Sakura baru mengerti sekarang.
Jadi… saat ia ketiduran, Sasuke yang mengantarnya pulang?!
"Kok malah 'eh'? Suruh teman-temanmu
masuk!" Perintah ibu Sakura. Sakura menyuruh ketiganya masuk.
"Sakura, ibu ingin membeli minuman dulu, kau
mengobrol saja dengan teman-temanmu…" Ibu Sakura pun pergi ke luar rumah,
Sakura mengangguk sebagai respon.
"Kau terlihat sehat-sehat saja!" Ino
mendengus.
"Bagaimana kau bisa bersama ketiganya?"
tanya Sakur kebingungan.
"Mereka bolos sekolah! Dan aku yang memanggilnya
ke sini!" jawab Ino santai.
"Wah… jadi ini rumahmu ya Sakura-chan?
Sungguh terlalu 'perempuan'!" Naruto berkata seraya melihat-lihat isi
rumah Sakura.
"Hihihi… memang tak ada lelaki yang pernah
tinggal di sini. Aku bersama ibuku sejak lahir." Sasuke menoleh ke arah
Sakura saat mendengar omongan Sakura.
"Ada apa, Sasuke?" Merasa diperhatikan,
Sakura menoleh ke arah Sasuke. Sasuke hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kau sebenarnya sakit apa?" Perkataan
Ino melunturkan senyum yang sebelumnya tercetak dibibir Sakura. Suasana yang
semula santai kini mendadak menjadi serius.
"Aku pusing, selain itu…" Sakura menegak
ludahnya. "…aku belum bisa menerima kenyataan bahwa aku bukan anak
ibuku." Semuanya terbelalak mendengar perkataan Sakura.
"Bukan anak ibumu?! Bagaimana bisa?!"
tanya Ino.
"Aku juga tidak tahu! Aku hanya mengambil
kesimpulan saja. Ibuku jelas manusia!" kata Sakura.
"Karena ibumu manusia, kau mengambil
kesimpulan itu?" Sai yang tadinya hanya tersenyum saja kini berbicara.
Sakura mengangguk.
"Belum tentu." Perkataan Sasuke membuat
semuanya menoleh ke arahnya. Termasuk Sakura.
"Apa maksudmu?"
"Aku tak tahu." Jawaban Sasuke sukses
membuat semuanya menjadi gubrak (?).
"Kenapa kau tak bertanya saja pada
ibumu?" Pertanyaan Naruto membuat semuanya menatap Sakura.
"Aku takut…" lirih Sakura. "Aku
takut kalau memang ibu bukan ibu kandungku…"
"Justru karena ketakutanmulah, kau tak akan
menemukan jawabannya," ucap Sai yang membuat Ino takjub.
"Waahh… tumben kau berbicara logis,"
puji Ino. Sai tersenyum.
"Ya, ini kutipan salah satu novel yang sudah
kubaca kemarin." Dan jawaban pria berkulit putih itu membuat Ino tepar di
tempat.
"Bagaimana kalau kita menanyakannya saat ibu
Sakura pulang?" usul Naruto yang disambut anggukan pertanda setuju.
"Tapi…"
"Tidak ada tapi-tapian!" potong Naruto,
membuat Sakura hanya bisa pasrah.
.
.
.
~~~0~~~
.
.
.
"Ibu pu-eh?" Haruno Mebuki memandang
kelima remaja di depannya dengan penuh kebingungan. Pasalnya, kelima remaja
tersebut menatapnya dengan penuh intimidasi, sehingga membuatnya kebingungan
sekaligus sedikit…gugup.
"Kenapa kalian memandangku seperti itu?"
tanyanya, lebih tepat pada Sakura yang kini juga menatapnya dengan tatapan agak
tajam.
"Aku ingin ibu menjelasakan sesuatu
untukku," ucap Sakura tegas. Ibunya semakin memandangnya heran.
Menjelaskan sesuatu?
"Apa yang perlu kujelaskan?" tanya ibu
Sakura gugup.
"Siapa sebenarnya aku?" Ibu Sakura
menelan ludahnya mendengar pertanyaan Sakura yang langsung 'jleb' di hatinya.
"Aku anak siapa?" tanya Sakura lagi.
"A-apa maksudmu Sakura?" Wajah ibu
Sakura semakin pucat pasi. Ia sekarang mengerti akan pertanyaan anaknya, namun
ia berusaha berpura-pura tidak mengerti.
"Ibu jangan pura-pura bodoh! Aku tahu ibu
mengetahui maksudku!" bentak Sakura, mata gadis itu telah berkaca-kaca.
"S-Sakura, ibu…"
"Jawab! Aku bukan manusia biasa 'kan?"
Ibu Sakura terpojok sekarang, ia tak tahu harus berkata apa pada gadis yang
berada di depannya.
"Aku bukan anak ibu 'kan?! Dan… ibu
mengelabuiku bahwa ayah telah tiada, tapi sebenarnya ayah memang sejak awal
tidak pernah ada!" Sakura terhenti sejenak. "Ibu… hanya memungutku
'kan?"
PLAAK!
Sebuah tamparan keras pada Sakura membuat semuanya
tercenggang kaget, Sasuke bahkan juga ikut terkejut. Bahkan, ibu Sakura yang
menampar pun ikut terkejut melihat perlakuannya sendiri. Sakura terdiam, gadis
itu merunduk, tak mengucapkan sepatah katapun.
"Sa-Sakura, maafkan aku… aku tak bermaksud
menamparmu, aku…" Sakura mengangkat kepalanya, kini semua bisa melihat
cairan bening yang menetes dari mata emeraldnya.
"CUKUP!" amuknya. "Aku tak mau
dengar penjelasan ibu!" Sakura menutup telinganya dan dengan langkah
cepat, dia menaiki tangganya. Semuanya dapat mendengar bunyi 'blam!' keras dari
atas.
"Bibi…" Ino merasa kasihan pada kedua
anak-ibu tersebut. Ia mendekati ibu Sakura yang tubuhnya bergetar menahan
tangis, gadis itu menjulurkan tangannya dan memeluk ibu Sakura. Sai dan Naruto
terdiam. Tapi…
"Eh? Dimana Sasuke?" tanya Naruto yang
menyadari Sasuke tak berada di dekatnya ataupun di ruangan itu. Sai yang
mendengarnya juga ikut mencari Sasuke. Namun Naruto menunjuk ke arah tangga,
terlihat Sasuke yang menaiki anak tangga terakhir sebelum tubuhnya menghilang.
Naruto hendak menyusulnya, tapi…
"Biar Sasuke yang menenangkan Sakura,"
ucap pemuda suka senyum itu, membuat Naruto mengangguk.
.
.
.
"Hiks…hiks…"
"Kau bahkan telah kabur sebelum mendengar
penjelasan ibumu."
Sakura menolehkan kepalanya ke belakang dan
melihat Sasuke bersender di pintu dengan tangan yang dilipat di dadanya. Sakura
segera membuang mukanya melihat pemuda itu.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?
Membencinya?" Pertanyaan Sasuke membuat Sakura bungkam, bahkan gadis itu
berhenti terisak.
"A-aku… tak bermaksud membencinya, aku hanya…
aku hanya kecewa…" lirih Sakura, Sasuke mendekatinya.
"Perasaan kecewamu tak akan sebanding dengan
perasaan kecewa ibumu." Sakura menoleh ke arah Sasuke. "Kau hanya
memikirkan perasaanmu saja, tanpa memikirkan perasaan orang lain," Sasuke
menghela nafas. "Kau egois."
Jleb!
Tepat sekali, Uchiha Sasuke. Pernyataan itu
sungguh tepat bagi Sakura.
"Lalu… aku harus bagaimana…?" lirih
Sakura, dia mulai terisak lagi.
"Kau harus percaya pada ibumu. Dengar
penjelasannya, dan setelah itu baru kau bertanya apa yang harus kau
lakukan," ucap Sasuke datar. "Memang kadang yang kita tak inginkan
terjadi pada diri kita, kau tahu? Aku bahkan sama sekali tak ingin jadi seorang
vampire, monster, ataupun sebagainya." Sakura menoleh lagi pada Sasuke,
sedikit tersentak dengan pengakuan atau isi hati pemuda itu. "Tapi aku
sadar, sejak awal aku memang ditakdirkan untuk menjadi seperti ini, aku tak
bisa mengelak. Yang aku bisa lakukan hanya menahan nafsuku untuk
membunuh."
"Sasuke…" Seakan ada yang
menyadarkannya, Sakura tersentak. "Ah! Kau belum menjelaskan kenapa kau
tak suka membunuh!" kata Sakura menunjuk Sasuke.
"Hn. Alasanku tak suka membunuh, karena aku
telah melihat seseorang membunuh di hadapanku saat aku masih kecil."
Sakura membelalakkan matanya.
"Si-siapa orang yang terbunuh itu?"
tanya Sakura penasaran, Sasuke terdiam sejenak.
"Kakakku." Sakura kini sangat
membelalakkan matanya, ia sangat super duper shock sekali banget(?) mendengar
pernyataan Sasuke.
"Ka-kakakmu? Bagaimana bisa?"
"Kau tahu? Banyak sekali yang mengincar kaum
seperti kami, apalagi aku dan kakakku yang tercampur tiga aliran
sekaligus."
"Tapi apa tujuan mereka?" tanya Sakura.
"Tentu saja menguasai dunia. Aliran kami
banyak diincar, karena memiliki keistimewaan. Maka dari itu, monster tulen
banyak yang mengincar kami, karena selain kekuatan seperti mereka, kita juga
termasuk manusia yang memiliki perasaan dan daya juang yang tinggi. Perasaan
itu berguna untuk meneruskan keturunan." Sakura mengangguk.
"Jadi Orochimaru…"
"Hn, dia monster tulen. Mereka ingin
menghancurkan kaum kami dan menguasai dunia. Karena jika ada kami, sebagai
monster yang punya perasaan, pasti ingin melindungi manusia yang juga kaum kami
agar tak diperbudakkan oleh mereka."
"Jadi… aku ini… apa?" Sasuke memandang
Sakura.
"Untuk jawaban dari pertanyaanmu, hanya ibumu
yang tahu."
.
.
.
"Sakura! Sasuke!" Ino menyeruakkan dua
nama yang kini tengah menuruni tangga. Ibu Sakura mendongak melihat mereka dan
tersenyum sumringah.
"Jangan tersenyum dulu ibu, urusan kita belum
selesai." Selesai berkata demikian, Sakura membuang wajah, ibu Sakura
tersenyum.
"Baiklah, ibu akan menjawab
pertanyaanmu." Sakura yang tadi membuang muka kini menoleh pada ibunya
yang tersenyum.
"Tentang kau ini siapa, kau benar. Kau bukan
manusia biasa," ucap ibu Sakura. Semuanya mendengar dengan seksama
penjelasan ibu Sakura.
"Tapi kau punya pernyataan yang salah."
Ibu Sakura terdiam sejenak. "Kau anakku. Anak kandungku, meskipun aku
manusia tulen." Sakura tertegun mendengarnya.
"Jadi…" Ibu Sakura menatap Sasuke yang
ingin menyimpulkan sesuatu.
"Kau benar anak muda, ayah Sakuralah yang
punya aliran yang mirip dengan Sakura," jelas ibu Sakura. Sakura
tercenggang mendengarnya. Berarti… dia punya ayah?
"Ayahmu, setengah monster setengah manusia.
Kami bertemu di malam hari, saat aku pulang dari tempat kerjaku, aku dihalangi
oleh preman-preman kota, dan saat itulah ayahmu menolongku." Ibu Sakura
tersenyum mengenang kenangannya. "Saat itu dia seperti pahlawanku. Mereka
melawan preman itu tanpa menyentuhnya, seakan preman itu terlempar atas
kehendaknya sendiri, aku yang dulu sudah dewasa mengerti, bahwa ayahmu bukanlah
manusia biasa."
"…kami akhirnya sering bertemu sejak kejadian
itu, ayahmu pun melamarku, dan sebulan setelah pernikahan, ayahmu mendapat
kabar buruk." Semua yang ada di ruangan itu serius mendengarkan.
"Kabar buruk bahwa 'the hunter', orang-orang yang ingin memburu kaum
mereka kembali sejak seratus tahun lebih menghilang. The hunter tersebut telah
melakukan aksi penculikan di berbagai Negara. Dan saat itu, Jepang mulai
menjadi sasaran mereka. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menculik,
karena mereka berjumlah sangat banyak."
"…dan saat itu, ketika aku masih mengandung,
ayahmu diculik saat pulang kantor."
"Kantor? Memangnya paman bekerja? Bukannya
dia monster?" Sai mendelik mendengar perkataan Ino.
"Dengar dulu ceritanya, gadis aneh!" Dan
Sai pun mendapat tatapan maut dari Ino.
"Ayah Sakura memutuskan untuk menjadi manusia
saat menikahiku…" jelas ibu Sakura. "Tapi, biar menyamar seperti
itupun, para hunter itu masih saja menemukan ayahmu, sejak ayahmu diculik, dia
tak pernah muncul lagi, bahkan saat kau lahir, Sakura. Ibu juga tidak tahu di
mana ia berada sekarang, hidup atau matipun, ibu juga tak tahu…" Ibu
Sakura menatap sendu kelima remaja tersebut.
"Apakah ada kemungkinan bahwa ayah masih
hidup?" tanya Sakura berharap. Ibu Sakura tersenyum.
"Meski sedikit, masih." Jawab ibu
Sakura.
"Masih." Sasuke menegaskan, membuat
semua pandangan tertuju ke arahnya. "Hunter itu pasti tidak langsung
membunuh, mereka pasti akan mengumpulkan semuanya terlebih dahulu sebelum
dibunuh. Hn, hanya pendapatku." Sasuke menjelaskan. Naruto mengangguk
pertanda setuju, namun entah dia mengerti atau tidak.
"Aku harap kau juga berhati-hati Sakura, itu
sebabnya ibu tak mau memberitahumu perihal masalah ini, ibu tak mau kau
terluka. Ibu sebenarnya juga tahu tentang sekolah malam yang berada di sekolah
kalian," jelas ibu Sakura yang lagi-lagi membuat kelima remaja tersebut
terkejut.
"Aku sudah memberitahu Tsunade, kepala
sekolah kalian, yang ternyata juga merupakan anggota dari kalian."
"Ja-jadi Sakura-chan juga anggota dari
kami?" tanya Naruto, ibu Sakura mengangguk.
"Di dunia ini, ada dua macam kekuatan,
penghancur dan pengendali. Pengahncur untuk melindungi si pengendali, dan
pengendali untuk mengontrol si penghancur. Sakura termasuk pengendali, ia tak
bisa menghancurkan, ataupun melawan, namun dia dapat mengendalikan dan
mengobati." Semuanya mengangguk mendengar penjelasan orang tertua di
ruangan itu.
"Dan ternyata kalian juga sama dengan Sakura,
aku senang Sakura mempunyai teman…"
"Darimana ibu tahu kalau mereka bukan manusia
biasa?" tanya Sakura bingung.
"Hehe! Aku yang menceritakannya!" cengir
Ino. "Tapi bibi… semuanya kecuali aku, aku manusia biasa kok…"
"Biasa, heh?" Ino mendeathglare Sai yang
nampak mengejeknya.
"Nah, sekarang, kalian puas sudah
mengetahuinya?" tanya ibu Sakura. Semuanya mengangguk, namun Sakura
menggeleng.
"Aku belum puas!" ucapnya. Membuatnya
mendapat tatapan kebingungan.
"Aku belum bertemu ayah, aku baru puas
setelah menyelamatkan ayah dari hunter itu!" Ibu Sakura tersenyum terharu
mendengar perkataan Sakura.
"Sakura…" lirihnya.
"YEAH! Mari kita menyelamatkan ayah Sakura
dan melawan penjahat!" ucap Naruto riang. Sasuke menghela nafas melihat
kekonyolan mereka.
"Aku juga ikuuutt!" kata Ino semangat.
"Oke, baiklah. Kita akan berjuang bersama
untuk menyelamatkan ayahmu Sakura!" Sai tersenyum. Sakura mengangguk
riang. Sedangkan Sasuke mendengus.
Hn. Pertempuran mereka akan dimulai.
.
.
.
~~
Chapter 8 : Uchiha Itachi?
.
.
.
"Orochimaru-sama, anda memanggil saya?"
Seorang pemuda berambut abu-abu datang dan menunduk kepada seorang pria paruh
baya yang kini duduk di kursi berbentuk ular dengan senyum merekah namun
terkesan menyeramkan.
"Ya, aku ingin menyampaikan berita menarik
padamu." Kabuto, pemuda tadi mendongak menatap Tuannya yang menyeringai,
dengan pandangan ingin tahu, Kabuto pun bertanya pada Tuannya itu. "Apa
itu?"
"Uchiha Sasuke sudah tahu kebenarannya,
menurut prediksiku, dia sudah lama mengetahuinya." Kabuto masih mengernyit
heran, belum menangkap maksud dari perkataan Tuannya. "Cepat atau lambat,
Sasuke pasti menyerangku. Dan saat itu, aku akan mengambil darahnya seperti
yang kulakukan pada kakaknya, bukankah itu berita bagus, Kabuto?" Kabuto
tersenyum kemudian mengangguk.
"Ya, senang mendengarnya. Darah Uchiha Sasuke
pasti akan membuat kekuatan Orochimaru-sama meningkat." Orochimaru tertawa
renyah mendengarnya.
"Akan kupastikan, Uchiha Sasuke akan bernasib
sama dengan Uchiha Itachi, maka dari itu, aku akan memancingnya agar
menyerangku…"
.
.
.
"Sakura-chaaaannn!" Sakura dan Ino
menoleh saat dilihatnya Naruto, Sasuke, dan Sai datang menghampirinya. Kedua
gadis itupun tersenyum, ternyata ritual mereka menunggu Sai, Sasuke dan Naruto
berlangsung tak begitu lama. Mereka bertiga datang lebih cepat dari jam sekolah
mereka.
"Jadi? Apa yang perlu kita bicarakan?"
Sai memulai pembicaraan mereka dengan senyum khas-nya.
"Entahlah, tanya pada orang yang memanggil
kita datang lebih cepat," jawab Naruto dan melirik Sasuke. Sasuke yang
dilirik seperti tersangka hanya mendengus sebal.
"Aku mau mengajak kalian ke suatu
tempat," kata Sasuke dengan wajah stoic-nya.
"Ke mana?" tanya Sakura mewakili
pertanyaan ketiga temannya. Sasuke hanya memandang Sakura tanpa berbicara
sedikitpun.
"Na-Naruto-kun…" Mereka berlima
membalikkan badan mereka saat mendengar sebuah suara halus yang memanggil nama
Naruto. Sepuluh pasang mata tersebut kini melihat seorang gadis bermata
lavender dan seorang pemuda berambut coklat panjang berdiri di hadapan mereka.
"Hinata-chan! Neji!" Hinata yang namanya
disebut oleh Naruto kini hanya tersenyum malu-malu dan memainkan kedua jarinya,
kebiasaannya ketika sedang malu.
"Kenapa kalian datang secepat ini?" Ino
bertanya pada Hinata, Hinata hanya menunduk malu, baru saja ia ingin menjawab,
tiba-tiba Neji memotongnya.
"Kalian sendiri? Kenapa kalian datang secepat
ini?"
"Kami ada urusan." Sasuke menjawab
pertanyaan Neji dengan dingin.
"A-ano… apa kalian sudah mendengar kabar
tentang penculikan monster?" Kelima remaja itu menoleh secara serentak
pada gadis bermata lavender tersebut, kaget akan perkataan yang dilontarkannya.
"Penculikan? Maksudmu?" tanya Ino.
"Hn, penculikan tentang monster seperti aku,
Hinata, Sai, Sasuke dan Naruto. Kasus itu sedang marak-maraknya
diperbincangkan. Mengapa kalian tidak tahu?" Neji menjawab pertanyaan Ino.
Kelimanya saling berpandangan bingung.
"Sejak kapan?"
"Tiga hari yang lalu. Monster seperti kita
berangsur-angsur menghilang. Sebaiknya kalian juga hati-hati. Bisa saja mereka
menculik kalian saat kalian lengah." Neji melangkah melewati mereka
berlima, Hinata juga menyusul di belakangnya setelah berojigi pada kelima
remaja yang kini tengah terkejut mendengar perkataan pemuda berambut pirang
coklat itu.
"Dia sudah beraksi…" gumam Sasuke
mengernyitkan dahinya.
"Dia siapa?" tanya Sai. Sasuke hanya
menggeleng sebagai jawaban dan kemudian melangkah pergi. Sakura, Sai, Ino, dan
Naruto juga akhirnya menyusul Sasuke tanpa bertanya apapun lagi pada pemuda
stoic itu.
.
.
.
"Sa-Sasuke… kita mau ke mana?" Sakura
akhirnya bertanya ketika Sasuke terus berjalan tanpa memandang ke belakang.
Sudah setengah jam mereka berjalan, namun tak sampai-sampai ke tempat tujuan.
Sasuke juga hanya diam jika ditanya dan terus berjalan tanpa memedulikan
temannya yang sudah lelah di belakangnya.
"Aku lelaaaahh!" Ino berteriak kencang.
Peluh memang sudah mengalir di pelipisnya saat ini. Naruto dan Sai pun juga
mengangguk setuju. Memangnya mereka mau ke mana? Sasuke mendengus dan akhirnya
membalikkan badannya. Menatap Sakura yang ngos-ngosan, Ino yang bersandar di
tiang listrik jalanan seraya mengelap peluhnya dengan kedua tangannya, Sai yang
jongkok di sebelahnya, dan Naruto yang tepar di samping Sakura.
"Kita mau ke mana Sasuke?" ulang Sakura.
Sasuke menunjuk sebuah gunung yang terlihat agak jauh di depannya. "Ke
sana," jawabnya yang membuat Ino berteriak histeris.
"Haaaahh?! Itukan gunung angker! Aku tak mau
ke sana! Mitosnya, saat seseorang ke sana, dia tak akan pulang-pulang lagi. Tak
ada yang berani ke sana! Kau gila yah?!" Ino menunjuk Sasuke. Sasuke hanya
menatap Ino dengan tatapan stoic-nya. "Gunung itu menyeramkaaann!"
teriak Ino menggelegar.
"Kau lebih menyeramkan," kata Sai yang
berada di sampingnya seraya menutup telinganya dan langsung disambut dengan
jitakan dari Ino.
"Ehhh?! Itukan…" Perkataan Naruto
langsung disambut anggukan dari Sasuke.
"Mansion Uchiha. Tempat tinggal para anggota
klan Uchiha." Ino dan Sakura tersentak mendengar penuturan Sasuke.
"Uchiha? Siapa itu?" tanya Ino heran.
"Uchiha nama marganya Sasuke. Klan Uchiha
adalah klan Sasuke," jelas Sai.
"Eeehh? Di gunung itu tempat tinggal Sasuke?
Gunung itu kan angker! Bagaimana bisa kau betah tinggal di sana?" tanya
Ino polos. Sai mendelik mendengar cicitan Ino. Gadis yang satu itu memang tak
tahu menahu mengenai asal-usul Sasuke.
"Sasuke dan klannya itulah yang membuat
gunung itu angker! Mereka keturunan vampire, jadi, kalau ada manusia, mereka
akan langsung memakannya." Sai berdiri dan menunjuk ke arah Ino.
"Termasuk kau." Ino membelalakkan mata aquamarine-nya. Sai benar
juga, yang manusia tulen kan hanya dia! Jadi, cepat atau lambat, dia akan mati
sebagai santapan klan Sasuke!
"Tidaaaakk! Aku tak mau ke gunung itu!"
Ino dengan cepat berlindung ke punggung Sakura. Sakura terikik geli melihat
tingkah Ino. Sai memang jahil pada sahabat pirangnya itu.
"Tenang saja Ino-chan! Kami akan
melindungimu!" Ino menatap Naruto dengan pandangan 'blink blink'. Seakan
Naruto ialah penyelamat jiwa dan raganya saat ini.
"Benarkah? Wah… arigatou Naruto!" Ino
tersenyum manis kepada Naruto, membuat Sai mendengus sebal dan membuang
wajahnya.
"Ayo Sasuke! Kita berangkat. Semakin cepat
kita berangkat, maka semakin cepat pula nenek pirang cerewet itu
disantap!" Sai melangkah sebal, meninggalkan Naruto, Sakura, dan Ino yang
cengo melihat tingkahnya yang tak biasanya. Lebih-lebih Naruto, baru kali ini
ia melihat sahabat yang biasanya tampil dengan topeng palsunya itu kini
mengeluarkan wajah sebalnya seperti itu.
.
~~~0~~~
.
"Selamat datang, Tuan Sa-"
"Dimana tua bangka itu?"
Sasuke memotong perkataan pelayannya saat ia masuk
ke dalam mansionnya. Sakura dan Ino menganga lebar melihat rumahnya yang lebih
pantas disebut istana dari pada rumah itu. Mereka berdua tak menyangka ada
bangunan seindah ini di gunung yang selalu disebut angker dan membawa kutukan
bagi siapa saja yang datang.
"Tuan Madara ada di ruangannya." Sasuke
melangkah begitu saja melewati pelayannya, dasar tidak sopan. Mereka menuju ke
sebuah ruangan yang nampaknya merupakan ruangan terbesar di rumah itu. Tanpa
mengetuk terlebih dahulu, Sasuke langsung saja memasuki ruangan Madara. Di
ruangan itu, terlihat seorang pria dengan umur sekitar 60-an sedang duduk dan
tersenyum ke arah Sasuke.
"Wah… tumben kau datang menemuiku Sasuke. Dan
siapa mereka? Apakah mereka teman-temanmu?" Sasuke tak mengindahkan
pertanyaan Madara dan langsung duduk di tempat yang telah disediakan tanpa
berkata apapun. Sai, Sakura, Ino, dan Naruto juga ikut duduk sebelum tunduk
menyalami Madara.
"Apa tujuanmu?" tanya Madara tanpa
basa-basi.
"Hn, aku ingin tahu sesuatu darimu, tua
bangka." Sakura melotot ke arah Sasuke. Berani-beraninya pemuda itu
bertingkah tidak sopan di depan pria yang sepertinya sangat berkuasa di rumah
itu? apa pemuda itu tak takut diusir? Oh, kalau Sasuke diusir, Sakura pasti
akan mengajak Sasuke tinggal bersama dengannya, membuka lembaran baru sebagai
manusia, melahirkan sepasang anak kembar, membangun sebuah keluarga sampai masa
tua, dan… Oke, cukup, ini ngawur. Back to the story.
"Oh ya? Apa yang ingin kau ketahu, cucuku
yang sangat sopan?" sindir Madara yang akhirnya tersinggung juga dengan
perilaku Sasuke.
"Dia sudah melakukan penculikan, aku ingin
tahu apa yang harus kulakukan." Madara tersenyum mendengarnya.
"Dia siapa?" tanya Naruto. Daritadi
semua orang menyebut 'dia' yang pemuda itu tak tahu siapa.
"Orochimaru," jawab Sasuke singkat. Ino,
Sai, dan Naruto membelalakkan matanya.
"Orochimaru-sensei?! Jadi dia…" Sasuke
mengangguk, memotong perkataan Naruto.
"Dia dalang dibalik semua ini."
"Apa maksudmu? Dia yang mengajar kami,
mengapa dia yang mau menangkap kami? Lagipula, gampang saja dia menangkap kami
jika kami telah dikumpul di sekolah malam kan?" Madara tertawa mendengar
perdebatan cucunya dan teman-temannnya, dan langsung mendapat deathglare
andalan Sasuke.
"Baiklah, kalian sepertinya sangat ingin
tahu-"
"Tidak usah berbasa-basi, langsung saja ke
intinya," ucap Sasuke ketus.
"Hn, baiklah. Si ular itu sudah berani
rupanya," gumam Madara.
"Apa sebenarnya tujuan Orochimaru?"
tanya Sakura. Madara menatap Sakura dan tersenyum ramah melihat gadis itu.
"Kau pasti anak Haruno Kizashi." Sakura
membelalakkan matanya. Bagaimana dia bisa tahu?
"Kau mengenal ayahku?" tanya Sakura
antusias.
"Tentu saja, Kizashi itu sahabat anakku,
Fugaku, ayah Sasuke. Dia seorang monster medis yang hebat, Orochimaru sudah
lama mengincar kekuatannya. Lalu sekarang bagaimana ayahmu?" Sakura
tertunduk sedih mendengarnya.
"Dia sudah ditangkap." Madara terkejut
mendengarnya.
"Apa?! Ayahmu-" Sasuke memberi kode pada
kakeknya untuk melanjutkan ceritanya dan tidak meneruskan topik
perbincangannya.
"Baiklah, tujuan Orochimaru selama ini,
hanyalah untuk memanfaatkan kekuatan para monster, menguasai dunia, dan tentu
saja…. Memusnahkan klan Uchiha." Sasuke dan Sakura terbelalak.
"Orochimaru sebenarnya mempunyai dendam yang sangat besar dengan klan
kami, selain cintanya yang pernah kurebut, klan Uchiha memang selalu menang
darinya. Segala hal sudah ia coba untuk memusnahkan kami, namun ia selalu gagal
dalam usahanya. Sehingga ia memutuskan untuk mencuri kekuatan para monster
setengah manusia, termasuk ayah Sakura. Setelah ia mungkin sudah merasa kuat,
ia dan klannya, para hunter, menyatakan perang pada kami." Madara
mengambil nafas ditengah penjelasannya. "Namun kami tak pernah
menanggapinya. Ia sudah mengirim berbagai pasukan untuk menyerang kami, dan
disaat kami lengah, mereka berhasil membunuh Uchiha Itachi, kakak Sasuke. Saat
itu, Sasuke juga hampir terbunuh, untung saja kami segera datang menyelamatkannya."
Sasuke kembali terbayang masa itu, saat ditengah hujan dan petir, kakaknya
tebunuh di dalam kegelapan. Hanya cahaya petir dan bau anyir serta kakaknya
yang tergeletak, hanya itu yang mampu ia ingat.
"Mereka mengambil tubuh Itachi, aku juga
tidak tahu apa tujuan mereka, sebab saat kami datang, kami hanya menemukan
Sasuke yang pingsan, dan tubuh Itachi yang menghilang." Madara memandang
sendu ke lantai, mengingat salah satu cucu kebanggaannya yang kini telah tiada.
Sasuke juga ikut terdiam, fokus dalam pikirannya sendiri.
"Kami ingin menghabisi Orochimaru!" Ino
memecahkan keheningan. Gadis itu mengepalkan tangannya. Meskipun bukan klannya,
namun Ino dapat merasakan betapa tersiksanya monster semacam Sakura. Pasti
mereka dihantui oleh rasa takut, bisa saja mereka, ataupun orang yang mereka
sayangi dibunuh di depan mereka.
"Aku juga mau menghabisi
Orochimaru,-dattebayo!" Naruto ikut berseru dan memukul dadanya. Sai
tersenyum, pertanda bahwa ia setuju dengan kedua makhluk pirang di dekatnya.
Madara bahkan juga ikut tersenyum.
"Hahaha… aku percaya pada kalian, juga
padamu, Sasuke." Madara menatap Sasuke. "Aku yakin kau dapat
mengehentikan semua ini. Tak perlu menghancurkan seluruh hunter yang ada di
bumi ini, kau hanya perlu membunuh pemimpinnya, Orochimaru." Sasuke
mengangguk dengan wajah datarnya. "Aku tahu siapa yang bisa membantu
kalian untuk menghabisi Orochimaru." Kelima remaja tersebut menatap Madara
secara serempak dengan pandangan ingin tahu.
"Akatsuki, sebuah organisasi hebat. Mereka
telah membunuh beberapa hunter yang cukup kuat. Aku tak tahu siapa mereka,
namun aku tahu mereka mempunyai tujuan yang sama dengan kita."
"Di mana kita dapat menemukan Akatsuki?"
tanya Sai yang sedari tadi diam.
"Akatsuki pernah mengirim surat padaku, surat
yang menyatakan bahwa aku harus menanggapi pernyataan perang Orochimaru, dan
jika aku melakukan itu, mereka akan membantuku. Mereka menyebutkan lokasi
mereka berada di Iwagakure," jelas Madara. Iwagakure, terkenal dengan
hutan rimbanya. Seseorang yang akan percaya mitos seperti Ino tak akan berani
ke daerah itu.
"Kalian harus menemukan Akatsuki untuk
membantu kalian, jelaskan bahwa kalian tak ingin perang dan hanya ingin
berjuang sendiri melawan Orochimaru. Dan sekali lagi, aku percaya pada kalian,
aku percaya kalian dapat menghilangkan segala ketakutan yang menghantui para
monster. Aku percaya kalian adalah orang-orang yang ditakdirkan Tuhan untuk
menghentikan mimpi buruk ini."
.
.
.
"Haaahh…! Aku capek mendengar penjelasan
kakek Sasuke!" keluh Ino berpura-pura menyapu peluh (yang sebenarnya tidak
ada) di jidatnya. Perkataannya disambut anggukan oleh Naruto.
"Jadi, sekarang, kita mau ke mana? Apakah
kita langsung mencari markas Akatsuki?" tanya Sai pada Sasuke. Sasuke
menggeleng.
"Cukup untuk hari ini, kita sebaiknya kembali
ke sekolah. Dan jangan mengeluarkan gelagat yang dapat membuat Orochimaru
curiga," jawab Sasuke dan disambut anggukan dari keempat temannya.
"Bagaimana dengan kami?" tanya Sakura.
"Terserah kalian mau kembali ke sekolah atau
langsung pulang." Ino dan Sakura berpandangan, kemudian mengangguk
bersamaan. "Kami ikut ke sekolah!" ucap mereka serempak. Sasuke
mengangguk dan kemudian mereka kembali ke gedung sekolah mereka, dan tentu
saja, menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.
.
.
.
"KONBA-" Perkataan Naruto terhenti saat
semua penghuni kelas mengerumuni sesuatu, dan tidak ada yang menghiraukan
Naruto, alhasil, pemuda itu langsung pundung di sudut ruangan.
"Ada apa?" tanya Ino pada Temari. Temari
langsung mengangkat bahunya. Ino dan Sakura mendekat ke arah yang dikerumuni
para monster tersebut.
"Hinata? Ada apa?" Sakura dan Ino
terkejut saat mengetahui bahwa yang dikeremuni tersebut Hinata yang sedang
menangis terisak sambil menggenggam sesuatu. Sai, Sasuke, dan Naruto yang tadinya
pundung segera mendekat dengan rasa ingin tahu. Terutama Naruto, pemuda itu
langsung menyuruh semua orang menghindar dengan suara menggelegarnya.
"Kau kenapa, Hinata-chan?" tanya Naruto.
Hinata mendongak menatap Naruto, namun masih dengan isak tangis.
"N-Naruto-kun…" lirihnya di sela
tangisnya.
"Ada apa?" tanya Sai. Hinata menunduk
dan kemudian terisak kembali.
"Ne-Neji-nii-san…hiks…" gumam gadis
indigo bermata lavender tersebut.
"Neji? Ada apa dengan Neji?" tanya
Naruto.
"Ne-Neji-nii-san menghilang… ta… tadi, dia
pamit ke wc, tapi sejak jam pelajaran pertama usai, dia tidak kembali…hiks… dan
saat mencarinya, aku menemukan sesuatu…hiks, dan aku yakin Neji-nii-san
diculik! Neji-nii-san tidak mungkin membolos, dan…hiks, Neji-nii-san tidak
mungkin menjatuhkan ini, kecuali saat sedang bertarung…hiks…" jelas Hinata
tersedu-sedu. Sasuke semakin mendekat. Orochimaru memang benar-benar ingin
diserang, bahkan salah satu siswa sekolah ini sudah berani diculiknya.
"Memangnya apa sesuatu itu?" tanya
Naruto penasaran. Hinata memperlihatkan sesuatu yang sedaritadi di genggamnya,
semua orang dapat melihat sesuatu itu dengan jelas.
1 detik…
2 detik…
5 menit…
WHAT?! KARET IKAT RAMBUT?!
Semua yang ada di ruangan itu sweatdrop
melihatnya. Mana mungkin Hinata melaporkan kakaknya diculik dan buktinya hanya
sebuah karet ikat rambut Neji?!
"Neji-nii-san tak pernah melepas ikat
rambutnya…hiks, kecuali saat terjatuh atau putus saat bertarung…hiks, pasti
Neji-nii-san diculik…hiks…" Semua orang bubar dengan sendirinya. Kecuali
Naruto, Sai, Sasuke, Sakura, serta Ino.
"Baiklah, bisa saja ucapan Hinata benar.
Mungkin Neji memang diculik oleh hunter," ujar Sai mengeluarkan
pendapatnya dan disambut anggukan setuju oleh Naruto.
"Aku mohon… hiks, selamatkan
Neji-nii-san…" pinta Hinata. Naruto memegang kedua pundak Hinata.
"Tenang saja, Hinata-chan! Kami akan
menemukan Neji!" ucap pemuda pirang tersebut dengan cengirannya yang
membuat wajah Hinata memerah. "Teme! Kita bisa menyelamatkan Neji
'kan?" tanya Naruto pada Sasuke yang nampak berpikir keras. Sasuke
akhirnya mengangguk.
"Baiklah, kalau sudah begini, sebaiknya
sekarang kita menemui Akatsuki," kata Sasuke.
"Akatsuki? Si-siapa itu?" tanya Hinata
yang agaknya sudah membaik.
"Dia organisasi yang dapat membantu kita, tenang
saja, Hinata-chan. Kita pasti akan mengembalikan Neji!" Ino dan Sakura
menyemangati Hinata.
"Kalau begitu, ayo!" ajak Sai.
"Ka-kalian mau ke mana? Aku ikut!"
Kelima remaja tersebut berpandangan. Apa ia harus mengikutsertakan Hinata dalam
misi mereka ini?
"Tentu saja Hinata-chan!" Sasuke
memandang Naruto seraya mendengus, memangnya siapa yang ketua disini? Dan…
yakin sekali Sasuke bahwa ialah ketua disini, heh?
.
.
.
"Menyeramkaaann! Disini gelap sekali!"
teriak Ino saat mereka memasuki kawasan hutan Iwagakure. Disini memang
menyeramkan, hanya cahaya bulan yang membantu penerangan mereka.
"Diam bodoh!" Sakura menjitak Ino. Ino
hanya meringis seraya memegang jidatnya.
"Hati-hati, disini banyak jebakan-"
KRESEKK
"KYAAA!"
Sasuke membalikkan badannya. Siapa yang berteriak?
Mata onyx-nya bergulir menatap semuanya, Ino ada, Sai ada, Naruto, Hinata, dan…
Sakura?
"Ke mana Sakura?" Semuanya menggeleng
dan mengangkat bahunya. Sasuke mendecih, baru saja ia bilang hati-hati dengan
jebakan, sudah ada yang terjebak.
"Tolong akuu!" Sebuah teriakan membuat
Sasuke mencari darimana asal teriakan tersebut, bawah. Ia melihat sebuah lubang
dengan Sakura di bawahnya yang meminta tolong, Sasuke sekali lagi mendecih dan
turun untuk menolong Sakura.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke.
Sakura mencoba berdiri, namun kakinya terkilir, membuatnya terjatuh kembali.
"Ck, kau ini…" Sasuke menggendong Sakura
ala bridal style, membuat wajah Sakura memerah. Sasuke langsung melompat ke
atas, dan langsung disambut tatapan heran teman-temannya.
"Cie… ehm… ehem!" goda Ino yang membuat
wajah Sakura memerah. Sasuke memalingkan wajahnya dan menurunkan Sakura
perlahan-lahan.
"Aku… sudah tidak apa, Sasuke…" kata
Sakura yang mencoba berjalan walau tertaih-tatih. Sasuke berjalan di sampingnya,
menjaga sewaktu-waktu Sakura mendapat jebakan lagi.
"Sai, kau jaga Ino! Naruto menjaga Hinata,
dan aku akan menjaga Sakura!" perintah Sasuke. Ketiga sahabatnya
mengangguk, dan wajah para wanita memerah. Mereka terus berjalan menelusuri
hutan tersebut, mereka tidak menemukan apa-apa selain pohon. Sampai-
HHHH…HHH….
"Naruto! Kau kalau bernafas jangan terlalu
besar!" tegur Ino dan menoleh ke belakang. Naruto hanya memandang heran.
Ino lebih heran melihatnya, bukan Naruto, lalu siapa? Mereka menoleh ke
belakang, tepatnya ke belakang Sasuke dan Sakura yang kini terbelakang. Mata
aquamarine gadis itu sukses membulat mendengarnya.
"B- BADAAAAAKKK!" teriaknya menggelegar.
Keenam remaja tersebut refleks lari, menghindari buruan badak tersebut. Badak
tersebut sangat besar, dengan mata ungu tajam dan bulu berwarna abu-abu.
"T-tunggu!" Sakura yang kakinya terkilir
hanya bisa berlari pelan sambil meringis. Sasuke yang melihat itu terpaksa
harus menggendong Sakura lagi dan berlari menyusul teman-temannya. Lima belas
menit bermain kejar-kejaran bersama badak, akhirnya Sasuke menurunkan Sakura.
"Tunggu di sini," ucapnya dan berlari ke
arah badak tersebut. Lelaki itu mengambil sebuah balok kayu yang kebetulan ada
di sana, dan melompat ke kepala badak itu. Pemuda itu hampir terjatuh saat
badak itu mengamuk, namun Sasuke segera memukul kepalanya, membuat badak
tersebut pingsan di tempat. Sakura, Ino, Hinata, Naruto, serta Sai mendecak
kagum atas keberaniannya melawan badak ukuran raksasa tersebut. Baru saja
mereka bernafas lega, tiba-tiba-
"KYAAAA!"
Sasuke kembali membalikkan badannya dengan cepat
menatap teman-temannya. Ino ada, Sai ada, Hinata ada, Naruto ada, dan… Sakura…
juga ada! Namun gadis itu berada di pelukan seorang pemuda berambut pirang
dengan tindik di wajahnya. Pemuda itu menutup mulut Sakura yang meronta-ronta.
DEMI APAH?! KENAPA SELALU SAKURA YANG CELAKA?!
"Katakan apa tujuan kalian, atau wanita ini
akan mati…" kata pemuda itu dan mengambil pisau, kemudian mendekatkannya
di leher Sakura. Belum sempat Sasuke menjawab, datanglah delapan orang dengan
berbagai bentuk di samping kiri dan kanan pemuda bertindik tadi. Salah satu
diantaranya, membuat Sasuke membelalak kaget. Hanya diterangi cahaya bulan,
Sasuke dapat melihat salah seorang pemuda berjubah yang sangat dikenalinya.
"I-Itachi?"
.
.
.
Chapter 9 : My feeling
"I-Itachi?!"
Sai, Ino, dan Naruto memandang Sasuke dengan mata
terbelalak. Itachi? Uchiha Itachi?
"Kau mengenalnya, Itachi?" tanya seorang
pemuda berambut pirang yang menutupi sebelah matanya pada pemuda dengan mata
merah yang memandang segalanya dengan tatapan dingin tersebut.
"Tidak." Setelah sekian lama, akhirnya
pemuda tadi menjawab, membuat Sasuke memandangnya kaget.
"Apa yang kau katakan?!" seru Sasuke
marah. Semuanya kaget melihat Sasuke seperti itu, Sasuke yang dulunya selalu
bersikap dingin dan cuek sekarang dikuasai amarah. Sedangkan pemuda tadi hanya
menatap Sasuke dengan pandangan dinginnya.
"Aku tak punya seorang adik." Sasuke
mengepalkan tangannnya. Onyx-nya menatap Itachi marah. Sakura meronta-ronta
dalam bekapan pria bertindik tersebut.
"Hmmp! Hmmp…!"
"Cih, kau liar juga," ujar pria
bertindik tersebut. Sedangkan wanita di sebelahnya yang merupakan satu-satunya
wanita di Akatsuki menyuntikkan sesuatu ke leher Sakura yang membuat wanita itu
pingsan.
"Sakura!" Ino menyeruakkan nama Sakura
dan berniat menghampirinya, namun tangan Sai mencegahnya. Ino menatap Sai
tajam.
"Jangan cegah aku!" Ino berusaha
melepaskan cengkraman tangan Sai. Sai juga ikut menatap Ino tajam. Namun Ino
tak menghiraukannya dan segera menepis tangan Sai. Gadis itu berlari ke arah
pria bertindik tersebut. "Apa yang kau lakukan pada Sakura?!" seru
gadis itu marah. Langkah Ino terhenti saat wanita yang menyuntik Sakura tadi
menghalangi jalannya. Wanita itu menatap Ino dingin, Ino mengeluarkan jurus
bela dirinya, namun semuanya berhasil dihindari oleh wanita berambut biru
tersebut.
"Cih!" Ino mendecih kesal. Ia
mengeluarkan tendangannya dan HAMPIR mengenai wajah wanita itu yang membuatnya
mundur beberap langkah ke belakang. "Dasar tukang lari!" Ino mulai
mendekati wanita itu lagi, namun ia tak sadar ada sebuah pisau yang dilemparkan
padanya.
"Ino-chaaaann!" Hinata meneriaki Ino.
Ino memandang ke arah pisau yang menghampirinya(?) itu. ia menutup matanya,
bersiap-siap menerima tusukan mesra sang pisau.
Jleebb!
Ino masih menutup matanya. Ia meraba-raba
tubuhnya. Ia menatap tubuhnya heran, tidak ada apa-apa, pisau, rasa sakit, atau
apapun itu sama sekali tak ia rasakan. Ia memandang ke depan, mata aquamarine-nya
sukses terbelalak saat melihat punggung Sai di depannya.
"S-Sai!" Ino segera menangkap tubuh Sai
yang hampir jatuh ke tanah. Ia melihat pisau tersebut tertancap di dada kiri
Sai dengan darah yangmengalir deras di daerah tersebut. "S-Sai…!"
Bulir-bulir air mata kini berjatuhan di pipi Ino. Naruto dan Hinata yang
melihat hal tersebut kini segera menghampiri Ino dan Sai. Sai hanya tersenyum
lemah melihat Ino, tangannya terulur ke wajah Ino dan menyeka air mata gadis
tersebut. Pria itu masih saja menyunggingkan senyum palsunya.
"K-kau… semakin … te-terlihat … jelek …
sa-saat menangis …" Ino merasa tangan Sai yang mengelus pipinya
perlahan-lahan jatuh ke tanah diiringi dengan mata pemuda berkulit pucat
tersebut yang perlahan-lahan menutup.
"SAAAIIII!"
.
Sasuke memandang ketiga temannya dengan miris. Ino
terlihat menangis, Naruto juga ikut tertunduk sedih dengan Hinata yang juga
menangis di sebelahnya. Sasuke kemudian menatap tajam ke pemuda bertindik
tersebut, mencoba untuk tak menghiraukan Itachi dan tatapan dinginnya.
"Kami tidak ingin menyerang kalian, kami
hanya ingin bekerjasama pada kalian!" Sasuke berseru kencang. Pemuda
bertindik tadi kemudian melemparkan tubuh Sakura ke arah seorang pria berambut
merah dengan wajah baby face dan mendekat ke arah Sasuke. "Kami ingin
menghancurkan Orochimaru, kami mempunyai tujuan yang sama dengan kalian."
Pria bertindik tadi masih saja melangkah menuju Sasuke tanpa berkata apapun.
Pria itu terhenti dengan jarak satu meter di depan Sasuke.
"Kau utusan Madara?" tanya pria itu, tak
meninggalkan kesan dingin salam nada bicaranya. Sasuke mengangguk. "Apa
buktinya?" Sasuke kini terdiam. Bisa-bisanya ia melupakan hal seperti itu!
"Dia… dia kakekku! Lihat wajahku dan Itachi,
kami bersaudara, dan kami cucu dari Madara Uchiha!" Pein, pemuda bertindik
tadi memerhatikan wajah Itachi dan wajah Sasuke secara bergantian.
"Itachi bilang dia tak mempunyai adik, kau
mau berbohong, heh?" Pemuda dengan gaya rambut seperti Ino berbicara
seraya mendengus. Sasuke menatap tajam ke arahnya, kemudian ke arah Itachi.
"Diam, Deidara!" Wanita berambut biru
tadi menatap tajam Deidara, Deidara kemudian mengangkat bahunya dan terdiam.
"Dia mengatakan bahwa kalian mengirimnya
surat, menyuruh Tu- Hn, Madara menyatakan perang pada anggota hunter."
Pein sedikit tersentak mendengar penuturan Sasuke, kemudian pria tersebut
tersenyum.
"Baiklah, aku percaya. Ikuti kami, dan bawa
temanmu yang terluka tersebut. Sasori, bawa gadis itu!" Pein memerintahkan
pemuda yang menggendong Sakura tadi. Sasuke segera menghampiri Ino, Naruto,
Hinata, dan Sai yang kehilangan kesadarannya.
"Ikuti mereka," perintah Sasuke. Ino
yang memeluk kepala Sai menatap Sasuke tajam, air mata gadis itu masih
berlinang.
"Dan kau ingin meninggalkan Sai?! Dia… Sai…
hiks…" Sasuke menjongkokkan badannya. Pisau tadi masih tertancap di dada
kiri Sai. Sasuke menatap sahabatnya itu miris, tentu saja semuanya khawatir,
pisau tadi menancap di area jantung Sai. Darah masih merembes melalui luka
tersebut.
"Cepat bawa Sai, mungkin mereka mempunyai
obat." Sasuke mencabut pisau tadi. Darah kini semakin mengalir deras.
Wajah Sai juga semakin pucat dari sebelumnya.
Sreekkk!
"I-Ino… apa yang kau lakukan?!" Naruto
menatap Ino kaget saat wanita itu merobek bajunya sampai perut. Gadis itu
kemudian melilitkan kain bajunya di luka Sai.
"Setidaknya… darahya sedikit tersumbat karena
ini," kata Ino. Hinata tersenyum melihat Ino. Setelah ikatan talinya cukup
kencang, Naruto menggendong Sai di belakangnya dan mengikuti langkah Akatsuki
yang telah berada jauh di depan.
.
.
.
"Enghh…"
"Sakura?" Emerald Sakura terbuka. Wajah
yang pertama kali dilihatnya ialah wajah pemuda yang dicintainya. Namun gadis
itu terlihat kebingungan dengan ruangan asing yang kini dipakainya.
"Di mana aku?" tanya Sakura pada Sasuke.
Sakura menatap sekeliling, yang ada di ruangan tersebut hanyalah dirinya dan
Sasuke. "Di mana semua orang?"
"Ini markas Akatsuki. Orang-orang sedang
menunggu Sai sadar," jelas Sasuke singkat.
"Sai? Ada apa dengan Sai?!" Mata Sakura
terbelalak.
"Sai terluka, kenapa? Kau mau
melihatnya?" Sakura mengangguk sebagai jawaban. Mereka berdua kemudian
menuju ke sebuah ruangan yang tidak terlalu jauh dari ruangan mereka tadi.
Markas Akatsuki tersebut cukup gelap, yang menerangi hanyalah cahaya bulan dan
lilin. Sasuke dan Sakura memasuki ruangan di mana Sai berada, Sakura melihat
Sai terbaring lemah dengan Ino yang menggenggam tangan Sai serta Naruto dan
Hinata yang duduk di pojok ruangan. Sakura juga melihat anggota Akatsuki di
sana.
"Dia akan baik-baik saja, pisau itu tidak
mengenai jantungnya," ucap Sasori innocent, padahal tadi dia yang
melemparkan pisau tersebut!
"Sakura-chan!" Naruto yang pertamakali
menyadari keberadaan Sakura segera meneriakkan namanya, Ino dan Hinata juga
menoleh padanya. Sakura tersenyum melihatnya. Namun senyumnya hilang saat Ino
memalingkan wajahnya ke Sai. Sakura tersenyum maklum, jelas saja Ino tidak
terlalu senang menyambutnya, pasti yang ada di pikiran wanita itu hanyalah
keselamatan Sai. Sakura teringat saat Sasuke melindunginya dari tembakan
Orochimaru, saat itu ia juga kalang kabut mencari bantuan. Ngomong-ngomong…
Sakura menoleh ke sampingnya dan tidak menemukan Sasuke. Di mana pria itu?
Sakura mencari Sasuke di semua ruangan, pemuda itu tidak ada di manapun. Gadis
itu tidak menyerah, ia kemudian keluar markas demi menemukan Sasuke. Sakura
tersenyum saat mendapati Sasuke duduk di dermaga sungai yang tidak jauh dari
markas tersebut.
"Sasuke?" Sasuke menoleh dan melihat
Sakura. Namun pemuda itu memalingkan wajahnya dan menatap bulan, satu-satunya
sumber cahaya di tempat mereka saat ini.
Sakura melangkah mendekati Sasuke dan duduk di
sebelahnya. Kakinya sedikit ia goyangkan untuk bermain air. Namun tingkahnya
sama sekali tak dihiraukan oleh Sasuke.
"Kau kenapa?" Sakura menyentuh pundak
Sasuke, namun Sasuke menepis tangan Sakura, membuat gadis itu sedikit kaget.
"Ada apa denganmu?" tanya Sakura mulai emosi, Sasuke tetap terdiam
dan memandang bulan. Merasa tak dihiraukan, Sakura berdiri dengan wajah kesal.
"Dia…" Sasuke membuka suaranya. Sakura
sedikit tersentak, namun gadis itu memutuskan untuk duduk di sampingnya lagi.
"Dia berubah…" Sakura dapat melihat tatapan sendu dari Sasuke. Meski
Sasuke tak menatapnya, namun Sakura dapat merasakan kepedihan yang terpendam di
mata yang selalu memancarkan sorot dingin itu.
"Apakah tentang Itachi-san?" Sakura
menebak, namun Sasuke masih terdiam.
"Dia dulu tak seperti itu, Itachi tak
sedingin itu." Sakura memandang Sasuke sedih. Pasti Sasuke sangat marah
dan sedih saat Itachi mengatakan bahwa dirinya tak mempunyai adik. Sasuke
tiba-tiba menutup matanya, angin berhembus kencang. Rambut Sakura ikut berkibar
mengikuti hembusan angin.
"Hn, sudahlah…" Sasuke hendak berdiri.
Namun Sakura tiba-tiba memeluknya, membuatnya sedikit tersentak dengan perlakuan
gadis itu yang tiba-tiba mengalungkan kedua tangannya ke leher Sasuke.
"Aku mohon…" Sasuke merasakan nafas
Sakura di tengkuknya. "Jangan kau tanggung penderitaanmu sendiri,
Sasuke…" Sasuke masih terdiam, tak melawan, namun juga tak membalas pelukan
hangat dari Sakura. "Itachi-san, dia pasti punya alasan lain yang tak bisa
dia ungkapkan, aku mohon kau jangan sedih seperti ini," kata Sakura tak
melepaskan pelukannya.
"Ino, Naruto, Sai, mereka semua peduli
padamu. Dan aku… aku akan selalu berada di sisimu, Sasuke, karena aku-"
Sakura menghirup nafas sedalam yang ia bisa. "-mencintaimu."
Sasuke masih terdiam, tak menunjukkan pergerakan
apapun. Mata onyx-nya masih sendu. Ia merasakan perkataan Sakura hanyalah
penggiring angin yang berhembus kencang malam ini.
"Sekali lagi, jangan kau tanggung semuanya
sendirian! Aku… aku tahu aku tak berguna, aku hanya bisa menangis di depanmu,
aku hanya bisa memohon perlindungan darimu. Jadi… aku mohon kau juga meminta
sesuatu padaku untuk membalas segala perlindungan yang kau berikan padaku. Jika
kau sedih, tak usah segan memanggilku untuk menemanimu, aku pasti akan selalu
di sisimu, Sasuke. Jika kau butuh hiburan, tak usah segan memanggilku untuk
menghiburmu, aku akan selalu menemanimu di saat suka dan duka. Aku menyayangimu,
aku sungguh mencintaimu, Sasuke…"
"…aku janji akan selalu menemanimu di saat
suka dan duka, aku janji akan menemanimu saat kau ingin menanyakan Itachi
tentang perubahan sikapnya, aku janji akan-" Perkataan Sakura terputus
saat dirasakannya Sasuke memeluk punggungnya. Sasuke membalas pelukannya!
Sakura terbelalak, namun dirinya juga tersenyum lembut, merasakan kehangatan
Sasuke.
"Arigatou, Sakura…"
.
.
.
"Engghh…"
"Sai!" Ino tersenyum sumringah saat Sai
membuka matanya. Gadis itu menutup mulutnya, menahan air matanya yang hendak
keluar lagi. Sai menatap Ino kebingungan.
"Kau kenapa? Wajahmu semakin jelek."
Emosi Ino tersulut mendengar ucapan innocent Sai. Gadis itu menjitak Sai yang
membuat pemuda tersebut meringis. "Huh, dasar nenek cerewet! Memangnya kau
kena-"
Hup!
Mata onyx Sai sedikit terbelalak saat Ino
memeluknya. Gadis itu menyandarkan dahinya ke bahu Sai.
"Dasar bodoh, kenapa kau melindungiku?"
Ino berkata dalam pelukannya. Sai tersenyum lemah dan mengelus rambut Ino
pelan.
"Memangnya kenapa?"
"Kau… baka! Baka! Baka! Sai bodoh! Seharusnya
kau tak melakukan itu, kau membuatku-" Perkataan Ino terputus. Sai
tersenyum geli.
"Membuatmu apa, heh? Kau khawatir, hmm?"
Wajah Ino yang berada di dada Sai memerah mendengar godaan pemuda senyum palsu
tersebut.
"Baka!" Tanpa sadar, Ino mengetukkan
kepalanya ke dada Sai, membuat pemuda tersebut meringis kesakitan.
"A-aww…" Ino yang melihatnya segera
memasang wajah khawatir.
"G-gomen! Gomen Sai!" Sai hanya
tersenyum melihat wajah khawatir Ino. Pemuda itu kemudian mengulurkan tangannya
dan meraih wajah Ino, kemudian pemuda itu menyembunyikan wajah Ino di dadanya
lagi, membuat wajah Ino memerah.
"Tetaplah seperti ini…"
.
.
.
"Oke, Hinata-chan, Sasuke berpelukan dengan
Sakura-chan di dermaga, Sai dan Ino juga nampaknya tak ingin diganggu.
Jadi…" Naruto menatap Hinata yang wajahnya memerah di sampingnya.
"Apa yang harus kita lakukaaaannn?!" Naruto berteriak frustasi.
Hinata tersenyum melihat Naruto. Mereka menyusul Sakura saat gadis itu mencari
sesutau, dan mengintip mereka berpelukan, setelah kembali ke ruangan Sai,
mereka malah dikejutkan oleh Ino yang memeluk Sai dan Sai yang mengelus rambut
Ino serta Akatsuki yang menghilang entah ke mana. Membuat mereka akhirnya hanya
berjalan-jalan menelusuri markas akatsuki. Berdua.
Ya, berdua. Wajah Hinata memerah mengingat bahwa
sekarang ia hanya berdua dengan Naruto. Berada di samping orang yang ia sukai
tak ayal membuat gadis itu terlihat gugup dari tadi, dengan wajah memerah dan
jari yang ia mainkan. Namun Naruto tak menghiraukan hal itu dan mengaitkan
kedua tangannya ke belakang kepalanya, gaya khas andalan pemuda berkumis kucing
tersebut.
Hinata menatap karet ikat rambut Neji yang kini ia
jadikan gelang di tangannya. Wajah wanita itu seketika menunduk sedih. Apa yang
kakaknya itu lakukan sekarang? Apakah kakaknya itu sedang disiksa sekarang?
Atau… kakaknya sudah tak ada di dunia lagi?
Wajah Hinata menunduk sedih. Naruto yang berada di
sebelahnya heran melihatnya.
"Kau kenapa, Hinata-chan?" Naruto
menghentikan langkahnya. Hinata juga ikut menghentikan langkahnya, wajah gadis
itu masih tertunduk.
"A-aku… memikirkan Neji-nii-san…" Naruto
menaikkan kedua alisnya. Ia kemudian memegang kedua pundak Hinata, Hinata
tersentak saat merasakan kedua tangan Naruto menyentuh pundaknya.
"Aku pasti akan menyelamatkan Neji! Percaya
padaku, Hinata-chan!" Hinata tertegun mendengarnya. Namun sedetik
kemudian, gadis indigo tersebut tersenyum. Hatinya menghangat saat melihat
senyum Naruto. Ia mengangguk dengan cepat dan tersenyum lembut. Naruto yang
melihat senyumnya tertegun, membuat Hinata salah tingkah.
"Eh? Ke-kenapa, Naruto-kun?" Hinata
memiringkan kepalanya.
"Senyummu…" Naruto menatap Hinata.
"Senyummu sangat manis Hinata-chaaaannn!" Naruto segera memeluk Hinata.
Sedangkan yang dipeluk hanya blushing tak karuan, dan kehilangan kesadarannya.
"Eh?! Hinata-chan?! Kenapa kau
pingsan?!"
.
.
.
Sasuke dan Sakura melangkah menuju ruangan Ino.
Sakura merasa Sasuke sudah cukup terhibur saat pemuda itu melepaskan pelukan
Sakura. Sorot onyx Sasuke juga tak sesendu tadi. Walau pemuda itu hanya diam
sesudah mengatakan terimakasih pada Sakura. Sakura juga tak mengerti mengapa
Sasuke mengatakan hal itu, namun gadis itu hanya bisa tersenyum maklum.
Perasaannya masih tak terbalas, Sasuke tak mengatakan apapun tentang hal itu.
Sasuke dan Sakura memasuki ruangan Ino. Namun
mereka berdua dikagetkan oleh pemandangan di depannya. Ino memeluk Sai yang
terbaring lemah. Nampaknya dua sejoli tersebut tak merasakan keberadaan Sasuke
dan Sakura.
"Ehem!" Sakura berdehem agak keras. Ino
tersentak dan bangkit terduduk, Sai juga ikut terduduk, meski dibantu oleh Ino.
Ino meringis dengan wajah memerah, sedangkan Sai hanya tersenyum seperti
biasanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Sakura
memiringkan kepalanya. Ino menggeleng cepat.
"Tidak apa-apa!" Ino menjawab dengan
cepat. Sakura hanya mangut-mangut dan duduk di samping Ino diikuti Sasuke di
belakangnya.
"Ehem… kalian dari mana?" goda Ino pada
Sakura. Wajah Sakura memerah mendengarnya, yang disambut tatapan jahil oleh
Ino.
"K-kau sendiri, apa yang kalian lakukan saat
kalian hanya berdua?!" seru Sakura. Kali ini Ino yang blushing.
"Di-di mana Naruto dan Hinata?" tanya
Ino mengalihkan pembicaraan. Ia sadar, bahwa berdebat dengan Sakura tak akan
selesai-selesai sampai besok pagi. Sakura juga ikut celingak-celinguk mencari
mereka.
Drap! Drap! Drap!
Keempat remaja tersebut sontak menoleh ke arah
pintu. Kini mereka melihat Naruto yang ngos-ngosan dengan Hinata yang pingsan
di gendongannya. Naruto kemudian menyuruh (baca : menendang) Sai dari kasurnya
dan menidurkan Hinata di atasnya yang disambut tatapan sweatdrop dari
teman-temannya. Naruto kemudian mengibas-ngibaskan tangannya, bertujuan untuk
mengipas Hinata.
"Apa yang kau lakukan pada Hinata?"
tanya Sakura curiga. Naruto menggeleng.
"Aku tak melakukan apapun!" bela Naruto
pada dirinya sendiri. Sakura masih memandang Naruto dengan pandangan curiga,
namun terhenti saat Hinata menunjukkan pergerakan pada tangannya. Gadis itu
perlahan-lahan membuka mata lavender-nya. Naruto tiba-tiba mendekatkan wajahnya
pada wajah Hinata.
"Hinata-chan?" Hinata membuka matanya.
Wajah yang pertama kali ia lihat ialah wajah Naruto. Wajahnya kembali memanas.
Dekat… ini sangat dekat!
"Eh? Hinata-chan? Hinata-channn! Kenapa kau
pingsan lagii?"
.
.
.
"Jadi, apa rencanamu, Pein?"
Pein hanya terdiam saat Konan, wanita berambut
biru tadi bertanya padanya. Saat ini para anggota Akatsuki berada di ruang
rapat milik mereka untuk mendiskusika masalah penyerangan pada Orochimaru.
"Bukankah kita harusnya rapat dengan
mereka?" tanya Sasori kebingungan. Deidara menatap Sasori.
"Dengan siapa?" tanyanya innocent. Hidan
yang berada di sebelahnya hanya menatap Deidara dengan pandangan meremehkan.
"Tentu saja dengan pemuda yang mengaku-ngaku
sebagai adik Itachi dan teman-temannya!" seru Hidan menjawab pertanyaan
Deidara, Deidara mengangguk tanda mengerti. Namun ia segera menatap Itachi.
"Dia itu… adikmu atau bukan?" tanyanya
sekali lagi pada Itachi. Itachi hanya menghembuskan nafasnya mendengar
pertanyaan Deidara.
"Dia adikku," jawab Itachi singkat,
padat, dan jelas. Para anggota Akatsuki terkejut mendengarnya.
"Bukankah tadi kau bilang-" Perkataan
Zetsu terputus saat Itachi memotongnya.
"Dia adikku. Aku tak mau mengakuinya di
depannya." Para anggota organisasi gelap tersebut hanya mengangguk
mengerti. Semua mata beralih ke pemimpin mereka.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya
Hidan pada pemimpinnya yang sedari tadi diam.
"Kita akan membantu mereka."
.
.
.
"Sasuke-san…"
Para remaja tersebut menoleh ke arah Konan yang
berdiri di daun pintu. Sasuke menatap wanita itu dengan pandangan bertanya.
"Pein memanggil anda," katanya. Sasuke
mengangguk dan mengikuti langkah Konan menuju ruangan Pein. Sasuke melihat Pein
duduk di salah satu kursi ruangan tersebut, para anggota Akatsuki berada di
sana, termasuk Itachi yang hanya memandang Sasuke dengan pandangan yang masih
sama dengan sebelumnya.
"Ada apa?" Sasuke bertanya to-the-point.
Ternyata sifat 'ke-tidaksopanan-nya' masih melengket pada pemuda raven itu.
"Kami akan membantumu untuk menyerang
Orochimaru. Namun, ada suatu hal yang menghambat kami…" Pein memutuskan
perkataannya. Sasuke dengan sabar menunggu perkataan pria bertindik itu.
"Yaitu kekuatan kalian. Dengan kekuatan yang seperti itu, kalian hanyalah
sebuah beban pada kami." Sasuke sedikit mengepalkan tangannya mendengar
ucapan Pein. Namun pria itu benar, mereka sekarang tak punya kekuatan apapun.
"Maka dari itu, kami akan melatih kalian agar
menjadi lebih kuat, maka dari itu, butuh waktu untuk mengajarkan kalian
berbagai jurus sebelum benar-benar menyatakan perang pada Orochimaru, apa
kalian tidak keberatan?" Sasuke mengingat Hinata, gadis itu pasti sedikit
keberatan dengan waktu yang tertunda, dia pasti khawatir oleh kakaknya, namun
Sasuke mengingat Naruto, selama ada Naruto di sisi Hinata, Hinata pasti tak
akan keberatan.
"Baiklah." Jawaban Sasuke membuat Pein
tersenyum.
"Kami akan mengembangkan potensi yang kalian
punya menjadi jurus. Aku yakin kalian mempunyai kekuatan berbeda-beda."
Sasuke teringat Ino, gadis itu bukanlah salah satu spesies dari mereka.
"Diantara kami, ada seorang manusia.
Bagaimana dengannya?" Pein agak terkejut mendengar penuturan Sasuke.
"Manusia? Siapa?" tanyanya.
"Gadis pirang yang melawannya tadi,"
jawab Sasuke sedikit melirik Konan. Pein kemudian mendengus menahan tawa.
"Gadis tadi, huh? Aku melihatnya berbakat
dalam urusan bela diri, buktinya, ia tadi hampir mengenai wajah Konan,
kecepatan pergerakannya juga lumayan, tak masalah untuk mengajarkannya bela
diri untuk memperdalam kekuatannya," kata Pein. Sasuke tersenyum tipis.
Jika sudah begini, tak ada lagi hambatan untuk mereka.
"Kapan latihan itu akan dimulai?"
"Besok. Lebih cepat, lebih baik." Pein
menatap Sasuke. "Beritahu teman-temanmu tentang masalah ini."
.
.
.
"Eeehh? Latihan?" Ino berseru paling
kencang diantara mereka.
"T-tapi… Neji-nii-san…"
"Tenang, Hinata-chan! Neji pasti
selamat!" Mendengar perkataan Naruto, membuat Hinata tersenyum dan
mengangguk. Tepat seperti apa yang dipikirkan Sasuke, Naruto pasti dapat
mengatasi Hinata.
"Bagaimana denganku?" Ino menunjuk
dirinya sendiri.
"Kau cukup berada di sisiku untuk
menyemangatiku saja." Ino men-deathglare Sai, pemuda itu memang suak
sekali membuat Ino tersulut emosi.
"Kau akan latihan bela diri, latihannya
dimulai besok." Semuanya mengangguk mendengar perkataan Sasuke. Sasuke
sedikit tersenyum tipis melihatnya. Ia kemudian melangkah meninggalkan
teman-temannya yang berada di ruangan Sai, namun sebuah tangan menghentikan
langkahnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura
khawatir. Sasuke sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Tidak apa-apa, tidak usah pedulikan
aku." Sakura menunduk sedih mendengar jawaban Sasuke yang dingin. Namun
sesuatu ia rasakan di kepalanya, tangan Sasuke. Pria itu menatap Sakura datar,
dan mengelus rambut Sakura.
"Tidurlah, besok kita akan melewati hari yang
melelahkan." Wajah Sakura memerah mendengar perkataan Sasuke. Namun gadis
itu tersenyum dan mengangguk cepat.
"Baik!"
.
.
.
Chapter 10 :
.
Bugh! Bugh! Plak!
"Apa yang kau lakukan?! Kau sebut ini
latihan?"
Bugh! Bruuk!
"Fokus pada lawanmu, dasar lemah!"
Duk! Bugh! Bugh! Brruuk!
"U-ukh…" Sasuke memegang perutnya,
pemuda itu mengerang kesakitan. Tak kuat menahan beban tubuhnya, ia akhirnya
jatuh terduduk di tanah. Nyeri dirasakan pada wajahnya yang babak belur akibat
dipukul oleh 'pelatih'-nya. Sasuke berusaha berdiri, namun ia sungguh lelah dan
tidak kuat lagi, dan berakhir dengan jatuh ke tanah dengan posisi lutut dan
telapak tangan yang menumpu badannya. Kepalanya menunduk menatap tanah yang
ditanami rerumputan hijau di bawahnya, tanpa mendongakpun, Sasuke dapat
merasakan orang yang melatihnya itu mendekatinya.
"Kau lemah," ucap orang itu. Sasuke
mengepalkan tangannya di tanah seraya menggeretakkan giginya. Rahang pemuda itu
mengeras kala mendengar setiap cacian yang dilontarkan oleh pemuda dingin
bermata onyx padanya.
Itachi, pemuda yang melontarkan cacian tadi
menghela nafas berat kemudian berkata, "Kita istirahat dulu." Sasuke
mengangguk pelan, dirinya benar-benar lelah. Dan ia telah menyadari betapa
lemahnya dia sekarang.
=…=
"Kumohon ayah … ini sangat penting! Ting!
Ting!" Ino sudah berapa kali bolak-balik di depan Sakura dengan wajah
memohon, walau dirinya tahu bahwa ayahnya yang berada di seberang tidak dapat
melihat wajah memelas putri semata wayangnya.
'Sangat penting sampai kau meninggalkan ayahmu
sendirian? Memangnya tugas apa itu?'
Sakura dapat mendengar ocehan kekhawatiran ayah
Ino dari seberang, wajar saja ayah Ino khawatir. Anak gadis semata wayangnya
'menghilang' sejak tadi malam dan sampai sekarang belum pulang. Orang tua mana
yang tidak khawatir jika keadaannya seperti itu?
"Ini tugas terberat yang tidak bisa
diselesaikan hanya dalam sehari! Aku butuh beberapa minggu untuk tugas
ini," tutur Ino lagi. "Hum! Maka dari itu aku harus bermalam di rumah
Sakura!" Mata emerald Sakura membelalak lebar, kenapa Ino harus bawa-bawa
namanya untuk mendapat izin dari ayahnya?!
"Ne? Benarkah? Kyaaa! Terimakasih ayah! Aku
menyayangimu!" Ino menutup flip telpon genggamnya dengan wajah cerah,
gadis itu memandang Sakura dengan senyum ceria. "Ayahku
mengizinkanku!" pekik Ino girang, sedangkan Sakura menatapnya malas.
"Kenapa harus rumahku yang jadi sasaran
kebohonganmu itu?" tanya Sakura seraya memutar bola matanya, Ino hanya
cengengesan.
"Ayahku tahu kalau jarak rumahmu dari sekolah
dekat. Aku beralasan ada tugas OSIS yang harus kukerjakan dan harus kembali ke
sekolah jika ada rapat mendadak."
"Bagaimana jika ayahmu tahu kalau kau tak ada
di sekolah?" tanya Sakura menaikkan alisnya.
"Ayahku akan pergi dinas keluar kota untuk
tiga bulan! Jadi jangan khawatir!" Ino mengedipkan sebelah alisnya. Sakura
memandang sahabatnya itu dengan takjub.
"Kau benar-benar pandai berbohong!" puji
Sakura.
"Hei! Itu pujian atau hinaan?" tanya Ino
tersinggung.
"Dua-duanya," jawab Sakura polos.
"Sudahlah, daripada itu…" Pandangan Ino
beralih pada lapangan dekat danau tempat Sasuke beratih. "Kau tak kasihan
pada pangeranmu itu? Dia dilatih habis-habisan oleh kakaknya." Sakura ikut
memandang Sasuke yang terkapar lemah di tanah. Matanya memandang sendu wajah
Sasuke yang tampak kelelahan dan kesakitan. Itachi memang melatih Sasuke tanpa
belas kasihan dan tanpa pengampunan.
"I-Ino-chan … Sakura-chan…" Sakura dan
Ino menoleh menatap Hinata yang membawa sebuah nampan yang berisi tiga gelas
teh.
"Waahh … Terimakasih Hinata!" ucap Ino
dan langsung menyeruput teh bagiannya. Sakura tak memedulikan itu, tatapannya
masih tertuju pada Sasuke.
"Oh ya, Hinata…" Sakura menoleh pada
Hinata. "Darimana kau mendapat teh ini?" tanyanya.
"Di dapur. Disana ada banyak minuman,
memangnya kenapa?" Sakura tak menjawab pertanyaan Hinata dan langsung
melenggang ke dapur. Hinata memasang wajah bertanya dan menatap Ino.
"Palingan untuk pangerannya," ucap Ino
cuek dan masih asyik meminum tehnya. Hinata tersenyum mendengar jawabannya.
"I-Ino-chan … Sai dimana?" Gerakan Ino
terhenti saat mendengar perkataan Hinata. Gadis itu tersenyum dan menoleh pada
Hinata.
"Dia sedang dalam masa penyembuhan. Jadi dia
tidak ikut berlatih," jawabnya tanpa menghilangkan senyum yang ia
sunggingkan di wajah cantiknya.
"Souka…" Hinata mengangguk-angguk tanda
mengerti.
"Kalau Naruto?" tanya Ino balik.
Mendengar nama Naruto, tak luput membuat wajah Hinata memerah.
"Eng … Naruto-kun sedang dilatih oleh
Pein-san," jawab Hinata gugup. Ino yang pada dasarnya senang menggoda
orang lain namun tak suka digoda memasang wajah curiga dan tersenyum misterius.
"Hem, aku penasaran. Kenapa kau bisa pingsan
tadi malam?" Wajah Hinata semakin memerah. Ino yang menangkap perubahan
ekspresi Hinata tersenyum menggoda.
"Ti-tidak ada apa-apa."
"Hmmm?" Ino mendekatkan wajahnya pada
Hinata.
"T-tidak ada apa-apa, percayalah!"
"Kau suka Naruto 'kan?" tebak Ino.
"Tidak!" Hinata menjawab dengan cepat.
"Akuilah…"
"T-tidaaak!"
"Hmm…?"
"TIDAAAAKK!"
.
.
.
"Sasukeeee!" Sasuke membuka matanya yang
tadinya terpejam. Kepalanya ia miringkan ke samping, menatap Sakura yang
berlari ke arahnya. Sampai di sampingnya, Sakura mendudukkan dirinya dan
menatap Sasuke yang terbaring di rerumputan.
"Minumlah! Kau pasti lelah." Sakura
menyodorkan sekaleng minuman pada Sasuke. Sasuke tersenyum tipis dan mengambil
minuman kaleng tersebut seraya bangkit perlahan untuk duduk. Ia segera
membukanya dan meneguknya dengan lancar. Sakura tersenyum maklum, pasti Sasuke
sangat haus sekarang.
"Rasanya aneh, minuman apa ini?"
komentar Sasuke dan melihat kalengnya.
"Entahlah, aku menemukannya di kulkas,"
jawab Sakura enteng. Sasuke melempar kaleng minumannya yang sudah kosong dan
bangkit berdiri. Tangannya ia julurkan pada Sakura, membantu gadis itu untuk
berdiri.
"Terimakasih." Lagi-lagi, Sasuke
mengelus rambut Sakura. Namun kali ini dengan senyuman, bukan wajah datar
seperti tadi malam. Sakura tertegun, kemudian tersenyum semanis mungkin.
Setidaknya, Sasuke lebih 'hangat' padanya.
.
.
.
"Hiiyaaat!"
Pak!
"Percepat gerakanmu, Ino."
Pak! Dak!
Sai menatap Ino dan Konan yang berlatih bela diri
dengan tatapan malas. Ia bosan duduk bersila seperti ini daritadi. Ia tak bisa
kemana-mana karena Ino melarangnya bagaikan pengasuhnya. Ia juga tidak dapat
latihan karena lukanya yang belum kering. Sungguh malang nasib pemuda tampan
ini.
"Kita istirahat," ucap Konan seraya
tersenyum pada Ino dan beranjak meninggalkannya. Ino menghampiri Sai yang
memberinya handuk. Ino segera mengelap keringatnya yang bercucuran menggunakan
handuk pemberian Sai.
"Hehehe … aku kuat 'kan?" ucap Ino
bangga.
"Ya, kau benar-benar menyeramkan," ujar
Sai polos. Ino menunduk dan menatap sendu ke lantai. "Ada apa?" tanya
Sai heran.
"Sayangnya, aku tak sekuat itu…" lirih
Ino. Sai mengernyitkan alisnya. "Kalau aku sekuat itu, kau pasti tak perlu
terluka." Sai tersenyum pasrah saat mendengar lontaran Ino.
"Sudahlah, ini bukan salahmu." Ino
memandang Sai dengan gugup.
"Kenapa … kau melindungiku?" tanya Ino
sembari menatap Sai dalam. Sai tertegun, namun segera tersenyum palsu.
"Sudah kubilang, tubuhku begerak
sendiri," jawab Sai membuang wajahnya. Namun Ino masih belum puas dengan
jawaban Sai.
"Kenapa?" Sai tercenggang menatap Ino,
tampaknya gadis itu benar-benar serius dalam pertanyaannya kali ini.
"Aku hanya ingin melindungi temanku."
Tatapan Ino berubah sendu, namun ia tersenyum terpaksa pada Sai yang menatapnya
heran. Gadis itu kembali menunduk kaku.
"Teman yah…" lirih Ino.
"Kenapa?" Ino memandang Sai dan
tersenyum paksa sekali lagi.
"T-tidak ada apa-apa! Sungguh!" Sai
menangkap kebohongan dalam ucapan Ino. Namun pemuda itu hanya menghela nafas
dan memutuskan untuk tak bertanya lagi pada Ino yang bertingkah aneh di
sampingnya.
.
.
.
"Hei Hidan! Kau mengambil minuman kaleng yang
ada di kulkas?" Konan berkacak pinggang dan menatap Hidan dengan aura
menyeramkan. Hidan menggeleng dengan cepat, membuat Konan mengernyitkan
alisnya.
"Kalau kau Kakuzu?" Sebuah gelengan di
dapatnya dari pria bercadar yang sedang bermain joker dengan beberapa anggota
Akatsuki lainnya. Konan masih belum menyerah, ia harus mendapat pelaku yang
meminum minuman kaleng tersebut.
"Kalau kau Sasori?"
"Tidak," jawab pemuda babyface yang
sedang terfokus pada kartu di genggamannya.
"Cih, siapa yang meminumnya?" gumam
Konan seraya berpikir.
"Memangnya minuman apa itu,
Konan-senpai?" tanya Tobi yang mengecap lollipop-nya. Konan menatap Tobi
penuh arti.
"Itu salah satu obat racikanku sendiri,"
ucap Konan mengehela nafas pasrah.
"Obat? Obat apa itu?" tanya Pein
bingung. Konan menatapnya dengan kikuk, entah apa yang dipikirkan oleh gadis
itu.
=…=
Sasuke meringis kesakitan saat Sakura memberi
kompres dingin pada luka di wajahnya. Sakura memandang kasihan pada Sasuke yang
kini terbaring di pahanya. Andai saja dirinya mampu mengendalikan kekuatan
medisnya, pasti luka Sasuke akan lebih cepat sembuh.
"Ada apa?" tanya Sasuke heran saat
melihat wajah Sakura yang seketika sedih. Sakura tersentak dan tersenyum paksa.
"T-tidak apa-apa!" jawab Sakura dengan
muka yang dipaksakan sejujur mungkin. Namun Sasuke tak bodoh, ia yakin Sakura
memikirkan sesuatu saat ini. Tapi Sasuke berpikir bahwa itu bukan urusannya dan
memutuskan untuk berhenti bertanya.
"A-apa lukamu masih sakit?" tanya Sakura
dan menempelkan kompres dingin dengan perlahan di luka Sasuke. Sasuke
menggeleng pelan, membuat Sakura tersenyum. "Baguslah," ucap Sakura.
Sasuke memandang Sakura datar, namun pening
seketika ia rasakan di kepalanya. Membuatnya meringis.
"Argh…!" Sasuke memegang kepalanya yang
masih berada di atas paha Sakura. Sakura terlonjak kaget dan ikut memegang
kepala Sasuke.
"A-ada apa? Sasuke?" Sasuke tak
menghiraukan pertanyaan Sakura. Lelaki itu masih saja memegang kepalanya yang
masih terasa sakit, bagaikan ada beban berat yang terjatuh ke kepalanya. Sakura
seketika cemas dan khawatir dengan Sasuke. Ia melihat keluar jendela, hari ini
bukan bulan purnama, berarti Sasuke tidak akan berubah. Namun … Sakura tersentak.
Apakah Sasuke akan berubah karena rasa sakit yang dirasakannya?
"Arrgghh!" Rasa pening di kepala Sasuke
semakin menjadi-jadi. Sakura ingin meminta bantuan keluar, namun ia tak tega
meninggalkan Sasuke sendiri. Akhirnya ia sendiri dilanda perang batin.
"AARRGGH!" Sakura berdiri dengan cepat,
ia seharusnya memanggil bantuan dengan cepat. Baru saja ia hendak membuka
pintu, teriakan Sasuke sudah tidak ia dengar lagi. Sakura membalikkan dirinya
menuju Sasuke dan memegang kepalanya.
"K-kau sudah tidak apa-apa?" tanya
Sakura khawatir. Sasuke bangkit terduduk, masih diam tanpa kata. 'Ada yang aneh
dengan Sasuke,' batin Sakura bingung. Sasuke mendongak menatap Sakura. Sakura
dapat melihat mata onyx kelam Sasuke menjadi semakin gelap. Sasuke tiba-tiba mendorong
Sakura menuju kasur yang berada di sampingnya dan menaiki tubuh Sakura, membuat
Sakura terlonjak kaget dengan wajah memerah.
"S-Sasuke, apa yang kau … hhmmmpphh!"
Sakura terbungkam oleh ciuman penuh hasrat dari Sasuke. Sasuke terus menciumnya
dengan ganas. Sakura mencoba untuk mendorong Sasuke, namun tenaganya tak cukup
kuat untuk itu. Ciuman Sasuke turun menuju tengkuknya, membuat Sakura
terbelalak.
'Apakah Sasuke akan menggigitku?' batin Sakura
terbelalak. Sakura menatap sendu Sasuke, namun gadis itu tersenyum. Jika Sasuke
mengigitnya, mungkin itu tak apa-apa, karena dirinya juga merupakan seorang
monster. Sakura menutup matanya, pasrah jika saat ini Sasuke menggigitnya, ia
rela darahnya diminum Sasuke. Namun matanya kembali ia buka saat dia merasa tak
terjadi apa-apa, Sasuke memang mengigitnya, namun bukan gigitan seorang
vampire, melainkan hanya meninggalkan sebuah kissmark pada tengkuknya. Ciuman
Sasuke turun ke area dadanya. Membuat Sakura terbelalak, apalagi ketika Sasuke
menyibak kimono Sakura.
'E-eh?' Wajah Sakura merah padam. Apakah … Sasuke
mau berhubungan dengannya?!
.
.
.
"OBAT PERANGSANG?!" Para anggota
Akatsuki terlonjak kaget saat Konan menyebutkan nama obat racikannya. Konan
mengangguk kikuk dengan wajah memerah.
"Aku sudah lama membuatnya, aku bereksprimen
dengan berbagai tumbuhan, aku tidak menyangka bahwa yang kuhasilkan adalah obat
perangsang," jelas Konan gugup. "Maka dari itu, aku menyimpannya
dengan aman."
"Aman?! Kau taruh dikulkas dan kau bilang itu
aman?" ucap Hidan dengan wajah cengo. Konan mengangguk.
"Bagaimana kalau salah satu dari anak-anak
itu meminumnya?" tanya Deidara dengan wajah cemas. Konan mengangkat
bahunya.
"Obat itu hanya bereaksi lima menit. Tidak
akan cukup untuk melakukan suatu hubungan," jelas Konan berusaha tenang.
"Lain kali kau jangan meracik obat yang
aneh-aneh, Konan." Akhirnya, sang ketua berdiri dari tempat duduknya dan
menghela nafas berat.
"Itu tidak aneh!" sergah Konan.
"Sudahlah, apa boleh buat. Obat itu sudah
menghilang," ujar Zetsu tenang. Para anggota Akatsuki mengangguk.
"Aku harap bukan Sasuke yang
meminumnya," gumam Itachi dan menatap keluar jendela.
.
.
.
"S-Sasuke… hmmmpphh!" Sakura berusaha
mendorong tubuh Sasuke. Ia yakin bahwa yang berada di depannya bukan 'jiwa'
Sasuke yang asli. Ia tak mau seperti ini meski ia menyukai Sasuke!
Sasuke tiba-tiba tersentak dan menjauhkan dirinya
dari Sakura. Pemuda itu memegang kepalanya yang terasa berat. Sakura yang
melihatnya bernafas lega meski ada sedikit rasa kecewa dari dalam hatinya, sepertinya
Sasuke sudah kembali semula.
"Sasuke?" panggil Sakura seraya
mendekati Sasuke. Namun Sakura juga agak ragu mendekatinya. Bagaimana kalau
Sasuke mengusirnya lagi seperti waktu itu? Sasuke memandang Sakura, onyx-nya
menatap bagian dada Sakura yang agak terbuka. Sadar diperhatikan, Sakura segera
menutup kimono bagian dadanya yang tersibak dengan wajah memerah.
"Ehm … a-ano … emmm…" Sakura bergumam
kikuk, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Sasuke juga hanya
menatapnya dengan tatapan datar seperti biasanya.
Sreeek!
"Sakura! Sasuke! Makan malam telah
siap!" Ino terheran saat melihat pemandangan di depannya. Sakura yang
memeluk dirinya sendiri dengan wajah memerah, dan Sasuke yang nampaknya
membuang wajahnya. "Eh? Kalian kenapa?" Sakura menggeleng cepat demi
menanggapi pertanyaan Ino. Sakura segera berdiri, diikuti Sasuke di
belakangnya.
"Ayo makan!" Sakura mendorong Ino
keluar, yang disambut tatapan bingung oleh gadis Yamanaka tersebut.
.
.
.
"Eh, Sasuke, Sakura, kalian melihat minuman
kaleng yang berada di kulkas?" Konan menyambut kedatangan Sasuke dan
Sakura di ruang makan dengan pertanyaan yang langsung membuat Sakura meneguk
ludahnya dengan susah payah. Ia harusnya memang harus meminta izin pada Konan
sebelum mengambil barang milik Akatsuki. Sakura melirik Sasuke melalui ekor
matanya, Sasuke hanya diam dan melemparkan tatapannya ke arah lain.
"Emm… i-itu, memangnya kenapa?" tanya
Sakura berpura-pura.
"Itu bukan minuman biasa, itu obat perangsang
yang kuracik sendiri." Mata Sakura membelalak lebar.
"O-obat perangsang?" Konan mengangguk.
Sakura sekali lagi menelan ludahnya, matanya melirik Sasuke yang juga tersentak
kaget.
"Kalian melihatnya?" tanya Konan sekali
lagi, Sakura menggeleng pelan, berdusta pada wanita rambut biru itu. "Begitu
yah, ya sudah. Nikmati makan malam kalian!" Konan melenggang pergi
meninggalkan Sakura yang masih cengo. Mata Sakura segera bergulir ke arah
Sasuke yang menatapnya, meminta penjelasan dari dirinya.
"A-aku tidak tahu itu obat perangsang!
Serius! Sumpah!" Sakura mengangkat jarinya berbentuk 'v'. Sasuke menghela
nafas dan melangkah melewati Sakura.
"Sudahlah. Jangan beritahu siapapun mengenai
ini." Sakura mengangguk dengan wajah memerah. Ia betul-betul tak menyangka
kecerobohannya bisa berakibat seperti ini. Untung saja Sasuke menanggapinya
dengan dingin seperti biasanya, sehingga ia mungkin akan mudah melupakan
kejadian ini.
.
.
.
"Sakura, fokuskan seluruh pikiranmu untuk
kesembuhan kelinci ini. Berkonsentrasilah." Sakura mengangguk dan
meletakkan kedua tangannya di atas luka yang terdapat pada kaki kelinci di
depannya. Keningnya berkerut, pertanda bahwa ia sangat berkonsentrasi sekarang.
Semua teman-temannya yang melihatnya dilarang menganggunya, mereka semua hanya
dapat melihat latihan Sakura dari jauh.
Entah kenapa, Sakura teringat kejadian semalam
dengan Sasuke. Membuat wajahnya kembali memanas, ia segera menggelengkan
kepalanya. Ia tak seharusnya mengingat itu di saat ia sedang serius seperti
ini.
"Kau tidak akan bisa menyembuhkannya jika pikiranmu
bercabang, Sakura." Sakura menatap Sasori yang menghela nafas pasrah
melihatnya. Gadis itu sedikit tersentak, kenapa Sasori bisa mengetahui kalau
pikirannya melayang-layang?
"Aku sudah bilang, fokuskan pikiranmu pada
satu titik," ucap Sasori sambil tersenyum. Sakura mengangguk sekali lagi.
Kali ini ia harus berhasil menyembuhkan luka pada kelinci malang yang dijadikan
percobaan di depannya. Pikirannya sengaja ia kosongkan, emerald-nya
terus-terusan menatap kelinci di depannya. Setelah beberapa saat, Sakura dapat
melihat cahaya hijau muncul dari telapak tangannya. Gadis itu tersenyum
sumringah, ia berhasil mengeluarkan kekuatan medisnya tanpa mengeluarkan air
mata! Karena sibuk sumringah, membuat Sakura kehilangan konsentrasinya dan
membuat cahaya hijau di tangannya menghilang dalam sekejab, membuat gadis itu
mendesah kecewa.
"Kenapa hilaaanggg?!" amuk Sakura kesal.
Padahal dia sudah mati-matian mengeluarkannya.
"Semangat Sakuraaaa! Hahahahahaha!"
Sakura mendelik Ino yang pasti sedang menggodanya dengan tawa nistanya.
Teman-temannya asyik memakan kue sedangakan dirinya harus latihan. Sungguh
malang nasibnya. Sasori yang melihat itu tersenyum prihatin.
"Baiklah, kita istirahat dulu," ucap
Sasori simpati. Sakura menatap Sasori dengan pandangan berterimakasih, bagaikan
Sasori adalah sang pahlawan yang menyelamatkannya dari medan perang. Sakura
segera berlari menghampiri teman-temannya yang sedang bersantai ria di teras
markas Akatsuki.
"Huh! Menyebalkan!" keluh Sakura kesal.
Yang lainnya hanya cekikikan melihatnya, kecuali Sasuke tentunya.
"Kau pasti bisa, Sakura-chan!" hibur
Naruto dengan cengiran khasnya. Sakura mengangguk semangat.
"Ngomong-ngomong, sampai kapan kita berada di
sini?" tanya Sai pada Sasuke yang sedari tadi diam.
"Sampai kita benar-benar kuat," jawab
Sasuke cepat. Ino menyenggol lengan Sai.
"Kau bahkan belum latihan sama sekali,"
ucap gadis bermata aquamarine tersebut pada Sai yang menebarkan senyum
palsunya. Sedangkan Naruto, Hinata, serta Sakura hanya cekikikan geli melihat
Sai dan Ino.
.
.
.
Makan malam telah selesai, semua penghuni markas
Akatsuki tersebut sedang bersantai di sebuah ruangan besar. Semuanya berkumpul
di ruangan itu, dan masing-masing melakukan kegiatan yang menyibukkan diri
mereka masing-masing. Namun tidak bagi pemuda dengan kumis kucing di wajahnya,
ia menatap bosan sekelilingnya dari kursi tempatnya duduk.
"Huuhh … aku bosan!" gumam Naruto, namun
masih dapat didengar oleh Hinata yang berada di sampingnya. Mata shappire
pemuda itu melirik kesana-sini, mencari sesuatu yang dapat menghilangkan rasa
bosannya. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya, pemuda itu tersenyum
sumringah dan menatap semua makhluk yang ada di ruangan tersebut.
"Ayo kita main Truth or Dare!" serunya
kencang. Semuanya menghentikan aktifitas-nya masing-masing dan menatap pemuda
rubah itu dengan pandangan bingung.
"Aku setuju!" seru Deidara tiba-tiba.
Dilanjutkan oleh sorakan-sorakan lain yang mendukung permainan sederhana
Naruto. Naruto kemudian mencari sebuah botol untuk dijadikan penunjuk. Sasuke,
Sakura, Hinata, Sai, Ino, serta para anggota Akatsuki segera berkumpul dan
membentuk sebuah lingkaran dan mengosongkan bagian tengah. Naruto menaruh botol
tersebut di tengah-tengah mereka.
"Kalian siap?" Semuanya mengangguk
mendengar perkataan Naruto. Pemuda itu segera memutar botol tersebut, sampai
botol itu terhenti dan menunjuk ke arah Konan.
"Eh?" Konan terkejut saat botol itu
mengarah padanya.
"Truth or Dare?" tanya Naruto dengan
cengiran. Konan tampak berpikir, kemudian wanita itu menjawab.
"Truth."
Naruto segera berpikir, pertanyaan apa yang cocok
untuk wanita berambut biru tersebut. Kemudian dia tersenyum sumringah saat satu
pertanyaan terlintas di kepalanya.
"Apa hubunganmu dengan Pein?" Konan
tersentak, Pein juga ikut tersentak. Para anggota Akatsuki merapat demi
mendengar jawaban Konan. Konan nampak gugup dengan wajah memerah, kemudian
wanita origami tersebut menjawab. "Kami pacaran."
Semua anggota Akatsuki membelalak, terlonjak kaget
atas jawaban yang dilontarkan wakil ketua Akatsuki tersebut. "Kapan kalian
pacaran?!" tanya Hidan shock, sedangkan Pein hanya tersenyum miring.
"Tidak akan kujawab. Bukankah kita hanya
diberi satu pertanyaan?" Konan membuang wajahnya, sedangkan Hidan menunduk
kecewa. Seluruh anggota organisasi gelap tersebut masih tak dapat menghilangkan
rasa kagetnya. Mereka tak menyangka bahwa ketua dan wakil mereka menjalin
sebuah hubungan tanpa mereka ketahui. Naruto memutar botol tersebut sekali
lagi, kali ini botol tersebut mengarah ke Ino.
"Truth or Dare?" tanya Naruto. Ino
tampak berpikir, menimbang-nimbang jawaban yang harus ia pilih.
"Dare!" jawab Ino yakin. Naruto kembali berpikir, kemudian ia
menyeringai licik.
"Cium Sai!"
"Heeeh?!" Ino membelalak lebar.
Me-mencium Sai?! Apakah Naruto sudah gila?! "Tidak! Aku tidak mau!"
tolak Ino cepat dengan wajah memerah. Naruto menyipitkan matanya.
"Kau curang! Kau harus menuruti
perintahku!" ucap Naruto. Ino menggelengkan kepalanya dengan keras dan
cepat.
"Ogah!" seru Ino kencang. Naruto kembali
menyipitkan matanya, disusul oleh anggota Akatsuki yang lain serta Sakura.
"K-kenapa aku ditatap seperti itu?!" kata Ino gugup, gadis itu
melirik Sai, Sai tampak tenang-tenang saja. Sadar diperhatikan, Sai melirik Ino
dan tersenyum, pemuda itu menunjuk-nunjuk bibirnya, pertanda bahwa pemuda itu
menyuruh Ino menciumnya.
"Haaahh … kau tidak asyik Ino!" desah
Sakura kecewa. Perempatan siku-siku muncul di pelipis Ino. Apakah dia
benar-benar harus mencium Sai?!
"B-baiklah…" Akhirnya Ino menyerah,
gadis itu tampak gugup dan menutup matanya. Wajahnya ia majukan pada Sai yang
ada di sampingnya dengan perlahan. Sai juga mendekatkan wajahnya, dan dengan
cepat menempelkan pipinya pada bibir Ino. "Eh?" Ino membuka matanya
saat bibirnya menyentuh pipi Sai. Sai segera menjauhkan wajahnya dan tersenyum
menatap Ino.
"Mencium tak selamanya pada bibir kan?"
ujar Sai. Wajah Ino memerah, ia merasa kecewa dari lubuk hatinya yang paling
dalam, namun ia juga merasa lega. Ino melirik Sakura, Sakura menatap Ino dengan
tatapan menggoda, membuat wajah Ino semakin memerah. 'Tunggu giliranmu, Jidat
sialan!' batin Ino beteriak.
"Baiklah, kita lanjutkan!" Naruto
kembali memutar botolnya. Botol tersebut berputar dengan cepat, namun lama-lama
semakin pelan dan terhenti di depan Sasuke yang menatapnya dengan tatapan
datar. "Truth or Dare?" tanya Naruto pada Sasuke, Sasuke membuang
wajahnya.
"Apakah aku harus mengikuti permainan konyol
ini?" Naruto menatap Sasuke dengan pandangan menuntut.
"Tentu saja Teme!" jawab Naruto keras.
Sasuke menghela nafas dan kemudian berkata. "Truth."
"Oke! Pertanyaannya-"
"Siapa orang yang kau sukai?"
Deg!
Perkataan Naruto terpotong, semuanya menatap ke
arah Itachi yang baru saja melemparkan pertanyaan pada adiknya dengan wajah
kalem yang terkesan dingin. Sasuke juga ikut menatap Itachi dengan wajah datar.
Sakura tertunduk, wajah gadis itu memerah. Siapa yang disukai Sasuke? Ia juga
tidak tahu, dan akan segera mendengar jawabannya.
"Apakah aku harus menjawab?"
"Tentu saja Teme!" Naruto tampak
kehabisan kesabaran. Sedangkan jantung Sakura berdegup kencang menunggu jawaban
Sasuke. Saat-saat inilah yang paling menegangkan bagi Sakura, ia memang
menyatakan cintanya pada Sasuke, namun Sasuke sama sekali tak meresponnya. Dan
sekarang…
"Jadi, siapa orang yang kau sukai?"
.
.
.
Chapter 11 : Who am I to you, Sasuke?
.
"Jadi, siapa yang kau cintai?"
Suasana tiba-tiba hening. Sasuke juga sedari tadi
diam, tak menjawab pertanyaan yang diajukan padanya. Pemuda itu berdiri, masih
dalam keadaan diam dan mata tertutup.
"Itu bukan urusan kalian," ucapnya
dingin dan melangkahkan kakinya ke arah pintu, hendak keluar dari ruangan yang
tiba-tiba hening tersebut.
"Tunggu Teme! Kau curang!" Teriakan
Naruto menghentikan langkah pemuda bermarga Uchiha tersebut, Naruto menatap
marah pada Sasuke. "Kau harus menjawabnya!" teriak pemuda itu lagi.
"Benar Sasuke!" Ino ikut bersuara,
sebenarnya gadis itu merasa kasihan pada Sakura yang sedaritadi menunduk.
"Menjawab atau tidak, itu sama sekali tak
berpengaruh pada kalian," ujar Sasuke dengan nada datar. Ino mengepalkan
tangannya, Naruto ikut menggeretakkan giginya. Siapapun tahu, bahwa Sakura
mencintai Sasuke. Dan siapapun tahu, bahwa Sasuke sampai saat ini masih
menggantung perasaan gadis itu.
"Tapi Teme-"
DAK!
Semua makhluk yang berada di ruangan itu terkesiap
saat mendengar suara hantaman tangan Sakura pada lantai di bawahnya. Gadis itu
menunduk seraya berdiri, tangannya ia kepalkan kuat-kuat. Ino yang berada di
bawahnya dapat melihat gadis itu menggigit bibir bawahnya yang sedikit
bergetar.
"Kenapa…" Suara Sakura bergetar,
sepertinya gadis itu menahan tangisnya. Pandangan para penghuni ruangan
tersebut tertuju padanya, bahkan Sasuke pun ikut membalikkan badannya dan
menatap ke arahnya dengan pandangan bertanya. "…kau tak menjawabnya?"
lanjut Sakura masih dengan nada suara yang sama dengan sebelumnya. Sasuke tetap
terdiam, tak ada niat untuk menjawab pertanyaan gadis berambut softpink
tersebut.
"Sakura…" lirih Ino prihatin pada
sahabatnya.
"Kenapa Sasuke?!" Sakura mengangkat
kepalanya dan menatap Sasuke dengan pandangan yang memancarkan kesedihan dan
kesakitan. Teman-temannya tertegun melihat aksi Sakura yang berbeda dari
biasanya.
"Kenapa kau menciumku?!"
Sangat, Sakura sangat ingin menghentikan
perkataannya…
"Kenapa kau tersenyum padaku?!"
Namun, ini suara hatinya….
"Kenapa kau menyemangatiku?!"
Suara hati yang telah lama dipendamnya…
"Kenapa kau menghiburku saat aku terpuruk
tentang ayahku?!"
Ia tak dapat menghentikannya, bahkan-
"Kenapa kau balas memelukku saat aku
menyatakan cinta padamu?!"
-di depan para anggota Akatsuki dan
teman-temannya.
Nafas Sakura ngos-ngosan. Air mata telah jatuh
melalui kelopak matanya, Sasuke tertegun melihatnya. Ia-tidak, semuanya belum
pernah melihat Sakura mengamuk seperti ini. Sakura mengigit bibir bawahnya,
perasaannya berkecamuk. Ia lega telah mengatakan semuanya pada Sasuke. Ia
mendongakkan kepalanya dan menatap Sasuke yang masih terdiam seraya menatapnya
dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Sekali lagi kutegaskan, ini bukan
urusanmu." Suara dingin Sasuke terdengar begitu jelas.
"Ini urusanku!" sergah Sakura tegas.
"Kau tahu … kau tahu bahwa aku mencintaimu!" Para angggota Akatsuki,
Ino, Sai, Naruto, dan Hinata terperanjat kaget mendengar penuturan Sakura yang
terkesan berani. Ino bahkan menutup mulutnya, menahan diri untuk tak memekik
kencang. "Aku berhak mengetahui perasaanmu sebenarnya, Sasuke!"
teriak Sakura lagi.
Sasuke terdiam. Sakura mengatur nafasnya dan
mengusap air matanya. "Sebenarnya apa arti diriku…" Sakura tersenyum
miris dan menatap Sasuke sendu, "…bagimu?"
Tanpa diduga, Sasuke tersenyum tipis. Sakura
menatap Sasuke dengan pandangan heran. Tanpa merespon pandangan heran Sakura,
pemuda itu membalikkan dirinya dan melangkah keluar ruangan. Kali ini, lidah
Sakura dan teman-temannya terlalu kaku untuk menghentikan langkah pemuda
tersebut. Sakura jatuh terduduk, namun segera ditahan oleh Ino. Ino mengelus
punggung Sakura pelan.
"Kau hebat, Sakura," bisik Ino. Sakura
menatap Ino kaget, seolah ia tersadar akan sesuatu. Sakura menatap sekeliling,
semua pandangan tertuju padanya, membuat wajahnya memerah. Ia baru sadar apa
yang dilakukannya. Memalukan! Sungguh memalukan! Apa yang dia lakukan tadi
sungguh di luar alam sadarnya. Di depan para anggota Akatsuki, di depan
teman-teman dan sahabatnya, dia menyatakan cinta yang kedua kalinya pada
Sasuke! Dan respon Sasuke masih sama, hanya diam, tak menjawab pernyataan
Sakura.
"A-aku…" Wajah Sakura memanas, ia
menunduk, tak berani menatap orang-orang yang berada di ruangan tersebut.
"Hei! Hei! Kenapa aku tak tahu bahwa sebelum
ini kau sudah menyatakan cinta pada Sasuke?" Ino menampilkan raut wajah
kesal pada Sakura, membuat wajah Sakura semakin memerah tak karuan.
"I-itu bukan urusanmu," ucap Sakura
gagap dan memalingkan wajahnya.
"Kau sekarang ketularan Sasuke!" tuding
Ino kesal, gadis aquamarine tersebut melipat kedua tangannya di dadanya. Sakura
baru saja hendak membalas perkataan Ino, tapi gadis itu lebih memilih menatap
Hinata yang menghampirinya.
"Aku mendukungmu, Sakura-chan," kata
Hinata tulus dan tersenyum pada Sakura. Sakura tercenggang, namun ikut
tersenyum dan mengangguk semangat.
.
.
.
Dengan terpaksa, permainan Truth or Dare
dihentikan. Para anggota Akatsuki kembali ke ruangannya untuk beristirahat,
meninggalkan Sai, Ino, Naruto, Hinata dan Sakura di ruangan tadi. Kelima remaja
tersebut sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, sampai Ino tiba-tiba
menjentikkan jarinya seraya tersenyum sumringah, membuat teman-temannya menatap
heran ke arahnya.
"Aku punya ide!" ucap Ino girang. Sakura
tiba-tiba mendapat firasat buruk bahkan sebelum Ino mengatakan idenya itu. Ia
sudah tahu bahwa 'ide' nona Pig tersebut pasti menyangkut tentang dirinya.
"Ide apa?" tanya Sai penasaran.
"Ide untuk membuat Sasuke mengakui perasaan
sebenarnya pada Sakura!" Tuhkan. Tebakan Sakura benar.
"Oh ya? Bisa kau jelaskan idemu itu?"
tanya Sai lagi.
"Kita akan membuat beberapa aksi agar Sasuke
mengungkapkan perasaannya pada Sakura. Dan aku punya beberapa ide untuk
itu!" Ino masih memasang senyum sumringahnya.
"Sepertinya menarik, tidak ada salahnya jika
dicoba kan?" tutur Naruto. Sakura hanya tersenyum paksa, ia benar-benar
merasakan akan ada hal aneh yang menimpa dirinya. Ino kemudian mengambil kertas
dan pulpen dan menulis sesuatu di sana. Butuh waktu agak lama sampai wanita itu
berhenti menulis. Ino kemudian meletakkan kertas itu di lantai, di kertas itu
tertulis rencana-rencana nista Ino demi melancarkan ide 'cemerlang'-nya.
"Baik, Sakura. Kita akan memulainya besok,
fufufu…" ucap Ino dengan tawa bak penyihir yang membuat Sakura meneguk
ludahnya dengan susah payah.
.
.
.
Rencana 1 : Meminta maaf pada Sasuke dan
mendekatkan diri padanya.
"E-emm … Sasuke, a-ano…" Sasuke
menaikkan sebelah alisnya ketika Sakura tiba-tiba menghampirinya dengan wajah
memerah dan kegugupan yang tak dapat gadis itu sembunyikan. "A-aku … minta
maaf," ucap Sakura sungguh-sungguh.
"Sudahlah, tidak apa." Sasuke
memalingkan wajahnya. Tanpa aba-aba, Sakura langsung duduk di sebelah Sasuke.
Gadis itu bergeser agar lebih dekat dengan Sasuke. Sasuke hanya menatap heran
Sakura dan ikut bergeser menjauhi Sakura. Sakura sekali lagi bergeser mendekati
Sasuke, Sasuke sekali lagi menjauh. Sakura kembali bergeser, begitulah
seterusnya sampai Sasuke memutuskan untuk berdiri.
"Ada apa denganmu?" tanya Sasuke heran.
Sakura hanya menampilkan wajah polos.
"Tidak apa-apa," jawab Sakura enteng.
Namun Sasuke tidak bodoh, pemuda itu tahu ada yang terjadi padanya.
"Kau meminum racikan Konan lagi?" Mata
Sakura membulat mendengar pertanyaan Sasuke.
"T-tentu saja tidak!" sergah Sakura
cepat. Sasuke kembali diam. Sakura memutuskan ikut berdiri dan mengait lengan
Sasuke, membuat Sasuke tersentak.
"Hei! Kau kenapa?" tanya Sasuke heran.
Aneh, Sakura sungguh aneh!
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa!"
Sakura semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Sasuke, sebenarnya dia
menahan malu saat ini. Sasuke menghela nafas, pemuda itu kemudian menjentikkan
jarinya. Dahi Sakura berkedut heran, mau apa Sasuke?
Pertanyaannya terjawab saat tubuhnya tak dapat
bergerak. Ini … sihir picik nan aneh Sasuke lagi! Sasuke memasang wajah datar
dan melepaskan lengannya dari pelukan Sakura dengan tenang. Sekarang, posisi
Sakura seakan memeluk sesuatu dengan dahi berkedut. Sasuke menatapnya dengan
datar.
"Kau akan tetap seperti ini sampai efek obat
Konan habis," ucap Sasuke dan melangkah meninggalkan Sakura. Jika saja
Sakura dapat bergerak, pasti matanya telah membulat saat ini. Jadi Sasuke
menganggap Sakura sedang dikontrol oleh obat Konan?!
Sakura tetap menjadi patung. Sebenarnya ia
mencari-cari Ino dan teman-temannya untuk menyelamatkan dirinya. Tapi mereka
tak kunjung datang. 'Bagaimana ini?!' batin Sakura menangis. Sepuluh menit
kemudian, barulah Ino dan teman-temannya datang dengan wajah cengo saat melihat
'keadaan' Sakura. Ino dan Naruto tertawa terbahak-bahak, sedangkan Sai dan
Hinata terkikik geli. Sungguh malang nasib Sakura.
Rencana 1 : GAGAL!
=…=
Rencana 2 : Membuat Sasuke cemburu.
"Temeee!" Sasuke menoleh dan memandang
Naruto yang berlari ke arahnya. Naruto mengatur nafasnya sejenak saat telah
berada di depan Sasuke dan mendongak menatap pemuda raven tersebut.
"Sakura-chan mencarimu!" ujarnya. Sasuke memandangnya heran.
"Di mana dia?"
"Di ruang latihannya!" Sasuke memandang
curiga pada Naruto, membuat Naruto seketika gugup dan menelan ludahnya.
"Kenapa bukan dia saja yang ke sini?"
tanya Sasuke sedikit menyipitkan matanya. Shappire Naruto bergerak-gerak
gelisah, otak pemuda itu berputar cepat untuk menemukan jawaban atas pertanyaan
Sasuke.
"Err … karena dia ingin menemuimu di
sana!" Nah, setelah sekian lama berpikir dengan otak yang bahkan sudah
terbalik seratus delapan puluh derajat, jawaban tidak logis itulah yang
dilontarkan Naruto. Namun Sasuke hanya menghela nafas menanggapinya, pemuda itu
tidak terlalu memusingkan jawaban Naruto dan langsung melangkah ke ruang
latihan Sakura, membuat Naruto bernafas lega.
"Kalian tidak menyembunyikan sesuatu
'kan?"
Glek!
Walaupun Sasuke sudah melewati Naruto, dan bahkan
membelakangi Naruto, namun Naruto tetap saja merasa mata onyx Sasuke
mengawasinya dan menatapnya tajam. Seperti yang kita ketahui, Uchiha Sasuke
tidaklah bodoh-
"Sudahlah, lupakan."
-namun kita juga mengetahui bahwa ia terlalu cuek
untuk mengetahui sesuatu.
.
.
.
"Kenapa harus aku?" Sasori menunjuk dirinya
sendiri dengan wajah bingung. Ketiga gadis di depannya menatapnya penuh harap,
membuat pemuda berambut merah menyala itu tak tega untuk menolak permintaan
mereka. Pemuda itu menghela nafas sejenak, kemudian berkata,
"Baiklah."
"Yeeeeeeyyy!" Ino memekik girang, Hinata
tersenyum, sedangkan Sakura merana. Ide cemerlang Ino kali ini ialah membuat
Sasuke cemburu kepada Sasori yang akan berakting dengan Sakura kali ini.
"Sasuke dan Naruto datang!" teriak Sai
memberi aba-aba pada ketiga gadis yang berjarak lima meter darinya. Ino dan
Hinata segera duduk di sebuah kursi dan Sakura serta Sasori mengambil posisi
sesuai skenario yang telah disusun oleh Ino.
Sasuke telah memasuki ruangan bersama Naruto.
Sakura langsung mendekati Sasori dan berpura-pura menyembuhkan tupai yang
tergeletak tak berdaya di depannya. Sasuke melangkah menuju Sakura, membuat
Sasori mengambil posisi memeluk Sakura dari belakang dan meletakkan tangannya
di atas punggung tangan Sakura.
"Seharusnya seperti ini, Saku." Sakura,
Ino, dan Hinata blushing sendiri melihat perlakuan Sasori. Sakura sedikit
melirik Sasuke, pemuda itu sedikit tercenggang, namun kemudian memasang wajah
datarnya lagi dan tetap melangkah mendekati Sakura.
"Ada apa?" tanya Sasuke saat telah
sampai di depan Sakura.
"Bisakah kau tidak mengganggu latihan kami,
Uchiha?" Sasori menatap tajam Sasuke. Sasori benar-benar berbakat akting.
"Sakura yang memanggilku ke sini," tukas
Sasuke datar.
"Bicaralah dengannya jika latihan kami sudah
selesai," ucap Sasori dingin. Sasuke mengernyitkan alisnya, namun kemudian
pemuda itu melangkah menjauh dan duduk di kursi yang berada di samping Sai
dengan wajah datar.
Sasori melepas pelukannya, dari jauh mereka dapat
melihat Sasori dan Sakura saling melempar senyum, dan reaksi Sasuke-
-masih datar.
Sasori mengelus lembut puncak kepala Sakura.
Sakura sedikit melirik ke arah Sasuke, dan-
-masih datar.
Sasori kembali memeluk Sakura dari belakang, kali
ini lebih rapat. Dan-
-masih datar.
Cukup! Sakura berdiri dan menghampiri Sasuke.
"Latihanku sudah selesai," ucapnya. Ino
cengo.
"K-kenapa?!" tanya Ino dengan nada tak
terima. Sakura hanya diam.
"Hn. Kenapa mencariku?" tanya Sasuke
to-the-point. Sakura kini gegalapan, otaknya seketika blank. Ia lupa untuk
menyiapkan pertanyaan pada Sasuke!
"Err- aku…" Peluh mengalir di pelipis
Sakura. "A-aku ingin tahu k-kenapa…"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa Itachi-san bisa keriput di usia
muda?"
Dan seketika, ruangan itu hening.
.
Rencana 2 : GAGAL TOTAL!
.
=…=
Rencana 3 : Menggoda Sasuke
"Sasuke-kun~" Sasuke sekali lagi
mengernyit untuk kesekian kalinya kepada Sakura yang kini memasang wajah centil
dan sok imut di ambang pintu ruangan Sasuke. Ino, Sai, Naruto dan Hinata
mengintip lewat jendela yang menghubungkan kamar Sasuke dan lapangan yang
berada di dekat danau.
"Ada apa?" Sakura tak merespon
pertanyaan Sasuke. Gadis itu duduk di samping Sasuke dan melirik Sasuke dengan
senyum ehem-sexy-ehem yang membuat Sasuke sedikit merinding dan menjauh dari
gadis itu. "Kau kenapa lagi?" tanya Sasuke heran. Otak cerdik (cerdas
dan licik) miliknya berputar cepat dan menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres
pada Sakura hari ini.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berada di
dekatmu." Sasuke menoleh ke arah Sakura dengan pandangan yang sulit
dijabarkan. Pemuda itu menghela nafas dan kemudian berdiri. Namun Sakura dengan
gesit menahan tangan Sasuke, dan menatap pemuda itu dengan pandangan menuntut,
seolah-olah berkata 'duduklah kembali' pada pemuda bungsu Uchiha tersebut.
"Entah apa rencanamu dengan yang lain, tapi
yang seperti ini bukanlah dirimu, Sakura."
Deg!
Sakura membulatkan matanya. Kata-kata sederhana
yang dilontarkan Sasuke tadi benar-benar pas di hati Sakura. Gadis itu terdiam
dan heran, heran bagaimana Sasuke dapat dengan mudah mengetahui bahwa ini
adalah bagian dari rencananya.
"Apa yang kau ketahui tentang diriku?"
Tidak. Sakura seharusnya tidak mengatakan hal ini. Ino yang mengintip melalui
jendela hanya menepuk jidatnya mendengar perkataan Sakura. "Kau bertingkah
seolah-olah kau mengetahui diriku yang sebenarnya!" Emosi Sakura kembali
melonjak. Ia tak tahu mengapa emosinya bisa naik kembali, yang ia tahu ia hanya
kesal terhadap Sasuke –tanpa alasan yang logis-.
"Aku tidak pernah bertingkah seolah-olah aku
mengetahui dirimu yang sebenarnya, Haruno." Nada suara Sasuke mendingin,
membekukan suasana di ruangan tersebut. Sai, Ino, Naruto dan Hinata juga ikut
terdiam. Sakura mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan Sasuke, tanpa
menghiraukan nada dingin dalam ucapan pemuda raven tersebut.
"Tapi kau-"
"Sudahlah." Sasuke memotong ucapan
Sakura. Pemuda itu menatap Sakura dengan tajam. "Sebaiknya kau buang
perasaanmu padaku jauh-jauh." Sakura tertegun mendengar perkataan Sasuke.
Sasuke membalikkan badannya, sebelum melangkah meninggalkan Sakura, Sasuke
sempat mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Sakura membulatkan mata
emerald-nya.
"Karena itu akan sia-sia aja."
Blam!
Sakura masih terdiam, begitu shock mendengar
perkataan Sasuke yang menganggap cintanya pada pemuda itu hanyalah suatu hal
yang sia-sia. Tanpa sadar, air mata Sakura jatuh kembali. Namun Sakura segera
mengusapnya, ia harusnya tidak boleh menangis di saat seperti ini. Dia harus
menjadi wanita yang tegar dan kuat.
"Sakura!" Ino melompat ke dalam melalui
jendela tadi. Gadis itu mengusap punggung Sakura pelan dan menatap sahabatnya
dengan pandangan prihatin. "Sakura…" lirih gadis berkucir itu pelan.
Sakura tak menanggapinya dan malah melangkah meninggalkan Ino. Ino baru saja
hendak mengejarnya, namun perkataan Sai menghentikan langkahnya.
"Biarkan dia sendirian." Ino mengangguk
pelan. Sepertinya, rencananya gagal, dan bahkan malah membuat keduanya menjadi
terpisah.
.
Rencana 3 : Gagal bahkan sebelum rencana dimulai.
.
=…=
"Sakura! Saatnya makan malam!" Ino
membuka pintu Sakura tanpa izin dan menemukan Sakura sedang terbaring di
kasurnya. Gadis itu duduk di tepi ranjang Sakura dan menggoyang-goyangkan tubuh
Sakura dengan agak kencang.
"Hey~! Ayo makan!"
"Engghh…" Sakura mengeluh pelan, namun
bangkit terduduk dan menatap Ino dengan pandangan malas. "Kau duluan saja.
Aku ngantuk," usirnya pelan sembari mengipas-ngipaskan tangannya, menyuruh
Ino pergi dari ruangannya.
"Huh! Kau mau bersembunyi dari Sasuke,
heh?" Sakura tak merespon perkataan Ino, mata emerald-nya memandang sayu
ke luar jendela. Merasa diacuhkan, Ino mengubah posisinya dan duduk tepat di
depan Sakura, sehingga Sakura hanya dapat memandangnya saat ini. Gadis dengan
marga Yamanaka tersebut memegang kedua pundak Sakura. "Masalah tak
seharusnya dihindari," ucapnya serius. Sakura membuang wajahnya dan
menepis tangan Ino.
"Ck, ini tidak ada hubungannya dengan Sasuke.
Aku benar-benar mengantuk."
"Apakah kau akan membuang perasaanmu seperti
apa yang dia suruh?" Gerakan Sakura untuk berbaring kembali terhenti.
Sakura tersenyum miris kemudian memejamkan matanya.
"Sayangnya aku sudah terlanjur
mencintainya." Sakura memandang Ino dan berkata, "dia cinta
pertamaku. Mana mungkin aku mau melepaskannya begitu saja." Ino melebarkan
matanya, gadis itu merasa takjub pada ketegaran Sakura.
"Ini baru Sakura yang kukenal!" tukas
Ino semangat. Gadis itu kemudian menarik tangan Sakura tanpa menghiraukan
raungan protes dari gadis musim semi tersebut.
"H-hey! Aku mau tidur! Heeeyy!"
.
"Konbawa minna!" Ino berujar senang
dengan Sakura yang berada di belakangnya kepada para anggota Akatsuki dan
teman-temannya yang sedang berkumpul di ruang makan. Sakura dapat melihat
Sasuke yang juga menatapnya, namun pemuda tersebut segera memalingkan wajahnya,
membuat Sakura menunduk sedih.
"Konbawa Ino-chan, Sakura-chan…" Hinata
membalas sapaan Ino dengan senyum lembutnya yang khas. Ino menarik tangan
Sakura dan mendekati Sasuke, yang tentu saja membuat Sakura langsung protes
pada Ino.
"Konbawa, Sasuke!" Ino menepuk pundak
Sasuke. Sasuke hanya menatap Ino dan Sakura dengan wajah datar, kemudian
kembali memalingkan wajahnya. "Ck, bisa-bisanya kau menyukai pemuda dingin
sepertinya," bisik Ino pelan, sedangkan Sakura hanya diam seraya menunduk,
tidak berani menatap Sasuke.
"Ehem … baiklah, aku mau mencari Sai
dulu!" Ino langsung melenggang pergi dengan cekatan tanpa sempat
dihentikan oleh Sakura. Tinggallah Sasuke dan Sakura sendirian di pojok ruang
makan. Walau bukan hanya mereka yang berada di ruangan itu, entah kenapa Sakura
merasa canggung, seakan mereka hanya berdua di ruangan ini. Hening terus
melanda mereka, Sakura bahkan terlalu kaku untuk bergerak, bernafas pun terasa
susah baginya. Ia dan Sasuke terasa seperti orang asing yang tak saling
mengenal.
"Hey Teme! Sakura-chan! Mari makan!"
Panggilan Naruto membuat Sakura terasadar dari lamunannya, untung saja ada
Naruto yang menyelamatkannya dari keheningan yang melanda mereka. Dari jauh,
Sakura dapat melihat Naruto yang meringis kesakitan akibat Ino yang
menjitaknya. Sakura segera melangkahkan kakinya menuju mereka.
"Apakah ada perkembangan?" tanya Ino
antusias saat Sakura telah berada di hadapannya, gadis itu mendesah kecewa saat
mendapat gelengan dari Sakura.
"Sepertinya percuma saja," gumam Sakura
pelan.
"Lalu, a-apakah Sakura-chan mau membuang perasaan
Sakura-chan pada Sasuke?" Gelengan kepala lagi-lagi ditunjukkan oleh
Sakura demi menjawab pertanyaan Hinata. Ino berkacak pinggang.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Ino.
Sakura hanya diam, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan demi
memperjuangkan perasaannya. Ia tahu orang seperti Sasuke tidak akan mudah
menunjukkan perasaannya atau pun tidak akan mudah mempunyai perasaan seperti
Sakura. Sepertinya kata cinta adalah kata yang tabu di kamus besar milik Uchiha
Sasuke.
"Mungkin sekarang mood Teme benar-benar tidak
baik." Naruto ikut mengeluarkan suara setelah sekian lama mendengar
cicitan-cicitan para gadis di sampingnya.
"Mood Sasuke tidak pernah baik." Sakura,
Ino, Hinata dan Naruto hanya dapat tertawa kecil saat mendengar perkataan Sai.
"Hati Teme selalu susah. Tertawa pun tak
pernah, bahkan tersenyum sangat jarang," ujar Naruto sambil berusaha
menahan tawanya.
"Dia orang yang tak pernah merasakan
kesenangan." Sai menampilkan senyum palsunya, kali ini Naruto tak dapat
menahan tawanya.
"Aku tak mengerti apa yang disembunyikannya
dibalik wajah datarnya!" Sakura, Ino, Hinata, Sai, dan Naruto terkekeh.
"Dia orang yang tak punya perasaan,"
lanjut Sai.
"Mungkin Teme orang yang tidak normal!"
"Apanya yang tidak normal?"
"Tentu saja sifat Teme yang- Hwaaa!"
Naruto, Sai, Sakura, Ino dan Hinata terlonjak kaget saat Sasuke tiba-tiba
muncul di belakang Naruto dengan wajah datarnya yang saat ini terkesan horror
bagi siapa saja yang melihatnya, terutama Sai dan Naruto yang sedaritadi membicarakan
sifat sang Uchiha tersebut.
"Mood tak pernah baik, tertawa dan tersenyum
sangat jarang, tak pernah merasakan kesenangan, tak punya perasaan, dan tidak
normal. Setelah itu apa lagi yang dapat kalian katakan?" Naruto bergidik
ngeri saat merasakan nada horror dalam suara Sasuke.
"S-sebenarnya sejak kapan kau di sini?!"
Sasuke memejamkan matanya dan membalikkan badannya.
"Setelah makan, ada beberapa hal yang harus
kita bahas. Jangan meninggalkan tempat ini dulu sesudah makan malam,"
perintah Sasuke tanpa menghiraukan pertanyaan Naruto. Setelah mendapat anggukan
takut dari Naruto, Sasuke pun melenggang pergi, membuat Naruto dan yang lainnya
menghela nafas lega seraya berkata,
"Teme yang horror."
.
.
.
"Kau mau ke mana, Sakura?" Ino bertanya
saat melihat Sakura hendak keluar dari ruang makan, gadis itu menempelkan
tangannya di pundak Sakura. "Bukankah Sasuke menyuruh kita untuk tetap di
sini?" tanyanya lagi dengan wajah yang sengaja ia miringkan.
"Aku mau ke toilet," jawab Sakura dengan
senyum simpul. "Apakah Sasuke akan tetap melarangku?" Sakura
menaikkan alisnya, membuat Ino bungkam. Ino melepaskan tangannya yang berada di
pundak Sakura, pertanda bahwa gadis berkucir tersebut membiarkan Sakura pergi.
"Mau aku temani?" Sakura tertawa renyah
mendengar pertanyaan Ino.
"Aku bukan anak kecil lagi!" sergah
Sakura dan langsung melenggang pergi. Sakura terus melangkahkan kakinya seraya
menatap keluar jendela. Wanita itu terus menatap bulan yang berbentuk sabit,
sampai pandangannya tertuju pada Itachi yang duduk di teras seraya menatap ke
danau. Sakura mengernyitkan alisnya. Gadis itu melangkahkan kakinya keluar,
mendekati Itachi yang sama sekali tak menyadari keberadaannya.
"Itachi-san?" panggil Sakura pada
Itachi. Itachi nampak terkejut sejenak, namun kembali memalingkan wajahnya
menatap danau.
"Ternyata kau…" gumam Itachi. Sakura
tersenyum dan duduk di sebelah Itachi. Keheningan melanda mereka. Itachi
ternyata tak jauh beda dengan Sasuke.
"Ne, Itachi-san, kenapa kau ada di sini?
Bukankah ada rapat di ruang makan?" tanya Sakura memecah keheningan.
Itachi memang sama seperti Sasuke, namun setidaknya Sakura dapat lebih santai
berada di samping Itachi dibanding di samping Sasuke yang notabane dicintainya.
"Kau sendiri?" Umpan balik. Setidaknya
itulah kata yang cocok bagi Sakura. Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal
seraya meringis pelan. Bahkan ia sendiri tak tahu kenapa dia ada di sini.
"A-aku melihatmu, jadi aku ke sini,"
jawab Sakura polos. Itachi memandangnya dengan tatapan yang sulit diratikan, membuat
Sakura kikuk sendiri. Satu lagi kesamaan Itachi dan Sasuke, pikiran mereka
sama-sama sulit ditebak. Namun sedetik kemudian, Itachi terkekeh pelan, membuat
Sakura bingung.
"Kau gadis yang polos," kata Itachi,
pandangan mata kakak Sasuke itu melembut. "Aku mendukungmu dengan Sasuke.
Kuharap kalian dapat bersatu." Wajah Sakura seketika memanas.
"S-Sasuke tidak menyukaiku…"
"Oh ya?" Sakura mengangguk. Namun
kemudian, gadis itu tersentak, seakan mengingat sesuatu.
"Itachi-san, kau … benar-benar kakak Sasuke
'kan?" Itachi terkejut sejenak, namun kemudian tersenyum tipis, sedangkan
Sakura terus menunggu jawaban dari Itachi.
.
Onyx Sasuke menelusuri ruang makan tersebut,
mengecek keberadaan teman-temannya. Namun ia tak menangkap satu sosok. Sakura.
Ralat, bukan hanya Sakura yang tidak ada, Itachi bahkan tak ada di ruangan ini.
Saat melihat Ino, Sasuke langsung menghampiri wanita itu.
"Di mana Sakura?" Ino tampak tekejut,
namun kemudian tersenyum menyebalkan -bagi Sasuke- seraya menatap pemuda itu
dengan pandangan mengejek.
"Ternyata kau mencarinya saat ia tak ada. Kau
sebenarnya selalu memperhatikannya 'kan?" Sasuke mendecak kesal.
"Bukan seperti itu, rapat akan segera
dimulai." Ino terus menatap Sasuke dengan pandangan curiga.
"Tidak usah beralasan seperti itu, Sasuke~
fufufufu…" Sasuke menatap Ino dengan pandangan malas. Sepertinya percuma
bertanya pada orang seperti Ino. "Kau ini benar-benar munafik. Bilang
tidak padahal sebenarnya mau, tidak usah sungkan terhadapku, akui saja bahwa
kau- hei! Kau mau ke mana? Perkataanku belum selesai!" Sasuke tetap
berjalan meninggalkan Ino yang tidak sempat menahannya. Sasuke terus mencari
Sakura dan Itachi. Sampai mata kelamnya menemukan mereka di teras, Sasuke dapat
melihat mereka dari dalam. Sasuke baru saja hendak mendekati mereka sampai-
"Itachi-san, kau… benar-benar kakak Sasuke
'kan?"
Deg!
Langkah Sasuke seketika terhenti. Pemuda itu
kemudian mengambil tempat untuk bersembunyi dengan jarak yang cukup untuk
mendengar perkataan mereka.
.
Itachi sekali lagi terkejut, namun sejurus
kemudian pemuda itu tersenyum tipis.
"Ya," jawab Itachi pelan.
"Lalu kenapa-"
"Dia adik yang sangat kusayang."
Perkataan Sakura terputus saat Itachi tiba-tiba menyelanya. "Sampai saat
ini pun aku masih menyayanginya." Sakura dapat melihat pancaran mata
Itachi yang berbeda dari biasanya.
"Tapi kenapa kau tak mengakuinya?"
Itachi menoleh pada Sakura dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Ada suatu insiden yang menimpa kami."
Sakura memiringkan kepalanya.
"Insiden?" Itachi mengangguk.
"Insiden yang dilupakan oleh Sasuke. Aku
yakin, Sasuke sama sekali tak dapat mengingatnya."
.
.
.
Chapter 12 : Itachi and Sasuke.
.
.
.
Flashback
"Onii-san!" Sebuah suara cempreng khas
anak kecil membuat Uchiha Itachi membalikkan badannya dan menatap adik
kecilnya. Itachi mengernyitkan alisnya kala melihat pakaian adiknya yang
ternoda lumpur, rambut adiknya yang acak-acakan, serta wajah adiknya yang saat
ini jauh dari kata tampan. Uchiha sulung tersebut mendekati bocah dengan model
rambut aneh itu dan mengacak rambut pantat ayam Sasuke, membuat rambutnya lebih
acak-acakan dibanding sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Itachi seraya
menjongkok untuk menyamakan tingginya dengan adiknya itu. Sasuke menggembungkan
pipinya dan menatap tajam kakaknya, yang tentu saja disambut tatapan heran oleh
Itachi.
"Onii-san dari mana saja? Aku ingin berlatih
bersamamu!" Itachi tersenyum maklum pada adiknya.
"Kau yang dari mana saja? Aku sedari tadi
hanya duduk di sini," balas Itachi masih dengan senyumannya. Tanpa
aba-aba, Sasuke langsung meninju kakaknya –yang tentu saja dapat ditangkis oleh
Itachi. "Menyerang tiba-tiba, heh?" ejek Itachi. Sasuke tersenyum
miring dan melancarkan berbagai pukulan pada kakaknya itu, Itachi terus
menangkis pukulan-pukulan adiknya dengan satu tangannya.
"Huh, aku akan membuatmu menggunakan kedua
tanganmu!" Sasuke melancarkan tendangannya pada Itachi, Itachi menangkis
tendangan tersebut ke bawah, namun dengan gesit Sasuke melancarkan pukulannya
lagi pada area perut Itachi. Itachi yang menyadarinya dengan cepat menangkap
lengan kecil Sasuke. Sasuke menyeringai dan hendak menubruk perut Itachi dengan
kepalanya. Itachi yang kaget akan aksi Sasuke terpaksa menahan kepala adiknya
dengan tangan yang satunya lagi.
"Hebat, kau berhasil membuatku menggunakan
kedua tanganku, Sasuke." Sasuke menyeringai dan duduk di tanah berumput
tempatnya berpijak tadi. Itachi ikut duduk disamping Sasuke. Duo kakak beradik
tersebut menatap langit biru yang terlihat cerah.
"Onii-san…" Sasuke membuka suara,
membuat pandangan Itachi yang tadinya tertuju pada langit teralihkan pada
adiknya. "Katanya paman Obito mengalami lupa ingatan ketika terbentur di
bagian belakang kepalanya saat diserang penjahat," ucap Sasuke dan memeluk
kedua lututnya. "Katanya dia terbentur di bagian sini." Sasuke
menunjuk kepala bagian belakangnya. Itachi hanya menatap adiknya itu dengan
pandangan tenang.
"Oh ya? Lalu bagaimana keadaannya
sekarang?" respon Itachi. Sasuke mengangkat kedua bahunya, pertanda bahwa
bocah tersebut tak tahu, atau bahkan tak begitu peduli.
"Aku membayangkan penjahat itu, apakah
penjahat itu masih berkeliaran?" Itachi menatap miris adiknya. Penjahat
yang dimaksud adiknya itu tentu saja kaum hunter. Pemuda tersebut tak bisa
membayangkan bocah kecil seperti adiknya hidup di dalam dunia yang kejam
seperti ini. Perang, perang, dan perang. Itachi bahkan pernah berpikir, mengapa
ia dan Sasuke harus lahir di klan Uchiha? Kenapa ia tak terlahir sebagai kaum
manusia saja?
"Onii-san … ada apa?" Itachi tersentak saat
mendengar panggilan Sasuke. Ia segera sadar dari lamunannya dan tersenyum pada
Sasuke.
"Mungkin saja," jawab Itachi enteng.
Jawaban tersebut membuat Sasuke meringkik ketakutan. Melihat hal itu, membuat
Itachi mengepalkan tangannya. "Tapi tenang saja, Sasuke. Aku pasti akan
melindungimu dari penjahat itu." Sasuke tersenyum sumringah saat mendengar
pernyataan kakaknya. Bocah itu tak menyadari, bahwa mata kakaknya yang semula
kelam kini menjadi semerah darah.
~~~0~~~
"Itachi, aku ingin membicarakan sesuatu
padamu sesudah makan malam." Itachi memandang sang ayah heran, namun hanya
sekilas sebelum pemuda itu kembali menyantap makanan di depannya. Sasuke yang
juga mendengarnya nampaknya tak peduli dan tetap melahap makanannya dengan
cepat. Setelah makan malam, Sasuke dipaksa oleh ayahnya untuk pergi ke
kamarnya. Sedangkan Itachi disuruh diam di tempatnya. Uchiha Fugaku menatap
Itachi dengan pandangan serius, Mikoto juga ikut duduk di samping suaminya
dengan wajah gelisah.
"Ada apa, Ayah?" Itachi pun bertanya
saat tak mampu lagi membendung rasa penasarannya, apalagi saat dilihatnya raut
wajah ibunya yang jauh dari kata mengenakkan.
"Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu.
Apakah kau tahu ritual keluarga Uchiha yang diadakan satu abad sekali?"
Itachi mengerutkan keningnya, kemudian menggeleng pelan. Fugaku hanya menghela
nafas pasrah saat melihat gelengan Itachi. "Ritual itu adalah sebuah
ritual penting di klan Uchiha. Sebuah ritual yang dapat dilakukan oleh keluarga
yang paling kuat di klan ini."
"Apa maksud Ayah? Ritual apa itu?"
Mikoto yang berada di samping Fugaku bergerak gelisah.
"Ritual ini, yakni mengorbankan salah satu
keturunan terkuat di klan Uchiha."
Bagaikan hantaman petir, Itachi terkejut bukan
main. Ia benar-benar tak menyangka akan ada ritual seperti ini di keluarganya.
"A-apa-apaan ini?!" Itachi menggebrak
meja di depannya dengan tampang marah. "Aku tidak terima jika salah satu
anggota keluargaku dikorbankan! Aku tak terima!" amuk Itachi. Mikoto
menunduk, sedangkan Fugaku menatap Itachi kaget, ia tak menyangka putra
sulungnya akan bereaksi seperti ini.
"Ibu juga tidak terima, Itachi! Tapi, ritual
ini untuk kepentingan klan kita!" Akhirnya Mikoto angkat bicara setelah
sedari tadi diam.
"Kalau begitu, korbankanlah salah satu
anggota klan kita yang tidak aku kenal." Nada suara Itachi perlahan-lahan
menurun. Mikoto menatap anaknya, wanita itu menangis.
"Tidak bisa. Kau tahu sendiri Itachi, bahwa
keluarga kita, keluarga Madara adalah keluarga terkuat di klan Uchiha. Apalagi
yang mempunyai tiga aliran darah sekaligus, yaitu vampir, monster, dan
manusia." Otak Itachi berputar pelan, ia kemudian tersentak pelan saat
mengetahui maksud ayahnya.
"Jadi … aku yang harus menjadi tumbal?"
Itachi menghela nafas. "Baiklah, aku setuju jika aku yang menjadi tumbal.
Aku lebih baik mati daripada menyaksikan keluargaku dibunuh karena ritual
ini."
"Tidak bisa." Itachi mengernyit saat
mendengar ucapan ayahnya. "Kau tidak bisa menjadi tumbal. Maka dari itu,
aku memilih Sasuke untuk dijadikan tumbal." Itachi membelalak lebar.
"Apa?! Tidak! Aku tidak setuju! Kenapa harus
Sasuke? Kenapa bukan aku saja?!" Itachi berdiri dengan cepat. Fugaku
memandang putranya dengan pandangan tajam.
"Kau hebat. Sangat disayangkan kehilangan
seseorang sepertimu, Itachi. Jika Sasuke telah tumbuh besar, pasti ia juga akan
menjadi pria yang hebat, namun aku tak yakin ia bisa menyamai
kehebatanmu."
"Cih! Apapun alasanmu, aku tidak setuju jika
adikku yang dijadikan tumbal! Persetan dengan ritual ini!" amuk Itachi.
Pemuda itu sungguh kecewa dengan keputusan orang tuanya, saat pandangannya
bertemu ibunya, ia menatap tajam wanita itu. "Dan kau! Bukankah kau
manusia?! Kenapa kau begitu tega melihat putramu menjadi tumbal?! Bukankah
manusia adalah makhluk yang mempunyai perasaan kasih sayang?!"
"Itachi! Tahan emosimu!" Fugaku
menggebrak meja, namun bukannya lebih tenang, Itachi malah menendang meja di
hadapannya sehingga meja tersebut terlempar beberapa meter.
"Aku tidak akan semarah ini jika saja kau
tidak kehilangan kewarasanmu, Tua Bangka!" Fugaku terkejut bukan main.
Itachi menghardiknya, anaknya yang terkenal penyabar dan hormat pada orang
dewasa itu berani menghardiknya. Semarah inikah Itachi? –tidak. Pertanyaan yang
paling tepat adalah-Sesayang inikah ia pada adiknya?
"Maafkan kami, Itachi … tapi kami juga
terpaksa harus mengambil keputusan ini. Ini adalah keputusan terberat yang
harus kami ambil sebagai orang tua." Mikoto berkata dengan lembut. Itachi
mengepalkan tangannya sebelum keluar dari ruangan itu.
.
.
.
"Onii-san!" Itachi berbalik dengan lesu
ke asal suara dan mendapati wajah adiknya yang tersenyum lebar padanya.
"Ada apa, Sasuke? Kenapa kau terlihat begitu
senang?" Itachi tersenyum terpaksa, Sasuke yang tidak menyadari itu tetap
melanjutkan ucapannya.
"Kata Ayah, aku akan menjadi anak yang
berguna!" Tubuh Itachi menegang. Pemuda itu menatap kikuk Sasuke yang
menyengir lebar. Melihat cengiran adiknya, membuatnya kembali mengingat
percakapannya dengan kedua orang tuanya tadi malam. Ia menatap miris adiknya
itu, mengapa takdir begitu kejam pada adiknya? Adakah cara untuk menghentikan
semua ini?
"Onii-san?" Sasuke memiringkan
kepalanya, heran saat melihat wajah kakaknya yang berubah menjadi sendu.
"Ada apa?" Itachi tersentak, kemudian menatap Sasuke seraya tersenyum
terpaksa.
"Tidak apa…" Sasuke mengernyit tak suka.
"Kau berbohong," ujar Sasuke. Itachi
masih tersenyum.
"Kau memang selalu mengerti tentang diriku,
Sasuke." Itachi menjongkok pelan. "Maafkan aku…" Sasuke
menampilkan raut wajah bingungnya.
"Maaf? Untuk apa?" Itachi mengusap
kepala Sasuke. Pemuda itu menunduk, tidak ingin memperlihatkan air matanya yang
telah jatuh mata onyx -nya. "Kenapa kau menangis?" Itachi mengusap
air matanya dan menatap Sasuke dengan pandangan sedih.
"Maaf, aku tak bisa melindungimu…"
.
.
.
"Ritual tersebut akan diadakan besok lusa.
Ada pertanyaan?" Ruangan tersebut hening. Para tetua klan Uchiha menatap
Fugaku, Mikoto, serta Itachi dengan pandangan yang tak dapat diartikan.
Terutama Itachi, semuanya menatap pemuda itu dengan pandangan khawatir, takut
jika pemuda tersebut mengamuk. Akhirnya, Itachi membuka suaranya.
"Sebenarnya apa tujuan dari ritual ini?"
Itachi mengepalkan tangannya. Sedangakan salah satu tetua di klan Uchiha
tersebut menjawab.
"Jika ritual ini tidak dilakukan, makan klan
Uchiha akan kehilangan kekuatannya. Kau tahu sendiri 'kan? Klan Uchiha adalah
klan terkuat, hanya klan Uchiha lah yang dapat menghentikan perang ini."
Itachi mendecih. Pemuda itu rela kehilangan kekuatannya, namun ia sungguh tak
rela jika harus kehilangan adik semata wayangnya.
"Kalau begitu, apa yang terjadi jika aku mati
sebelum ritual itu? Apakah Sasuke tetap akan menjadi tumbal?" Fugaku dan
Mikoto tampak terkejut, Madara tersenyum kemudian menjawab.
"Tidak. Kita hanya mengambil keluarga yang
mempunyai dua atau lebih penerus. Jika kita mengambil Sasuke, maka tak akan ada
lagi keturunan vampire, monster, dan manusia. Keturunan yang mempunyai tiga
darah tersebut adalah keturunan yang langka. Maka dari itu, kami akan mengambil
keluarga terkuat setelah keluargamu." Itachi mengernyit bingung.
Penjelasan bodoh. Ia betul-betul tak mengerti tentang semua penjelasan yang
ditujukan padanya.
"Jangan bilang kau mau bunuh diri,
Itachi…" Mikoto yang tak dapat membendung rasa khawatirnya akhirnya
mengeluarkan suara. Itachi mendengus menahan tawa.
"Bisa jadi." Setelah berkata seperti
itu, pemuda dengan dua garis di dekat matanya itu beranjak meninggalkan
ruangan, yang meninggalkan sejuta tanda tanya pada Mikoto dan Fugaku.
~~~0~~~
Hari ini adalah hari di mana ritual tersebut
berlangsung. Itachi dan Sasuke ditempatkan ke suatu ruangan sebelum acara inti
berlangsung. Itachi menatap adiknya dengan pandangan miris, sedangkan Sasuke
telah berapa kali bertanya pada Itachi, membuat Itachi semakin sedih.
"Onii-san, apa yang dilakukan di sini? Di
luar sedang diadakan pesta 'kan?" Itachi menghela nafas pelan, apa ia
harus mengatakan yang sejujurnya? Tapi, apakah Sasuke akan menerimanya?
"Baiklah, aku akan mengatakannya
padamu." Itachi menatap serius Sasuke. "Ini bukan pesta, tapi sebuah
ritual." Sasuke menautkan kedua alisnya.
"Ritual?" Itachi mengangguk.
"Ritual apa?"
"Ritual ini-"
PRAAANGG!
Itachi dan Sasuke menoleh kaget ke arah jendela.
Kedua pasang onyx tersebut dapat melihat beberapa orang bercadar memasuki
ruangan mereka dengan beberapa senjata di genggamannya. Itachi yang telah sadar
dari keterkejutannya segera mengambil posisi di depan Sasuke.
"Sasuke, lari!" perintahnya. Orang-orang
di depannya cukup banyak, Itachi tak yakin dapat melawan mereka seorang diri.
Sedangkan Sasuke yang berdiri di belakangnya ketakutan sehingga tak dapat
menggerakkan kakinya. Itachi mendecih pelan. Salah satu pria bercadar tersebut
maju ke depan.
"Serahkan anak itu, maka aku tak akan
menyerang kalian," ucapnya. Itachi menatap pria di depannya dengan
pandangan tajam.
"Langkahi mayatku jika kau ingin mengambil
adikku!" Setelah berkata seperti itu, Itachi berlari dan menyerang pria
bercadar tadi, sedangkan lima pria lain di belakangnya tampak mendekati Sasuke.
Itachi yang melihatnya dengan gesit menyerang mereka satu-persatu. Ia meninju,
menendang, menonjok, menendang. Lama –kelamaan, Itachi mulai kehabisan tenaga.
Ia menatap enam orang di depannya dengan nafas ngos-ngosan.
"Kami bilang, serahkan anak itu!"
"Aku bilang langkahi mayatku!" Itachi
mengunci badannya, dua buah sayap kalelawar tumbuh di belakangnya.
"Heh, jangan membuatku benar-benar
membunuhmu, bocah." Setelah berkata demikian, tubuh pria bercadar tersebut
perlahan-lahan berubah menjadi seekor singa. Lima orang di belakangnya juga
ikut berubah menjadi serigala, anjing, singa, macan, dan ular. Mereka berenam
menyerang Itachi. Itachi menendang si singa di perutnya, kemudian ia berputar
dengan cepat dan meninju serigala dan menangkap kakinya. Itachi memutar tubuh
serigala tersebut dan memakainya untuk menyerang macan dan anjing. Itachi
tersenyum meremehkan ketika melihat lawannya tumbang di lantai. Tapi tunggu, ia
mengernyit. Dua singa, macan, anjing, serigala, dan … ular? Itachi berbalik
dengan cepat, dan mendapat Sasuke yang tubuhnya telah dililit ular.
"Sasuke!" seru Itachi kencang.
"Diam, jika kau bergerak selangkah pun, akan
kugigit adikmu ini." Pergerakan Itachi terhenti. Sasuke yang berada di
lilitan sang ular tampak tak berdaya. Pemuda sulung Uchiha tersebut mendecih.
"U-ukh … Onii-san…" Itachi dapat
mendengar lirihan Sasuke, ia mengepalkan tangannya.
"GRRRAAAAUUM!"
"AKKH!" Itachi berteriak kesakitan saat
salah satu singa mengigit pundaknya. Ia lengah, pemuda tersebut memukul-mukul
kepala singa yang menggigitnya. "Akh!" Itachi kembali merasakan sakit
pada kakinya, kali ini akibat sang anjing yang menggigit betis kirinya. Sang
macan dan singa yang satunya lagi ikut menyerang dan mengigit tangan serta kaki
kanan Itachi.
"Onii-saaan!" Sasuke berseru kencang
saat melihat kakaknya yang diserang. Mendengar teriakan Sasuke, membuat Itachi
yang tadinya lemas seketika kembali mendapat tenaganya.
"Sasuke…" Itachi berlirih pelan. Pemuda
tersebut perlahan bangkit. "Sasuke…" Itachi terus menggumamkan nama
adiknya. "Sasukeee!" Itachi membuka matanya yang tadi terpejam. Mata
onyx miliknya menjadi semerah darah. Kedua taring panjang tumbuh di gusinya.
"ARRGGHH!" Itachi berteriak kencang
sebelum melancarkan serangannya lagi. Kali ini, dengan kekuatan yang luar
biasa.
.
.
.
"…-san!" Itachi melenguh pelan.
"Onii-san! Bangun!" Itachi perlahan membuka matanya, ia menatap
Sasuke yang memandangnya khawatir. Itachi menatap sekeliling, para hunter tadi
telah tumbang dengan wujud aslinya.
"Sasuke…" Itachi bangkit perlahan,
pemuda itu duduk dengan tubuh lemas.
"Siapa mereka, Nii-san? Kenapa mereka
menyerang kita?" Itachi tetap terdiam. Ia menatap adiknya dengan pandangan
yang sulit diartikan.
"Ukh!" Itachi memegang pundaknya.
Gigitan yang diberikan singa itu lebih sakit dibanding gigitan yang lainnya.
"Onii-san!" Sasuke memandang Itachi
khawatir. Itachi menatap adiknya nanar. Sial. Kenapa ia harus hidup? Bukankah
jika ia mati, ritual ini akan dibatalkan? Seharusnya ia mati saja setelah
mengalahkan hunter di depannya! Pandangan Itachi tertuju pada sebuah vas
keramik yang terletak di atas meja. Ia perlahan berdiri dan mengambil vas
tersebut.
"Sasuke…" Sasuke memandang Itachi heran.
Sedangkan Itachi tampak ragu, pemuda itu memejamkan matanya.
'Tidak. Kita hanya mengambil keluarga yang mempunyai
dua atau lebih penerus. Jika kita mengambil Sasuke, maka tak akan ada lagi
keturunan vampir, monster, dan manusia. Keturunan yang mempunyai tiga darah
tersebut adalah keturunan yang langka. Maka dari itu, kami akan mengambil
keluarga terkuat setelah keluargamu.'
Perkataan Madara terngiang di telinganya. Benar.
Ritual ini harus dibatalkan, bagaimanapun caranya.
"Sasuke, dengarkan aku. Apapun yang
kulakukan, ini semua untuk kebaikanmu." Sasuke tampak bingung dengan
ucapan Itachi. "Kau tahu lupa ingatan yang menimpa paman Obito?"
Sasuke mengernyit, kemudian mengangguk. Itachi tersenyum tipis. Kemudian ia
meraba belakang kepala Sasuke. 'Sepertinya … di sini!" Itachi menatap
Sasuke dengan pandangan bersalah.
"Onii-san?"
"Maafkan aku, percayalah. Ini semua untuk
kebaikanmu. Aku harap kau akan melupakan kejadian ini. Ingatlah bahwa aku mati
setelah dikalahkan para hunter. Jangan mengingat bahwa aku masih hidup,
Sasuke…"
"Onii-"
"…maafkan aku."
PRAAANGG!
Dan setelah itu, Sasuke kehilangan kesadarannya.
.
.
.
End of Flashback
.
.
.
"J-jadi, kau berpura-pura mati?"
"Aku kabur dari klan Uchiha. Aku terpaksa
memukul belakang kepala Sasuke, untuk membuatnya lupa ingatan." Sakura
nampak tak percaya dengan perkataan pemuda di depannya.
"K-kau bisa membunuhnya!" tukas Sakura.
Itachi tersenyum tipis.
"Tapi itu tidak terjadi, bukan? Aku berhasil,
aku membuatnya melupakan kejadian ini." Sakura tak dapat menangkis
perkataan kakak orang yang dicintainya itu. Ia hanya mampu memandang tak
percaya pemuda dengan kedua garis di dekat hidungnya itu.
"Lalu, kau tahu bahwa ritual itu telah
dibatalkan. Kenapa kau tak kembali?" tanya Sakura heran.
"Aku lebih senang di sini, meski kadang aku
merindukan keluargaku." Itachi tersenyum. "Keluarlah, Sasuke. Kau
telah mendengar semuanya." Sasuke yang berada di belakangnya segera keluar
dari tempat persembunyiannya. Pemuda itu menatap Itachi dengan pandangan
dingin.
"Bodoh." Hanya itulah kata-kata yang
keluar dari bibir Sasuke. Itachi yang mendengarnya tersenyum.
"Ya, aku tahu." Itachi melangkah
melewati Sasuke. "Rapat akan segera dimulai, ayo ke ruang tengah."
Sasuke mengangguk. Itachi berjalan duluan, meninggalkan Sasuke dan Sakura di
teras, membuat Sakura kikuk seketika.
"Ng … a-ano…" Sakura membuka suara.
"M-maafkan aku soal yang tadi siang, aku terbawa emosi." Sasuke
menatap Sakura dengan tatapan datar, kemudian menghela nafas.
"Sudahlah. Tak usah dipikirkan." Sasuke
membalikkan badannya. Sakura tetap terdiam di tempatnya sampai Sasuke
menolehkan kepalanya padanya. "Sampai kapan aku akan berdiam diri di
situ?" tanyanya. Sakura segera sadar dengan wajah merona. Sasuke yang
melihatnya tersenyum tipis dan menjulurkan sebelah tangannya.
"Eh?" Sakura terlihat heran dengan
tindakan Sasuke.
"Cepatlah." Sakura cengo, namun kemudian
ia tersenyum malu-malu dan menyambut uluran tangan Sasuke. Mereka berjalan
beriringan ke ruang tengah dengan bergandengan tangan.
.
.
.
"Akhirnya kalian datang juga." Pein
menatap kedua sejoli tersebut dengan pandangan lega. Ino yang juga menatap mereka
berdua segera membelalak saat melihat kedua tangan mereka yang menyatu.
"Ciee! Ehem, ehem!" goda wanita pirang
tersebut dengan lirikan penuh arti. Sakura dan Sasuke yang sadar akan hal itu
segera melepas kedua tangan mereka. Wajah Sakura merona hebat. Dengan kikuk, ia
mengambil tempat duduk di sebelah Ino. Sasuke juga ikut mengambil tempat duduk
di sebelah Sakura.
"Apa yang terjadi pada kalian, hm?"
bisik Ino. Wajah Sakura kembali merona.
"Tidak ada apa-apa," jawab Sakura
enteng. Ino baru saja ingin menggodanya lagi, namun Pein menyelanya.
"Baiklah. Sekarang kita mulai rapat
kita." Semua makhluk yang berada di ruangan itu menatap Pein dengan
serius. "Kalian sudah cukup lama berlatih, maka dari itu kita akan
melakukan penyerangan besok lusa."
"Apa?! Besok lusa?!" Naruto dan Ino
berteriak kaget. Sasuke, Sakura, Hinata serta Sai juga ikut terkejut, namun tak
seheboh kedua makhluk pirang temannya itu.
"Kami tidak bisa menunda waktu lagi. Kami
juga mempunyai banyak hal yang harus kami kerjakan setelah ini." Konan
angkat bicara, wanita itu memejamkan matanya sebelum kembali berkata,
"setelah kalian menang melawan Orochimaru, kami masih harus membereskan
para hunter yang lain. Memang benar bahwa Orochimaru adalah ketua hunter, tapi
kemungkinan besar para hunter membentuk organisasi jahat lagi."
"Kalian akan membunuh seluruh hunter?"
Sakura bertanya dengan wajah ragu. Seperti yang diketahui, jumlah kaum hunter
sangat banyak dan beredar di seluruh dunia. Mana mungkin sembilan orang di
depannya dapat membunuh seluruh hunter 'kan?
"Itu tidak mungkin kami lakukan." Sasori
tersenyum kecil kemudian berkata, "kami hanya memberikan arahan pada
mereka. Jika ada yang memberontak, kami hanya akan melawan mereka tanpa
membunuh mereka. Kami yang dulunya selalu bersembunyi di hutan ini dan muncul
secara samar akan menunjukkan sosok kami yang sebenarnya." Sakura
mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Sasori.
"Ada pertanyaan lagi?" tanya Pein pada
keenam remaja di depannya. Sedangkan keenam remaja tersebut hanya diam, diam
berarti tidak bagi leader Akatsuki itu. "Baiklah. Kita akan memulai
strateginya." Pein memasang wajah serius.
"Pertama, Sasuke dan Naruto akan menyerang
secara terang-terangan di bagian depan markas Orochimaru. Sebaiknya, kalian
hindari pertarungan sebisa mungkin. Simpan tenaga kalian untuk melawan bos
mereka, mengerti?" Sasuke dan Naruto mengangguk. "Kemudian, Sakura,
Ino dan Hinata lewat pintu belakang untuk menyelamatkan ayah Sakura. Sai juga
akan ikut di dalam tim kalian, tapi Sai hanya akan melawan hunter yang ada di
pintu belakang saja. Saat Sai menghalangi penjaga untuk mengejar kalian,
larilah secepat mungkin untuk pergi ke ruang tahanan." Konan membawa
sebuah map yang cukup besar dan membuka gulunganya. Di map itu terdapat denah
markas Orochimaru. Pein menunjukkan jalan yang akan ditempuh Sakura, Ino, Sai
dan Hinata. Ketika melihat anggukan mengerti dari keempat remaja tersebut, Pein
pun menunjuk salah satu ruangan pada gambar. Ruangan tersebut berada di
tengah-tengah. "Setelah semua beres, kalian bertemu di ruangan ini. Kalian
bereenam akan menyerang Orochimaru bersama-sama."
"Tunggu. Kau yakin Sakura, Ino dan Hinata
akan mampu menyelamatkan ayah Sakura? Bukannya aku meremehkan kemampuan mereka,
namun sepertinya mereka membutuhkan seorang lelaki yang dapat membantu
mereka." Naruto mengangguk setuju saat mendengar ucapan Sai, sedangkan
Pein hanya menyeringai.
"Maka dari itulah aku menyuruh Sasuke dan
Naruto menyerang secara terang-terangan. Aku yakin pusat perhatian para hunter
akan tertuju pada mereka berdua."
"Lalu apa tugas kalian?" Ino mendengus
seraya menatap seluruh anggota Akatsuki.
"Kami akan menyusul. Namun sebelumnya, ada
satu hal yang harus kami selidiki. Kami juga akan menonaktifkan semua jebakan
yang dipasang di sana, meng-hack sesuatu adalah keahlianku!" Deidara
menjawab pertanyaan Ino dengan santai.
"Percayalah pada kami, kami sebisa mungkin
akan melindungi kalian," tutur Sasori dengan senyum meyakinkan. Melihat
senyum Sasori, membuat sekelebat kelegaan muncul di hati Sakura, Ino dan
Hinata.
"Ada pertanyaan?" Hening sekilas sebelum
Sasuke mengangkat tangannya. "Ada apa, Sasuke?" Sasuke tampak ragu,
namun kemudian ia menatap Pein dengan tatapan datar.
"Bisakah aku di tempatkan dalam satu tim
dengan Sakura?" Mata seluruh makhluk yang berada di ruangan itu
terbelalak. Terutama Sakura dan Ino, mereka tak menyangka seorang Uchiha Sasuke
akan meminta sebuah hal yang tidak dapat dibayangkan seperti itu.
"Ada apa? Kau mau melindungi Sakura,
heh?" Naruto tertawa renyah, namun malah terdengar aneh saat melihat wajah
Sasuke yang tetap datar.
"Bisa kau jelaskan alasannya, Sasuke?"
Sasuke terdiam sejenak, kemudian menjawab.
"Entahlah, tapi aku mempunyai firasat buruk
tentangnya." Pein mengerutkan keningnya.
"Firasat buruk?" Sakura yang tadinya
terdiam dengan wajah memerah kali ini menatap Sasuke dengan pandangan heran.
"Firasat buruk? Apa maksudmu, Sasuke?"
tanya gadis itu saat tak mampu lagi membendung rasa penasarannya. Sasuke hanya
terdiam, melihat Sasuke yang tampaknya tak ada minat untuk menjawab
pertanyaannya, membuat Sakura memegang pundak Sasuke yang kebetulan berada di
sampingnya. "Katakan padaku, apa maksud perkataanmu? Firasat buruk apa
yang kau rasakan?" Karena tak tahan melihat wajah memelas Sakura, akhirnya
Sasuke membuka suara.
"Firasat buruk. Aku merasa akan ada sesuatu
yang buruk yang akan menimpa dirimu." Sasuke menghela nafas.
"Sudahlah, lupakan saja. Mungkin firasat ini salah." Semuanya terdiam
saat mendengar penegasan dari Sasuke. Mereka hanya dapat berdoa agar firasat yang
Sasuke rasakan salah.
"Baiklah. Rapat selesai. Kalian punya satu
hari persiapan sebelum penyerangan, beristirahatlah besok dan simpan tenaga
kalian banyak-banyak." Setelah berkata demikian, para anggota Akatsuki
meninggalkan ruangan disusul Sai, Ino, Naruto dan Hinata. Mereka meninggalkan
Sasuke dan Sakura di ruang tengah.
"Sasuke…" Sasuke sedikit tersentak saat
mendengar panggilan Sakura. "Apa yang kau lamunkan?" Sasuke
menggeleng sebagai jawaban. Sakura menunduk, kemudian berkata,
"sebenarnya, aku juga sedikit merasakan firasat buruk." Sasuke
menoleh kaget pada Sakura. Melihat itu, Sakura tersenyum.
"Tapi aku yakin kita bisa mengatasi masalah
yang terjadi padaku nanti. Jangan pikirkan hal itu, dan tidurlah. Oke?"
Sakura tetap tersenyum. Sasuke mengangguk dan tersenyum tipis saat mendengar
ocehan Sakura.
"Hn. Aku pasti akan melindungimu."
.
Chapter 13 : Evaluation, school festival, and go!
.
"Banguun! Banguun! Banguuun!"
Keenam remaja yang tadinya sedang asyik
berpetualang di alam mimpi terpaksa harus membuka matanya saat mendengar
teriakan Deidara. Ino yang masih setengah merem segera membulatkan matanya dan
memasang wajah marah.
"Ini masih jam satu malam! Kenapa kita
dibangunkan?!" protes wanita tersebut degan pemuda yang kurang lebih
memiliki model rambut yang sama. Deidara tersenyum licik, membuat Ino sangat
ingin menimpuk wajah sok ganteng Deidara dengan sepatu.
"Kalian akan melakukan beberapa latihan
terakhir. Persembahan khusus dari kami, Akatsuki!" Deidara menepuk
dadanya. Beberapa saat kemudian, Itachi memasuki ruangan keenam remaja tersebut
dengan tatapan datar.
"Hn. Ternyata kalian tidur dalam satu
ruangan, ini memudahkan kami untuk membangunkan kalian." Ino mengatupkan
mulutnya, rupanya gadis itu tak berani protes pada salah satu keturunan Uchiha
tersebut. "Ikuti kami," ucap Itachi dan kemudian meninggalkan ruangan
disusul oleh Sasuke, Sakura, Ino, Sai, Hinata, Naruto, dan juga Deidara.
"A-apa yang akan kami lakukan?" Hinata
bertanya dengan suara pelan. Itachi menoleh sedikit pada gadis mungil tersebut,
kemudian berkata dengan nada dingin,
"Kalian akan melakukan latihan
terakhir." Keenam remaja malang tersebut sontak terpekik kaget.
"Malam-malam begini?! Kau bercanda?!"
Gadis Yamanaka yang sifatnya memang blak-balakan tersebutlah yang paling pertama
mengajukan protes. Tapi sayangnya, Ino menjawab pertanyaannya sendiri saat
melihat raut wajah serius Itachi yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi
bercanda, terbukti dengan melihat keriput di kedua sisi hidung pria tampan
tersebut yang semakin memanjang(?). Saat melihat ekpresi Itachi, keenam remaja
tersebut tidak lagi berkomentar apapun. Mereka yang langsung menjadi jinak
segera mengikuti langkah Itachi. Sampai di depan markas Akatsuki, Itachi
menunjuk hutan belantara yang berada di depan mereka dan berkata dengan
sadisnya,
"Masuklah ke dalam hutan itu." Keenam
remaja malang tadi lagi-lagi terkejut, terutama Ino yang –walau sudah sedikit
berkurang- percaya dengan hal-hal berbau gaib.
"APAAA?! Ini jam satu malam! Ini latihan atau
uji nyali?!" Itachi merespon Ino dengan membalikkan badannya seraya
melangkah menjauhi keenam remaja tersebut.
"Kudoakan yang terbaik," ucap pemuda
tersebut sebelum memasuki markas kembali. Sepeninggal Itachi, Sasuke, Sakura,
Sai, Ino, Naruto dan Hinata saling berpandangan untuk meminta pendapat satu
sama lain.
"Tidak … aku tidak mau memasuki hutan itu!
Kalian ingat ketika pertama kali ke sini? Di hutan itu ada badak! Dan itu tak
menutup kemungkinan kalau ada hewan buas lagi yang berkeliaran di hutan
menyeramkan itu! Aku tidak mau mati muda!" Oke, dengan mengesampingkan
kalimat terakhir, perkataan Ino ada benarnya juga.
"Jadi?" Sai bertanya dengan nada datar,
pemuda tersebut terlihat santai-santai saja. Satu-satunya pemuda yang terlihat
tak santai adalah Naruto, pria pirang tersebut sepertinya juga sedang
ketakutan.
"Aku setuju dengan Ino!" ucap Naruto
dengan suara bergetar karena menahan ketakutannya.
"A-aku … menurutku, ini berbahaya. T-tapi ini
untuk latihan 'kan?" Hinata dengan malu-malu menyeruakkan pendapatnya.
Sakura yang melihat masing-masing ekspresi teman-temannya segera menarik lengan
baju Sasuke.
"Sasuke … bagaimana menurutmu?" tanya
Sakura. Sasuke tampak berpikir, kemudian pria itu mengalihkan tatapannya ke
arah hutan.
"Ayo kita pergi," kata Sasuke yang
disusul pekikan nyaring dari Ino dan Naruto.
.
"Aku takuuuuuuut!" Ini sudah sepersekian
kalinya Ino meneriakkan kalimat tersebut. Hutan tempat mereka berada ini memang
tampak menyeramkan, tak ada yang menerangi hutan tersebut kecuali sinar bulan.
Sudah lima menit mereka memasuki hutan ini, dan sudah lima menit pula mereka
mendengar suara-suara aneh yang tidak diketahui asalnya.
"Auuuuuuu!"
"Kyaa!" Ino memekik saat mendengar
lolongan serigala. Ia segera memeluk lengan Sai yang kebetulan berada di
sampingnya. Ino kali ini tak memedulikan seringaian menyebalkan Sai, yang Ino
pedulikan adalah bagaimana cara ia meluapkan rasa takutnya.
"Hiiii!" Nampaknya bukan hanya Ino,
Naruto pun bahkan ikut bergidik ngeri, membuatnya langsung disuguhi tatapan
heran dari berbagai pihak. "A-ada apa? Wajar 'kan kalau aku takut,
lolongan tadi terdengar sangat besar!" ucap Naruto membela diri.
"Kenapa kau takut? Kau dan serigala berada di
species yang sama," ujar Sai seraya menatap Naruto dengan pandangan aneh.
"Aku rubah! Bukan serigala!" seru Naruto
kencang.
"Naruto, diamlah." Naruto langsung
terdiam saat dirinya mendengar teguran dari Sasuke, ia hendak protes, namun
saat melihat raut wajah Sasuke yang terlihat serius, niatnya langsung batal.
SRRRKKK… KRESEK…
"Suara apa itu?" Sakura langsung merapat
pada Sasuke, keenam remaja tersebut langsung menampilkan raut wajah penasaran
sekaligus panik.
"Merapat padaku, Sakura…" perintah
Sasuke. "Kalian berdua, merapatlah pada Sai dan Naruto!" perintah
Sasuke pada Ino dan Hinata, kedua gadis tersebut langsung mengangguk dan
merapat pada Sai dan Naruto.
Kressek … sreek…
Bunyi semak-semak tersebut semakin keras. Keenam
remaja tadi siap dalam posisi bertempur masing-masing.
"GROAAAMM!"
"WUAAAAA!" Sasuke, Sakura, Naruto,
Hinata, Sai, dan Ino langsung memekik kaget saat seekor macan langsung menyerbu
mereka. Keenam remaja tersebut berlari dengan kecepatan semaksimal mungkin,
macan yang cukup besar tersebut tampak mengejar mereka dari belakang.
"Sial! Larinya cepat sekali!" umpat Ino.
Gadis itu menoleh ke belakang dan menatap sang macan. "Perlambat larimu,
macan bodoh!"
"GRROOOAAAMM!" Bukannya malah
memperlambat larinya, macan tadi semakin mempercepat larinya, mempersempit
jarak mereka.
"Ini gara-gara kau, Nenek sihir!" Ino
melototi Sai yang hanya memasang wajah innocent, Ino baru saja hendak membalas
lagi, namun Naruto seketika melintas di depannya dengan kecepat seperti kilatan
petir yang membuat Ino dan Sai seketika sweatdrop.
"WUAAAA!" Naruto berteriak seraya
berlari, keenam remaja di belakangnya langsung cengo saat melihat kecepatan
lari Naruto yang jauh di atas rata-rata.
'Dia ini keturunan monster atau bukan sih?' batin
Ino sweatdrop. Karena melihat Naruto berlari, membuat pandangan gadis tersebut
tak terfokus pada jalanan di depan dan tak melihat sebuah batu besar di
depannya. Alhasil, gadis tersebut jatuh dengan indahnya di tanah.
"Ino!" Sai yang pertama kali sadar
segera berbalik arah.
"Sai!" Sakura yang melihat Sai
membalikkan badannya juga ikut berbalik arah, gadis itu tak tega membiarkan
kedua temannya berjuang sendiri melawan seekor macan yang tampak ganas
tersebut.
"Sakura!" Sasuke yang nampaknya juga
sadar segera menyusul Sakura.
"Sasuke-kun!" Hinata yang juga ingin
ikut-ikutan dalam panggilan berantai tersebut juga membalikkan badannya. Naruto
yang juga sadar namun tak bisa mengerem larinya hanya bisa tersenyum kecut dan
menoleh ke belakang, namun akibat menoleh ke belakang, ia tak sadar dengan
sebuah pohon di depannya. Sedetik kemudian, terdengarlah bunyi 'Brukk' yang
terdengar nyaring di hutan belantara tersebut. Sungguh malang nasib pemuda
rubah tersebut.
"Tolong akuuu!" Ino memekik keras,
kakinya terlalu kaku untuk digerakkan. Gadis itu semakin meringkik ketakutan
saat melihat sang macan semakin mendekat.
"Inooo!" Ino segera mendongakkan
kepalanya dan melihat Sai disusul Sakura, Sasuke dan Hinata di belakangnya. Ino
tersenyum sumringah, ia merasa melihat seorang pangeran dengan kuda putih
diikuti ketiga dayang di belakangnya.
"Cih." Sai mendecih pelan dan terus
berlari. Pemuda tersebut berlari melewati Ino dan menghampiri sang macan yang
siap menerkam mereka. Pemuda dengan kulit pucat tersebut segera memutar
tubuhnya dan melancarkan tendangannya tepat di wajah sang macan. Tak ingin
kalah, si macan kembali berlari untuk menerkam Sai, namun Sai tampaknya tak
tinggal diam dan meluncurkan tinjuannya di pipi macan malang tersebut. Tinjuan
yang cukup keras tadi membuat sang macan terlempar beberapa meter ke belakang
dan menubruk pohon di belakangnya, membuat macan tersebut langsung pingsan
seketika. Sai menatap macan yang terkapar di tanah tersebut dengan pandangan
tajam, namun hanya sesaat sebelum ia berbalik ke arah Ino dan menampilkan
senyum palsunya.
"Kau tak apa-apa?" tanya Sai pada Ino.
Ino mengangguk dan segera memeluk Sai.
"Huaaa! Aku pikir aku akan matiii!"
Tangis Ino pecah. Sakura, Sasuke, dan Hinata yang tertegun melihat aksi Sai
hanya terdiam. Setelah Ino melepas pelukannya dengan tangis yang telah mereda,
Sasuke segera maju selangkah untuk mendekati Sai.
"Darimana kau mendapat kekuatan seperti
itu?" tanya bungsu Uchiha tersebut, yang membuat Sai menyeringai kecil.
"Entahlah. Mungkin inilah hasil latihan kita
bersama dengan anggota Akatsuki. Badanku menjadi ringan digerakkan, dan aku
merasa ada kekuatan yang muncul dari dalam diriku." Sasuke mengangguk dan
tersenyum tipis.
"Aku mengerti. Jadi ini adalah evaluasi,
bukan sebuah latihan." Sai, Ino, Sakura, dan Hinata ikut tersenyum.
"Baiklah, kalau kekuatanku juga sama seperti
Sai, aku tak akan melarikan diri dari hewan-hewan ganas lagi! Aku akan langsung
menghabisi mereka!" seru Ino bersemangat seraya mengepalkan tangannya.
Wanita tersebut tersenyum sumringah. "Ayo!"
"Tunggu, sepertinya kita melupakan
seseorang." Sakura mencegah pergerakan Ino. Kelima remaja tersebut
membalikkan badannya dan menatap Naruto yang sedang terkapar di tanah.
.
"Ciaaaat!" Ino menendang seekor serigala
dengan senyum sumringah, serigala tadi terlempar dua meter ke belakang, namun
kemudian kembali menyerang Ino. "Heh? Tendanganku tak cukup untuk
membuatmu pingsan? Baiklah…" Ino mengambil ancang-ancang, gadis itu
berlari dan menendang serigala tersebut bak bola kaki, membuat tubuh serigala
tersebut melambung tinggi di udara. "INO EXPLOSION!" Ino menampilkan
cengirannya, membuat kelima temannya hanya memandangnya dengan tatapan aneh.
"Wah, kau sudah memberi nama pada
jurusmu." Naruto berkomentar, Ino hanya terkekeh pelan menanggapinya.
"Sebaiknya kau lihat tanganmu sebelum
menampilkan cengiranmu." Sai mendekati Ino dan mengangkat tangan kanan
wanita itu. Tiga buah goresan tercetak di kulit mulus gadis tersebut.
"Hah?! Kapan aku tergores?" tanya Ino
heran. Sai menghela nafas pelan.
"Kau dicakar serigala tadi. Kau jangan
terfokus pada satu hal saja, Ino." Ino menatap heran Sai yang menatapnya
dengan serius. Baru kali ini Sai berbicara serius pada Ino.
"Biar kulihat." Sakura ikut mendekati
Ino dan melihat goresan tersebut. Gadis berambut softpink itu meletakkan
tangannya di atas goresan tadi, Sakura menutup matanya, perlahan namun pasti,
sebuah cahaya berwarna hijau muda muncul dari telapak tangan Sakura, yang
membuat Sasuke, Sai, Ino, Hinata, dan Naruto sedikit tercenggang. Lima detik
kemudian, Sakura menjauhkan telapak tangannya. Ino melihat goresan tadi telah
hilang, membuatnya tersenyum takjub.
"Waah! Kau hebat, Sakura!" pujinya.
Sakura hanya tersenyum malu. Tak lama kemudian, muncul secercah cahaya
dilangit.
"K-kembang api!" Hinata memekik senang.
Sasuke, Sakura, Ino, Sai, dan Naruto ikut menengadah, mereka dapat melihat
kembang api terpatri dengan indahnya di langit malam.
"Indahnya!" Ino menatap kagum kembang
api tersebut. Namun keenam remaja tersebut seketika tertegun saat kembang api
tersebut membentuk sebuah kanji 'Berjuanglah'. Disusul kanji-kanji lain, pesan
dari para anggota Akatsuki.
'Kalahkan hunter itu!' Pein.
'Jangan menyerah!' Konan.
'Selamatkan para monster, dan jadilah anak baik!'
Tobi.
'Kalian harus membayar biaya latihan!' Kakuzu.
'Aku tak mau kalian mengecewakan kami' Zetsu.
'Jangan berada di aliran yang sesat!' Hidan.
'Aku tidak mau membuang-buang waktuku demi
kekalahan kalian!' Deidara.
'Kalian pasti bisa, berjuanglah.' Sasori
'Jaga diri kalian.' Itachi.
Keenam remaja tadi tersenyum saat melihat
pesan-pesan yang disampaikan para anggota Akatsuki melalui kembang api.
"Dasar … kenapa mereka menyampaikannya dengan
cara ini? Kenapa mereka tak langsung mengucapkannya saja?" desis Naruto,
namun pemuda rubah tersebut masih tersenyum. Setelah beberapa saat, kembali
muncul kembang api dengan tulisan kanji 'Kembalilah ke markas dan tidurlah'.
"Hn, ayo kembali." Sasuke lah yang pertama
membalikkan badannya, disusul kelima temannya yang melangkah dengan semangat.
Mereka tahu, bahwa sebuah beban besar sedang mereka pigul sekarang, mereka tahu
bahwa pertarungan mereka menyangkut hidup atau tidaknya mereka nanti, mereka
tahu bahwa takdir para monster berada di tangan mereka sekarang. Oleh karena
itu lah, mereka harus menang!
~~~0~~~
"Bagaimana? Kalian suka hadiah kami tadi
malam?" Konan bertanya seraya menyediakan sarapan pagi. Sasuke dan yang
lainnya mengangguk, membuat para anggota Akatsuki tersenyum puas.
"Maaf karena harus membangunkan kalian tengah
malam, karena kembang api hanya bersinar di malam hari." Konan meletakkan
sepiring roti bakar di meja. "Aku ingin kalian bersenang-senang hari
ini."
"Hah? Bersenang-senang?" Naruto tampak
kebingungan.
"Hum. Bersenang-senang. Kalian boleh
meninggalkan markas Akatsuki, dan pergi ke tempat lain."
"Tapi ke mana?" Naruto tetap bertanya.
Konan mengedikkan bahunya.
"Itu terserah kalian." Naruto hendak
berkomentar lagi, namun Sakura segera menyela.
"Bagaimana kalau…" Gadis itu menunduk
pelan. "…kita ke sekolah?"Naruto, Ino, Sai, dan Hinata membelalak
kaget.
"Hah? Ke sekolah? Untuk apa?" Sakura
tersenyum kecil.
"Hari ini adalah hari festival sekolah.
Bagaimana kalau kita ke sana?" usul Sakura. Ino menjentikkan jarinya.
"Ide bagus!" ucap wanita berambut pirang
tersebut. Naruto juga nampaknya setuju dengan usul Sakura, Sai, Hinata, dan
Sasuke juga tampak tak keberatan, membuat Sakura tersenyum lebih lebar.
"Kalau begitu, ayor bersiap-siap!"
.
"Wah, lihat mereka!"
"Mereka ganteng sekali!"
"Kyaaa!"
Sakura, Ino, dan Hinata sontak mengernyit tak suka
saat mendengar Sasuke, Sai, dan Naruto dipuji-puji oleh para siswi. Sakura
segera merapatkan diri pada Sasuke, begitu pula Ino dan Hinata yang merapatkan
diri pada Sai dan Naruto.
"Kau kenapa?" Sasuke bertanya pada
Sakura yang tiba-tiba mendekat padanya. Sakura mengalihkan pandangannya ke arah
lain.
"Tidak ada apa-apa," jawab Sakura dengan
nada secuek mungkin, namun sebenarnya wajah gadis ini sudah memerah. Sasuke yang
sepertinya membiarkan gadis ini berada di dekatnya hanya terdiam.
"Sakura?" Sakura menoleh ke asal suara
dan mendapati Gaara yang tersenyum menatapnya. Sakura juga ikut tersenyum
sumringah saat melihat ketua dewan murid tersebut.
"Gaara!"
"Heh, kau menghilang entah ke mana. Dan
ternyata kau sedang asyik bersama pacarmu." Wajah Sakura sontak memerah
mendengarnya.
"D-dia bukan…"
"Siapa dia?" Sakura menoleh pada Sasuke
yang mengernyit tak suka saat menatap Gaara. T-tunggu, mengernyit tak suka?! Ke
Gaara?! Di dalam hati, Sakura mulai ke-GeeR-an, namun karena sifat Sasuke yang
selama ini selalu dingin, membuat harapan Sakura runtuh dengan tidak elitnya.
"Dia Gaara. Gaara, ini Sasuke." Sakura
memperkenalkan masing-masing pihak. Sasuke tetap menatap tajam Gaara, namun
Gaara yang tidak peka hanya tersenyum pada Sasuke. Setelah beberapa saat, Gaara
akhirnya meninggalkan mereka berdua karena harus mengurus hal lain.
"Ah, aku merasa kasihan pada Gaara.
Seharusnya aku membantunya dalam menyelenggarakan festival ini," ucap
Sakura dengan nada bersalah. Namun Sasuke yang berada di dekatnya hanya
terdiam. "Eh? Sai, Ino, Hinata, dan Naruto mana?" Sakura yang baru
sadar segera celingak-celinguk mencari mereka, namun sayang wanita itu tetap
tak dapat menemukan keempat temannya itu.
"Sudahlah, mereka mungkin ke tempat
lain." Sasuke menarik tangan Sakura. "Kita juga sebaiknya menikmati
festival ini." Sakura cengo melihat tingkah Sasuke, namun perasaan senang
menyelimuti hatinya. Ini pertama kalinya Sasuke menarik dan menggenggam
tangannya.
"Hum! Ayo nikmati festival ini!"
.
"Ini." Sai menyodorkan segelas es krim
pada Ino. Ino tersenyum sumringah seraya menggumamkan kata 'terimakasih'. Sai
ikut duduk di samping Ino seraya memandang sekeliling festival. Festival ini
sungguh ramai, ia takjub pada para pengurusnya. Berbagai manusia datang ke
festival dengan para teman baiknya, pacar, keluarga, dan sebagainya. Sai
melirik Ino yang sedang asyik memakan es krimnya, merasa diperhatikan, membuat
Ino balas memandang Sai.
"Kenapa? Mau?" Ino menyodorkan es
krimnya pada Sai. Sai terkekeh pelan, kemudian menjawab,
"Suapi aku." Ino merengut sebal
mendengar jawaban Sai.
"Ogah!" tolaknya. Ino kembali memakan es
krimnya. Namun lama-kelamaan, Ino kembali memandang Sai, dengan secercah
keraguan, ia menyendok es krimnya dan menyodorkannya pada Sai. "Hanya
sekali," ucapnya. Sai menyeringai dan memakan es krim tersebut, membuat
wajah Ino sedikit memerah. Dengan gerakan gesit, Sai memindahkan mulutnya dari
sendok ke bibir Ino, membuat Ino terpekik kaget sehingga menjatuhkan segelas es
krim di genggamannya. Kini Ino dapat merasakan bibir lembut Sai menyentuh
bibirnya, dengan sensasi dingin es krim rasa vanilla tersebut. Setelah beberapa
detik kemudian, Sai melepaskan ciumannya dan menyeringai.
"Cara memakan es krim seperti ini lebih
bagus," ucapnya. Ino yang otaknya sedang koslet hanya bisa cengo di tempat
dengan mulut menganga. Setelah otaknya loading dengan sempurna, ia segera
memekik.
"Akh!" Ino menutup bibirnya dengan wajah
memerah. Ia baru saja melakukannya! Ciuman pertamanya! Entah Ino harus marah
atau merasa senang. Melihat kebimbangan dalam diri Ino, membuat Sai tersenyum
lembut.
"Jadilah pacarku," kata Sai dengan nada
lembut, membuat aquamarine Ino membelalak lebar.
"A-apa? Pacar?" Ino sangat terkejut
dengan Sai yang tiba-tiba menembaknya. Tanpa sadar, perasaan hangat menyelimuti
diri Ino saat ini. "Kenapa?" Bodoh! Ino memekik dalam hati, kenapa ia
bisa meluncurkan pertanyaan bodoh seperti itu?! Namun sepertinya Sai tak
keberatan menjawabnya, malah pertanyaan itu membuat Sai semakin tersenyum
lembut.
"Tentu saja karena aku mencintaimu."
Wajah Ino semakin memerah. Sai sangat terang-terangan menjawabnya!
"Bagaimana?" tanya Sai lagi. Ino menunduk, kemudian dengan wajah
memerah, ia mengangguk pelan, membuat senyum Sai semakin mengembang. Ia
benar-benar senang Ino menerimanya, pemuda tersebut segera memeluk Ino, yang
tanpa ragu-ragu langsung dibalas oleh Ino.
.
"Sudah sore," gumam Sakura pelan. Sasuke
yang duduk di dekatnya juga mengalihkan tatapannya ke langit yang telah berubah
warna menjadi jingga.
"Hn. Waktu menyerangnya semakin
mendekat." Sakura tersenyum kecil.
"Aku harap kita menang!" Sasuke
tersenyum kecil dan mengangguk. "Emm … Sasuke."
"Hn?"
"Apakah firasat burukmu tentangku telah
lenyap?" Sasuke terdiam, membuat Sakura memandang pemuda tersebut dengan
pandangan khawatir.
"Belum. Perasaan itu masih ada, dan semakin
membesar seiring dengan waktu yang semakin mendekat." Sakura tersenyum
maklum, kemudian menunduk.
"Aku bilang aku akan baik-baik saja, tak
perlu khawatir." Sakura terkekeh pelan. "Kita pasti akan menang,
Sasuke…" Sakura berdiri, ia berdiri tepat di hadapan Sasuke. Sakura
tersenyum lembut di bawah langit sore. "Dan setelah menang…" Sakura
menjeda kalimatnya, ia menghirup nafas dalam-dalam.
"…aku akan kembali menyatakan perasaanku
padamu. Dan saat itu tiba, kau harus menjawabnya. Baik itu berupa penolakan,
atau apapun. Kau tak boleh diam atau melarikan diri lagi." Sasuke tertegun
mendengar perkataan Sakura. Namun lama-kelamaan, Sasuke tersenyum tipis.
"Janji?" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan menuntut, Sasuke
mengangguk, kemudian mendekatkan dirinya pada Sakura. Dengan perlahan, bibir
tipis Sasuke menyentuh bibir mungil Sakura, membuat Sakura terkejut, namun
kemudian Sakura membalas ciuman Sasuke. Setelah beberapa saat, mereka saling
melepas diri masing-masing, Sakura tersenyum dengan wajah memerah. Sasuke juga
ikut tersenyum tipis.
"Itu ikrar perjanjian." Sasuke berkata
sebelum membalikkan dirinya. "Ayo pulang." Sakura terdiam sejenak,
kemudian mengangguk seraya tersenyum sumringah.
.
Markas Akatsuki, malam hari…
"Haah?! Kalian pacaran?!" Ino mengangguk
malu-malu, sedangkan Sai yang berada di samping Ino tetap menampilkan senyum
palsunya.
"Selamat, Ino-chan, Sai-kun…" Hinata
tersenyum lembut pada mereka berdua.
"Terimakasih Hinata," ucap Ino dengan
malu-malu.
"Selamat! Aku senang mendengar hal ini!"
pekik Sakura. Ino tertawa pelan, kemudian membalas perkataan gadis musim semi
tersebut.
"Hum. Aku harap kau juga segera menyusulku,
Sakura." Sakura yang mendengar itu terdiam dengan wajah memerah, kemudian
Ino menatap Hinata. "Kau juga, Hinata. Aku harap kau dan Naruto segera
menyusulku."
"Justru kita yang menyusul mereka."
Sakura dan Ino menoleh heran pada Sai. "Naruto dan Hinata telah lama berpacaran."
"Heeh? Kenapa kalian tak memberitahu
kami?!" pekik Sakura dan Ino di saat bersamaan.
"Eh? Kalian baru tahu? Aku pikir kalian sudah
bisa menebak," ucap Naruto dengan tampang tak berdosa.
"Tapi waktu aku berdebat dengan Hinata,
Hinata bilang 'tak suka' pada Naruto." Ino mengangkat sebelah alisnya
heran. Naruto yang mendengar hal itu langsung menampilkan wajah sakit hati.
"Benarkah Hinata-chan? Hiks…" Naruto
langsung menoleh pada Hinata dengan pandangan sedih. Hinata segera ber-blushing
ria, kemudian menjawab dengan cepat,
"A-aku malu mengakuinya, j-jadi …
a-aku…" Hinata tampak tergagap. Ino dan Sakura tertawa keras melihat
tingkah Hinata.
"Kalian sudah puas mengerjai mereka?"
tanya Sai pada duo wanita aneh di depannya. "Wanita memang
mengerikan."
"Sudahlah. Ayo tidur. Kita harus bangun pagi
besok." Sasuke berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut untuk kembali ke
kamarnya. Ino, Sai, Naruto, Hinata, serta Sakura mengangguk pelan. Besok adalah
hari perjuangan mereka. Mereka tak tahu apakah mereka masih bisa mengobrol
seperti ini besok.
.
Keesokan harinya…
Markas Akatsuki
07.00 a.m
"Kalian sudah siap?" Sasuke bertanya
pada teman-temannya yang berada di belakangnya.
"Yeaah!" seru mereka bersamaan.
"Berjuanglah, kalian." Para anggota
Akatsuki muncul dari dalam markas. Sasuke yang melihat Itachi segera
menghampiri pemuda tersebut.
"Terimakasih atas segalanya," ucap
Sasuke. Itachi tersenyum lembut kemudian mengusap kepala adik semata wayangnya
tersebut.
"Berjuanglah, Sasuke…" Sasuke
mengangguk. Pemuda tersebut segera membalikkan badannya, pemuda tersebut
ternyeum tipis pada seluruh anggota Akatsuki.
"Kami akan menyusul nanti," ucap Pein.
Keenam remaja tersebut mengangguk, kemudian mulai berjalan meninggalkan markas
Akatsuki.
"Ayo!"
.
Chapter 14 : The War (1)
"Kita akan berpisah di sini." Sakura,
Naruto, Ino, Sai, dan Hinata menghentikan langkahnya saat mendengar perintah
Sasuke. Sasuke merogoh kantungnya dan mengeluarkan lima buah headset dan
microphone kecil kemudian menyerahkannya pada kelima temannya. "Ini alat
komunikasi buatan Sasori. Tekan tombol merah ini, dan kalian akan berkomunikasi
denganku. Gunakan ini jika kalian ingin berbicara padaku, mengerti?"
Kelima temannya mengangguk seraya mengambil kedua benda tersebut dari telapak
tangan Sasuke dan memasang headset di masing-masing telinga mereka.
"Kenapa hanya terhubung padamu?" tanya
Ino bingung. Namun Sasuke hanya diam tanpa menjawab pertanyaan gadis berkucir
satu itu.
"Jalan itu yang akan kalian tempuh untuk
pergi ke pintu belakang markas Orochimaru." Sasuke menunjuk jalanan di
sampingnya. Sakura, Sai, dan Hinata mengangguk, sedangkan Ino menggembungkan
pipinya kesal bak ikan fugu karena tidak digubris oleh Sasuke.
"Ah, sebelum kita berpisah…" Sakura
menjulurkan tangannya ke depan. Ino yang duluan mengerti tersenyum dan menumpuk
tangannya di atas telapak tangan Sakura, diikuti Sai, Naruto, dan Hinata.
Sedangkan Sasuke hanya menatap datar pemandangan di depannya.
"Hey, Teme! Ayolah, ini hanya sebagai ucapan
penyemangat!" Dengan ragu, Sasuke meletakkan tangannya di atas tangan
Hinata.
"Semoga kita berhasil," gumam Sakura
pelan disertai dengan senyum kecil.
"Hum! Semoga besok kita bisa bermain Truth or
Dare lagi!" lanjut Ino semangat.
"Semoga … tak ada yang mati," lirih
Sakura pelan. Namun kemudian ia tersenyum. "Satu … Dua…"
"YEAAY!" Mereka menghentakkan tangan
mereka ke atas disertai dengan sorakan, terkecuali Sasuke yang hanya menatap
malas teman-temannya.
"Baiklah, sampai jumpa nanti. Naruto,
Sasuke." Naruto dan Sasuke mengangguk dan kemudian berlari ke depan
meninggalkan Sai beserta tiga teman wanitanya.
"Kita juga sebaiknya segera pergi," ucap
Sai. Hinata, Ino, dan Sakura mengangguk. Sedetik kemudian, mereka berlari ke
arah samping.
.
Sai, Sakura, Hinata dan Ino memincingkan matanya
saat melihat lima hunter yang menjaga pintu markas belakang dari balik
semak-semak. Sai mengerutkan alisnya, ia pikir hanya akan ada dua monster yang
akan menjaga pintu belakang. Lima sama sekali bukan angka yang telah
diprediksinya. Pemuda klimis tersebut tidak yakin bahwa ia bisa menghadang
kelima-limanya agar tidak menyusul Ino, Hinata dan Sakura nanti.
"Ada apa, Sai?" Ah, pacarnya yang satu
ini lah yang memang paling mengerti perubahan raut wajah Sai. Dengan senyum
palsu, lelaki itu menjawab.
"Aku tidak menyangka bahwa mereka akan
sebanyak itu." Sai menunjuk para monster dengan senyum palsu yang
perlahan-lahan berubah menjadi senyum cemas.
"Tentu saja. Aku tahu kau kuat, tapi melawan
kelima-limanya…" Ino meneguk ludahnya.
"A-ano, bagaimana kalau Ino-chan menemani
Sai-kun? Aku dan Sakura-chan yang akan menyelamatkan ayah Sakura-chan,"
usul Hinata. Ino seketika menjentikkan jarinya.
"Ide bagus!" ucapnya sumringah.
"Tapi, bukankah itu mengubah rencana
awal?" tanya Sai ragu.
"Aku dan Hinata tidak akan apa-apa! Dan
bukannya kalian mendapat kesempatan berdua?" Sakura menyipitkan matanya
seraya tersenyum menggoda.
"Hei, ini bukan waktu untuk berpacaran! Dasar
kau ini!" Ino menegur Sakura dan mendengus ala wanita tsundere. Sedangkan
Sakura hanya terkikik geli.
"Sebaiknya kita mengubungi Sasuke dulu
sebelum mengubah rencana awal." Sai mengambil microphone kecil yang ia
taruh di kantongnya.
"A-aku rasa tak perlu menghubungi Sasuke-kun,
bukankah dia juga sedang bertarung sekarang?" Sai menghentikan gerakannya.
"Ya! Hinata benar Sai, jangan meremehkan
kami!" Sakura mendengus sebal, ia sedikit tersinggung akan sikap Sai yang
seakan-akan meremehkan dirinya dan Hinata. Melihat tatapan-tidak, bisa dibilang
pelototan dari ketiga wanita di depannya, Sai dengan tampang pasrah pun
menghela nafas.
"Terserah kalian saja," ucapnya. Ia
yakin tak akan bisa menang melawan tiga kaum hawa nan keras kepala di depannya.
"Kalau begitu, aku dan Ino akan duluan menyerang mereka. Kalian carilah
waktu yang pas untuk berlari ke dalam." Hinata dan Sakura mengangguk.
"Kalian berdua, berjuanglah!" Sai dan
Ino tersenyum tipis. Kemudian, mereka berlari ke arah lima hunter di depannya.
Kelima hunter tersebut tentu saja langsung menyadari kedua insan yang datang
menyerang mereka. Dengan cepat, tiga dari lima orang tersebut merubah wujud
mereka ke wujud monster.
"Monster serigala, heh?" Ino mendengus
tawa. Dengan gesit, wanita itu melancarkan tendangannya ke arah salah satu
monster serigala tadi. Sai menghajar salah satu monster yang masih berwujud
manusia itu dengan penuh kekuatan, sehingga makhluk malang tersebut terlempar
beberapa meter ke belakang. Dua monster berwujud serigala yang tersisa
menerjang Ino, namun Ino lebih dulu melompat ke atas.
"Ino explosion!" teriak Ino dan
melancarkan tendangan kakinya di atas dua monster serigala tadi. Tentu saja hal
itu membuat Ino tersenyum bangga. Sai juga ikut tersenyum seraya meninju
monster satunya lagi, ketika mereka berlima tumbang di tanah, Sakura dan Hinata
dengan gesit keluar dari tempat persembunyian mereka dan berlari ke dalam.
"Sakura, Hinata, ganbatte!" sorak Ino,
Hinata dan Sakura tersenyum dan mengangguk seraya terus berlari.
"Cih, kalian…" Salah satu monster
berwujud manusia yang tadi Sai tinju bangkit dan hendak menyusul Hinata dan
Sakura, namun Sai tiba-tiba menghadangnya.
"Lawan kalian adalah kami!" ujar Sai
dengan pandangan yang menajam. Ino juga ikut memicing tajam saat melihat
keempat monster tadi ikut bangkit dan kembali menerjang mereka.
.
"Sepuluh orang, heh?" Naruto mendengus
tawa kala melihat para hunter yang telah bersiaga menyerang mereka di pintu
utama markas Orochimaru.
"Siapa kalian?" tanya salah satu hunter
tersebut seraya menatap Sasuke dan Naruto dengan pandangan menyelidik.
Bugh!
Naruto memukul hunter yang bertanya tersebut
sehingga terkapar di tanah. Mata shappire miliknya memandang kesembilan lainnya
dengan pandangan meremehkan. "Hanya sepuluh orang? Itu tak cukup untuk
mengalahkan kami!" ucap lelaki berkumis tersebut dengan percaya diri.
Sedangkan Sasuke hanya mendengus saat melihat kesombongan teman blonde-nya itu.
Delapan hunter yang menyaksikan temannya terkapar
tersebut segera menyerang Naruto dan Sasuke. Tendangan, pukulan, tinjuan, dan
berbagai hal lainnya saling mereka lancarkan. Satu hunter yantg tersisa berlari
ke dalam markas, dan kembali membawa lima orang hunter lainnya. Melihatnya,
membuat Sasuke mendecih pelan.
"Berlari ke dalam dengan musuh sebanyak ini
sungguh sulit," gumamnya seraya terus melawan hunter yang menyerangnya.
"Teme! Pukul saja tengkuk mereka!" seru
Naruto. Sasuke kemudian tersenyum tipis, ide Naruto tidak buruk juga. Dengan
gerakan gesit, Sasuke dan Naruto mulai mengincar tengkuk para hunter yang
menyerangnya. Satu persatu hunter dengan berbagai wujud itupun tumbang di
tanah. Sasuke dan Naruto bernafas lega saat melihat tak ada lagi hunter yang
tersisa, peluh menghiasi wajah kedua pemuda tampan itu, nafas mereka juga
terengah-engah. Nampaknya menghabisi lima belas hunter dalam waktu singkat
sungguh menguras tenaga mereka. Tapi kalau tidak cepat, Orochimaru akan
mempunyai kesempatan untuk menyerang balik mereka.
"Sai?" Sasuke berbicara dengan
microphone mini di tangannya. Cukup lama sebelum Sai membalas ucapan Sasuke.
"Ah, Sasuke!" Sasuke dapat mendengar
suara pukulan dari tempat Sai. Sepertinya temannya itu sedang bertempur. Seraya
berlari, pemuda berambut raven tersebut kembali melanjutkan perkataannya.
"Apakah di sana baik-baik saja?" tanya
Sasuke sedikit khawatir.
"Ya, tapi sepertinya hunter penjaga pintu
belakang ini sangat tangguh. Mereka terus bangkit kembali, sungguh menyusahkan."
Sasuke merasa sedikit khawatir dengan sahabatnya itu.
"Sai! Awas di belakangmu!" Sasuke dapat
mendengar teriakan Ino dan disusul dengan suara tinjuan.
"Ino? Kenapa di sana ada Ino?" tanya
Sasuke heran. Seharusnya gadis itu sudah daritadi berlari ke dalam untuk
menyelamatkan ayah Sakura.
"Ah, maaf Sasuke. Tapi kami mengubah
rencana,tadi…"
.
"Apa?!" Naruto tersentak saat melihat
Sasuke membentak. Ia dan Sasuke menghentikan langkahnya. "Sudah kubilang
jangan mengubah rencana! Sakura dalam bahaya sekarang!" bentaknya lagi.
Sasuke kemudian mendecih pelan, kalau sudah begini, ia harus menyusul Sakura ke
tempat ayah gadis itu.
"Memangnya kenapa Teme?" tanya Naruto
heran saat melihat aksi Sasuke yang berlebihan. Bukannya ada Hinata yang
menemani Sakura?
"Fufufufu … sepertinya tak berjalan sesuai
rencanamu, heh?" Sasuke dan Naruto menoleh dengan cepat ke belakang, di
sana berdiri Kabuto yang bersandar di dinding dengan seringai liciknya.
"Siapa kau?" tanya Naruto heran.
"Aku adalah tangan kanan Orochimaru -sama,
sudah kuduga para hunter itu tidak sanggup melawan kalian."
"Cih, jadi kau ke sini untuk menghentikan
kami?" Sasuke mendecih, Kabuto tertawa sinis.
"Tentu saja, sekarang target kami adalah
Haruno Sakura. Namun kebetulan sekali dia datang membawa para monster dari klan
terkenal." Kabuto mulai berjalan mendekati Sasuke dan Naruto.
"Sekarang, ayo lawan aku."
Sasuke dan Naruto tak berkutik ketika Kabuto sudah
berada di dekatnya dan melayangkan sebuah pisau, Sasuke hampir saja kena kalau
Naruto tak segera menarik pemuda itu. "Heh, reaksimu bagus juga,
Uzumaki." Setelah berkata demikian, Kabuto dengan cepat berubah menjadi
seekor ular dan menerjang Sasuke tanpa aba-aba. Sasuke yang cepat sadar segera
menghindar, gerakan Kabuto lebih cepat ketika ia menjadi seekor ular.
"Teme, bagaimana ini?!" seru Naruto.
Sasuke merogoh kantungnya dan mengeluarkan sebuah biji-bijian. Ia melempar
biji-bijian itu ke arah Kabuto dan menghindar dengan jarak sejauh mungkin.
DUAR! DUAR!
"HUWAA! Apa itu?!" Naruto memekik kaget.
"Bom buatan Deidara. Sekarang kita harus
bergegas!" Sasuke dan Naruto segera berlari ke dalam, Kabuto tak dapat
menyusul mereka karena terhalang batu-batuan dari atas akibat bom tadi.
"Fufufu, usaha mereka bagus juga, tapi ini
hanya menghalang, bukan mengalahkan," desis Kabuto yang telah berubah ke
wujud manusianya dengan seringai yang tertampang di wajahnya.
.
"Ah, di sini yah?" Sakura dengan
perlahan membuka pintu ruangan yang tampak gelap tersebut. Mata emerald-nya
beradaptasi dengan gelapnya ruangan tersebut, tangannya mulai meraba-raba
dinding, mencari saklar lampu, setelah ia menemukannya, gadis itu segera
memencetnya dan terbelalak kaget melihat isi ruangan tersebut.
"A-apakah dia ayahku?" Sakura mendekati
seorang paruh baya dengan tangan yang diikat ke atas tersebut dengan pandangan
sedih. "A-ayah!" Tidak salah lagi, Sakura dapat merasakan ikatan yang
kuat dengan ayahnya, mana mungkin ia salah. Sakura hendak mengulurkan tangannya
untuk membuka tali yang mengikat ayahnya, namun sebuah tangan menghalanginya.
"Tidak secepat itu, Nona Muda." Sakura
menoleh pada asal suara dan membelalakkan matanya.
"Ne-Neji?!" pekiknya kaget. "Kau
sudah selamat?! Ah, syukurlah, Hinata sangat mengkhawatirkanmu!" Sakura
tersenyum sumringah, sedangkan Neji mendengus tawa.
"Kau sudah mengerjakan peranmu dengan baik,
Hinata." Sakura mengerutkan alisnya, ia melihat ke arah Hinata yang
menampilkan ekspresi biasa-biasa saja. Bukankah gadis itu seharusnya senang?
"Gomen, Sakura-chan." Pupil Sakura
mengecil, menandakan bahwa wanita itu terkejut dengan perkataan Hinata. Apa
maksud semua ini?! Adakah yang bisa menjelaskannya?!
Braak!
"Hah … hah…" Sakura bernafas lega saat
melihat sosok Sasuke di pintu. Nafas pemuda tersebut terengah-engah akibat
berlari.
"Cih, pengganggu datang," desis Neji
dengan pandangan tajam.
"Sudah kuduga," ucap Sasuke ketika
berhasil menetralkan nafasnya.
"S-Sasuke? Apa maksud semua ini?" tanya
Sakura heran.
"Sakura! Sasuke! Naruto! Hinata!"
Keempat pemuda tersebut menoleh pada Sai dan Ino yang berlari mendekati mereka,
nampaknya kedua sejoli tersebut telah berhasil menumbangkan para hunter penjaga
pintu belakang markas. "Eh? Neji?" Ino menatap heran Neji. Apakah ia
sudah berhasil diselamatkan?
"Kau, tidak pernah tertangkap," ucap
Sasuke mulai menjawab sekelebat pertanyaan yang muncul di pikiran
teman-temannya. "Kau bekerja sama dengan Orochimaru untuk memusnahkan para
monster dan manusia. Seseorang diketahui hilang dengan ikat rambut yang menjadi
petunjuk hanyalah omong kosong belaka."
"J-jadi, maksudmu? Hinata-chan…" Naruto
menyiratkan kekecewaan dan sinar tak percaya pada matanya.
"Hn, dia bersekongkol dengan Neji dan
Orochimaru. Aku juga sudah menduga serangan ini akan diketahui oleh Orochimaru,
tentu saja dengan Hinata sebagai penghubung dan pengumpul informasi." Sasuke
mengambil nafas sejenak, kemudian melanjutkan, "karena itulah penjagaan
pintu belakang diperketat dengan lima hunter kuat yang berjaga di sana. Hinata
sengaja mengusulkan ide tadi dan membuatnya sealami mungkin, namun sebenarnya
itu memang telah direncanakannya." Sasuke menatap tajam Hinata yang sedang
menunduk.
"Klan Hyuuga terdiri dari klan bawah dan klan
atas. Klan bawah adalah Neji, sedangkan klan atas Hinata. Aku tahu penyebab
Neji ingin menghancurkan para monster dan manusia, kehidupannya sebagai klan
bawah pasti sangat sulit, dan ia pasti telah dijanjikan sebuah posisi yang
bagus oleh Orochimaru. Tapi aku tak mengerti alasan Hinata membantu Neji."
Semua mata menadang gadis berambut indigo tersebut dengan pandangan tak
percaya.
"Hinata-chan, apakah itu benar?" Suara
Naruto terdengar parau, ia tak menyangka kekasihnya akan mengkhianatinya. Cukup
lama Hinata terdiam, kemudian ia tersenyum kecil dan menjawab.
"Ya, itu benar." Hinata mulai mengangkat
kepalanya dan menatap teman-temannya. "Neji -nii-san akan menyayangiku
jika aku membantunya untuk menguasai dunia. Kalian tak akan tahu bagaimana
rasanya dibenci oleh sepupu sendiri!" Hinata meninggikan volume suaranya,
bahkan Naruto baru pertama kali melihat Hinata membentak seperti ini.
"Tapi caramu salah! Aku tahu kau ingin
disayang oleh Neji, tapi dengan kejahatan…" Naruto menatap Hinata dengan
penuh rasa kecewa. "Aku kecewa padamu, Hinata-chan…" lirih pemuda
itu. Hinata kembali menunduk, baru kali ini Naruto membentaknya.
"Hahahaha!" Semuanya memandang Neji yang
tertawa terbahak-bahak. "Kau sangat lucu, Hinata! Apakah kau benar-benar
berpikir bahwa aku akan menyayangimu?! Kau sungguh bodoh!" Hinata
tersentak kaget. "Aku berniat membunuhmu setelah semuanya selesai, tapi
aku mengubah rencanaku. Aku akan membunuhmu bersama teman-temanmu!" Hinata
memandang Neji dengan pandangan tak percaya.
"N-Neji -nii-san…" Neji menyeringai
licik.
"Aku tak menyangka klan Hyuuga atas
melahirkan seseorang yang bodoh sepertimu! Kau tak pantas berada di klan
Hyuuga!" Hinata tak tahan lagi, air mata telah jatuh di pelupuk matanya.
Ia tak menyangka kakak sepupunya itu akan ditelan kegelapan seperti ini.
"Diam kau!" Hinata tersentak saat Naruto
tiba-tiba maju dan menampilkan wajah marah pada Neji. "Kau yang tidak
pantas dilahirkan di klan Hyuuga!" ucap pemuda berkumis kucing tersebut
dengan nada marah.
"Naruto, tenanglah." Sai menepuk pundak
Naruto, berusaha menenangkan amarah pemuda tersebut.
"Naruto-kun…" Air mata Hinata semakin
jatuh saat melihat aksi Naruto. Ia menyadari kesalahannya sekarang, ia …
mengorbakankan teman-temannya, cintanya, untuk suatu hal yang bodoh, hal yang
dapat membahayakan kekasih dan temannya sendiri. Neji benar, ia sungguh bodoh…
"Oh ya?" Neji terkekeh pelan.
"Kalau begitu, aku dan Hinata akan membuktikan siapa yang pantas menjadi
anggota klan Hyuuga." Neji mengeluarkan sebuah pedang yang daritadi telah
tergantung manis di punggungnya.
"Jika kau ingin melawan Hinata, lawan aku
dulu!" Mata Naruto perlahan memerah, kuku-kukunya memanjang, serta sebuah
cahaya merah berbentuk ekor muncul di belakangnya.
"Naruto, hentikan," cegah Sasuke. Ia
bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Apakah ia harus membiarkan Naruto
untuk menghabisi Neji? Tapi bagaimana dengan Orochimaru nanti? Selain itu …
bagaimana dengan ayah Sakura? Apakah mereka akan menyelamatkannya di saat ada
waktu yang pas?
"Tidak. Aku tidak akan membiarkannya
menyentuh Hinata-chan! Dia benar-benar keterlaluan!" Oke, Sasuke tahu
bahwa kali ini Naruto benar-benar marah. Dengan situasi seperti ini, pasti Naruto
tak akan bisa dihentikan dengan cara apapun.
"Cih, baiklah. Tapi berjanjilah padaku, bahwa
kau akan menyelamatkannya." Naruto mengangguk. "Aku, Sakura, Ino dan
Sai akan pergi ke ruang Orochimaru untuk menyerangnya. Aku serahkan Neji
padamu, jangan sampai kalah, Naruto." Naruto menolehkan kepalanya pada
Sasuke dan menampilkan cengirannya.
"Aku pasti tak akan kalah dengan orang
sepertinya," janjinya masih dengan cengiran khas-nya. Sasuke tersenyum
tipis kemudian mengalihkan pandangannya pada Sakura, Ino dan Sai.
"Ayo kita pergi."
"T-tunggu, bagaimana dengan ayahku?"
tanya Sakura dengan raut wajah khawatir.
"Tenang saja Sakura-chan, serahkan ayahmu
padaku. Aku akan menyelamatkannya!" Sakura menatap Naruto dengan pandangan
cemas, namun saat melihat sinar kepastian dari shappire pemuda berkumis kucing
tersebut, Sakura pun mengangguk.
"Baiklah, berjuanglah, Naruto." Setelah
berkata demikian, Sakura, Sasuke, Ino dan Sai segera meninggalkan Naruto.
Sepeninggal teman-temannya, Naruto melirik pada Hinata yang masih menunduk,
mungkin gadis itu terlalu shock. Kemudian Naruto mengalihkan perhatiannya dan
memandang tajam Neji yang berada di depannya.
"Aku akan mengalahkanmu!"
.
"Aku khawatir dengan Naruto," ucap Ino
cemas.
"Hum, aku juga. Tapi selain itu, Sasuke, sejak
kapan kau mulai curiga pada Hinata?" Sakura memandang heran pada Sasuke.
"Hn, sejak Neji memberitahuku tentang
penculikan monster, aku sudah mulai curiga. Mengapa mereka memberitahu kita
tentang hal seperti itu? Dan tepat setelah itu, dia yang diculik. Kecurigaanku
memuncak saat Hinata meminta ikut untuk menyelamatkan Neji." Sakura dan
Ino memandang Sasuke dengan pandangan cengo.
"Heeh? Kau bisa curiga dengan seseorang hanya
karena alasan itu?" tanya Ino tak percaya, sedangkan Sasuke hanya
membalasnya dengan gumaman tak berarti.
"Tapi aku kasihan dengan Hinata, dia dijebak
oleh kakaknya sendiri," lirih Sakura dengan pandangan sendu. Ino ikut
sedih mendengar perkataan Sakura dank ala mengingat Hinata, Hinata adalah gadis
yang baik dan polos. Mereka mulai teringat kebersamaan mereka dan Hinata,
mereka yakin Hinata juga sebenarnya menikmati saat-saat itu.
"Semoga Naruto bisa mengalahkan Neji, agar
mereka berdua akan bahagia kembali." Ino berkata seraya tersenyum tipis.
Mereka semua terdiam seraya tetap berlari.
Terowongan di markas Orochimaru sangat sepi. Tak ada satu pun hunter yang
menjaga jalan menuju ruangan bos besar mereka. Mungkin ini normal-normal saja
bagi Ino, Sakura, dan Sai. Tapi tidak bagi Sasuke. Firasat buruk kembali
menghantuinya, dan semakin buruk saat mereka berempat semakin dekat dengan
markas Orochimaru. Mungkinkah, ini jebakan?
"Ino, Sai, Sakura, berhati-hatilah,"
ucap Sasuke dengan alis yang dikerutkannya. Firasat ini, sungguh…
"Memangnya kenapa, Sasuke?" Ino yang
berjalan di depannya bertanya tanpa memandang Sasuke.
"Entahlah, tapi aku merasakan firasat buruk
lagi."
"Memangnya kena-" Ino menoleh pada
Sasuke, kalimatnya seketika terputus, mata aquamarine-nya membelalak. Bukan, ia
bukannya terkejut ketika melihat Sasuke. Tapi di belakang Sasuke dan Sai…
"Ada apa, Ino?" tanya Sai heran saat
melihat ekspresi terkejut Ino. Sasuke juga ikut heran dan berbalik ke belakang,
sepasang mata onyx-nya juga ikut membulat. Sakura…
"Khukhukhu, tak kusangka kalian dapat ke sini
secepat ini." Di belakang mereka, Orochimaru dan Kabuto menyeringai, namun
bukan hanya itu yang membuat mereka terkejut, Sakura … berdiri di belakang
mereka dengan mata terbelalak, darah menetes dari mulut gadis itu. Dan Sasuke
dapat melihat sebuah pedang yang menusuk Sakura tepat di daerah jantung Sakura.
"Sa-Sasu … ke…"
CRAAASH!
Orochimaru mencabut pedangnya dengan cepat. Tubuh
Ino, Sasuke, dan Sai masih membeku saat Sakura tumbang di lantai.
"Satu telah tumbang, siapa selanjutnya?"
Setelah mendengar perkataan Orochimaru, ketiga remaja tersebut seketika sadar,
bahkan Ino telah meneteskan air matanya.
.
"SAKURAAAA!"
.
Chapter 15 : The War (2)
.
Semuanya terpaku saat tubuh Sakura sukses tumbang
di tanah. Ino menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, menahan pekikan
yang sangat ingin dikeluarkannya. Air mata telah merembes paksa dari kedua mata
aquamarine-nya, namun ia masih tak bergerak, masih terlalu syok dengan adegan
satu menit yang lalu, di mana sahabat yang ia sayangi dtusuk di depannya, dan
tepat di bagian jantungnya.
"Sa-" Gadis itu mulai dapat mengeluarkan
suaranya, saat telah sadar seratus persen, ia memekik kencang.
"SAKURAAAA!"
"Brengsek!" umpat Sai. Pemuda berambut
klimis tersebut menatap Orochimaru dan Kabuto yang berada di depan mereka
dengan tatapan marah. "Apa yang kau lakukan pada Sakura?!" Sai
meninggikan nada suaranya, sebuah hal baru oleh pemuda yang selalu memasang
senyum palsu tersebut.
"Membunuhnya," jawab Orochimaru enteng.
"Lagipula, wanita yang terlihat lemah seperti itu tak akan berguna di
pertarungan ini."
"K-kau-"
Bugh!
Sai baru saja ingin melancarkan serangannya, namun
Ino mendahuluinya. Gadis itu telah melancarkan tinjuannya pada Orochimaru,
namun Kabuto segera menangkis serangannya. "Pindah kau, Kacamata
sialan!" amuk Ino. Gadis itu mulai menyerang secara membabi buta, namun
Kabuto terus menangkisnya dengan cepat.
"Ino, hentikan!" perintah Sasuke.
"Tidak! Dia … dia membunuh Sakura! AKU TIDAK
AKAN MEMAAFKANNYA!"
Bugh!
"Ugh, kau kuat juga," komentar Kabuto
dengan senyum licik.
"Kubilang hentikan!" perintah Sasuke
lagi, kali ini nada suaranya meninggi. Ino segera mengambil langkah mundur dan
menjauh dari Kabuto. Ia kemudian menatap Sasuke dengan tatapan marah.
"Bodoh! Kenapa kau bisa setenang itu?! Sakura
… dia-" Air mata kembali merembes melalui iris aquamarine Ino. Sasuke
menyunggingkan senyumnya, walau sangat tipis.
"Sakura tidak akan mati semudah itu,"
ucapnya tenang.
"B-benar … aku … tidak akan mati … semudah
itu…" Mata Ino terbelalak. Bukan hanya Ino, bahkan Orochimaru dan Kabuto
juga terbelalak, sedangkan Sai tersenyum tipis.
"Sakura!" Ino meneriakkan nama
sahabatnya yang sedang berusaha untuk berdiri itu. Lubang kecil di dadanya
akibat pedang Orochimaru tadi perlahan-lahan menutup, membuat Kabuto dan
Orochimaru tersenyum takjub.
"Hahaha!" Tawa Orochimaru menggelegar.
"Seperti yang kuharapkan dari anak Haruno Kizashi. Kemampuan penyembuhanmu
lebih bagus darinya." Sakura menatap tajam Orochimaru.
"Apa yang kau lakukan pada ayahku?!"
amuk Sakura, sedangkan Orochimaru tertawa lagi, membuat mata Sakura semakin
menajam.
"Seperti sebuah percobaan, aku menusuknya
berkali-kali dan menghitung waktu yang ia butuhkan untuk penyembuhannya."
Sungguh kejam. Itulah pemikiran keempat remaja di depannya.
"B-brengsek! Lepaskan ayahku!" Sakura
hendak maju untuk melawan Orochimaru, namun Sasuke menahannya. Pemuda itu tak
peduli dengan Sakura yang terus memberontak, ia tahu bahwa Sakura sangat marah
saat ini. Namun, marah bukan berarti gadis itu harus bertindak gegabah, apalagi
dengan orang seperti Orochimaru.
"Hahahahaha! Serang aku, gadis pintar."
Emosi Sakura semakin memuncak. Ia berapakali menyentakkan tubuhnya untuk keluar
dari dekapan Sasuke. Pria paruh baya di depannya benar-benar monster, kejahatan
yang ia lakukan tak bisa ditolerir lagi.
Sasuke semakin menguatkan dekapannya. Ia mendecih,
Orochimaru pasti sengaja memancing kemarahan Sakura agar mendekat padanya. Saat
melihat pedang Orochimaru, Sasuke sudah menyimpulkan bahwa tipe bertarung pria
itu adalah jarak dekat. "Tahan emosimu, Sakura," bisik Sasuke. Namun
sepertinya Sakura tak mendengarkan, gadis itu masih saja memberontak.
"Kau monster!" Kali ini Ino lah yang
berteriak. Orochimaru melirik Ino sejenak, kemudian tersenyum picik.
"Aku tidak memiliki jiwa manusia seperti
kalian. Tenang, aku tidak akan membunuh kalian. Aku hanya ingin menjadikan
kalian sebagai percobaan-percobaan kecil, dan tentu saja sebagai pion untuk
menguasai manusia." Orochimaru melirik Kabuto. "Kabuto, aku serahkan
gadis pirang dan pemuda itu untukmu. Aku yang akan melawan gadis keturunan
Haruno ini dan juga-"
Sasuke mendelik saat Orochimaru menatap dirinya
seraya menjilat bibirnya, pria ular tersebut kemudian melanjutkan kata-katanya,
"-mangsa terbesarku, Uchiha Sasuke."
"Baiklah, Orochimaru-sama." Setelah
berucap demikian, Kabuto melemparkan sebuah bom kecil dan berlari menghampiri
Ino dan Sai.
Duaaaarr!
"Sai! Ino!" Sakura berteriak saat bom
tersebut meledak. Langit-langit di atas mereka runtuh, membuat mereka terpisah
satu sama lain. "Sai! Ino! Kalian tidak apa-apa?!" Sakura menatap
khawatir pada reruntuhan batu-batu di depannya.
"Kami baik-baik saja!" Sakura menghela
nafas lega saat mendengar suara Ino dari seberang reruntuhan batu-batu
tersebut. Sedangkan Sasuke menatap tajam pada Orochimaru.
"Jadi ini rencanamu, memisahkan kami seperti
ini," desis Sasuke.
"Aku tidak ingin seorang pun mengacaukan
rencanaku untuk menangkap kalian." Orochimaru menjilat pedangnya, Sasuke
dan Sakura menatap fokus pada pria itu sekarang. Bagaimanapun, mereka harus
mengeluarkan seluruh kemampuan mereka untuk melawan Orochimaru. "Aku
takjub kalian datang ke sini dengan tangan kosong." Orochimaru
mengeluarkan salah satu pedangnya lagi, kemudian pria itu melemparkannya pada
Sasuke.
"Gunakan itu untuk melawanku, Uchiha
Sasuke," perintah Orochimaru, kali ini Orochimaru menatap Sasuke dan
Sakura dengan pandangan serius. "Nah, kita lihat, sejauh mana kemampuan
kalian."
.
TRANG!
Bunyi pedang beradu dengan kuku panjang Naruto
terdengar nyaring di ruangan tempat ayah Sakura disandera. Neji menyerang
Naruto dengan kecepatan yang tinggi, membuat Naruto agak sulit untuk menangkis
semua serangan pemuda berambut coklat tersebut.
"Ada apa, heh?" Neji tersenyum
meremehkan, sedangkan Naruto mendecih. Ia melirik sejenak Hinata yang berada di
belakangnya. Kondisi gadis itu masih sama, menunduk tak berkutik, bahkan saat
Neji berkali-kali hampir menyerangnya, untunglah ada Naruto yang selalu
menlindunginya. Namun, sampai kapan Naruto bisa bertahan?
"Hinata! Berdirilah!" Hinata sama sekali
tak memedulikan sorakan Naruto, membuat Naruto menghela nafas pasrah seraya
terus menangkis serangan Neji. "Hinata! Kumohon, berdirilah!" teriak
Naruto sekali lagi.
"Tidak…" Kali ini Hinata merespon, walau
dengan tolakan. Naruto menggertakkan giginya, ia paham bahwa Hinata berada di
masa-masa tersulit, di mana kakak yang ia percayai dan sayangi begitu tega
memanfaatkan dan membohonginya. Perasaan tulus Hinata dibalas dengan
kebohongan, dan itu membuat Naruto sangat marah.
"Tetaplah seperti itu, Hinata. Sebaiknya kau
renungi nasibmu itu, berada di klan Hyuuga Atas tak pantas untukmu."
Naruto menggeram kesal, perkataan Neji semakin membuat Hinata menunduk.
"K-kau…" Naruto menatap tajam Neji.
"Itu tidak benar, Hinata!" tukas Naruto dengan nada yang meninggi.
"Kau … kau pantas berada di klan Hyuuga! Kau kuat! Kau pemberani!
Percayalah itu, Hinata!" Hinata menunjukkan sedikit pergerakan, membuat
Naruto tersenyum kecil.
"Lihat di mana lawanmu, Bodoh!"
Crash!
"Akh-" Naruto meringis tertahan.
Mendengar suara itu, Hinata segera mendongakkan kepalanya dan tercenggang kaget
saat pedang Neji berhasil menggores lengan Naruto.
"N-Naruto-kun!" teriak Hinata dengan
nada khawatir, ia dengan cepat menghampiri Naruto yang memegang lengannya yang
tergores itu.
"Akhirnya kau bangkit juga, heh?" desis
Neji seraya memandang sinis pada Hinata.
"Kenapa … kenapa kau begitu
membenciku?!" amuk Hinata. Neji hanya terdiam kala melihat adik sepupunya
tersebut. Pandangan pemuda bersurai coklat itu masih saja sama, memandang sinis
pada Hinata yang tampak lemah. Ia sangat membenci Hinata. Wanita lemah seperti
Hinata tak pantas duduk di posisi tinggi di keluarganya.
"Kau … masih bertanya mengapa?" Hinata
tak dapat melihat mata Neji karena pemuda itu menunduk terlalu dalam, namun
saat Neji mendongakkan kepalanya, ia dapat melihat dengan jelas sorot kebencian
yang sangat dalam di mata Neji. "Kau! Klan Hyuuga Atas telah membunuh
ayahku!"
Hinata terkesiap. "A-apa? Ayahmu…"
Neji mendecih pelan. "Inilah yang aku tidak
suka darimu. Kau tak tahu apa-apa, kau tak tahu bagaimana perasaan Klan Hyuuga
Bawah yang selalu saja dijadikan budak oleh keluargamu! Dan kau tak tahu
bagaimana rasanya saat ayah yang sangat kusayangi di bunuh di depanku! Aku
sangat membenci keluargamu!"
"Kebencianmu salah, Neji." Neji menatap
Naruto yang memandanganya tajam. "Kau tidak harus melimpahkan semua
kekesalanmu pada makhluk tak berdosa. Orochimaru ingin menguasai dunia,
memperbudak manusia, serta menggunakan kekuatan monster seperti kita. Kau
membantunya karena alasan ingin balas dendam pada keluarga Hinata? Omong
kosong!"
Buk!
Naruto memukul dinding di belakangnya, sehingga
dinding tersebut sedikit retak. "Hal yang paling baik kau lakukan adalah
mencari kesalahan ayahmu! Aku yakin keluarga Hinata tak akan membunuhnya tanpa
alasan!"
"Cih, aku sangat tidak suka dengan orang
sepertimu." Neji menarik pedangnya kembali. "Sepertinya, aku akan
mengakhiri ini dengan kematian kalian berdua."
.
"Dasar Kacamata sialan! Jelek! Berhidung
pesek! Ular menjijikkan!" Sai memandang Ino sweatdrop saat wanita itu tak
henti-hentinya melemparkan hujatan pada Kabuto yang hanya tersenyum tipis saat
ini. Namun Sai tahu dibalik senyum itu pasti hati Kabuto sedang tertohok,
berilah tepuk tangan kepada Ino yang telah melemparkan serangan mental pada
Kabuto. "Kenapa kau memisahkan kami? Bodoooh!" amuk Ino kesal.
"Kau hanya akan menganggu Orochimaru-sama.
Haruno dan Uchiha adalah tangkapan bagus, sangat berguna dalam misi kami untuk
menguasai dunia." Mendengar kalimat Kabuto, membuat Ino semakin kesal
saja.
"Menguasai dunia? Sungguh konyol! Sebaiknya
kau menguasai monyet-monyet saja!" tutur Ino seraya menunujuk batang
hidung Kabuto.
"Fufufu, kau sungguh menarik. Tapi, aku lebih
tertarik padamu." Pandangan Kabuto beralih pada Sai. "Kau selalu saja
menunjukkan senyum palsu, sebenarnya, tipe monster macam apa kau ini?" Sai
terdiam sejenak, kemudian terkekeh pelan.
"Tipe atau apapun itu tidak penting saat ini,
yang terpenting adalah mengalahkanmu!" Tatapan Sai berubah. Hawa di tempat
itu juga lebih dingin dibanding yang tadi.
Kabuto dan Sai saling menerjang satu sama lain. Kabuto
segera merubah wujudnya menjadi ular, membuat gerakannya semakin gesit. Kabuto
hendak menerjang leher Sai, namun Sai dengan cepat mencengkram leher ular
Kabuto dan melemparkannya ke sembarang arah. "Fufufu, lumayan juga
kau," komentar Kabuto.
"Tapi kita lihat, apakah kau bisa menghindari
ini." Setelah berucap kemudian, badan Kabuto yang sedang berwujud ular
semakin membesar. Bukan hanya membesar, sebuah kepala lain tumbuh, membuat
Kabuto terlihat semakin menyeramkan. Sai dan Ino tercenggang kaget, namun kedua
remaja itu masih tetap fokus pada gerakan-gerakan Kabuto.
Kabuto kembali menyerang Sai, tentu saja dengan
gerakan yang lebih cepat dibanding tadi walau ukuran tubuhnya membesar. Sai
bahkan cukup bingung menentukan dari arah mana Kabuto akan menyerangnya.
Duak!
Sai berhasil menendang salah satu kepala Kabuto
sehingga terpental cukup jauh. Namun tubuh Kabuto sangat panjang, Sai yang
lengah berhasil dililit oleh ekornya.
"U-ugh." Sai berusaha melepaskan diri,
namun lilitan Kabuto semakin erat.
"Ular sialan! Lepaskan Sai!"
Crash!
Ino menusuk-nusuk ekor Kabuto menggunakan pisau
lipat miliknya, membuat Kabuto meringis. "Aarrgh! Sialan kau!" umpat
Kabuto. Lilitan Kabuto merenggang, membuat Sai dapat bebas. Ino semakin
memperdalam tusukannya, sedangkan Sai memegang dadanya. Lilitan Kabuto yang
sangat keras tadi membuat tubuhnya seakan-akan remuk.
Graup!
"Arrggh!" Ino dengan cepat menoleh pada
Sai. Di sana Kabuto telah berhasil menggigit tangan Sai, membuat Sai meringis
kesakitan.
"Sai!" teriak Ino khawatir, pandangan
Ino terlalu fokus ke Sai sampai tak memedulikan ekor Kabuto yang menyerangnya.
Duaaak!
"Kyaaa!" Ino terpental beberapa meter.
"Ino!" Sai mendecih, Kabuto ternyata
sungguh merepotkan baginya. Kalau seperti ini, tak ada cara lain lagi selain-
GOAAAARRMM!
Kabuto yang menyadari perubahan Sai segera menjauh
dari pemuda itu. Badan Sai perlahan berubah, kedua taring muncul dari gigi Sai.
Ino yang memerhatikan hal itu juga ikut tercenggang kaget.
"Fufufu, macan, yah?" Kabuto mengernyit.
Benarkah macan? Kabuto baru kali ini melihat monster macan berbulu putih
seperti ini. "Fufufu, macan berbulu putih. Kau sungguh menarik, Sai."
Kedua pria tersebut saling menerjang lagi. Kali
ini gerakan Sai lah yang menyulitkan Kabuto. Sai terus menerjang Kabuto, dan
Kabuto terus menghindar. Namun tentu saja gerakan Sai lah yang lebih cepat.
"Aaaarrghh! " Kabuto berteriak kesakitan
saat Sai berhasil menggigitnya, bukan hanya menggigit, Sai mengoyak daging
Kabuto yang sedang berubah wujud tersebut. Sekali, dua kali, tiga kali, Sai
terus mencakar dan menggigit Kabuto, membuat Kabuto terus meringis kesakitan.
DUAAAK!
"Jangan lupakan aku, Bodoh!" Ino
menunjukkan seringai lebarnya saat berhasil menendang Kabuto sehingga terpental
ke dinding. Tubuh Kabuto perlahan-lahan berubah menjadi seperti semula. Tampak
lah banyak luka ditubuh pria itu akibat serangan Sai.
"Haahh … haahh…" Nafas Kabuto
ngos-ngosan. "Sepertinya aku tidak bisa meremehkan kalian berdua."
Kabuto merogoh sesuatu dari dalam kantungnya, kemudian melemparkan itu ke tengah-tengah.
POOFF!
'Bom asap!' Ino menyilangkan kedua tangannya di
depan wajahnya, ia menyipitkan matanya saat asap berwarna ungu tersebut mulai
mendominasi tatapannya. Ia melihat Kabuto yang sedang menyeringai licik seraya
menutup hidungnya di sana. Saat asap bom tersebut telah habis, Ino mendelik
pada Kabuto.
"Asap apa itu?!" tanya Ino galak.
"U-ugh…" Ino menoleh dengan cepat ke
arah Sai. Tampak Sai perlahan-lahan berubah ke wujud semulanya dan perlahan
tumbang ke lantai, membuat Ino berteriak histeris.
"Itu adalah asap untuk melumpuhkan para
monster seperti kalian." Kabuto menyeringai. "Kau dan Sai akan lumpuh
selama beberapa jam ke depan. Dan saat itulah, aku akan membunuh kalian!"
Ino membelalakkan matanya.
"Dasar licik!" ucapnya.
"Fufufu … tapi, kenapa itu tak bereaksi
padamu?!" Ino tertawa sinis.
"Aku manusia, Kacamata Bodoh!" Kabuto
tercenggang kaget. "Asap bom tadi tidak berpengaruh padaku!" Ino
mengepalkan tangannya. "Aku … yang akan melawanmu!"
"I-Ino…" lirih Sai. Dirinya sungguh
menyedihkan, dilindungi oleh seorang gadis yang merupakan kekasihnya sendiri.
Berterimakasihlah kepada si brengsek Kabuto yang melemparkan bom asap pelumpuh
tadi. "Berhati-hatilah…"
"Tentu saja!"
.
"Haahh … haahh…" Nafas Sasuke dan Sakura
menggebu-gebu. Kedua pasangan tersebut telah berkali-kali melancarkan serangan
mereka pada Orochimaru, namun sepertinya itu sama sekali tak berefek pada
makhluk ular di hadapan mereka itu.
"Apakah hanya seperti itu kekuatan
kalian?" komentar Orochimaru seraya tersenyum remeh.
Trang!
Sasuke dengan cepat menangkis pedang Orochimaru.
Kemampuan pedang Sasuke memang hebat, namun kemampuan pedang Orochimaru lebih
hebat lagi, membuat Sasuke kewalahan bahkan jika itu hanya untuk menembus
pertahanan pria itu.
Crash!
Satu goresan telak didapat oleh Sasuke. Orochimaru
tersenyum meremehkan, Sasuke yang merasakan kesakitan di bagian pipinya segera
mengambil jarak dari Orochimaru. "Sasuke!" Sakura meneriakkan nama
Sasuke dengan nada khawatir, membuat pandangan Orochimaru beralih padanya.
"Aku berubah pikiran," ucap Orochimaru.
"Aku akan membunuh kalian, di sini." Sakura memandang tajam pada
Orochimaru yang mendekat padanya. Dengan gesit, Sakura berlari menghampiri
Sasuke. Ia letakkan tangannya ke atas pipi Sasuke, menggunakan teknik yang diberitahukan
Sasori kepadanya untuk menyembuhkan luka orang lain tanpa air mata.
Berhasil. Luka di pipi Sasuke perlahan-lahan
menutup. Orochimaru tertegun, kemudian ia tertawa. "Hahahaha! Kau sungguh
menarik, Sakura! Baiklah, aku memutuskan untuk membunuhmu terlebih dahulu."
"Tidak akan kubiarkan!" Sasuke mendelik
tajam.
"Hahahaha! Sungguh pertunjukan ini akan
menarik," tawa Orochimaru lagi. "Baiklah, pertunjukan dimulai~"
Trang!
Sasuke menangkis serangan Orochimaru, namun
tekanan yang diberikan Orochimaru sungguh luar biasa. "Ugh," ringis
Sasuke saat ia hampir tak dapat menahan serangan Orochimaru lagi. Orochimaru
tersenyum licik.
Duak!
Di tendangnya perut kanan Sasuke, sehingga pemuda
itu terlempar beberapa meter dan membentur tembok dengan cukup keras. Kemudian
Orochimaru kembali mengalihkan perhatiannya pada Sakura. ia mendekat ke arah
gadis itu, dengan cepat, Orochimaru menendang Sakura sampai terjatuh dan
mengayunkan pedangnya pada Sakura, saking cepatnya, Sakura tak dapat menghindar
dari serangan itu.
Crash!
Emerald Sakura membulat saat darah bercipratan ke
wajahnya. "Sas-" Suara Sakura tertahan. "SASUKE!"
"U-ukh," ringis Sasuke. Orochimaru
mencabut pedangnya yang tertancap di perut Sasuke dengan cepat. Sasuke yang tak
dapat lagi menahan rasa sakit di perutnya jatuh terduduk dan memegang lukanya.
Darah mengalir deras di luka tersebut.
"B-bodoh! Kenapa kau melindungiku
lagi?!" Sakura berteriak histeris dengan air mata yang mengalir di
pipinya. Pikirannya melayang pada hari di mana Sasuke juga melindunginya dari
tembakan peluru Orochimaru, dan Sakura sadar … bahwa ia sama sekali tak
berguna.
Sakura segera meletakkan tangannya di luka Sasuke,
hendak menyembuhkannya, namun-
Duak!
Orochimaru menendang luka Sasuke. Sasuke kini
terpental jauh dari Sakura seraya meringis kesakitan. "Sasuke!" Air
mata Sakura semakin deras. Ia memegang perutnya sendiri, pasti Sasuke merasakan
sakit yang luar biasa saat ini. Perutnya ditusuk, dan luka tersebut dintendang
dengan keras Orochimaru, orang biasa akan pingsan gara-gara sakit itu.
"Sepertinya aku harus melumpuhkanmu dulu,
Sasuke-kun." Orochimaru menghampiri Sasuke yang masih tergeletak di
lantai.
Crash!
Orochimaru mengayunkan pedangnya lagi, untung saja
Sasuke menghindar, sehingga hanya mengenai lengannya. Namun tentu saja tetap
sakit. Darah kembali merembes di lengan Sasuke. "Arrgghh!" erang
Sasuke. Orochimaru mencabut pedangnya, kemudian ia menusukkan pedangnya ke kaki
Sasuke.
"AAARRGGH!" Mendengar teriakan kesakitan
Sasuke, membuat Sakura semakin menangis. Tak tega, Sakura segera menghampiri
Orochimaru.
"Brengsek kau!"
"Sa-Sakura! J-jangan ke sini!" bentak
Sasuke disela-sela rintihannya.
"Mana bisa aku diam saja melihatmu?!"
amuk Sakura. Ia lancarkan pukulannya pada Orochimaru, Sakura tak pintar
bertarung, maka dari itu pukulan Sakura hanya mengundang tawa Orochimaru.
"Lari, bodoh!" bentak Sasuke. Namun
Sakura menggelengkan kepalanya.
"TIDAK!"
"Aku sudah berjanji untuk melindungimu! Walau
aku mati, kau harus selamat!" Sakura terus menggelengkan kepalanya.
"Mana bisa seperti itu! Kau … kau berjanji
untuk mengatakan sesuatu kepadaku setelah semua ini! Maka dari itu kau juga
harus selamat, Bodoh!" Sasuke tertegun. Benar juga, ia sudah berjanji akan
mengatakan sesuatu pada Sakura setelah semua ini berakhir.
DUAAAK!
Orochimaru menendang Sakura, membuat Sasuke
menggeram kesal. Ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya, bahkan bergerak pun
sangat sulit untuknya. Lebih buruk lagi, kesadarannya menurun, matanya mulai
terkatup perlahan-lahan.
Tidak! Ia tidak boleh pingsan! Masih ada Sakura
yang harus dia selamatkan!
"Kalau kau tidak bisa dibunuh dengan tusukan
pedang, maka-" Orochimaru mencekik Sakura, mengangkat gadis itu ke atas.
"-ini adalah cara yang tepat."
"A-akh!" Sakura meronta-ronta.
Orochimaru mencekiknya dengan keras, membuatnya kesulitan untuk bernafas.
"U-ukhh-uhuk-"
Sasuke melihat Sakura dengan pandangan sayu. Apa …
yang harus ia lakukan sekarang? Ia tak mempunyai tenaga bahkan hanya untuk
mempertahankan kesadarannya.
Mata Sasuke mulai menutup, hal terakhir yang ia
lihat adalah Sakura yang meronta-ronta dicekikan Orochimaru.
Apa … yang harus ia lakukan sekarang?
Apakah … ada cara agar mereka bisa selamat?
Sasuke menatap Sakura sekali lagi dengan pandangan
sayu, sebelum-
-semuanya menggelap.
The last chapter : The End.
.
Bugh!
Ino mendecih kesal saat serangannya sedari tadi
tak melukai kacamata bodoh di hadapannya. Kabuto hanya tersenyum sinis, membuat
Ino semakin muak melihat wajahnya.
"Hanya itu? Hanya itu yang bisa kau perbuat
saat macan lemah itu tumbang?" sindir Kabuto sambil melirik Sai yang
menatap sayu pada Ino.
"Jangan menghina Sai! Setidaknya Sai lebih
tampan darimu!"
BUGH!
"Ukh-"
Satu tendangan berhasil Ino luncurkan dan
menghantam wajah Kabuto dengan keras. Ino meringis sendiri kala mendengar bunyi
hantaman itu. Aw, sepertinya sakit. Pray for Kabuto. "Hahaha! Makan
itu!" Ino tertawa bangga, sedangkan Kabuto mendelik tajam.
"Sepertinya aku terlalu banyak bermain-main
denganmu, Nona." Tubuh Kabuto perlahan berubah kembali menjadi ular,
membuat Ino memundurkan langkahnya. "Ayo, sekarang lawan aku."
Siratan keraguan terlihat jelas di wajah Ino. Oh, sepertinya dia telah
membangunkan seorang hunter kejam bodyguard Orochimaru tersebut.
Ekor panjang Kabuto mulai mengincar Ino. Ino
menghindar dengan gesit, namun ekor Kabuto memburu Ino dengan cepat, sehingga
ekor tersebut melilit kaki Ino, membuat Ino tersandung dan terjatuh.
"A-akh!"
Gadis bermanik aquamarine tersebut refleks
memegang hidungnya yang lebih dulu terjatuh di tanah. Sakit. Tentu saja.
"Ino! Di belakangmu!" Mata Ino membulat dan segera menghindar kala
mendengar teriakan Sai. Namun terlambat, ekor Kabuto yang tergolong besar
tersebut menghantam belakang Ino dengan cukup keras sehingga gadis itu
terpental cukup jauh.
"Ino-! Ukh!"Sai ingin bangkit, tapi
racun sialan milik Kabuto belum juga menghilang. Pemuda itu dapat melihat Ino
bangkit secara perlahan dengan mata yang masih menajam. Sepertinya pertarungan
gadis itu belum usai. Semangat juang masih berkobar di mata aquamarine-nya. Ia
mendelik tajam pada Kabuto, Kabuto nampak cukup terkejut dengan kegigihan Ino.
"Heh, kau menarik …"
.
Trang!
Kuku dan pedang tersebut kembali beradu. Suasana
yang tercetak sungguh menegangkan bagi Hinata. Pergerakan kedua pemuda yang
sedang bertarung di depannya sungguh cepat, membuatnya tak dapat berkutik. Ia
hanya dapat menghindar saat Neji hendak menerjangnya. Walau hanya dapat
melakukan hal demikian, tapi Naruto sungguh bersyukur untuk itu. Itu artinya
dia hanya harus fokus melawan Neji, karena Hinata telah pandai untuk melindungi
dirinya sendiri.
"N-Neji -nii-san … kumohon, berhenti!"
"Kau cerewet!"
SRASSHH!
Pedang tersebut menebas angin sebab Hinata lebih
dahulu menghindar. "Seharusnya aku membunuhmu lebih dulu, Hinata."
Neji mendelik tajam. "Kau hanya seonggok sampah yang tidak berguna, aku
berdosa jika membiarkanmu hidup."
"Siapa yang kau panggil seonggok sampah,
hah?!"
CRAASHH!
Kuku tajam Naruto mengenai lengan Neji, membuat
pemuda berambut panjang tersebut meringis kesakitan dan perlahan mundur ke
belakang.
"N-Naruto-kun! Kumohon jangan
menyakitinya!" Hinata tak dapat menahan tangisnya. Ini pertarungan antara
dua orang yang dia sayang. Ia tidak ingin seperti ini. Ia tidak ingin
kekerasan!
"Kau lemah!" Tanpa dapat dihindari, Neji
mengayunkan pedangnya pada Hinata dan menggores lengan gadis itu. Naruto menggeram
marah. Perlakuan Neji yang sungguh tega terhadap Hinata tidak dapat ditolerir
lagi. Ia harus memakai kekerasan. Neji tidak akan pernah sadar hanya dengan
kata-kata.
"Hinata, kau tidak apa-apa?" ucap Naruto
khawatir. Hinata tersenyum dan menggeleng pelan, walau sebutir keringat menetes
dari pelipisnya. Kini pemuda dengan rambut pirang tersebut menatap Neji dengan
tatapan tajam. "Gomen, Hinata. Sepertinya aku tidak bisa menahan diri
lagi." Mata Hinata membulat.
"N-Naruto -kun! Jangan-"
"-kau lihat sendiri 'kan? Berapa ratus
katapun kau berucap padanya, dia tidak akan mendengarmu. Hatinya dipenuhi oleh
kebencian." Hinata memegang tangan Naruto, mencegahnya agar tak bertarung
lagi.
"Kumohon, biar aku sendiri yang
menyelesaikannya …" pinta Hinata.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu
terluka!" gertak Naruto pada Hinata, namun gadis itu menggelengkan
kepalanya.
"Kau tidak usah lagi ikut campur dalam
permasalahan ini, Naruto-kun. Setidaknya, aku bersyukur pernah bertemu dengan
pemuda sepertimu." Naruto menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit
dideskripsikan, ia terlalu terkejut dengan ekspresi Hinata saat ini, ekspresi
yang seakan-akan mengatakan bahwa ia akan mati dalam pertarungan ini. "Kau
selamatkan ayah Sakura-chan, dan lari dari sini. Aku sendiri yang akan
menghalangi Neji -nii-san."
"Hinata-"
"Kumohon! Naruto -kun! Kalau tidak seperti
ini, aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu …" Hinata tersenyum
lembut. "Selamat ti-"
Plak!
Omongan Hinata terhenti saat dirasakannya tamparan
Naruto. Ia hanya dapat melihat tatapan Naruto yang tadinya lembut berubah
menjadi tatapan tajam.
"Jangan bercanda!" bentak Naruto pada
gadis itu. "Kita sudah sampai sejauh ini! Aku di sini untuk melindungimu,
bodoh!"
"T-tapi aku tidak mau kau terluka! Kau
seharusnya tidak terluka karena aku!"
"Dan aku tidak mau dilindungi olehmu! Aku
yang akan melindungimu! Kalau kau berkata seperti itu, lalu apa gunanya aku
sebagai pacarmu?" Naruto menyentuh pipi Hinata. "Kita akan berjuang
bersama, oke?"
.
"U-ukh … Sas-uhuk!"
"Khukhukhu … bagaimana, Uchiha Sasuke? Ingin
melihat temanmu mati di hadapanmu?"
"S-Saku …" Sasuke berlirih dengan sisa
tenaga yang ia punya. Sakit dirasakan di sekujur tubuhnya sehingga ia tak
sanggup untuk bergerak sedikit pun. Ia hanya dapat menatap nanar Sakura yang
juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sakura, kenapa kau menangis, bodoh?
Ia utarakan kata-kata tersebut melalui pandangan
matanya. Ia tahu Sakura menangis karena dirinya yang terluka. Ia tahu sifat
gadis itu. Tapi, apa yang bisa dia lakukan sekarang? Menolong Sakura? Bahkan
berdiri saja dia tidak sanggup. Kenapa sakit di sekujur tubuhnya itu sungguh
menyiksa?
Aku pasti akan melindungimu.
Sasuke tersentak. Ya, dia pernah mengucapkan kata
itu pada Sakura. Dia pernah berkata dengan yakin akan melindungi gadis itu
apapun yang terjadi. Dia tidak seharusnya terbaring tak berdaya seperti ini.
Keselamatan Sakura, adalah tanggung jawabnya.
"Uchiha Sasuke. Jadilah bawahanku."
Orochimaru tersenyum licik. "Kalau kau menolak, maka akan kubunuh gadis
ini." Mata Orochimaru ia gulirkan pada Sakura, lalu ia gulirkan lagi pada
Sasuke. "Jawablah dalam lima detik."
Sasuke tersenyum sinis. Ia kerahkan seluruh tenaga
yang ia punya untuk bangkit kembali, bersamaan dengan itu Orochimaru mulai
menghitung. "Satu …"
"Ular yang tenggelam dalam keserakahan
…" Sasuke masih tersenyum sinis, pemuda itu sukses duduk dan mengambil
ancang-ancang untuk berdiri walau dengan susah payah.
"Dua …"
"Kegelapan telah merenggut dirimu …"
Kini Sasuke setengah berdiri, Orochimaru memandang tajam ke arah pemuda itu.
"Tiga …" Sakura mulai terbatuk. Ia
sangat susah untuk menarik napasnya kesadaran gadis itu mulai hilang.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu, heh?"
Aura hitam menguar dari tubuh Sasuke. Mata pemuda itu perlahan berubah menjadi
merah, semerah darah.
"Empat …" Sakura melirik Sasuke dengan
tatapan kaget. Gigi runcing mulai keluar dari mulut Sasuke.
"Ular yang malang …" Dua buah sayap
tumbuh di punggung Sasuke. "Makhluk menyedihkan sepertimu, harus
dimusnahkan!"
"Lima-"
CRAAASSHH!
Orochimaru menghindar dengan gesit, sehingga yang
terluka hanya punggungnya. Di cengkraman pria itu masih ada Sakura, walau
cekikannya sudah sedikit renggang akibat serangan Sasuke. "Apa-apaan itu
…" gumam pria tersebut. Memangnya apa yang bisa menggoresnya seperti itu?
Sasuke tak punya pedang, Sasuke tak punya apa-apa yang membuat punggungnya
tergores.
"Meleset, hm?" Sasuke tersenyum sinis.
Menyeramkan. Uchiha Sasuke berubah menjadi makhluk yang menyeramkan. "Kali
ini, aku pasti akan memotong lehermu."
CRAAASSHH!
Cepat. Orochimaru tak dapat melihat pergerakan
pemuda itu. Ia melesat seperti petir. Darah mengalir dari bagian pipi
Orochimaru.
"Buang wanita yang ada di cengkramanmu itu!
Dia hanya mengganggu kesenanganku!"
Sakura terbelalak. Bukan. Pemuda itu bukan Uchiha
Sasuke yang ia kenal. Kenapa, Sasuke …
"Kalau kau tidak mau membuangnya, apa boleh
buat. Jangan salahkan aku jika aku melukai wanita itu." Orochimaru menatap
Sasuke dengan bingung. Pemuda itu ingin melukai temannya sendiri?
CRASSSHH!
"Kyaaa!" Sakura memekik saat Sasuke
kembali menerjang Orochimaru. Kalo ini lengannya, membuat cengkraman Orochimaru
pada Sakura sukses lepas, membuat Sakura jatuh ke lantai.
CRASHH! CRASSHH! CRASSHH!
"Aaarrgghh!" Orochimaru mengerang
kesakitan. Uchiha Sasuke yang sekarang benar-benar monster. Sakura hanya dapat
terbelalak saat darah bercipratan ke mana-mana. Sasuke … dia …
"H-hentikan!" Gadis itu berteriak
kencang. Sejahat apapun Orochimaru, tapi dia tidak ingin seperti ini. Dia tidak
ingin Sasuke membunuh Orochimaru dengan cara sekeji ini. Dia tidak ingin Sasuke
menodai tangannya!
Gerakan Sasuke terhenti. Mata semerah darah
tersebut bergulir ke arah Sakura. "Berisik," ucapnya.
"S-Sasuke … kau tidak seharusnya seperti ini!
Kembalilah ke Sasuke yang dulu!" Mata Sakura berkaca-kaca. Ia tidak ingin
orang yang dicintainya menjadi seperti ini …
"H-hahahaha! Yang dulu? Heh? Uchiha Sasuke
yang dulu hanya orang yang tidak berguna!" Sasuke kini mendekat ke arah
Sakura dengan mata yang menajam. "Sepertinya, kau harus kubungkam."
"U-ugh-!" Sakura kembali merasakan
cekikan pada lehernya, kali ini oleh Sasuke. Dia hanya dapat menatap Sasuke
dengan pandangan tidak percaya, dan Sasuke manatap gadis itu dengan senyum
sinisnya.
.
Kabuto tersentak. Firasatnya buruk. Ia yakin ada
hal buruk yang terjadi pada tuannya.
"Jangan alihkan perhatianmu!"
Bugh!
Tendangan Ino sukses mengenai wajah Kabuto. Kabuto
meringis pelan. Gadis di depannya itu monster, lebih tepatnya disebut sapi
ganas. Dia manusia, tapi kekuatannya benar-benar luar biasa.
"Hehe … kau memang gadisku, Ino." Sai
terkekeh. Pemuda itu bangun dengan perlahan.
"Sai!" Ino berucap gembira. Akhirnya
racun sialan Kabuto sudah menghilang, membuat Sai leluasa untuk bergerak dan
tidak merasa kesakitan lagi.
"Cih!" Kabuto mendecih. Kebangkitan Sai
membuat semuanya menjadi lebih merepotkan.
"Sebenarnya racunnya sudah hilang daritadi,
tapi aku ingin melihat seorang gadis cantik menari-nari." Sai tersenyum
palsu, Ino memandang pemuda itu sweatdrop. Sai sialan.
"Kita selesaikan ini, Ino." Senyum tadi
luntur, berubah menjadi sorot mata tajam.
"Yeah!"
Sai menerjang Kabuto, Kabuto menghindar, namun
dengan cepat Sai kembali memutar tubuhnya dan melancarkan tinjuannya pada
Kabuto. Pemuda itu terlempar beberapa meter ke belakang, namun di belakang
pemuda itu sudah ada Ino yang tersenyum angkuh seraya memamerkan kaki-kaki
jenjangnya, menendang kembali Kabuto dengan kaki jenjang tersebut.
"U-ukh!"
"Masih belum." Sai kembali menerjang,
memukul pemuda itu berkali-kali. Darah sudah mengalir dari sudut bibir Kabuto.
Diterjangnya perut, wajah, dada dan bagian tubuh lainnya pada Kabuto dengan
cepat.
"E-err … apakah … dari dulu Sai sekuat
ini?" Ino bergumam saat menyaksikan adegan tersebut. "Ataukah
sebenarnya racun Kabuto mengandung penambah stamina?" Entahlah, hanya
Tuhan yang tahu.
"Cih!" Kabuto terengah. Dia telah
meremehkan Sai. Dia tidak tahu ternyata pemuda tersebut sekuat ini. Gerakannya
yang cepat membuat Kabuto sulit untuk menghindar. "Orochimaru-sama …"
"Sasuke yang sangat marah menyeramkan lho
…" Sai memasang senyum palsunya. "Pray for your
Orochimaru-sama."
"B-brengsek-!" Kabuto mengeluarkan
kapsul-kapsul kecil dari tasnya. "Sampai jumpa, pasangan bodoh," ucap
pemuda itu seraya melempar kapsul tersebut.
"H-hah?! H-hei! Mau ke mana kau?!" Ino
hendak mengejarnya, tapi Sai langsung mencegah gadis itu.
"Ino! Awas!"
DUAAARR! DUAAARR!
Ino hampir saja tertimpa langit-langit terowongan
kalau Sai tidak cepat melindunginya. Kapsul tadi ternyata bom, bom dengan
ledakan yang cukup besar. "Cih! Dasar pengecut!" umpat Ino kesal.
"Sudahlah. Dia sudah terlanjur lari. Kalau
tidak salah, Naruto dan Hinata ada di sebelah sana 'kan? Kita ke sana, membantu
mereka dan segera menyusul Sasuke dan Sakura." Sai tampak khawatir,
membuat Ino kebingungan. "Aku khawatir pada Sakura …"
"Hei! Jangan meremehkan Sakura yah!" Ino
menggembungkan pipinya. "Dia bukan wanita yang lemah. Lagipula, ada Sasuke
yang akan melindunginya!"
"Justru itu yang aku takutkan." Sai
menghembuskan napasnya. "Jika Sasuke marah, dia akan kehilangan kendali.
Dia tidak dapat mengontrol emosinya, sehingga dia lupa siapa kawan dan siapa
lawan."
"Hah?!" Ino tercenggang kaget.
"Berarti, maksudmu … kalau Sasuke berubah sekarang, dia tidak bisa
membedakan mana Sakura dan mana Orochimaru?! Hah?! Sialan si Sasuke!
Bisa-bisanya dia tidak bisa membedakan mana seorang gadis cantik mana pria tua
bangka! Bisa-bisanya dia menyamakan Sakura dan ular itu! Kalau aku jadi Sakura,
aku akan memukul Sasuke bertubi-tubi dengan ganas sampai Sasuke berlutut minta
maaf kepadaku!"
"Pfftt-"
"Hei! Kenapa kau tertawa?!" Sai memasang
senyum palsunya dan menggeleng pelan.
"Tidak ada apa-apa, ayo kita pergi."
.
Trang! Crash!
"Ukh!"
Neji mundur ke belakang, napasnya terengah-engah.
Ia tidak tahu bahwa akan sesulit ini untuk melawan Naruto dan Hinata. Tadi cuma
Naruto yang menyerangnya, namun sekarang Hinata juga ikut membantu Naruto,
membuat gerakan Neji menjadi terbatas. Meskipun Hinata tak pernah menyerang
bagian vitalnya, namun serangan gadis itu cukup untuk membuatnya mengerang
kesakitan.
"Kita akhiri ini, Neji." Neji mendecih.
Naruto telah mengambil ancang-ancang untuk memukulnya lagi, Neji pun demikian.
Namun kecepatan Neji kalah telak, sehingga pukulan Naruto lah yang mengnai
wajahnya sehingga membuat pemuda itu terpental beberapa meter. Naruto kembali
mendekatinya, kali ini dengan kuku-kuku yang lebih menajam. "Selamat
ting-"
"-tunggu!" Hampir saja kuku Naruto
mengenai permukaan kulit Neji kalau saja Hinata tidak mencegahnya.
"J-jangan membunuhnya … kumohon, Naruto-kun …"
Naruto menghela napasnya. Sebenci apapun ia pada
Neji, namun ia tidak tega menolak permintaan Hinata. Ia mundur perlahan,
menjauhi Neji yang terbaring tak berdaya.
"Kenapa-" Neji memandang tajam Hinata.
"Kenapa kau mencegahnya, bodoh?!"
Hinata menggigit bibir bawahnya. "Aku … tidak
ingin melihat Naruto -kun membunuhmu, aku tidak ingin kau mati …"
"Sifatmu itulah yang membuatmu lemah!"
Neji mengepalkan tangannya. "Kau membenciku 'kan? Aku berniat untuk
membunuhmu, bodoh!"
Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak! Aku tidak pernah membencimu! Bagaimana pun kau … sebenci apapun
kau padaku … kau tetap …" Hinata mendongakkan kepalanya, menatap mata Neji
dalam-dalam. "…kau tetap kakak yang aku sayangi. Kau tetap kakakku yang
berharga!"
Neji terdiam, pemuda itu masih tersungkur tak
berdaya. Ia mengangkat tangannya, menutupi kedua matanya dengan lengan.
"Kau bodoh …" lirihnya. "Tapi … entah mengapa, ucapan bodohmu
membuatku senang …" Hinata dan Naruto dapat melihat air mata yang menetes
dari pelipis Neji. Naruto dan Hinata tersenyum. Hinata tahu bahwa kakaknya
sebenarnya tidak bermaksud jahat. Ia tahu bahwa Neji sebenarnya hanya haus akan
kasih sayang. Ia tahu Neji hanya sakit hati karena selalu dikucilkan oleh
keluarganya. Ia tahu … bahwa sebenarnya Neji adalah pemuda yang baik. Walau
Neji ternyata membencinya sejak dulu, namun Neji lah yang selalu melindunginya
jika ada yang mengincar Hinata. Hal itu lah yang membuat Hinata sayang padanya,
walau ia dari dulu tahu bahwa Neji menyimpan rasa iri pada dirinya.
"Kunci borgol pria itu ada di lemari sebelah
kanan. Kalian pergilah dari tempat ini. Aku yakin bahwa terowongan ini akan
runtuh." Neji berucap. Hinata dan Naruto mengangguk dan segera mencari
kunci borgol ayah Sakura. Mereka membuka kunci tersebut dan membantu ayah
Sakura untuk duduk.
"Apakah dia pingsan, Neji?" tanya Naruto
saat ayah Sakura tak kunjung membuka matanya.
"Hn. Periksa sakunya, ada beberapa butir obat
di dalamnya, dia akan segera terbangun saat meminum obat itu." Naruto
langsung mengecek saku ayah Sakura dan menemukan obat di sana. Pemuda itu
segera memasukkannya ke dalam mulut ayah Sakura, membuat ayah Sakura
perlahan-lahan membuka matanya.
"Naruto! Hinata!" Sai dan Ino memanggil
dari jauh dan menghampiri mereka. Sai dan Ino tersenyum saat melihat mereka
beempat. Sepertinya Naruto dan Hinata juga sudah selesai.
"Ah … kalian. Bagaimana dengan Kabuto?"
"Dia lari." Ino mendengus. "Hei
Neji. Untuk sampai ke tempat Sasuke dan Sakura, apakah kita harus
memutar?"
"Tidak. Ada lubang yang tertutup di
terowongan sana, kita bisa melewatinya. Aku yakin Kabuto juga menggunakan jalan
yang sama."
"Tu-tunggu! Aku tidak kenal siapa kalian, di
mana aku, kalian mau apakan aku, dan … dan …" Kelima remaja tersebut
saling berpandangan, kemudian bersamaan terkikik geli.
"Hei Paman, kau mau menemui putri semata
wayangmu?" Mata ayah Sakura terbelalak kaget.
"P-putriku?" Naruto mengangguk semangat.
"Ya, putrimu. Namanya Haruno Sakura. Sekarang
dia di sini untuk menyelamatkanmu. Kau seharusnya bangga dengannya."
"Sudahlah. Sebaiknya kita bergegas ke tempat Sasuke,
aku yakin Sasuke sudah berubah sekarang." Sai menepuk pundak ayah Sakura.
"Ikuti kami, Paman."
.
"Orochimaru-sama!" Kabuto menghampiri
Orochimaru dengan pandangan khawatir, hal itu membuat perhatian Sasuke
teralihkan sejenak.
"Siapa kau?" tanya Sasuke tajam pada
Kabuto. "Ahh … kau anak buahnya 'kan? Yang menembakku waktu itu?"
Sasuke menampilkan seringainya. "Matilah."
DUAAAAK! BUGGHH!
Kabuto mengerang kesakitan. Sasuke menyeringai.
"Kau membuatku sakit, maka kau harus mendapatkan kesakitan berkali-kali
lipat."
"H-h-hen … ti … kan …"
Sasuke menggulirkan matanya pada Sakura.
"Huh. Kau benar-benar pengganggu yah." Sasuke menghembuskan napasnya.
"Kalau begitu, sudah kuputuskan. Kau yang akan duluan kubunuh."
"Ukh-!"
"Sasuke! Hentikan!" Sasuke mengalihkan
pandangannya ke sumber suara. Di sana sudah ada Neji, Sai, Ino, Hinata, ayah
Sakura dan Naruto yang menatap Sasuke dengan pandangan tajam.
"Semakin banyak pengganggu." Sasuke
mendelik. "Kalau kalian mengangguku, maka wanita ini dan kau sendiri akan
mendapat akibatnya."
"Kubilang hentikan, Teme!" Naruto hendak
menerjang Sasuke. Sasuke tersenyum miring dan mengarahkan telapak tangannya
pada Naruto, hal itu membuat sebuah kekuatan berupa angin kencang membuat
Naruto terpental ke belakang.
"Sasuke-!" Kali ini Sai yang maju, namun
ia bernasib sama dengan Naruto. Untung saja di belakangnya ada Ino yang
menahannya, namun akibatnya Ino juga ikut terpental.
"Sasuke! Dia, Sakura, dia temanmu! Dia orang
yang berharga bagimu! Dia orang yang ingin kau lindungi!" Ino berteriak
histeris. "Dasar ayam potong bodoh! Sadarlah, bodoh!"
Sasuke mengernyitkan alisnya. "Orang yang
berharga? Dia? Huh! Jangan membuatku tertawa!"
"Sasuke! Dia Sakura! Haruno Sakura!"
Naruto menggeretakkan giginya. "Persetan dengan sifat tsundere-mu itu,
tapi aku yakin kau menyayanginya!"
"Kalian semua, lebih baik diam."
Pandangan mata Sasuke menajam.
"S-Sasuke …" Sakura berlirih.
Sasuke!
Sasuke!
Sasuke …
Sasuke memegang kepalanya. Bayangan berbagai
ekspresi Sakura terlintas di pikirannya. Sakura yang tertawa, Sakura yang
menatapnya penuh harap, Sakura yang tersenyum lembut padanya, wajah Sakura yang
cemas, dan … saat di mana ia mengusap ujung kepala Sakura.
Aku akan melindungimu …
"AAARRRGGGHH!" Sasuke memegang kepalanya
yang terasa sakit, membuat Sakura terjatuh ke lantai. Ino yang melihatnya
segera menghampiri dan memeluk Sakura. Tubuh Sakura sangat lemas, ia hanya
dapat menatap lemah Sasuke yang mengerang kesakitan seraya memegang kepalanya.
"AAARRGGHH! AARRGGHHH!"
"Teme-!" Naruto hendak menghampiri Sasuke,
namun tangannya segera ditahan oleh Sai.
"Naruto, kalau Sasuke sudah seperti ini.
Lebih baik jangan mendekatinya."
"S-Sasuke!" Sakura yang tidak tahan
melihat Sasuke terus mengerang seperti itu segera melepaskan pelukan Ino dan
berlari ke arah Sasuke.
"Sakura, jangan!" Naruto dan Sai
berteriak untuk menghentikannya.
Tubuh Sakura terpental ke belakang, angin
tiba-tiba menerjangnya. "Sasuke!" Namun wanita itu berdiri lagi,
berlari lagi ke arah Sasuke, walau akhirnya wanita tersebut terpental lagi beberapa
meter ke belakang.
"Sakura, hentikan!" Ino memekik saat
tubuh Sakura kembali terpental.
"Meski sadar pun, hati Sasuke itu
keras." Sakura tetap memasang senyumnya."Walau sekeras batu pun, aku
tetap akan berusaha untuk melunakkannya …" Sakura kembali menghampiri
Sasuke. Kali ini angin yang menerjangnya ia lawan dengan sekuat tenaga,
mempertahankan posisinya dan terus maju mendekati Sasuke.
"Sasuke … sadarlah …" Tangan wanita itu
ia ulurkan pada pipi Sasuke. Sentuhan tangan Sakura membuat Sasuke berhenti
mengerang, suasana kembali normal, angin aneh tadi juga hilang entah ke mana.
Sakura tersenyum lembut, walau sebenarnya wanita tersebut sudah sangat ingin
menitikkan air matanya. Ia memeluk Sasuke dengan erat, menenggelamkan wajah
Sasuke pada dadanya.
Sasuke kembali tenang. Tubuhnya juga perlahan
kembali ke wujud normal, membuat Sai, Ino, Naruto, Hinata, Neji serta ayah
Sakura tersenyum melihatnya.
"Kepalamu sakit?" tanya Sakura dengan
lembut, yang dibalas anggukan lemah dari Sasuke.
"Maaf …" Satu kata dari Sasuke,
mengakhiri segalanya.
.
"Kerja bagus." Pein menepuk semua kepala
para remaja tersebut, tak terkecuali Neji. "Orochimaru dan Kabuto akan
kami tahan. Neji, kau juga seharusnya ditahan untuk beberapa waktu."
"Aku tidak keberatan." Pein mengangguk
seraya tersenyum.
"Emm … hai Ayah." Sakura berucap
canggung pada pria paruh baya di depannya. Ayah Sakura tersenyum lembut dan
mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Aku sangat senang melihatmu tumbuh menjadi
seperti ini … anakku …" Sakura tak dapat lagi membendung air matanya. Ia
segera berhambur ke pelukan pria tersebut, memeluknya dengan erat. Akhirnya,
semuanya telah selesai.
"Hei, adik bodoh. Kau apakan Sakura,
hah?" Sasuke mendengus. Ia sudah merenungkan kesalahannya saat ini, dia
tidak perlu pertanyaan seperti itu.
"Setidaknya aku melindunginya dari
Orochimaru." Sasuke membuang wajahnya. "Lagipula, aku sudah meminta
maaf padanya."
"Heee~ meminta maaf dan memeluknya,
hmm?" Deidara ikut menimpali. "Kau tidak sadar bahwa tadi kepalamu
ditenggelamkan di dadanya yah? Atau kau terlalu menikmatinya?"
"Kau-!" Sasuke men-deathglare Deidara.
"Hei, hei, aku hanya bercanda." Deidara
tersenyum jahil. "Jangan pasang wajah menyeramkan, Sasuke."
"Sasuke!" Sakura memanggil Sasuke dari
jauh. "Semuanya akan membakar api unggun! Bantu aku menemukan
ranting!" Sasuke menghela napas dan segera menghampiri Sakura, namun ia
sempat mendengar godaan Deidara yang mengatakan,
"Yuhuu~ Sasuke, buktikan bahwa kau lelaki
jantan!"
Uchiha Sasuke hanya dapat terdiam seraya mendengus
kesal.
.
"Aaaahh! Aku pikir sudah banyak. Ayo
kembali!" Sakura tersenyum puas saat melihat hasil kumpulannya dan Sasuke.
Sasuke hanya terdiam, membiarkan Sakura memungut dan mengangkat sebagian
ranting-ranting tersebut.
"Sakura …" Langkah Sakura terhenti. Ia
membalikkan badannya ke arah Sasuke dan tersenyum. "Aku benar-benar
meminta maaf …"
Sakura tersenyum maklum. "Hei, sudahlah! Yang
penting, semuanya telah selesai." Sasuke hanya menunduk, membuat Sakura
menatapnya dengan heran.
Gyuut!
Ranting yang ada di dekapan Sakura terjatuh saat
Sasuke tiba-tiba memeluknya. Hangat. Tubuh Sasuke dan pelukan ini terasa sangat
hangat. "S-Sasuke …"
Sasuke memeluk wanita itu kurang lebih tiga menit,
sampai ia melepasnya seraya berucap, "ayo kembali."
Sakura tak bergeming. Badannya terlalu kaku untuk
bergerak. "Mmm … Sasuke, kau ingat janji kita saat di festival?" Tak
ada jawaban dari Sasuke. "Aku bilang … aku akan menyatakan cintaku sekali
lagi padamu, dan … dan … kau harus menjawabnya, baik berupa penolakan atau
penerimaan." Sasuke tetap terdiam, membuat Sakura kembali melanjutkan
kalimatnya.
Sakura tertunduk sejenak, namun dengan tegas ia
kembali mendongakkan kepalanya dan menatap dalam-dalam onyx Sasuke. "Aku
mencintaimu, Uchiha Sasuke. Aku sangat mencintaimu." Sasuke masih menatap
Sakura dalam diam. "Mencintaimu membuatku bodoh dan nekat. Tapi … aku
senang dengan perasaanku. Aku senang saat mengetahui pemuda yang kucintai
adalah kau."
"Saat pertama bertemu," Sakura
memutuskan kalimatnya ketika mendengar Sasuke bersuara. "Ada aura lain
yang menguar dari dalam dirimu."
Sakura bingung maksud Sasuke, namun gadis itu
hanya diam. "Aura seorang gadis yang belum pernah aku lihat, aura yang
membuatku tertarik, aura yang membuatku sangat ingin melindunginya."
Sasuke tersenyum tipis. "Hal itu membuatku ingin memilikimu."
"T-tapi kenapa-"
"Kenapa aku tidak membalas perasaanmu waktu
di dermaga? Saat itu, hatiku sedang kacau. Kacau karena aku menemukan kakak
yang aku cintai tidak sama seperti sebelumnya." Sakura termangu.
"Kenapa aku tidak membalas perasaanmu ketika permainan konyol truth or
dare? Huh, bukan tipeku untuk mengatakan hal memalukan seperti ini di depan
banyak orang." Mata Sakura telah berkaca-kaca. "Kenapa aku tidak
membalas perasaanmu ketika di festival? Karena kau bilang, kau akan mengatakannya
lagi. Dan aku ingin mendengar hal itu darimu sekali lagi, setelah
kemenangan."
"Sasu …"
"Maafkan aku karena telah membuat perasaanmu
tergantung seperti ini." Sasuke kembali menampilkan senyum tipisnya.
"Aku tidak akan mati-matian melindungi seseorang seperti ini." Sasuke
menempelkan dahinya ke dahi Sakura dan menatap emerald gadis itu dalam-dalam.
"Alasan terkuat untuk melindungimu
adalah-"Batang hidung mereka saling menempel. Sakura dapat merasakan
hembusan napas Sasuke. "-karena aku mencintaimu."
Bibir mereka menyatu, bersamaan dengan air mata
kebahagiaan Sakura yang terjatuh. Gadis itu menutup matanya, menikmati sensasi
lembut dan kehangatan yang mengalir di setiap pembuluh darahnya. Ia mulai
mengenang semua peristiwa yang terjadi padanya. Mulai saat ia begitu takut
karena sendirian sampai tengah malam di sekolahnya, saat dia bertemu Naruto,
Sai dan Sasuke, saat dia tergila-gila pada Sasuke, saat Sasuke melindunginya
dari tembakan, saat ia mulai berkenalan dengan para monster lainnya, saat Ino juga
bergabung dengannya, saat mengetahui fakta bahwa ayahnya masih hidup, awal
petualangan mereka, awal mereka berlatih dengan akatsuki, saat di festival
sekolah, persembahan kembang api dari Akatsuki, dan terakhir … saat perang
dengan Orochimaru.
Begitu banyak yang mereka lalui bersama. Begitu
banyak canda tawa serta suka dan duka di antara mereka semua, dan akhirnya
mereka mencapai titik akhir. Titik yang membawa mereka menuju kebahagiaan.
Semua kebahagiaan mereka, berawal dari sekolah
malam.
.
.
.
~~The End~~
No comments:
Post a Comment